
Keesokan harinya Ana masih tidak ingin bertemu dengan Jane. Jane hanya masuk sesekali melihatnya tanpa berkata-kata. Dia terus termenung melihat ke arah jendela dengan pemandangan pegunungan yang sangat indah.
Ia kemudian teringat pada Louis. Tiba-tiba wajah polos yang terkadang menyebalkan itu muncul di benaknya. Dokter masuk mengunjungi Ana untuk memeriksa kondisinya serta memeriksa rutin tekanan darah dan tensinya.
"Apa anda ada keluhan Ms.Grey?" Tanyanya ramah memeriksa kedua mata Ana.
"Tidak ada.." gelengnya pelan.
"Anda membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih.."
"Berapa lama aku koma?" Tanyanya lirih.
"Saat anda tiba disini, anda sudah mengalami koma, hingga pasca operasi pun anda masih koma, itu sekitar 22 hari selama anda tiba di Swiss.." jawabnya yakin.
"22 hari??" Dia mengingat terakhir kesadarannya adalah saat ia sedang menjalani kemoterapi dengan dokter Nam. Itu artinya sudah cukup lama ia mengalami koma.
Pantas saja ia merasa sangat penat dan nyeri pada seluruh tubuhnya. Karena dia terbaring cukup lama.
"Jika anda memiliki keluhan lain, anda bisa segera memanggil saya.. karena saya yang akan bertanggung jawab selama anda disini.."
"Boleh aku meminjam ponselmu?" Sela Ana lirih.
"Ponselku?? Ba..baiklah.." angguknya ragu menyodorkan ponsel hitamnya setelah merogoh saku jas prakteknya.
"Aku akan mengembalikannya nanti.." ujarnya lagi segera membuka browser.
"Baiklah Ms.Grey.." angguknya mengerti segera pergi bersama para asistennya.
Ana segera browsing semua tentang dirinya di negara K. Namun berita terbaru lainnya muncul, yaitu berita tentang kecelakaan Louis saat shooting hingga mengalami amnesia sementara akibat operasi besar pada otaknya.
Ana tertegun.
"Amnesia??"
Dia melewati banyak hal selama koma. Begitu juga dengan Louis.
Ia kemudian kembali mencari tau tentang dirinya di negara K. Ternyata Pak Kim telah menggantikan posisinya, hal itu sesuai keinginannya. Ana menonton video jumpa pers yang di adakan Jane. Ia mendengar semua ucapan Jane dan merasa sedikit lega, setidaknya dia meninggalkan perusahaan dengan aman.
"Apa kau tau soal B1?" Seru Jane tiba-tiba saat masuk ke dalam ruangan Ana, dan mendapatinya tengah memeriksa ponsel. Ana hanya memberikan tatapan datar padanya.
"Dia akhirnya mengkhianatimu.. seperti yang aku duga.. bukankah ini seperti yang pernah aku katakan.. dia hanya sampah yang tidak pantas kau pungut kembali.."
"Apa maksudmu??"
__ADS_1
"Aku pikir kau sudah tau.." gumamnya.
Ana menatapnya menunggu penjelasan dari Jane.
"Pak Kim di serang oleh anak buah B1 malam itu di apartment-mu.. Pak Kim mendengar ketika pelaku tengah berbicara, mereka hanya berencana mengambil laptop dan segelmu, lalu mereka juga dengan jelas menyebut nama B1 sebagai penjamin mereka.."
"Lalu bagaimana pelakunya??"
"Salah satu di antaranya berhasil di amankan di kantor polisi, tapii.. sejam kemudian dia di tembak mati saat tengah di interogasi polisi.. bukankah ini cukup serius? mereka bahkan menyerang kantor polisi untuk langsung mengeksekusinya agar dia tidak buka suara.. mereka sangat berani hingga melukai polisi disana hingga terluka cukup serius.."
Ana tertegun.
"Mereka sedang mencarimu.. dan aku rasa mereka ingin melakukan sesuatu dengan laptop dan segelmu.."
"Layla.." ujar Ana sangat pelan.
"Apa?"
"Layla.. pasti dia dalangnya.. dia pasti berpikir akan menemukan yang ia cari di dalam laptopku.." jelas Ana.
"Apa yang dia cari??"
"Berkas warisan dan aset milikku dan Ayah.. dia pasti mengincar itu.." tebak Ana yakin.
