
"A.. Apa??" Mr. Lee tampak sangat terkejut dengan ucapan Ana.
"Aku bahkan tidak menyangka jika kau orang yang menyebarkan videoku ke stasiun tv.." imbuh Ana lirih.
"A.. Apa yang anda bicarakan?? Anda salah paham.." tukas Mr. Lee gugup.
Ana mengeluarkan ponselnya. Di sana terdapat rekaman cctv dimana menunjukkan video Mr. Lee menemui salah seorang reporter di stasiun tv itu. Ia juga tampak sangat jelas menyerahkan sesuatu secara sembunyi-sembunyi.
"A.. Apa ini ?? Ini tipuan !! Ini sama sekali tidak benar !!" bantahnya kalap.
"Seharusnya kau tidak main main denganku.." geram Ana menyeringai.
"Ma.. Maafkan aku Ms. Grey !! Tapi ini tidak seperti yang kau pikirkan !!"
"Benarkah?? Aku bahkan menuduh keluargaku karena ulahmu ini !!" imbuh Ana lagi.
Ia mendapati rekaman cctv itu dari pengirim anonim. Saat ia di rumah sakit malam itu, sebelum ia kembali ke lapas, ia mendapati sebuah flashdisk yang tengah di bungkus rapi ada dalam ****** ********. Ia yakin jika perawat yang menyalipkannya. Namun ia tak tau siapa perawat itu, dan siapa yang memerintahkannya. Malam itu Jane memang pergi ke stasiun tv, namun ia datang setelah mendapat panggilan telepon dari Mr. Lee. Ana sudah memeriksa kebenaran itu dari Neo sang hacker. Jane di jebak seolah-olah ia datang kesana untuk menyebar video itu. Padahal bukan.
Ana bahkan tau semua rencana Jane dan Pak Kim. Ia telah menyadap ruang kerja Pak Kim berkat bantuan Neo. Ia berhutang banyak padanya.
Mr. Lee berlutut memohon ampunan Ana. "Maafkan aku Ms. Grey !! Aku tidak bermaksud melakukan ini.." imbuhnya ketakutan.
"Serahkan surat pengunduran dirimu.. Dan akui semua kejahatanmu pada Pak Kim.. Maka aku akan melupakan ini.." tukas Ana tegas.
"Ta.. Tapi.."
"Kenapa?? Apa aku harus melaporkan ini ke polisi agar kau berhenti secara tidak terhotmat??" ancam Ana. "Seharusnya kau menurut saat aku bersikap baik seperti ini.. Aku sedang berusaha menjadi lebih baik.. Jadi.. Jangan pancing aku untuk menjadi mengerikan seperti dulu lagi.." gumam Ana setengah berbisik.
Mr. Lee terus menunduk ketakutan. Ia takut Ana akan menghukumnya atau bahkan menghabisinya. Namun Ana tidak lagi ingin melakukan kejahatan apapun. Itu semua demi masa depannya dan masa depan bayinya. Ia kini sedang berusaha untuk berdamai dengan hati dan hidupnya.
...----------------...
Jane tiba di lobi hotel. Ia mendapati Jane tengah duduk di ruang tunggu lobi. Ia melihat ke arah Ana yang tampak baru tiba dini hari itu.
"Kau kemana saja??" tanyanya cemas segera menghampiri.
"Aku habis bersama Louis.." jawab Ana enteng. "Ada apa malam-malam kau datang kemari??" tanya Ana heran.
"Kau tidak mengangkat teleponmu.. Staff bilang kau belum kembali ke hotel.." jelasnya tampak khawatir.
"Maaf.. Hp ku tinggal di dalam mobil.. Aku makan malam bersama Louis.."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu.." angguk jane lega.
"Aku.. Akan menikah dengan, Lou.. Aku sudah memberitahu keluarganya.."
Jane membelalak kaget. "Be.. Benarkah?? Kau serius??"
"Hmm.. Tentu saja.." angguk Ana cepat.
Jane tampak teringat sesuatu. "Ayo kita bicara di kamarmu." ajak Jane menuju lift. Ana bertanya-tanya pada Jane. Namun jane hanya cengengesan mengabaikan Ana yang penasaran.
