
Sudah 2 minggu Ana di kurung dalam ruang isolasi. Ia bahkan menolak kunjungan Lucas dan Louis. Ia bahkan tak memakan makanannya selama berhari-hari hingga ia sempat di larikan ke klinik penjara karena tak sadarkan diri. Ia juga sudah berkali-kali tertangkap basah berusaha melakukan aksi bunuh diri dengan menggigiti pergelangan tangannya hingga terluka parah, sebelumnya ia berusaha menggantung lehernya dengan kain bajunya sendiri. Namun, aksi itu cepat ketahuan dan segera di hentikan. Ia selalu di awasi dengan sangat ketat.
Hari ini, ia akan di keluarkan dari ruang isolasi setelah 2 minggu mendekam di sana. Ia di bawa keluar. Namun, ternyata Lucas telah menantinya di lorong. Ana tampak mengabaikan Lucas begitu saja.
"Apa yang kau lakukan?????" saat ia melihat kondisi Ana yang tampak mengerikan. Wajah pucat pasi, bibir kering pecah-pecah, rambut kusut berantakan, tangan penuh bekas luka dan perban di sana-sini.
Ana terlihat mengabaikan Lucas begitu saja. Ia kemudian menyodorkan sebuah guci bulat berukuran cukup besar.
"Ini abu Jane... aku melakukannya sesuai surat wasiatnya... ia meninggalkan wasiat di brankas kamar hotelnya..."
Ana tertegun, ia menoleh ke arah guci itu, bibirnya bergetar tertahan.
"Semuanya sudah berakhir, Ana... aku mohon... sadarlah... kau masih punya aku, Louis dan Pak Kim... kami snagat menyayangimu... kami sangat merindukanmu, Ana..." isak tangis Lucas pecah seketika, ia tak lagi bisa menahan diri atas rasa sedihnya yang mendalam. Ia sangat tersiksa melihat kondisi Ana saat ini.
Ana segera mengambil guci abu Jane, lalu segera membawanya pergi bersama petugas lain yang tengah mendampinginya. Lucas benar-benar terus menangis terisak. Ia tak lagi sanggup berkata-kata.
****
Ana duduk di ujung sudut lapangan, ia memangku guci abu milik Jane. Menatap guci itu dengan pikiran kosong. Entah kenapa ia hanya termenunug dalam diam.
Bukkkkk....
Prangggggg !!!
Guci itu terjatuh ke tanah, seseorang tak sengaja menendang bola dan mengenainya. GUci itu pecah berserakan, untung abu Jane terbungkus dalam balutan kain putih yang masih bisa di selamatkan.
"Ma... maafkan aku, aku tidak sengaja..." ujar wanita itu berlari ketakutan menghampiri Ana.
Ana menengadah saat merasa jika ia mengenali suara wanita itu..
Deg !!!
Wanita itu membelalak kaget saat melihat siapa wanita yang ada di hadapannya.
"A...Anaaa..." mulut Dita ternganga lebar, matanya membelalak kaget.
"Senang bertemu denganmu..." sapa Ana menyeringai sinis.
"Aaaaaakkkkk !!!!" Dita berteriak ketras, segera berusaha lari. Namun, Ana justru jauh lebih cepat dari bayangannya, ia langsung menarik ujung rambut Dita. Menarik dan menjambaknya keras hingga Dita terseret.
"Aku mohon... maafkan aku !!! Aku mohon !!!! ampuni akuuu !!!" pekik Dita meraung ketakutan.
Tak ada satupun tahanan di sana yang berani mendekati mereka. Bahkan para penjaga tak tampak di sekitaran lapangan itu. Ana meraih pecahan guci yang berserakan di atas tanah, ia meraih potongan tertajam.
"Sejak awal aku sudah mencurigaimu..." geram Ana menjambak rambut Dita keras.
__ADS_1
"Berani sekali kau mengganggu keluargaku..." tambahnya.
Syutttttttt...
Ana menyayat batang leher dita dengan enteng, Darah mengucur deras.
Bukkkkkk...
Ia melayangkan pukulan keras ke kepala belakang Dita hingga ia tersungkur ke atas tanah. Dita berusaha mengesot maju. Namun, Ana segera meraih pergelangan kaki kanan Dita.
Syuttttttt..
Ia menyayat nadi yang ada di sana.
"Kau melakukan ini pada Jane kan???" tanyanya santai.
Syuttttttttt...
Ana kembali menyayat kaki sebelah Dita.
Dita terus mengerang dan berusaha berontak, tapi siapa sangka kekuatan Ana sangat besar dan tak bisa di kalahkan.
Prrriiiiiiiiiiiiitttt..
Para petugas tampak segera menyeret Dita untuk di bawa ke rumah sakit.
Bukkkkk...
Satu pukulan keras di kepala Ana tepat sasaran. HIngga ia langsung tak sadarkan diri.
Dita meninggal beberapa saat setelah tiba di rumah sakit. Ana kembali di masukkan ke dalam sel isolasi menjelang sidangnya.
*************
Di sidangnya. Ia melihat Lucas, Louis, dan Pak Kim turut hadir. Namun, Ana terus mengabaikan ketiganya. Ia hanya duduk tertunduk dengan tenang. Selama persidangan ia tak bergeming, ia hanya terus mengakui semua tuduhan tanpa pembelaan sedikitpun, bahkan pengacara yang duduk di sisinya adalah pengacara terbaik di negara itu, Louis, Lucas dan Pak KIm berupaya keras untuk memintanya membantu Ana di persidangan. Namun, ia justru tampak kewalahan, ia padahal telah memberitahu Ana banyak hal untuk ia katakan saat persidangan agar hukumannya lebih ringan, namun Ana tak mengindahkannya. Ana juga mengakui perbuatan yang selama ini Jane lakukan adalah atas perintahnya, hal itu tidaklah benar.
