
Pak Kim tiba tiba terdengar terisak, Ana melihat raut wajah leganya menjadi raut wajah kesedihan.
"Bagaimana anda masih bisa tertawa seperti ini? Saya mohon.. berhentilah untuk terus menahan sakitmu.."
"Ini kenapa aku benci sekali kalau ada yang tau aku sedang sakit.. aku benci dengan tatapan sedihmu itu.. berhenti menatapku dengan tatapan menyedihkan Pak Kim.." celetuk Ana dengan nada kesal.
"Ms.Grey.."
"Jangan kasihani aku Pak Kim.. aku pantas mendapatkan ini.." gerutu Ana datar.
"Apa kau tau?? Aku bahkan melakukan banyak hal mengerikan selama hidupku.. penyakit ini bahkan tidak bisa menebus semua kejahatanku.. itu kenapa aku tidak pedulikan apapun lagi.. Jadi.. tolong.. jangan tangisi kondisiku.."
Pak Kim segera mengusap air matanya. Ia terus berusaha menahan rasa sedihnya untuk Ana.
"Maafkan saya Ms.Grey.."
"Aku benar benar pantas mendapatkan ini Pak Kim.. aku bahkan tidak menyesalinya atau merasa sedih dengan penyakitku ini.. jadi jangan pikirkan apapun lagi.."
"Ba..baiklah.. maafkan saya.." ujarnya gugup karena berusaha menahan tangisnya.
"Apa Mr.Lee sudah menerima 'map' itu??"
"Sudah.. dan dia tiba-tiba tampak mengkhawatirkan anda.."
"Benarkah??" Tanya Ana tertegun sejenak, ia ingat pertemuannya dengan Mr.Lee malam itu.
Ana menelepon Mr.Lee untuk bertemu di restaurant GC Hotel. Setelah Ana berpikir matang dengan keputusannya. Sebelum berangkat ke negara E waktu itu.
"Anda sudah menunggu lama Ms.Grey??" Seru Mr.Lee yang baru saja tiba.
"Ah.. tidak.. saya juga baru tiba.." geleng Ana pelan.
"Maaf menelepon anda malam malam begini.."
Ujar Ana sungkan karena kebetulan malam itu sudah pukul 10 malam.
"Tidak apa-apa Ms.Grey.. kebetulan saya masih sedang melakukan beberapa pekerjaan di rumah.."
"Baiklah.. saya.. ingin memberitahukan beberapa hal pada anda.. ini terkait jabatan saya.."
"Apa maksud anda Ms.Grey??"
__ADS_1
"Saya akan mengalihkan jabatan saya dan kepemilikan aset saya yang ada di perusahaan pada Pak Kim.." jelas Ana tegas.
"A..apa?? Ada apa ini? Kenapa tiba tiba sekali??" Imbuh Mr.Lee kaget.
Ana tertegun. Ia mengingat kondisinya yang semakin memburuk.
"Seperti yang anda tau, saya akan mengambil alih perusahaan Franz.Co di negara E.. jadi.. saya akan fokus mengembangkan perusahaan disana dan perusahaan saya sebelumnya yang di negara L.."
"Bukankah kita harus mengadakan rapat penting dulu untuk keputusan ini??"
"Apa anda meragukan keputusan saya??" Celetuk Ana dingin.
"Ti..tidak.. bukan begitu Ms.Grey.. tapii.. seperti yang anda tau.. Pak Kim itu hanya seorang sekretaris.. bagaimana mungkin dia bisa menggantikan posisi anda di perusahaan??"
"Cih.." Ana mendengus kesal.
"Hanya seorang sekretaris ?? Apa anda tau?? Bahkan seharusnya ia adalah orang yang menduduki jabatan anda saat ini.. dia selalu menolaknya karena ingin selalu setia berada disisi ayahku.. Ayahku bahkan bisa menyingkirkan anda waktu itu jika ia menyetujuinya.. bahkan ia melakukan pekerjaan yang sangat baik selama ini.. jadi tidak ada alasan lain untuk tidak memilihnya.."
"Tapi Ms.Grey..."
"Saat ini saya tidak meminta persetujuan anda.. tapi saya hanya ingin memberitahukan anda perihal ini.. saya sedang mengurus berkasnya.. cepat atau lambat, saya akan segera memberikan semua berkas itu pada anda.. jadi.. saya mohon kerja samanya.." ujar Ana tegas tanpa basa basi.
"Ba..baiklah Ms.Grey.." angguk Mr.Lee tak lagi membantah. Tampak ada rasa kesal di hatinya. Karena sebenarnya ialah yang sangat ingin menggantikan posisi Ana.
"Tentu saja.. saya mengatakan padanya jika anda sedang melakukan perjalanan bisnis, Nyonya Jane juga menanyai perihal anda.. saya mengatakan jika perjalanan bisnis itu ke Australia.." sahut Pak Kim menyadarkan Ana dari lamunannya.
