Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Paet 79 : "Kau lebih dari cukup.."


__ADS_3

Ana dan Tyo mengobrol banyak. Hingga hari sudah malam, dan hingga showroom itu telah di tutup, namun mereka masih tetap didalam sana.


Tyo bangkit untuk pergi menuju toilet, saat tengah ingin membakar sebatang rokoknya lagi ponsel Ana bergetar.


Ternyata ada panggilan internasional dari Louis.


Dengan yakin Ana mengabaikan telepon itu dan segera melanjutkan memantikkan api membakar ujung rokoknya.


Getar itu terhenti, namun kembali lagi bergetar. Louis benar benar tidak putus asa untuk menghubungi Ana hingga panggilan keempat nya baru diangkat.


"Halo.." jawab Ana lirih.


"Kau sudah tiba??" Tanyanya dengan nada khawatir.


"Hmm.. tentu saja dari jam 6 sore tadi.. tapi disini saat aku tiba itu sekitar pukul setengah 1 siang.. perbandingan jam disini dengan disana selisih 7 jam.. disana lebih cepat.." jelas Ana detail melihat ke arah jam tangannya.


"Kau pasti sangat sibuk, sampai sampai tidak membalas pesanku.."


"Kau mengirimiku pesan?? Maaf aku tadi memang cukup sibuk, tidak sempat memeriksa ponselku.." ujar Ana berbohong.


"Tidak apa apa, yang penting kau sudah tiba dengan selamat.."


"Hmm.. tentu saja.."


"Kau sedang apa?? "


"Aku sedang mengurus sesuatu.. kau tidak tidur?? Bukankah sekarang disana sudah pukul 1 malam??" Ana lagi lagi memeriksa jam tangannya untuk memastikan.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu.. tapi sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak.." ujarnya terdengar terkekeh.


"Ana.. mari kita makan malam.. aku akan membawamu ke restoran terbaik disini.." seru Tyo tiba tiba dari arah belakang.


"Bisakah kau berhenti merokok?? Jangan sampai wajah cantikmu di tutupi asap.." gerutu Tyo setengah menggoda.


Ternyata ia tidak tau jika Ana sedang menelepon seseorang.


Ana yang kaget menoleh ke arah Tyo yang ada di belakangnya sambil mengangguk dan memberi tanda mengusir dengan tangannya.


"Kau sedang dengan siapa??" Tanya Louis dengan nada curiga.


"Temanku.." jawab Ana singkat.


"Ah.. apa kalian akan makan malam bersama??" Tanya Louis lagi.

__ADS_1


"Hmm.. tentu saja.. ini bahkan sudah lewat dari jam makan malam disini.." jawab Ana santai tidak mengerti jika Louis tengah cemburu.


"Baiklah.. aku tutup dulu.. maaf mengganggumu.." Louis terdengar sangat kecewa.


"Apa kau cemburu??" Timpal Ana tiba tiba.


"Apa?? Tidak juga.."


"Tidak juga?? Jadi aku boleh pergi berkencan dengannya??" Goda Ana mulai usil.


"Wah.. apa kau benar benar tidak bisa menghargai perasaanku??" Celetuk Louis kesal.


"Kau bilang tidak juga.. jadi aku pikir boleh saja aku untuk pergi dengannya.. lagipula dulu dia pernah mengejar ngejarku cukup lama.." Ana lagi lagi memancing reaksi lucu Louis.


Louis hanya terdiam sejenak.


"Aku tutup dulu.." ujarnya dengan nada kesal.


"Jangan khawatir.. dia bahkan sudah berkeluarga.. aku sudah mengenal baiknya dan istrinya.. dia itu satu satunya teman kuliahku.. aku sedang ada urusan dengannya.. sekarang kau tidurlah jangan berpikir macam macam.. bukankah aku sudah memilikimu?? Kau seorang sudah lebih dari cukup bagiku.." timpal Ana segera menghibur Louis dengan hangat.


"Baiklah.." jawab Louis singkat, ia lagi lagi dibuat Ana tersipu malu, hanya dengan mendengar ucapan Ana di sebrang.