Akhirnya, putusan telah di buat Hakim. Ana mendapat hukuman seumur hidup dan denda sebesar 30 miliar.
Lucas dan Louis sontak langsung protes, namun semua itu sia-sia. Keputusan hakim tidak akan bisa di ganggu gugat. Ana tampak lega dan tak peduli. Ia segera bangkit di dampingi petugas. Ketiganya berusaha menghampiri Ana, namun petugas segera menghentikan ketiganya, sementara Ana berjalan cepat dan bergegas pergi.
Ana kini di bawa kembali menuju penjara yang berjarak cukup jauh, ia bersama tahanan lain yang memiliki jadwal sidang yang sama di bawa menggunakan bus khusus tahanan. Ana kini menjadi topik hangat di seluruh penjuru negeri, Semua orang membicarakannya. Ada yang mendukungnya dan tentu ada yang menghujatnya. Ia selama ini juga melakukan banyak kebaikan, rutin dan kerap melakukan donasi besar-besaran tanpa terekspos publik, banyak muncul komunitas yang mendukung dan menolak hukuman untuk Ana.
Saat di perjalanan ia hanya terus menggenggam kalung yang baru ia terima dari pengacaranya, sebuah kalung yang memiliki liontin bulat, dimana liontin itu berisikan abu Jane yang telah di modifikasi menjadi sebuah perhiasan. Ternyata sedikit abunya telah di ambil oleh Lucas untuk ia buat menjadi sebuah liontin, sebelum akhirnya seluruh sisa abu itu di berikan pada Ana.
Ciiiiiiittttttt....
__ADS_1
Brakkkkk.....Brakkkk... Brakkk....
Bus itu tiba-tiba rem mendadak sehingga kehilangan kendali dan kemudian terbalik.
Ana membuka matanya perlahan, kepalanya terasa pusing, sekelilingnya tampak hancur berantakan, bahkan posisi bus itu ternyata tengah terbalik, ia tergantung di kursi berkat safetybelt yang mengikat tubuhnya. Ia merasakan darah mengalir di wajahnya.
Ia mencium bau minyak bahan bakar bus yang menyengat, ia melihat asap mulai mengepul di dalam bus.
"Bus ini akan segera meledak... Apa akhirnya aku bisa pergi dengan tenang??? Aku akan menyusulmu Jane..." batin Ana pasrah, ia memejamkan matanya. Sesaat sebelum akhirnya suara ledakan yang sangat keras terbunyi nyaring menghancurkan semuanya.
****
"Apa ada cara lain??" tanya Louis gelisah.
"Lou, mari kita bicarakan ini lagi nanti..." ujar Lucas turut gelisah.
"Lalu bagaimana dengan aku?? Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi... aku tidak bisa hidup tanpanya..." tukas Louis bersikeras.
Sejak tadi Pak Kim hanya diam seribu bahasa, ia hanya mendengar perbincangan serius antara Lucas dan Louis mengenai Ana.
"Pak Kim..." seru sekretarisnya membuyarkan lamunannya. Sekretarisnya tampak setengah berlari masuk ke ruangan Pak Kim.
"Ada apa??" tanya Pak Kim bingung.
Wanita itu tampak segera menyalakan televisi yang ada di ruangan Pak Kim. Berita mengenai kecelakaan bus tahanan yang membawa Ana telah di siarkan. Louis dan Lucas sontak ternganga melihat kondisi bus yang naas itu. Bus itu telah habis terbakar.
"Berita duka bagi kita semua\, bus pengadilan yang mengangkut 5 orang tahanan mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya ****** pelaporan saat ini mengatakan bahwa 5 orang tahanan\, 1 orang supir dan 2 petugas kepolisian di laporkan telah meninggal dunia akibat kejadian tersebut... sampai saat ini....."
Bukkk...
Louis jatuh pingsan tak sadarkan diri setelah mendengar berita itu.
*****
5 Tahun berlalu..
Louis berhasil bangkit setelah 4 tahun hiatus dari dunia hiburan, ia benar-benar terpuruk setelah kepergian Ana. Bahkan orang tuanya sudah pasrah dengan kondisi Louis masa itu. Tapi ia kini berhasil bangun meski tak sepenuhnya sadar. Ia masih harus bergantung pada obat penenang dan obat tidur. Ia tetap menangis setiap malam, ia masih terus meraung dalam tidurnya karena sangat merindukan pujaan hatinya, Ana.
Lucas kini masih menjadi detektif handal dan menjabat sebagai kepala tim, sebelumnya ia mendapat promosi menjadi kepala polisi setelah pengungkapan besar-besaran kasus Ana, Jane dan Layla. Lucas menolaknya dan memutuskan untuk menutup semua kasus yang melibatkan Ana dan Jane rapat-rapat. Sementara Pak Kim masih menjabat sebagai Pimpinan Grey World. Ia melakukan banyak kebaikan seperti yang pernah Thommas dan Ana lakukan semasa hidup mereka.
Semua aset Ana ia sumbangkan ke panti asuhan dan membuat sekolah gratis untuk anak-anak tidak mampu, bahkan membangun rumah singgah untuk para gelandangan. Mr. Lee wakil Presdir kini menjabat sebagai anggota dewan, ia membantu Pak Kim menjamin keselamatan dan kesejahteraan perusahaan Grey World dengan baik.
Neo sang hacker kini tinggal di luar negeri sesuai keinginannya, Pak Kim membantunya untuk hidup dengan baik di sana. Irene adik Louis, kini menjadi Manager Umum di Grey Cloud Hotel.
Mereka menjalani hidup mereka dengan baik meski telah melalui banyak hal buruk yang meninggalkan luka hati yang sangat mendalam...
__ADS_1