Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 76 : Makan malam di kencan pertama


__ADS_3

Sore hari Ana sempat meminta Pak Kim untuk mencari orang memasang cctv dan monitor control di dekat pintu apartment nya, untuk memudahkan ia melihat situasi di balik pintu.


Di malam harinya, Ana berencana makan malam dengan menu bekal ibu Louis yang sudah ia panaskan kembali dan dihidang di atas meja.


Ia duduk termenung cukup lama di meja makan menatap makanan itu.


Ia sudah menenggak beberapa macam obat yang diberi dokter, sebelum mencoba untuk makan.


Tiba tiba Ana teringat pada Louis.


Ia mengambil ponselnya, memilih kontak Louis dan memanggilnya.


Berbarengan dengan itu suara bel Ana pun berbunyi. Ia segera memeriksa layar monitor kontrol dekat pintunya.


Tampak sosok Louis berdiri di depan pintu, lalu Ana segera membuka pintunya.


"Kau meneleponku?" Tanyanya menunjukkan layar ponselnya pada Ana.


"Hmm.." angguk Ana cepat.


"Ada apa?" Tanya Louis penasaran.


"Apa yang kau bawa??" Tanya Ana balik mengabaikan pertanyaan Louis.


"Ah.. aku memesan ayam goreng super pedas dan pizza.. porsinya banyak sekali, jadi aku ingin berbagi denganmu.." ujar Louis menunjukkan bungkusan yang ada di tangannya.


"Padahal kau bisa memesan porsi kecil.." gumam Ana lirih.


"Masuklah.." ujar Ana segera masuk lebih dulu, di susul Louis sambil segera menutup pintu.


"Kau juga baru mau makan malam??" Tanya Louis melihat meja makan Ana sudah terhidang menu makan malam dari ibunya tadi pagi.


"Hmm.." angguk Ana pelan.


"Apa tadi kau menelepon karena ingin mengajakku makan malam bersamamu??" Tanya Louis lagi dengan nada menggoda.


"Duduklah.." perintah Ana lagi lagi mengabaikan ucapan Louis.


"Cih.. selalu saja mengabaikanku.." gerutu Louis pelan, ia segera duduk di meja makan bersama Ana.


Ana tampak melihat tiap kursi yang kosong.


"Sepertinya aku harus mengganti meja makanku lagi.."


"Memangnya kenapa??"


"Ini terlalu besar, terlalu memakan tempat.." tukas Ana menghela nafas ringan.


"Lebih tepatnya terasa jadi sangat sepi kan?? Memiliki meja makan sebesar ini namun hanya ada kau sendiri yang mendudukinya.. Kau harus belajar lebih jujur dengan isi hatimu Ana.. jangan selalu lari darinya.. ungkapkan apa yang selama ini selalu kau rasakan.."

__ADS_1


"Makanlah.. nanti keburu dingin.." timpal Ana, lagi lagi mengabaikan Louis.


Louis hanya tersenyum lalu segera mulai menikmati makanannya.


Ia terus memperhatikan Ana yang hanya makan beberapa suap saja. Dan terus menerus banyak minum air mineral hangat.


"Kau daritadi hanya banyak minum air.. apa kau sedang sakit perut??"


"Hmm.. perutku sedang terasa tidak enak.."


"Mau aku belikan obat??"


"Tidak perlu.. aku sudah minum obat.."


"Benarkah?? Katakan padaku apapun yang kau butuhkan.. aku akan memenuhinya.. jangan sungkan.."


"Baiklah.."


"Jadi.. kau mau kemana??" Tanya Louis setelah ia melihat ada koper dan tas jinjing di ruang tv Ana, saat baru masuk tadi.


"Ah.. aku akan ke negara E untuk beberapa hari.."


"Kau mau keluar negeri lagi?? Bukankah kau baru saja sembuh?? Bahkan luka lukamu masih di plaster.."


"Aku harus pergi.. ini sangat penting.."


"Iyaa.. aku harus langsung kesana mengurusnya.."


"Bukankah menurutmu itu sangat kejam?? Maksudku.. dia sudah sangat di permalukan, dan kini dia juga harus kehilangan perusahaannya.." gumam Louis dengan nada hati hati.


"Bukankah harusnya kau lebih kasihan dengan para korbannya??"


"Korban?? Maksudmu saat kau berkelahi dengannya waktu itu??" Louis tampak bingung.


Ana merogoh ponselnya dalam saku celananya. Ia tampak mengutak atik ponselnya lalu menyodorkannya pada Louis. Disana ia melihat laporan laporan di kepolisian tentang pelecehan yang di lakukan Franz di negara E, Ana sudah mengumpulkan banyak bukti kejahatan Franz, banyak korban yang menjadi trauma akibat pelecehan seksu*l yang ia lakukan, polisi tidak menangkap Franz karena ia memanfaatkan kekuasaannya disana, mereka hanya berdamai dengan keluarga korban dan membayar uang kompensasi yang besar.


