
Pak Kim mengendarai mobilnya kencang menuju apartment Ana. Ia benar benar tengah terbakar emosi, namun ia juga takut jika sikapnya tadi bisa berakibat fatal oada perusahaan Ana. Namun lagi lagi ia sadar bahwa harga diri Ana jauh lebih utama, bahkan ia bisa menuntut manusia manusia cabul itu.
Setibanya di parkiran basement apartment Ana, Pak Kim melirik ke jam tangannya, pukul 11.30 malam, ia berharap tidak akan bertemu dengan Louis karena itu akan sangat mengganggu. Louis pasti akan menanyakan banyak hal lagi padanya. Ia segera menuju lift, tentu ia diperiksa terlebih dahulu oleh security yang berjaga disana.
Pak Kim berjalan perlahan menuju pintu apartment Ana, untung saja ia tidak bertemu Louis. Ia segera masuk ke dalam, menuju ruang kerja Ana, ia mengambil beberapa buku yang masih baru dan terbungkus plastik telah disusun rapi di rak buku tempel di dinding, ia yakin Ana belum sempat membacanya, dan ia akan lebih membutuhkan buku buku baru itu sebagai bahan bacaannya.
Pak Kim berencana ingin membawa kan laptop Ana yang ada di dalam kamarnya, namun saat hendak membuka pintu ruang kerja itu, ia mendengar suara kunci pintu depan Ana tengah terbuka.
Pak Kim segera mematikan lampu ruang kerja Ana, ia segera bersembunyi di bawah meja kerja Ana. Ia berpikir bahwa itu adalah Louis. Ternyata bukan !
Ada suara 3 orang pria yang berbeda, samar samar terdengar mereka saling berbisik dan sempat menyebutkan laptop dan brankas Ana.
Seseorang masuk ke ruang kerja Ana, ia terus mengendap endap di dalam kegelapan. Langkah pria itu semakin mendekat ke arah meja tempat Pak Kim bersembunyi. Saat melihat sekeliling, Pak Kim melihat ada sebuah pistol yang menempel di sudut kolong meja itu. Pak Kim menarik pistol itu perlahan, saat wajib militer dulu ia memang pernah menggunakan senjata, namun setelahnya ia tidak lagi pernah memegang senjata.
Ia berusaha tenang di bawah sana. Pria itu tampak memeriksa semua laci lemari Ana, kecuali meja kerja Ana.
"Kau sudah menemukannya??" Seru seseorang dari arah luar.
"Aku menemukan cap segelnya.. tapi aku tidak melihat brankas disini.." jawab pria itu dekat sekali dengan posisi meja kerja Ana.
"Kita tidak memerlukan brankas itu lagi.. dia hanya menyuruh kita mengambil laptop ini dan cap segel itu.." seru pria itu dari luar setengah berbisik.
"Baiklah.. ayo kita pergi.." mereka terdengar bersiap akan pergi, Pak Kim segera keluar dari persembunyian dan menyerang salah seorang pria itu. Pria yang lainnya datang menyerang Pak Kim hingga pistol di tangannya terpental jauh, dan ia pun di angkat lalu di banting ke atas meja kerja Ana hingga meja itu hancur ambruk ke bawah. Mereka bertiga menendang Pak Kim keras bergantian. Kakinya di tarik lalu diseret keluar dari ruang kerja Ana.
Pak Kim mengerang kesakitan, masih berusaha melawan, namun lagi lagi tubuhnya masih di tendang keras oleh penjahat itu. Samar sama Pak Kim melihat ke arah dinding, tampak box kontrol disana, Pak Kim melempar ponselnya sekuat tenaga ke arah box itu hingga mengeluarkan bunyi nyaring yang sangat keras, untungnya ia mengenai box kontrol itu yang ternyata berfungsi sebagai alarm darurat.
Ketiga pria itu segera berlarian keluar berusaha kabur, namun Pak Kim berhasil menahan sebelah kaki pelaku. Pria itu berusaha menendang keras kepalanya namun Pak Kim terus memeluk erat kaki pelaku itu.
"Pak Kim !!!"
Teriakan pria itu samar samar terdengar, pandangan Pak Kim semakin kabur hingga ia tak sadarkan diri.
****
Louis mondar mandir di depan pintu IGD, sementara banyak yang sedang memperhatikannya, ia terus berusaha menyembunyikan wajahnya dari perawat dan keluarga pasien yang ada di IGD juga.
Saat itu ia baru tiba di apartment setelah shooting seharian, ketika keluar dari lift ia langsung di sambut suara alarm dari apartment Ana, disusul para security dari pintu lift yang satunya. Sontak Louis segera berlari ke arah apartment Ana dan mendapati Pak Kim tengah di injak injak oleh penjahat itu hingga babak belur.
