
Valeria mencoba untuk menarik kerah kemeja Clarissa yang segera dihindarinya sehingga dia tersandung ke depan dan hampir jatuh. Aku menutup mulut, menahan tawa yang nyaris kabur dari mulutku. Dia kembali berdiri dengan tegak dan menatap Clarissa dengan marah.
Tangan Valeria yang terulur ke wajah Clarissa segera ditangkapnya, lalu diputar ke bagian belakang tubuhnya. Valeria mengerang kesakitan. Salah satu temannya berniat memukul Clarissa, tetapi gadis itu segera maju ke depan untuk menghindarinya dengan mendorong tubuh Valeria ke dinding dan temannya itu hanya meninju angin. Lagi-lagi Valeria mengerang kesakitan.
“Suruh temanmu berhenti merekam atau memukul aku,” geram Clarissa. Valeria tidak mengatakan apa pun, maka Clarissa memelintir tangannya sampai gadis itu mengerang dan memutar tubuhnya untuk menjadi tameng. Teman Valeria bukannya memukul Clarissa, malah memukul Valeria.
“Cukup! Cukup! Jangan merekam atau memukul dia lagi!” pekiknya menuruti permintaan Clarissa.
Merekam? Aku melihat ke gadis ketiga yang baru aku sadari sedang memegang sebuah ponsel dan mengarahkannya ke Clarissa dan Valeria. Hm. Tontonan yang menarik. Tiga orang gadis berusaha untuk mempermalukan seorang gadis. Yang terjadi justru mereka yang berakhir dalam posisi yang memalukan. Aku yakin mereka tidak akan berani mempublikasikan video itu ke media sosial.
Clarissa membisikkan sesuatu pada Valeria sehingga aku tidak bisa mendengarkan sepatah kata pun. Tetapi dari ekspresi wajah teman seangkatanku itu, dia pasti mengatakan hal yang tidak dia sukai. Dia segera melangkah menjauh saat Clarissa melepaskan dirinya.
“Aku tidak percaya Hadi memilih perempuan seperti kamu untuk menjadi kekasihnya. Kamu bukan hanya menjual diri, kamu juga tidak cantik. Aku heran, apa yang para pria itu lihat menarik dari dirimu?” Valeria menatap Clarissa dengan jijik.
“Dia pasti seorang penyihir sehingga semua laki-laki itu melihat dia sangat sempurna. Wajahnya saja tidak lebih cantik darimu, Val,” kata salah satu temannya dengan percaya diri. Aku nyaris tertawa mendengarnya. Valeria bukanlah sandingan Clarissa. Gadis yang dicintai sahabatku itu lebih cantik dari Valeria. Tetapi tentu saja Dira jauh lebih cantik dari Clarissa. Karena itu gadisku sukses menjadi seorang model remaja.
“Pergilah, Valeria. Bukan begini cara seorang wanita terhormat memperlakukan rivalnya. Bila kamu pikir Hadi akan suka padamu dengan berbuat ini, kamu salah.” Aku memutuskan untuk campur tangan agar urusan di antara mereka segera selesai.
“Colin? Sejak kapan kamu berada di sana? Apa maksudmu dengan cara seorang wanita terhormat memperlakukan rivalnya? Aku tidak melakukan hal yang tidak semestinya. Justru dia yang telah menyakiti aku dan temanku,” tuduh Valeria. Dia pasti berpikir aku tidak tahu apa yang terjadi tadi.
“Aku tidak melihat apa yang terjadi dari awal, tetapi aku tahu kamu yang lebih dahulu memukulnya, Valeria. Kalian bertiga, sedangkan Clarissa sendirian. Apa aku perlu mengambil ponsel temanmu itu untuk menunjukkan padamu siapa yang telah menyakiti siapa?” ancamku melihat dia dan temannya masih berpikir bahwa mereka berada di atas angin.