"Aku tidak peduli jika dia berusaha mencelakaiku.. tapi aku tidak akan tinggal diam dengan perlakuannya.. seberapa banyak pun uang yang ia bayar, tidak sepadan dengan penderitaan dan mimpi buruk yang di alami korbannya.. lagipula ia selalu menargetkan gadis miskin untuk menjadi korbannya.. aku tau apa yang mereka rasakan.. bahkan aku masih bermimpi buruk.." semakin lama suara Ana semakin lirih, ia terdengar sangat sedih.


"Apa kau pernah mengalami hal buruk di masa lalumu??" Tanya Louis pelan.


"Aku akan menceritakannya lain kali.." ujar Ana lirih.


"Bajing*n gila.. dia benar benar harus di hukum.." umpat Louis lirih kesal.


Ana yang terkejut mendengar umpatan Louis tertegun dan tersenyum mendengarnya.


"Bahkan sekarang kau sudah pintar mengumpat.." ujar Ana terkekeh.


"Aku belajar banyak darimu.." imbuh Louis menyodorkan ponselnya.

__ADS_1


"Mungkin dia akan melakukan hal buruk untuk membalasku.. jadi aku harus bersiap siap untuk itu.."


"Apa kau tidak ingin meminta bantuan Lucas??"


"Aku tidak ingin berhubungan dengannya lagi.." ujar Ana lirih.


"Lalu apa rencanamu??" Tanya Louis mengalihkan.


"Entahlah.. aku sudah mengosongkan semua akun dana gelapnya.. dan berhasil mengambil alih perusahaannya.. dia dan Bibi Layla pasti benar benar akan menggila karena ini.. kira kira apa yang akan dia lakukan padaku??" Ana tampak tersenyum sinis.


"Bagimana jika kali ini dia mencoba membunuhmu??" Celetuk Louis khawatir.


"Dia tidak akan bisa menyentuhku.. bahkan dia tidak bisa melawanku dengan becus.." jawab Ana lalu terdiam. Pikirannya tiba tiba berputar. Ia sadar jika ia tidak bisa dikalahkan oleh Franz, maka Franz pasti akan menggunakan umpan lain sebagai korban untuk membuat Ana sakit hati.


"Ada apa??" Tanya Louis yang melihat raut wajah Ana berubah seketika.


"Tidak ada.." geleng Ana pelan, ia masih berpikir keras dalam benaknya.


"Kau sudah siap makan?? Pulanglah.. aku ingin istirahat.. besok aku harus berangkat pagi pagi sekali.." ujar Ana mengelap mulutnya dengan serbet di atas meja.


"Kau bahkan belum selesai makan.."


"Aku sudah kenyang.."


"Baiklah.. biar aku bereskan semua ini dulu.."


"Tidak perlu.. tinggalkan saja.."


"Sudahlah.. kau duduk diam saja disana.. biar aku yang bersihkan semua.."


Louis membersihkan dan menyimpan makanan yang masih bersisa ke dalam kulkas, ia mengelap meja dan mencuci piring piring kotor. Sementara Ana tampak tengah membersihkan lantai apartmentnya, ia tampak menyedot debu debu di lantai dengan vacum cleaner nya.


"Aku menyuruhmu duduk diam.. kenapa kau malah membersihkan lantai??" tukas Louis mengelap tangannya setelah mencuci piring.


"Aku tidak bisa hanya duduk diam saja.."


"Semua sudah beres.. sekarang aku pulang dulu.." Louis segera berlalu keluar diikuti Ana mengantarnya sampai depan pintu.


"Terima kasih.." seru Ana dari sisi pintu.


"Tidak perlu berterima kasih, mulai sekarang aku akan selalu menemanimu makan malam agar kau tidak kesepian.."


Ana hanya menatapnya dengan tatapan kosong.


"Aku akan menghitung malam ini sebagai makan malam kencan pertama kita.." ujar Louis menyadarkan lamunan Ana.


Ia lalu segera mendorong tuas daun pintu Ana hingga pintu itu tertutup.


Louis masih berdiri di pintu apartment Ana cukup lama. Sementara Ana juga masih melihat Louis di layar monitor cctv dekat pintu. Louis tampak berdiri membatu dengan tatapan kosong, ia sesekali juga tampak tersenyum. Beberapa menit ia berdiri disana, akhirnya ia segera masuk kedalam apartment nya.

__ADS_1


__ADS_2