Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 53 : Halusinasi


__ADS_3

Saat akan menuju lift, seseorang tampak keluar dari lift itu yang ternyata Franz. Ia tampak di sibukkan dengan ponselnya. Ana dengan sigap segera balik badan menuju pontu darurat yang tidak jauh darisana, Ana segera berlari menuruni anak tangga. Dengan hati hati ia segera berlari cepat menuruni tangga satu persatu, meski tengan mengenakan booth dengan tumit tinggi dan runcing.


Saat merasa aman dan berada di lantai 5 Ana berhenti sejenak mengatur nafasnya, dan ia merasa sakit pada ulu hatinya, ia terduduk sebentar, keringat membasahi tubuhnya, cuaca dingin tidak lagi menghentikan keringatnya mengucur di sekujur tubuhnya.


Ia terduduk lemas, namun ia kini memutuskan akan segera kembali ke dalam untuk menggunakan lift dan tidak menggunakan tangga darurat lagi, karena kakinya juga sudah terasa kram karena booth heels nya.


Saat akan bangkit ia terasa pusing, seseorang meraih lengannya dengan sigap. Ana mengangkat kepalanya menatap wajah mungil itu.


"Irene.." ujar Ana lirih dengan nada terengah.


"Kakak.. apa yang kau lakukan disini?? Kau baik baik saja?" Tanya gadis lugu itu dengan wajah cemas.


"Aku.. baik baik saja.." angguk Ana pelan dengan nada terengah.


Ana melihatnya dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya. Irene tampak mengenakan seragam karyawan GC hotel.


"Kau bekerja disini?" Tanya Ana bingung.


Ia mengangguk semangat. "Disinilah tempat yang aku maksud, perusahaan impianku dengan pimpinan yang sangat aku idolakan.." tambahnya lagi dengan senyum cerianya yang membuat Ana teringat dengan sosok Louis.


Waktu Ana berada di rumah mereka saat itu, Ana memang mendengarkan bahwa Irene sudah bekerja di perusahaan yang ia mimpi mimpikan sejak masih sekolah dulu. Namun Ana tidak tau kalau itu ternyata di GC hotel miliknya, karena ia memang tidak menanyakan lebih lanjut dimana ia bekerja.


Ana tersenyum mendengar pernyataan Irene.


"Namun.. apa yang kakak lakukan disini?? Kau tampak sangat tidak sehat.. wajahmu pucat sekali.." Irene menyeka keringat di pelipis Ana dengan sapu tangan dari sakunya.


"Aku hanya kelelahan.. aku harus segera pergi.. mari kita bicara lain waktu.." Ana segera bangkit dengan sekuat tenaga.


"Kakak hati hati ya, jaga kesehatanmu.. sampai jumpa lagi.." ujar Irene melambaikan tangannya.


Ana lalu segera masuk kembali ke dalam menuju lift.

__ADS_1


***


Setibanya di kantor Pak Kim segera di panggil Ana untuk masuk ke ruangannya.


Ana menyodorkan file file yang telah ia siapkan pada Pak Kim.


"Aku ingin Pak Kim memeriksakan ini, ada beberapa yang harus sangat hati hati dilakukan.. perintahkan pria kemarin untuk membantumu.. aku akan membayar lebih.."


Pak Kim tampak tercengan melihat sekilas file file itu.


"I..ini??" Ia tampak shock.


"Lakukan saja.."


"Ms.Grey.. bagaimana jika dia mengetahuinya?" Tanya Pak Kim ragu.


"Lakukan saja Pak Kim.."


Ana kembali merasakan sakit pada ulu hatinya, ia hanya meyakini dirinya bahwa itu karena ia terlalu banyak minum wine akhir akhir ini.


Teringat akan sesuatu, Ana menghubungi pihak keamanan hotel untuk meminta rekaman cctv saat itu.


Tak butuh waktu lama, mereka segera datang ke kantor untuk mengirimkan langsung beberapa video rekaman cctv hotel pada Ana.


Ana cukup lama memandangi fd kecil di atas mejanya itu. Ia masih menenangkan diri karena ia takut apa yang dipikirkannya adalah kenyataan.


Namun dengan yakin Ana segera mencolokkan fd itu ke laptopnya dan segera memeriksa cctv itu. Dia harus segera menyusun puzzle yang masih berserakan itu.


