
Ana kini berdiri di depan apartment lamanya, apartment yang di telah di beli Pak Kim. Ana mencoba membuka password pintu itu namun tak berhasil, sepertinya kode kunci keamanannya telah diganti oleh Pak Kim.
Kemudian Ana mencoba menghubungi Pak Kim. Tak butuh waktu lama, Pak Kim segera menerima panggilan itu.
"Halo.."
"Pak Kim ini aku.." ujar Ana lirih.
"Ana?" tebaknya mengenali suara Ana.
"Hmm.. Aku sekarang ada di apartment lamaku.. Apa kau merubah kunci sandinya?"
"Ah.. Iya.. Tapi untuk sementara itu hanya bisa di gunakan manual dengan kartu pengamanan.. Kartunya ada padaku.. Aku takut terjadi pembobolan seperti sebelumnya.. Jadi aku memilih pengaksesan hanya menggunakan kartu.."
"Ah.. Benarkah?? Baiklah kalau begitu.."
"A..apa kau mau aku mengantar kartunya sekarang kesana? Kita bisa bertemu di lobi.." ujar Pak Kim terdengar gugup.
"Ah.. Tidak perlu.. Aku bisa kembali lagi besok.." ujar Ana mengabaikan nada Pak Kim yang terdengar gugup.
"Apa kau akan tinggal disana?" tanyanya lagi.
"Sepertinya begitu.. mansion tampak kacau balau sekarang, dan terus terusan di hotel membuatku merasa tidak nyaman.."
"Ah.. Begitu.. Baiklah.. Aku akan menyerahkan kuncinya besok padamu.." ujar Pak Kim lirih.
"Baiklah.." Ana segera mengakhiri panggilan itu. Ia menatap ke arah pintu beberapa saat, lalu kemudian memutuskan untuk segera pergi dari sana, namun langkahnya terhenti ketika ia samar mendengar suara nada dering sebuah ponsel dari dalam apartment nya.
Ia menoleh ke arah pintu apartment nya itu. Ana mendengar suara samar itu dengan seksama, namun tak lagi terdengar. Seingatnya apartment itu sangat kedap. Tetapi, jika ia berdiri di balik pintu, maka suara keras dapat terdengar meski samar-samar.
Itu artinya, ada orang di dalam apartment nya, dan sedang berdiri di balik pintu itu. Ana menelan saliva nya, ia bahkan lupa membawa pistolnya yang ada di dalam dashboard mobil.
Tinggg..
Suara pintu lift terdengar telah terbuka, sosok tak ia sangka muncul disana.
"Oh.. Ana?" seru Louis kaget mendapati Ana tengah berdiri disana.
"..." Ana tercengang. Lalu ia teringat jika apartment di seberang adalah milik Louis.
"Kau sedang apa disini??" tanyanya penasaran.
"Ah.. Ini apartment milik ayahku.. Tadinya aku ingin singgah kemari.. Tapi aku lupa membawa kuncinya.." ujar Ana canggung.
"Benarkah?? di seberangnya apartment milikku.. Aku akan pindah kesini 2 hari lagi.. Apa kau akan tinggal disana??"
__ADS_1
Ana hanya menggeleng pelan.
"Aku belum memutuskan.." ujarnya menjadi ragu. Ia berencana menghindari Louis, itu artinya ia tidak bisa tinggal disana. Kemudian Ana segera berlalu meninggalkan Louis.
"Mau singgah ke apartment ku??" seru Louis menghentikan langkaj Ana.
"Tentu.." angguk Ana cepat langsung balik badan berjalan kembali menuju ke depan pintu apartment Louis.
Louis hanya menahan tawanya melihat tingkah lucu Ana. Ana berdiri disana dengan canggung. Louis segera membuka kunci apartment nya. Mereka segera masuk ke dalam dan kembali menutup pintu itu rapat.
Saat masuk ke dalam, Ana berhenti ke depan layar pemantau pintu. Ia berdiam diri disana.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Louis heran.
"Ah.. Kamera milikmu tampak sangat jelas.. Aku bisa melihat ke arah luar dengan jelas.." jawab Ana tak mengalihkan pandangannya sedetikpun.
"Hahaha benarkah?? Aku tidak ingat bagaimana aku bisa mendapatkannya.. Atau mungkin itu sudah bawaan sejak awal aku membeli apartment ini.."
