
Ngiingg..
Krekkk...
Crrkkkk..
Ana berusaha melawan efek biusnya, ia bergerak perlahan, tubuhnya terasa remuk. Ia mencium bau busuk yang sangat menyengat di dekatnya. Ia mencoba membuka matanya perlahan, ia tidak bisa melihat apapun di sekelilingnya. Ia mulai berusaha menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Tapi ia tersadar jika ada yang aneh padanya. Tubuhnya ternyata terpuruk dalam sebuah tong yang sempit, badannya terlipat di dalam sana. Ana berusaha mengeluarkan dirinya dari dalam sana. Ia terus berusaha berontak dengan sekuat tenaga. Bahkan ia terus menendang dan memukul-mukul semua sisi tong itu.
Samar-samar ia mendengar suara orang berbicara dari kejauhan, hingga akhirnya seseorang membuka penutup box yang ada tepat di atas kepalanya.
"Ada orang di dalam sini !!" Pekik pria itu sesaat setelah membuka tutup box itu dan menemukan Ana di sana. Ia memanggil orang di sekitarnya.
Beberapa orang tampak segera berkumpul untuk mengeluarkan Ana dari sana.
"Nona, kau baik-baik saja??" Tanya seorang wanita membantu memegangi tangan Ana.
Mereka beramai-ramai membantu Ana keluar dari sana. Setelah berhasil keluar, Ana merebahkan tubuhnya di atas tanah. Nafasnya terengah. Ia melotot kaget saat menyadari jika dirinya di buang ke dalam tong sampah di taman kota.
"Nona, kau baik-baik saja?? Kami akan memanggilkan ambulance untukmu.."
"Tidak perlu.. aku akan segera pulang.." geleng Ana lirih.
"Apa kau tau ini ada dimana?" Tanya pria itu tampak khawatir.
"Aku tau.." angguk Ana pelan. Ia masih baring di atas tanah, berusaha mengumpulkan kesadaran dan kekuatan tubuhnya. Ia berusaha mengatur nafasnya perlahan.
"Terima kasih sudah membantuku.. maaf sudah merepotkan kalian semua.." seru Ana berusaha duduk.
"Apa kau ingin kami antar ke rumahmu??" Tanya salah seorang lagi dengan nada khawatir.
"Tidak perlu.. aku tidak apa-apa.. aku akan pulang menggunakan taksi.." geleng Ana lemah.
Ia melepas jas dokter palsu yang tadi ia kenakan, pakaian itu benar-benar sangat bau seperti bau kotoran manusia. Ia juga melepas sepatu mahalnya.
Ia merogoh saku celananya, ia tidak menemukan ponsel pemberian dari Leo, bahkan ia juga kehilangan jam tangan milik adik Leo yang tadi sudah ia sembunyikan.
"**** !!!" Umpatnya marah.
Orang-orang sebagian masih berdiri mengelilingi Ana, bahkan sebagian ada yang tampak mengambil foto dirinya.
"Aku akan menuntut siapapun disini yang berani mengambil foto atau videoku.." ancam ana memberikan tatapan mematikan pada orang-orang yang ia maksud, sehingga mereka tampak segera pergi dari sana.
"Kami akan telepon bantuan ya, kau terlihat tidak baik.." ujar seseorang tampak mengeluarkan ponselnya.
Ana segera bangkit dari duduknya, lalu merogoh kantongnya. Ia tampak mengeluarkan dompetnya dari dalam sana. Ia melihat ke dalam mendapati banyak uang cash di dalamnya, ia menyodorkan masing-masing 5 lembar uang 50,000 won (atau setara dengan kurang lebih 3 juta rupiah) pada masing-masing orang yang masih ada disana memperhatikannya.
"Ambillah ini.. dan jangan katakan apapun pada siapapun.." seru Ana dingin.
Semua orang saling melihat satu sama lain. Mereka saat itu pasti sudah mengira Ana orang gila. Kalau tidak, bagaimana bisa wanita cantik sepertinya memakai pakaian dokter lalu terjebak di dalam tong sampah, bahkan kini ia membagi-bagikan uang dengan santainya.
"Ambillah.. terima kasih sudah menolongku.." ujar Ana lirih dengan nada putus asa. Ia masih belum sadar dan kuat sepenuhnya.
Dengan ragu-ragu mereka menerima uang pemberian Ana dan satu persatu mulai pergi meninggalkannya.
Ana kini tengah berjalan menuju pemberhentian taksi, ia masih sedikit sempoyongan, ia tidak bisa menemukan pistol dan ponsel baru miliknya.
Ia mengusap wajahnya kasar.
__ADS_1
"Siallll !!!" Pekik Ana menggeram sontak mencuri perhatian orang di sekitarnya. Bahkan banyak di antaranya menutup hidung dan mulut mereka, karena bau tubuh Ana yang mengerikan.
Ia merasa sangat terhina karena mereka berani membuangnya ke dalam tong sampah.
"Layla !! Aku akan membunuhmu !!" Geram Ana lirih mengepalkan kedua tangannya dengan murka.
****
Louis memeriksa jam tangannya tiap sebentar dengan perasaan gelisah. Bahkan mereka telah siap makan malam bersama, namun Ana tak kunjung ada kabar.
"Apa dia tidak akan datang??" Batinnya gelisah.
"Dia pasti datang, dia tidak pernah mengingkari janjinya.." seru Pak Kim yang sadar dengan kegelisahan Louis.
"Hahaha.. aku tidak menunggunya.. aku hanya merasa mungkin dia keberatan dengan makan malam ini.."