Degg..


Nafas Ana tersekat. Matanya berkaca kaca. Apa yang ada di benaknya ternyata benar adanya.

__ADS_1


Wanita itu adalah Bibi Layla.


Kepala Ana terasa berat, seakan akan batu bersusun menumpuk menimpa pundak dan kepalanya. Kepingan kepingan mengerikan masa lalunya berdatangan. Nafas Ana terasa sesak, ia mencoba bangkit dari duduknya, namun ia justru terjatuh dan menyeret beberapa file kerjaannya hingga berserakan saat ia hendak berpegangan. Suara bising itu terdengar oleh Pak Kim, ia segera masuk keruangan Ana dan mendapati Ana sudah tergeletak di lantai dengan mata memerah dan berair, dan kesulitan bernafas.


Pak Kim dengan sigap segera menggendong Ana, mengangkatnya ke sofa, dan segera menelepon dokter pribadi Ana. Dokter ini adalah dokter yang menangani Ana sejak ia masih berumur 20 tahun, ia juga di ikut sertakan pindah ke negara K oleh Jane untuk merawat Ana jika sesuatu terjadi padanya.


Pandangan Ana mulai kabur, nafasnya masih terasa sangat sesak, sosok Pak Kim di matanya kini berubah menjadi sosok pria yang dulu menyiksanya, seketika Ana menarik dan mencengkram erat kerah baju Pak Kim.


"Ms.Grey.. ini aku.. sadarlah !! Ana !!!!" Bentak Pak Kim keras terus menggunjang pundak Ana agar ia sadar, tak peduli Ana telah mencengkram kerah bajunya dengan kuat.


Pak Kim yakin sesuatu telah terjadi pada Ana, ia harus menolong Ana. Pak Kim berusaha melepas cengkraman tangan Ana dan segera bangkit mencari sesuatu dalam tas Ana, dan ia menemukannya dalam sebuah kotak hitam, ia segera membuka kotak itu yang ternyata berisi 3 buah alat suntik beserta 2 botol ampule kecil berisi cairan bening. Pak Kim segera mengisi alat suntik itu dengan cairan dalam ampule sesuai dosis yang pernah Ana beritahukan. Lalu ia segera berlari ke arah Ana dan menyuntikkan itu ke tangan Ana.


Nafas Ana tampak berangsur mulai beraturan, tubuhnya tampak mulai melemas, dari balik pintu dokter segera berlari masuk ke dalam.


***


Pak Kim memutuskan mengerjakan pekerjaannya di ruangan Ana, karena dokter berpesan agar tidak meninggalkan Ana sendiri hingga ia bangun. Sementara Ana terbaring lemah di atas sofa dengan selang infus yang terpasang di tangannya.


Awal kepindahan Ana, Pak Kim langsung di perkenalkan dengan dokter pribadi Ana, saat itu dokter menjelaskan beberapa kondisi yang mungkin sewaktu waktu akan menimpa Ana ketika ia mengalami depresi berat yang berlebihan, ia akan mengalami hal hal seperti halusinasi, sesak nafas berat bahkan hingga hilang kesadaran selama berhari hari seperti sedang koma, untuk mengatasi hal hal itu Ana memberitahukan soal obat obat mana yang biasa ia gunakan jika itu terjadi, dan inilah saatnya Pak Kim menggunakan obat itu.


Dokter sulit mengobati trauma berat Ana, karena ia masih memendam kenangan kelamnya itu di alam bawah sadarnya. Sehingga ia selalu mengalami halusinasi seakan akan ia kembali ke masa lalunya itu.


Ana membuka perlahan matanya, ia melihat ke arah Pak Kim dengan mata sayunya.


Pak Kim menatap Ana hangat.


"Apa hal buruk itu terjadi?" Tanya Ana lirih.


"Anda sekarang sudah baik baik saja Ms.Grey.." Pak Kim segera berdiri mengambilkan air minum di meja.


"Apa aku menyakitimu Pak Kim?" Tanya Ana lirih bangkit dari tidurnya lalu meraih air minum itu dari tangan Pak Kim.

__ADS_1


"Tidak Ms.Grey.." geleng Pak Kim pelan. Padahal ia sempat di cengkram erat oleh Ana.


__ADS_2