Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 48 : Keretakan


__ADS_3

Sebentar lagi adalah ulang tahun Ana. Hari demi hari sebelumnya ia lalui dengan hambar. Masalahnya telah dibereskan oleh Albert dan tentu saja juga dengan bantuan Jane karena memang dialah dalang yang melaporkan basecamp Ana itu.


Franz sudah kembali ke negaranya 2 hari lalu, setelah ia berada disana selama seminggu lebih, sementara Louis di sibukkan dengan semua kegiatannya yang semakin padat karena ia baru saja rilis album terbarunya.


Jane yang masih selalu mengawasi Ana yang kini benar benar sudah melunak terhadapnya. Ia selalu menjawab telepon dan pesannya, bahkan tidak pernah lagi membantah semua kata katanya. Ia juga sudah lama tidak bertemu kakaknya Albert setelah kasusnya ditutup.


Hari libur ini Ana memutuskan untuk mengunjungi rumah kakaknya Albert karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu ataupun berkomunikasi.


Ana mendatangi sebuah rumah di alamat yang sebelumnya pernah di berikan oleh Albert.


Rumah cukup mewah itu tampak sangat nyaman. Ana membunyikan bel rumah itu beberapa kali hingga seorang wanita muncul dari balik pagar.


"Maaf.. cari siapa ya??" Tanya wanita itu ramah. Ia tampak sangat cantik dan berwibawa.


"Halo.. selamat siang.. perkenalkan namaku Ana.." sapa Ana ramah.


"Ana?? Ohh.. apakah kau adiknya Albert??" Serunya segera mengingat namanya.


"I..iya benar.." angguk Ana cepat.


"Silahkan masuk.. Albert selalu menceritakan tentangmu.."


"Maaf aku baru mengunjungimu sekarang kak.."


"Ah..tidak apa apa.. dia bilang kau sangat sibuk.."


Ana hanya tersenyum. Ia melihat sekeliling rumah yang di penuhi foto Albert dengan istri dan anaknya, mereka tampak sangat bahagia.


Saat masuk kedalam Ana bertemu gadis kecil dan seorang bayi laki laki dalam box bermainnya.


Ana mendekati mereka dengan tatapan hangat.


"Halo.. perkenalkan namaku Ana.." sapa Ana pada anak perempuan mereka yang bernama Elena, gadis kecil itu baru berusia 4 tahun. Ana lalu menyodorkan sebuah kado yang sangat besar pada kakak iparnya.


"Kak.. aku membawakan ini untuk Elena dan Robby.."


"Kau tidak perlu repot repot.." ujar kakaknya enggan. "Oiya perkenalkan namaku Arina.." Arina tampak menjabat hangat tangan Ana.


"Kau benar benar sangat cantik Ana.."


"Kau juga sangat cantik kakak ipar.." puji Ana kembali. "Kak Albert selalu menceritakan tentang kalian padaku.. membuatku sangat penasaran.."


Kini Ana dan Arina duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh hangat. Mereka bercerita banyak hal sambil sesekali tertawa bersama. Tak lama Albert pulang kerumah dan terperanjat kaget melihat Ana berada disana.


"A..ana.. kau disini?" Tanyanya kaget.


"Ada apa sayang? Kenapa kau kaget sekali.." timpal istrinya heran.


"Tidak.. maksudku.. kenapa tidak memberitahuku dulu kalau kau mau kemari??" Ia tampak benar benar kaget.

__ADS_1


"Maaf.. aku tidak memberitahumu.."


"Tidak apa apa.. lagipula ini juga rumahmu.. kau boleh datang kapan saja Ana.." seru Arina hangat pada Ana.


Ana yang melihat Albert bertingkah aneh tampak curiga. Saat Arina sedang membawa anak anaknya tidur siang ke kamar, Ana dan Albert memutuskan berbicara di ruang kerja Albert di lantai dua. Albert tampak gelisah.