__ADS_1
Louis segera melayangkan bogem mentah ke rahang pria itu hingga pria itu terjerembab ke lantai, Louis segera menolong Pak Kim dengan menelepon polisi dan ambulance. Ia segera mengikat tangan penjahat itu dengan dasi Pak Kim lalu menunggu hingga polisi dan ambulance datang.
Setelah lama di tangani dokter, dokter igd itu segera keluar menemui Louis dan Pak Dong yang menyusul kesana, karena Louis khawatir banyak orang akan mengerumuninya.
"Tuan Kim akan segera di pindah ke ruang rawat, ia mengalami keretakan pada tulang di pergelangan tangannya, untungnya dia tidak mengalami luka parah lainnya.. ia hanya butuh istirahat dan perawatan selama beberapa hari ke depan.." jelas dokter itu pada Louis dan Pak Dong yang kini tampak lega.
"Terima kasih dokter.. apa dia sudah sadar??" ujar Louis sedikit lega.
"Sudah Tuan.. kami akan segera pindahkan Tuan Kim ke ruang rawatnya.."
"Baiklah.. terima kasih.."
"Silahkan masuk ke dalam.. tapi hanya satu orang saja.." tambah dokter itu lagi.
"Biar saya saja dok.." sahut Louis segera masuk meninggalkan Pak Dong yang menunggu di luar.
Louis mendekati Pak Kim yang tengah duduk bersandar dengan lemas.
"Anda baik baik saja Pak Kim??"
"Bagaimana penjahat itu?" Tanya Pak Kim mengerutkan dahinya.
"Si*l !!" Umpat Pak Kim kesal.
"Tapi.. aku rasa.. aku pernah melihat pria itu.. maksudku.. dia tampak tidak asing.. tapi aku masih belum yakin dimana aku pernah melihatnya.."
"Benarkah?? Tolong coba anda ingat ingat agar itu bisa menjadi petunjuk.. Sepertinya seseorang telah memerintahkan mereka.." ujar Pak Kim mengingat ingat percakapan 3 penjahat itu.
"Tapiii.. bagaimana mereka bisa tau password kunci apartment nya??" Tanya Louis lagi.
"Jika dalangnya orang terdekat Ms.Grey.. itu artinya pasti ada yang memberitahu mereka.. tapi.. jika itu orang yang mengenal Ms.Grey.. berarti dia akan sangat gampang menebak password nya.."
"Apa mereka mencari Ana??" Tanya Louis dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Tidak.. mereka hanya mencuri laptop dan segel Ms.Grey.. mereka tau Ms.Grey tidak ada disana.."
Louis tertegun.
__ADS_1
"Kenapa mencuri laptop dan cap segelnya??"
"Mereka pasti ingin mencari berniat buruk dengan cap segel itu.. dan mengincar sesuatu di dalam laptop kerja Ms.Grey.." tebak Pak Kim menduga duga.
Dan secara bersamaan Pak Kim dan Louis sama sama berpikir bahwa Jane lah dalang di balik itu semua.
"Sebaiknya kita beritahu pada Ana.." seru Louis lirih.
"Tidak !!" Seru Pak Kim setengah membentak.
"Jangan.. dia.. dia sangat sibuk dan banyak pikiran saat ini.. kita tidak bisa memberitahunya.." geleng Pak Kim tampak aneh.
"Tapi.. Ana pasti tau siapa pelakunya Pak Kim.. bahkan aku yakin pelaku yang di kantor polisi saat ini tidak akan buka mulut.."
"Kita tidak bisa memberitahunya sekarang.." ujar Pak Kim lirih. "Kita.. akan memberitahunya nanti.."
Louis hanya tertegun. Ia merasa Pak Kim telah menyembunyikan sesuatu.
Drrrtttt... drrrtttt...
Ponsel Louis bergetar. Ia segera mengangkat telepon itu.
"Halo.. iya saya sendiri.. apa??!!! Jadi bagaimana??? Baiklah saya akan segera kesana.." seru Louis panik.
"Ada apa?" Tanya Pak Kim bingung.
"Kantor polisi itu di serang.. dan pelakunya telah di tembak mati di kantor polisi.. mereka memintaku untuk datang kesana.."
"Saya akan ikut bersama anda.." ujar Pak Kim berusaha bangkit.
"Tidak.. apa yang anda lakukan?? Lihat kondisi anda.. biar aku dan Pak Dong yang kesana.."
"Tapi saya lah saksi matanya saat itu.. saya harus kesana sekarang.."
"Pak Kim.." rengek Louis berusaha menghentikan Pak Kim.
"Saya tidak bisa diam saja.. ini menyangkut Ms.Grey.. saya tidak akan tinggal diam.. jadi.. biarkan saya ikut kesana sekarang.." pinta Pak Kim terengah menahan nyeri di sekujur badannya.
__ADS_1
****