"Kenapa tidak?? Setelah apa yang aku lakukan pada putranya.. aku merebut semua yang paling berharga dari putranya, lalu aku membunuhnya dengan brutal.. bukankah hal seperti ini sangat mungkin? Aku yakin dia akan bertingkah lebih jauh lagi jika dia tau apa yang dia cari tidak ada disana.."
"Kau sudah menyembunyikannya??"
"Tentu saja.. Dia tidak akan pernah bisa menemukannya.." gumam Ana yakin.
"Syukurlah.." angguk Jane lega.
"Apa Pak Kim baik-baik saja??" Tanya Ana khawatir.
"Tentu.. Louis merawatnya dengan baik.."
Ana terdiam mendengar nama Louis yang di sebut.
"Apa kau sudah melihat berita tentang Louis?"
"Hmm.."
"Tampaknya dia mengalami hal yang sulit setelah kau menghilang.. maksudku.. aku membuatmu terkesan menghilang begitu saja.. maaf.. karena sepertinya sekarang dia pasti sangat membencimu.." imbuh Jane takut.
__ADS_1
"Itu lebih baik lagi.. setidaknya aku tidak perlu lagi berupaya untuk mengusirnya dari hidupku.." timpal Ana sinis.
"Aku pikir kau sangat menyukainya.. bahkan aku merasa sangat bersalah atas keputusan yang aku buat sepihak.."
"Itu keputusan yang tepat.." timpal Ana membenarkan tindakan Jane.
'Aku memang menyukainya.. aku pernah menyukainya.. dan aku masih menyukainya..' batin Ana sedih, namun dia sadar, jika dia tidak meninggalkan Louis sekarang, maka dia tidak akan pernah lepas dari Louis. Dan hal itu hanya akan membahayakannya jika terus berada di sisi Ana.
"Aku.. sudah mendapatkan rumah untuk kita tinggal sementara waktu.. kau masih harus dalam pengawasan selama 4 sampai 6 bulan ke depan.. aku yakin kau akan menyukainya.." seru Jane lagi mencairkan suasana.
"Baiklah.." angguk Ana tak memberi komentar lain. Ia kembali melihat ke arah jendela. Jane merasa lega mendapat respon bagus dari Ana.
****
Louis membuka matanya lebar, ia tertidur cukup pulas setelah meminum obatnya sebelum tidur. Kini dia bangun dengan perasaan lebih baik, meski ia masih merasa asing ketika melihat ayahnya tengah tertidur di sofa, karena ibunya tengah bergantian pulang ke rumah.
Louis menghela nafas, ini kali ketiga dia memimpikan wanita yang sama selama dia mengalami cedera. Dia terus berpikir keras menebak siapa wanita itu. Apa dia seorang teman yang dia kenal, atau bahkan seseorang yang sangat ia kagumi sehingga selalu hadir dalam mimpinya.
Bahkan tidak sekalipun dia tau nama wanita itu di mimpinya. Mereka hanya tampak sangat bahagia saat bersama.
"Kau sudah bangun?" Seru ayahnya setengah sadar melihat Louis yang tengah duduk bersandar.
"Hmm.. aku baru saja bangun.."
"Bagaimana kabarmu pagi ini Nak? Apa kau merasa lebih baik??" Tanyanya menghampiri Louis.
"Aku merasa lebih baik Yah.." angguknya tersenyum.
"Maaf jika aku merasa sangat canggung.. aku benar-benar belum bisa mengingat apapun.."
"Santai saja Nak.. kau hanya perlu istirahat yang banyak agar segera sehat, jangan memikirkan apapun yang membebanimu.. semua akan segera kembali normal.." ayahnya terus menyemangati Louis seperti biasanya.
"Aku juga berharap agar bisa segera pulang.."
"Tentu saja.. kita akan segera kembali bersama-sama di rumah.." angguk ayahnya setuju.
"Apa kau menginginkan sesuatu??"
"Ah.. bagaimana jika aku meminjam ponsel ayah sebentar?? Kata ibu ponselku sudah rusak.. managerku tampaknya belum membelikan yang baru untukku.."
"Tentu saja.. kau bisa menggunakan milikku untuk sementara waktu.." setuju Ayahnya segera meraih ponselnya yang tengah di cas, lalu menyerahkannya pada Louis.
"Terima kasih ayah.."
__ADS_1