"Apa kedatanganku kemari membuatmu khawatir?" Tanya Ana tiba tiba yang terus memperhatikan Albert dengan seksama.


"Ti..tidak.. bukan begitu Ana.." geleng Albert gugup.


"Ada apa kak?"


"Nyonya Jane menemuiku.." jawabnya gugup


"Apa??"


"Dia mengancamku Ana.. dia berkata akan mencelakai istri dan anakku jika aku terus bersamamu.."


"Kenapa kau tidak memberitahuku??" tanya Ana kaget.


"Bagaimana bisa aku memberi tahumu? Aku yakin kau akan melawannya lagi dan itu justru akan memperumit masalah yang ada.." Albert mengelap keringat di dahinya.


"Ana.. bisakah kita berhenti bertemu??" Tanyanya lagi dengan nada berhati hati.


"..." Ana hanya menatapnya dengan tatapan sendu dan berusaha tegar.


"Maafkan aku kak.. aku membuatmu dan keluargamu dalam masalah.."


"Apa aku bukan keluargamu??"


"Ana jangan berkata begitu, tentu ini berbeda.. kau tidak akan mengerti.." imbuh Albert gelisah.


"Beritahu aku apa yang berbeda?? apa karena aku bukan saudara kandungmu??" Ana terdengar tidak mengerti dengan kondisi Albert saat ini.


"Ana.. kau akan mengerti setelah kau berkeluarga sepertiku.. aku yakin kau bisa menjaga dirimu sendiri.. mengingat apa yang kau lakukan di markasmu itu.." ujar Albert yang menyinggung dunia gelap Ana.


"Apa?? Kenapa kau membahasnya?" Ana tampak terbelalak kaget, ia tidak menyangka Albert justru membahas itu.


"Ma..maksudku bukan begitu Ana.. istri dan anakku membutuhkan aku untuk melindungi mereka.." Albert tau ia sudah salah ucap dan berusaha meluruskan kesalahpahaman antara ia dan Ana saat ini.


"Baiklah.. Aku mengerti.." jawab Ana singkat.


"Setidaknya kali ini kita berpisah dengan alasan yang tepat.."


"Sampaikan salamku untuk kakak ipar dan anak anakmu.." Ana segera bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan Albert dengan kekecewaan di hatinya.


"Aku mohon maafkan aku Ana.." timpal Albert yang di abaikan Ana.


***

__ADS_1


Ana duduk di ruang vip sebuah restoran yang sudah tidak asing. Ia berada di restoran milik keluarga Louis karena memang tidak jauh dari rumah Albert.


Seorang wanita usia 40an kembali masuk ke bilik Ana dan kini membawa pesanan makanan Ana.


"Kali ini kau datang sendirian Ms.Grey.." tanyanya membuyarkan lamunan Ana.


Ia sadar Ana tampak gusar hari ini.


"Hmm.. iya Bi.. aku hanya sendirian saja kemari.."


"Makanlah yang banyak.. selamat menikmati.." ujarnya hangat.


"Bi.. maukah anda menemaniku sebentar??" Pinta Ana lirih.


"Tentu saja.." angguk wanita itu tanpa ragu. Ia segera duduk di seberang Ana.


"Bagaimana kabar Louis? Apa ia baik baik saja" tanya Ana pelan.


"Ah.. anak itu?? sekarang dia sulit sekali di hubungi.. sepertinya dia benar benar sibuk.. kau jangan khawatir, dia pasti baik baik saja.. biasanya dia akan pulang jika sedang sakit atau ada masalah.." jelas wanita itu membuat Ana sedikit lega.


Sejak terakhir mereka bertemu, Louis tidak pernah merespon telepon maupun pesan Ana lagi. Ia benar benar mengabaikan Ana dan itu membuat Ana khawatir.


"Syukurlah jika dia baik baik saja.."


"Apa kalian tidak pernah bertemu lagi?"