"Oh.." angguk Ana menjawab dengan singkat.
Louis terdengar tengah membenahi sesuatu, tapi Ana tak memedulikannya sama sekali. Louis melihat Ana tengah mengotak-atik sesuatu di layar itu. Merasa penasaran, Louis mendekat ke arah Ana, ia melihat Ana tampak membelalak kaget saat melihat layar itu. Louis pun ikut melihat ke arah sana. Ternyata tampak seorang pria keluar mengendap-endap dari dalam apartment miliknya.
Ana segera berlari menuju pintu. Diikuti Louis yang ingin mengikutinya.
"Siapa dia?" tanya Louis penasaran.
Pria itu tampak memperhatikan pintu apartment Louis cukup lama. Ia mengenakan topi, masker dan jaket serba berwarna hitam membuat Ana kesulitan mengenali sosok itu. Kemudian ia tampak merogoh sakunya, Ana yang siaga segera memegang gagang pintu dengan tangan kanannya. Jika pria itu mengeluarkan pistol, Ana akan segera membuka pintu itu dan menyerang pria itu dengan tangan kosong.
Namun ternyata pria itu tampak mengeluarkan ponselnya, ia segera menerima panggilan masuk disana lalu segera pergi dengan tergesa-gesa.
Ana menghela nafas dengan terengah. Ia tampak menahan nafas cukup lama. Kemudian ia melihat ke arah Louis yang tampak mematung sejak tadi. Sadar tangannya masih membekap mulut Louis, Ana segera menyingkirkan tangannya dengan canggung.
"Maaf.." ujarnya lirih.
"Siapa orang itu?? Apa kau mengenalnya?" tanya Louis penasaran.
"Entahlah.. Aku akan menanyakannya pada Pak Kim.." ujar Ana lirih.
"Pak Kim?? Sekarang aku semakin yakin jika kau bukan putri Pak Kim.. Dia sebelumnya memanggil namamu dengan sebutan Ms.Grey.. Lalu kini kau menyebut namanya dengan sebutan Pak Kim.."
"Apa yang ingin kau katakan??"
"Siapa kau sebenarnya.." tanya Louis dengan tatapan intens. Nada bicaranya terdengar tegas dan penuh penekanan.
"Apa maksudmu??"
__ADS_1
"Kenapa kau selalu ada dalam ingatanku??" tanya Louis lagi.
Ana hanya menatap Louis intens.
"Itu bukan hal yang penting.. Kita hanya pernah berteman.. Itu saja.."
"Tapi aku terlihat sangat bahagia bersamamu.. Dan kau tampak.."
"Tampak mengerikan?? Apa di ingatanmu kau sudah mengingat semuanya?? Siapa aku sebenarnya???"
"Aku hanya mengingat hal yang menyenangkan saat bersamamu.."
Ana terlihat smirk dengan tatapan dingin.
"Itu hanya hayalanmu saja.." gumam Ana lirih.
"Apa maksudmu??"
Ana melangkah maju mendekati Louis
"Kau ingin tau yang sebenarnya??" bisik Ana lirih.
Louis mengangguk mantap.
"Aku ini seorang mafia, aku seorang pembunuh.. Bahkan kau pernah melihatku membunuh musuhku.. Kau tau segalanya tentang aku.." ujar Ana berbisik.
Louis tampak tidak terkejut sama sekali.
"Lalu bagaimana aku bisa bertahan denganmu?."
"Entahlah.. Mungkin karena aku selalu mengancammu.. Kau tau apa yang akan terjadi jika kau mengusikku.. Tidak hanya karir dan agensimu yang hancur.. Tapi kau juga akan kehilangan keluargamu.."
"Bohong.." timpal Louis tenang.
Ana justru tampak kaget dengan respon Louis.
"Kau bukan orang yang seperti itu.." imbuh Louis.
"Jangan bertingkah seolah kau mengenalku.." Ana melangkah mundur.
"Kalau begitu sampai jumpa.. Aku pergi dulu.." pamit Ana segera menarik gagang pintu apartment Louis.
"Aku akan berusaha memulihkan ingatanku.." timpal Louis tegas.
"Hmm.. Semangat.." ujar Ana mengabaikan Louis. Ia segera berlalu pergj meninggalkan apartment Louis.
__ADS_1
...----------------...
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)