"Tidak kok.. bahkan dia yang mengusulkannya untuk mengadakannya malam ini.." jelas Pak Kim menghibur.
"Benarkah??" Louis berharap mereka akan segera bertemu.
"Tentu saja.. dia sangat berterima kasih padamu.." tambahnya lagi.
Ting.. Nung.. Ting.. Nung..
"Itu pasti dia.." timpal Pak Kim melihat ke arah pintu luar.
Dita segera bangkit dari duduknya.
"Biar aku bukakan pintunya.." serunya melangkah cepat menuju ruang tamu.
"Ms.Grey !! Apa yang terjadi padamu??" Seru Dita kaget melihat Ana yang tampak sangat berantakan.
Mendengar itu sontak Pak Kim dan Louis segera menghampiri keduanya.
"Ada apa??" Tanya Pak Kim kaget sesaat sebelum melihat kondisi Ana.
"Apa yang terjadi??!" Tanyanya membelalak kaget setelah melihat Ana.
"Maaf aku terlambat.." ujar Ana lirih mengabaikan pertanyaan Dita dan Pak Kim.
Saat hendak melangkah masuk, Ana mendapati dirinya tengah di perhatikan oleh Louis.
"Maaf aku terlambat.. seharusnya aku tidak datang seperti ini.." imbuh Ana pelan. Ia segera menyelonong masuk ke dalam rumah Pak Kim.
"Sayang.. siapkan pakaian ganti untuk Ana.." bisik Pak Kim lirih.
"Baiklah.." angguk Dita segera membimbing Ana menuju kamar tamu.
"Lou.. sebaiknya kita menunggu mereka selesai sambil minum kopi.." ajak Pak Kim.
"Baiklah.." angguk Louis setuju.
Selama menunggu Ana dan Dita keluar dari kamar tamu, Louis dan Pak Kim hanya saling diam satu sama lain.
Tak lama pun mereka segera keluar dari kamar tamu.
"Maaf kalian lama menunggu.." seru Dita sungkan.
__ADS_1
"Ah.. tidak apa-apa.." geleng Louis santai.
"Ana.. kau baik-baik saja??" Tanya Pak Kim melihat Ana yang berjalan dengan tatapan kosong.
"Hmm.. tentu.. aku baik-baik saja.."
"Kau darimana saja?? Kami mengkhawatirkanmu.. bahkan kami tidak bisa menghubungimu.." tanya Pak Kim khawatir.
"Maaf.. aku tadi habis dari penampungan sampah.. disana ada acara amal, banyak hal yang aku kerjakan disana.. dan sepertinya aku menghilangkan ponselku disana saat tengah sibuk membantu.."
"Kau menghilangkan ponselmu??" Tanya Louis memberanikan diri.
Ana menatapnya datar.
"Hmm.." angguk Ana pelan.
"Apa kau ingin makan?? Aku akan memanaskan makanannya untukmu.." seru Dita perhatian.
"Tidak usah.. aku baik-baik saja.."
"Lagi-lagi dia mengatakan jika dia baik-baik saja.. bukankah itu artinya dia tidak baik-baik saja??" Batin Louis khawatir.
"Maaf.. aku harusnya makan malam bersamamu.." seru Ana pada Louis yang duduk di sampingnya.
"Ah.. tidak apa-apa.. lagipula Pak Kim dan Bu Dita memasakkan aku makanan yang sangat lezat ."
Ana hanya mengangguk mengerti. Pikirannya sedang tidak fokus, bahkan ia tidak bisa menatap Pak Kim maupun Dita dengan baik. Ia terus tertunduk berusaha mengontrol amarahnya.
"Kau mau minum arak?? Aku tau dimana orang menjual arak yang enak.." ujar Louis tiba-tiba pada Ana, sontak membuat Ana, Dita dan Pak Kim terkejut.
"Entahlah.. aku tidak yakin.." geleng Ana salah tingkah.
"Ayolah, arak sangat baik untuk stamina kita.. bahkan paling enak di nikmati saat lelah seperti ini.. aku sudah lama ingin kesana.. tapi aku tidak punya teman untuk aku ajak kesana.." jelas Louis beralasan. Ia tampak tengah merencanakan sesuatu.
"..." Ana menatapnya intens.
"Baiklah.." angguk Ana tanpa berpikir panjang.
"Aku juga harus menjemput mobilku.." gumam Ana.
"Mobil?? Kau sudah beli mobil??" Tanya Pak Kim kaget.
"Hmm.. aku baru saja membelinya pagi ini.."
"Kenapa kau tidak menyuruhku saja?? Kenapa kau harus melakukannya sendiri??"
"Kau bukan lagi sekretarisku.. aku tidak punya alasan untuk memerintah seorang CEO.." jawab Ana keceplosan. Ia tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
Ia melirik ke arah Pak Kim dan Louis, namun Louis tampak tak mempedulikan apa yang mereka berdua katakan. Ia hanya tampak sibuk dengan ponselnya.
Ana menutup rapat mulutnya, sementara Pak Kim memberi kode untuk segera membawa Louis pergi dari sana. Dita yang melihat tingkah keduanya di buat bingung dengan situasi itu.
"Lou.. jangan bosan datang kemari ya.." celetuk Dita memecahkan kecanggungan itu.
"Ya.. tentu.. aku akan berkunjung lain waktu.. terima kasih sudah mengundangku kemari.. terima kasih untuk makan malamnya.."
"Sampai jumpa.." pamit Ana melambaikan tangannya pada Pak Kim dan Dita, di ikuti Louis yang jalan di belakangnya.
__ADS_1