Setibanya di kamar Ana, ia tampak segera mengeluarkan sebuah amplop kecil dari balik saku jaketnya.
"Apa ini??" tanya Ana penasaran.
"Hadiah pernikahanmu.." jawabnya girang.
"Cih.. Bahkan kami belum menentukan tanggalnya.." ujar Ana terkekeh.
"Anggap saja ini perayaan awal dariku.." sahut Jane menatap Ana intens.
"Jangan di buka sekarang.. Bukalah nanti di hari pernikahanmu.." seru Jane menahan tangan Ana yang hendak membuka amplop itu.
"Kalau begitu, aku pulang dulu.." ujar Jane pamit.
"Kau tidak ingin minum dulu??" tawar Ana.
"Tidak.. Mari kita minum lain waktu.. Di saat kau merasa jauh lebih baik.. Bukankah pencernaanmu sedang tidak baik??" imbuh Jane perhatian.
"Hmm.. Aku hanya perlu meminum obat dan vitamin.." angguk Ana cepat.
"Baiklah kalau begitu.. Sampai nanti.." lambai Jane.
"Grandma.." seru Ana menghentikan langkah Jane. Ia menoleh ke arah ana.
"Ada apa??"
Ana menatap Jane dengan tatapan sendu. Ia mendekati Jane dan memeluknya erat. "Kau tau aku tidak suka melakukan hal ini.. Tapi sekarang, aku sangat ingin melakukannya.." gumam Ana lirih memeluk Jane erat.
Jane membalas pelukan itu seraya mengusap punggung Ana hangat.
"Apa berat badanmu bertambah??" tanya Jane merasakan tulang rusuk Ana yang mulai tertimbun daging dan lemak.
__ADS_1
"Tentu saja, karena aku sekarang tidak sendiri lagi.." jawab Ana enteng melepas pelukan itu perlahan.
"Cih.. Apa bersama Louis membuatmu sangat gembira??" goda Jane.
"Tentu saja.. Namun kau yang akan lebih bahagia.." balas Ana menggoda Jane seraya mengusap perutnya.
"Aku?? Tentu saja.. Aku bahagia jika kau hidup dengan sangat bahagia, Ana.." imbuh Jane tulus. Namun ia kemudian tertegun. Matanya tertuju pada arah tangan Ana yang mengusap perutnya.
"A.. Apa perutmu sakit lagi??" tanyanya khawatir.
"Hmm.. Tapi bukan karena penyakitku waktu itu.." geleng Ana terkekeh.
"Kenapa kau tertawa?? Kau mengerjaiku??" timpal Jane kesal.
Ana melangkah mendekati Jane. Ia berbisik ke telinganya dengan girang. "Kau akan segera punya cicit.." bisik Ana.
"A.. Apa?? Ka.. Kau hamil??" matanya membelalak kaget. Mulutnya ternganga lebar.
Ana mengangguk seraya tertawa.
"Kau sudah gila?? Apa ini sungguhan??" Jane masih tak percaya.
"Tentu saja !!" angguk Ana berseru keras.
"Arggghhhh !!!" Jane memekik histeris. Ia meloncat-loncat kegirangan. Ia bahkan tak tau harus berekspresi seperti apa. Ia merasa sangat senang.
"Kau tidak menipuku kan??" tanyanya lagi memastikan.
Ana mengambil sebuah amplop kecil yang berisi hasil testpack dan hasil usg nya dari klinik kemarin, sebelum pulang dari klinik waktu itu, ia melakukan pemeriksaan usg.
Jane memegang foto usg itu dengan tangan bergetar. Matanya berkaca kaca merasa sangat terharu.
"Aku tidak percaya ini.." gumamnya bergetar.
"Berjanjilah akan terus bersikap baik padaku.." celetuk Ana manja.
"Tentu saja, aku akan melakukan semuanya untukmu dan untuk cicitku.. Aku akan menjaga dan melindungi kalian berdua dengan seluruh jiwaku.." timpal Jane menangis.
Ini kesekian kalinya Ana melihat Jane menangis. Namun kali ini adalah tangisan bahagia. Tangisan yang membuatnya sangat sangat bahagia.
...****************...
__ADS_1