“Sebaiknya kita pergi, Val,” kata temannya yang merekam tadi. “Sebentar lagi dosen akan melewati tempat ini, aku tidak mau terlibat masalah.”
Meskipun dia terlihat keberatan, Valeria akhirnya menuruti permintaan temannya itu dan pergi dari tempat ini. Kedua temannya itu bukan orang yang aku kenal, mereka juga tidak berasal dari teman sekelas kami. Apakah dia membawa teman dari luar kampus atau mereka mahasiswa dari fakultas lain? Dia benar-benar seorang pengecut yang membawa teman-temannya saat menghadapi Clarissa.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku pada Clarissa. Dia mengangguk pelan sambil mengambil tasnya yang ada di atas rumput. “Bila kamu bertanya-tanya, dia adalah teman sekelasku yang kebetulan sudah lama menyukai Hadi. Sepertinya dia memanfaatkan berita buruk itu untuk menyerang kamu.”
“Ini bukan yang pertama, jadi aku tidak terkejut.” Dia tersenyum tipis.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Kamu sudah sering diperlakukan seperti ini oleh mahasiswa yang lain?” tanyaku khawatir. Sejak kapan kampus ini berubah menjadi tempat mahasiswa bergosip?
“Setelah beberapa minggu yang lalu Hadi memamerkan hubungan kami dengan datang menjemput aku setiap kali jam makan siang dan pulang kuliah, siapa yang tidak tahu hubungan di antara kami?” Dia mengangkat kedua bahunya.
“Kamu harus melaporkan kejadian ini kepada dosen, Clarissa. Menangani masalah ini seorang diri hanya akan menyeret kamu ke dalam masalah yang lebih rumit. Lihat saja apa yang dikatakan Valeria tadi. Dia menuduh kamu yang menyakiti mereka,” kataku dengan nada serius. “Kesaksian tiga orang lebih kuat daripada satu orang.”
“Ini hanya sementara, Colin. Setelah beberapa saat mereka akan melupakan berita yang telah dihapus itu. Tidak akan ada orang yang berani mengganggu aku lagi.” Melihat dia berjalan menuju perpustakaan, aku mengikutinya. “Mengapa kamu mengikuti aku?”
“Kamu mau ke perpustakaan?” tanyaku. Dia mengangguk ragu. “Aku juga mau ke sana.”
Dia melihat ke sekelilingku. “Sendirian?” tanyanya heran.
“Tidak. Aku bersama kamu,” jawabku bercanda. Dia menggeleng pelan. “Kalau yang kamu maksud adalah Hadi, maka tidak. Dia sudah pulang, jadi aku tidak bersamanya ke perpustakaan.”
“Apa kabarnya?” tanyanya sambil lalu, seolah-olah tidak mau menunjukkan bahwa dia sangat ingin tahu keadaan dari sahabat baikku itu.
“Baik,” jawabku singkat. Dia menatap aku sesaat sebelum mengangguk mengerti. Aku tersenyum, dia pasti ingin tahu lebih banyak mengenai Hadi. “Kamu beruntung tidak perlu bertemu dengannya setiap hari. Hadi bukan lagi teman yang menyenangkan. Dia sensitif seperti, maaf, perempuan yang sedang datang bulan. Bedanya, dia sensitif setiap hari.”
“Kalikan sepuluh, maka kamu akan bisa membayangkan kata-kata seperti apa yang keluar dari mulutnya,” kataku dengan serius.
“Separah itu?” tanyanya tidak percaya.
“Separah itu.” Aku mengangguk tegas.
Wajah Clarissa berubah sedih. Dia mengalihkan pandangannya dengan melihat keadaan di depannya. Kami sudah sampai di perpustakaan, jadi kami berbelok menuju ruang belajar. Kami tidak perlu masuk ke perpustakaan karena kami tidak membutuhkan buku, hanya ruang belajar yang tenang.
“Ada apa? Mengapa kamu terlihat sedih?” tanyaku sebelum kami masuk ke ruang belajar dan tidak bisa mengobrol lagi.