"Wanita tua itu pasti tidak akan percaya.." gumam Ana lirih membayangkan sifat Jane dengan mata yang sangat berat.
"Sepertinya begitu.. Nyonya Jane tampak curiga.."
"Biarkan saja dia.. dia pasti selalu mencari tau dengan melakukan segala cara untuk mengetahui semua yang mencurigakan baginya.. cepat atau lambat ia akan tau.."
"Dan saya bertemu Tuan..." Pak Kim menghentikan ucapannya ketika melihat Ana ternyata sudah tertidur.
Tak lama perawat masuk dengan membawakan obatnya.
"Apa dia pingsan??" Tanya Pak Kim cemas.
Perawat segera memeriksa dengan teliti.
"Tidak Tuan.. Ms.Grey hanya tengah tertidur.. karena dia masih dalam pengaruh obat bius.. saya akan menyuntikkan antibiotik dan pereda nyeri untuknya.." jelas perawat itu ingin menyuntikkan obat itu.
__ADS_1
"Tunggu.. apa boleh saya melihat idientitas anda.. saya perlu memastikan semua idientitas perawat yang keluar masuk demi keamanan Ms.Grey.." Pak Kim betul betul sangat ketat, ditambah ia baru bertemu dengan perawat yang satu ini.
"Ah.. tentu saja Tuan.." angguk gadis cantik itu mengerti. Ia menyodorkan idcard yang ia kalungkan, Pak Kim tampak memfotonya, lalu menelepon ke bagian administrasi.
"Halo.. Maaf mengganggu.. saya ingin menkonfirmasi idientitas perawat yang masuk saat ini diruangan VVIP.." seru Pak Kim di teleponnya.
"Silahlan Tuan.. apa ada masalah??" Tanya perawat yang menerima panggilan itu.
"Tidak.. saya hanya ingin memastikan saja.." ujar Pak Kim tenang.
"Atas nama Dita Wang.."
"Benar Tuan.. nama perawat tersebut adalah salah satu perawat senior di rumah sakit ini.. saat ini memang sedang bertugas di shift malam lantai 7 hingga besok pagi.." jelas perawat itu pasti.
"Baiklah kalau begitu.. terima kasih.." pak Kim segera mengakhiri panggilannya. Ia lalu menyodorkan id card itu dengan sungkan.
"Maaf jika saya tidak sopan.."
"Tidak apa apa Tuan.. saya sangat mengerti kondisi anda.. saya akan memberikan obat ini sekarang agar ia tidak merasakan nyeri pasca operasi.. dan obat ini juga akan memiliki efek rasa kantuk yang berat.. mungkin ia akan tertidur cukup lama setelah pemberian obat ini.." jelas perawat itu sambil mulai menyuntikkan obat obatan itu melalui infus Ana.
"Terima kasih.." ujar Pak Kim sopan.
"Sudah ya Tuan.. saya permisi dulu.." pamit perawat itu segera keluar dari ruangan Ana.
Pak Kim menatap Ana dengan tatapan sedih. Ia menyelimuti Ana hingga ke bawah dagu nya. Ia tampak tidur pulas, wajahnya putih pucat tampak sangat tenang.
****
Jane tengah bersantai di bar mansion. Setelah mansion Ana selesai di renovasi ia segera tinggal disana. Musim dingin kini membuat mansion terasa nyaman dengan penghangat otomatis didalam ruang bar favorite Ana.
Jane menikmati salah satu koleksi wine Ana yang di pajang di lemari kaca, ia menikmati itu dengan menikmati pemandangan yang ada di balik jendel bar. Sesekali ia menyentuh kalung berlian pemberian Ana. Ia merasa bersalah atas apa yang ia lakukan pada Ana. Meski memang Ana sudah melakukan hal yang kejam, namun ia seharusnya menanyakan terlebih dahulu apa yang terjadi.
Jane ternyata telah mendengar kejadian sebenarnya dari sumber yang tak di ketahui, Jane mendapat pesan via email dari pengirim anonim, pengirim itu mengirim file yang berisi rekaman suara perseteruan antara Ana dan Franz, lalu Ana dan Dominic. Ia tidak tau bagaimana rekaman itu bisa di dapat. Namun memang Franz dan Dominic lah yang lebih dulu memancing Ana menjadi gila dan hilang kendali.
Ia masih melacak siapa pengirim pesan anonim itu. Karena yang pasti, pengirim itu ada di lokasi kejadian berlangsung.
Drrrt...drrrttt..
Ponselnya yang ada di atas meja bergetar. Ia segera menerima panggilan itu.
"Bagaimana?" Serunya tanpa basa basi.
__ADS_1
"Tidak ada satupun catatan keberangkatan keluar negeri atas nama Ms.Grey Nyonya.. namanya tidak ada dalam catatan penerbangan manapun selama dua hari terakhir.. bahkan jika ia menggunakan jet pribadi, id passport nya juga tidak terdaftar di negara manapun.." jelas anak buah Jane detail.