"Sudah lama sekali kami tidak bertemu.." Ana menenggak wine nya.


"Hmm.. apa tidak masalah kau minum wine di siang hari begini.. bukankah kau mengendarai mobil sendiri??" Tanya Ibu Louis khawatir.


"Aku sudah biasa Bi.." jawab Ana enteng.


"Kenapa tidak di makan?? Lihatlah.. kau tampak bertambah kurus dan lesu.. apa kau tidak makan dengan baik??" Ia tampak memotongkan daging steak pesanan Ana di atas meja yang tidak disentuh Ana sama sekali. Ana sudah memesan steak daging, salah buah dan wine, namun ia hanya meminum wine sejak tadi.


Ibu Louis tampak sangat peka dengan kondisi sulit Ana saat ini.


"Meski kau sedang ada masalah.. setidaknya kau harus tetap menjaga kesehatanmu.. bagaimana bisa kau menyelesaikan masalahmu jika kau tidak punya energi yang cukup??" Ibu Louis terus mengomel sambil memotong steak itu hingga menjadi potongan kecil.


"Ini.. makanlah.." ia menyodorkan piring itu ke dekat Ana dan menyodorkan garpu ke tangan Ana.


Mata Ana tampak berkaca kaca, Ana menundukkan wajahnya, menahan tangisnya yang hampir pecah dan berusaha menghindari tatapan hangat Ibu Louis yang membuatnya semakin goyah.


"Terima kasih Bi.." ujar Ana menganggukkan kepalanya pelan.


"Kau masih sangat muda Ms.Grey.. aku mengerti betapa beratnya beban hidupmu.. karena aku juga bisa merasakan kesulitan yang putraku alami.. ia selalu berusaha tegar di depanku agar aku tidak khawatir.. tapi aku yakin dia sangat kesulitan menanggung beban pekerjaannya yang berat di hidupnya.. maaf aku mencampuri urusanmu.. tapi aku sangat tulus mendukungmu dan mengatakan ini padamu.." wanita itu memegang punggung tangan Ana hangat.


"Kau sudah melakukan hal besar dalam hidupmu.. kau sudah bekerja keras selama ini.. jika sesekali kau mengeluh dan merasa sangat lelah.. itu bukan salahmu.. kau berhak menangisinya.. itu hal yang wajar karena kau hanya manusia biasa.. kita semua hanya manusia biasa Ms.Grey.. kita pasti bisa merasakan lelah dengan hidup ini dan ingin menyerah.. tapi kita tidak bisa menyerah dengan hidup begitu saja.. bahkan dengan kerja keras yang sudah kau lakukan hingga saat ini.. bukankah kau juga sudah membantu banyak orang di luar sana?? Aku yakin mereka sangat berterima kasih padamu.. mereka bisa mendapatkan hidup yang layak dan nyaman berkat dirimu.. kau memberikan banyak orang diluar sana harapan untuk hidup Ms.Grey.. aku harap kau menjadikan senyuman bahagia mereka, rasa syukur dan terima kasih mereka itu sebagai kekuatanmu untuk terus berjuang dan bertahan dengan semua cobaan hidupmu.."


Tak terasa air mata Ana menetes dan mengalir deras, ia menangis sesenggukan sambil terus menundukkan wajahnya. Ibu Louis menepuk nepuk hangat punggung tangan Ana mencoba memberi kenyamanan pada Ana.

__ADS_1


"Menangislah.. jangan simpan kesedihanmu berlarut larut.. itu akan membuatmu menjadi lebih sakit.. Kau wanita yang baik Ms.Grey.. kau wanita yang kuat.. kau wanita yang sangat luar biasa.. lepaskan semua kesedihanmu.. menangislah.. itu akan membuatmu merasa lebih baik setelah ini.." Ibu Louis tak henti henti memberikan semangat dan kekuatan untuk Ana yang saat ini sangat membutuhkan itu.


__ADS_2