Dia menggeleng pelan. “Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Keputusan ini adalah keputusan yang terbaik, tetapi aku mulai mempertanyakan diriku sendiri selama beberapa hari ini. Benarkah ini jalan yang terbaik bagi kami berdua?”
__ADS_1
“Clarissa, kamu memutuskan segalanya sendiri, jadi kamu tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah jalan yang terbaik bagi kalian berdua. Keputusanmu adalah jalan yang terbaik bagi dirimu sendiri.” Aku tahu bahwa aku terdengar kejam, tetapi aku harus mengatakannya.
“Kamu tidak mendiskusikan hal ini terlebih dahulu dengan Hadi. Sama seperti yang aku lakukan pada Dira. Aku memutuskan untuk menggunakan cara yang sangat rendah yang aku pikir akan melindungi dia.” Aku tersenyum tipis. “Aku sangat menyesal sudah menyakiti dia.”
“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengingatkan kamu pada masalahmu dengan Dira.”
“Tidak masalah.” Aku kembali tersenyum. “Lagipula aku sudah punya cara jitu untuk mendapatkan hatinya dan keluarganya kembali. Dira akan kembali menjadi pacarku dalam waktu dekat.”
“Cukup percaya diri juga, ya,” goda Clarissa. Aku tertawa mendengarnya.
“Sebaiknya kamu juga mulai memikirkan cara untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Hadi. Itu pun jika kamu masih ingin bersamanya.” Aku mengangkat salah satu tanganku. “Jangan bertanya kepadaku, karena aku tidak akan bisa menjawabnya. Hanya kamu sendiri yang tahu cara apa yang manjur untuk memenangkan hati Hadi kembali.”
“Kalau aku tahu caranya, aku tidak akan bertanya.” Dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Aha! Jadi, dugaanku benar. Kamu ingin kembali pada Hadi?” Aku sangat senang mendengar dia keceplosan, karena itu artinya dia bicara jujur.
“Aku tidak datang ke sini untuk bicara dari hati ke hati denganmu. Sampai nanti.” Dengan wajah memerah, dia membuka pintu ruang belajar dan masuk tanpa melihat ke arahku lagi.
Aku mengulum senyum melihat tingkahnya. Hadi yang malang. Seharusnya dia resmi bertunangan dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya beberapa minggu yang lalu. Tetapi gadis ini begitu ketakutan dengan berita yang beredar dan memutuskan hubungan mereka. Mengapa Clarissa tidak belajar dari kebodohan yang sudah aku lakukan?
Menjelang sore, aku keluar dari ruang belajar. Clarissa sudah pulang lebih dahulu, jadi aku berjalan sendiri menuju tempat parkir. Aku memutuskan untuk pergi ke sebuah gedung perkantoran lebih dahulu. Lalu lintas menuju pusat kota lebih lancar daripada ke arah sebaliknya sehingga aku tidak menghabiskan banyak waktu di perjalanan.
“Colin?” tanya Mama yang terkejut melihat kedatanganku. Dia melihat ke sekeliling kami. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Bila pada pagi hari Dad yang bertugas mengantar Mama ke tempat kerja, maka pada sore harinya Mama pulang ke apartemen menggunakan transportasi publik. Hanya pada kondisi tertentu, Mama meminta aku atau Dad untuk menjemputnya dari kantor. Jadi, wajar saja dia terkejut melihat aku berdiri di dekat pintu utama gedung tempatnya bekerja.
“Aku ingin berdiskusi lebih lanjut mengenai usul yang Mama sampaikan padaku,” jawabku.
Dia tersenyum penuh arti. “Dira hampir lulus SMU dan kamu pikir kini saatnya untuk melakukan rencana itu?” Aku mengangguk cepat. “Aku butuh bukti bahwa kamu serius dengan tekadmu untuk memperbaiki hubungan kalian.”
__ADS_1
“Aku bisa memberikan buktinya kepada Mama sekarang.”