"Aku tutup dulu.. selamat malam.." ujar Ana.


"Hmm.. selamat malam.."


"Aku tidak menyangka kau sudah memiliki seorang kekasih.. aku pikir kau tidak akan pernah berpacaran dengan siapapun.." celetuk Tyo di belakang Ana.


Ana hanya tersenyum tipis tidak mengomentarinya.


***


Saat makan malam, Ana hanya menenggak wine dan menikmati sepiring salad sayur dan buah.


"Kau yakin cukup hanya makan itu??" Tanya Tyo heran.


"Hmm.. aku sedang dalam pemulihan.."


"Ahh.. karena luka lukamu itu??" Seru Tyo mengerti. Memang sejak baru bertemu Ana ia teralihkan dengan beberapa plaster kecil penutup luka di wajah dan tangan Ana yang terlihat olehnya. Namun ia enggan menanyakannya.


"Jadi rumor tentang kau dan Franz brengs*k itu memang benar?? Aku masih tidak percaya kau bisa jatuh hati padanya.."


"Ceritanya panjang.. bahkan aku tidak sudi melihat wajahnya.." tukas Ana mengelak.

__ADS_1


"Dia benar benar pria brengs*k.."


"Kau sejak tadi hanya terus mengatakan dia brengs*k.." gumam Ana tersenyum geli.


"Tentu saja.. dia memamg benar benar bajing*n brengs*k.. aku sangat senang kau tidak jadi menikah dengannya.. dia sangat pengecut, tidak pantas untukmu.. bahkan dia pernah menggoda istriku saat kami tengah merayakan anniversary pernikahan di sebuah club.."


"Aku tidak heran soal itu.." ujar Ana terkekeh.


"Apa kau membiarkannya??"


"Tentu saja tidak.. aku menghajarnya habis habisan sampai polisi datang, dan kau tau??? Pengacaranya mengemis menghantuiku dan istriku setiap saat untuk berdamai dengan menawarkan banyak uang.." cerita Tyo sambil memperagakan gaya pengacara Franz berbicara.


"Dia benar benar hanya seorang pengecut tol*l yang bergelimang harta.. dia bahkan tidak pandai berkelahi.. mengelak pukulanku saja tidak bisa.." Tyo tampak sangat emosi saat mereka tengah menceritakan tentang Franz.


"Dia bahkan bukan apa apa saat berkelahi denganku.. dia sangat mudah untuk aku kalahkan.." gumam Ana membanggakan diri.


"Tentu saja.. kau pasti jauh lebih hebat darinya.. aku turut senang kau mengambil alih perusahaannya.. dia hanya akan menjadi gelandangan miskin yang gila.." Tyo tampak terkekeh puas.


"Sebenarnya bukan itu tujuanku.. aku hanya ingin membalas perbuatannya pada korban korbannya.. dan mendapatkan perusahaannya adalah bonus untukku.." jelas Ana terkekeh.


"Tapi.. waktu itu aku melihat jumpa pers mu di siaran eksklusif.. kau tampak terluka cukup parah dan tampak sambil menangis.."


"Bukankah kita perlu bersandiwara untuk meyakinkan orang orang?? Aku bahkan sangat susah payah untuk mengeluarkan air mataku.."


"Wahh.. kau benar benar hebat.. sekali lagi.. selamat atas keberhasilanmu menghancurkannya.." ujar Tyo terkekeh senang.


"Terima kasih.." sahut Ana mengangkat gelasnya untuk cheers bersama.


"Kau tidak apa apa? Kau sudah minum terlalu banyak.. bukankah kau akan mengendarai mobil barumu kembali ke hotel??" Tanya Tyo tampak cemas melihat Ana.


"Aku baik baik saja.."


"Wahh kau peminum yang hebat juga.. tapi bukankah kau juga perokok berat?? Apa kau tidak takut sakit?? Aku bahkan sudah berhenti merokok 3 tahun lalu setelah aku pernah mengalami sesak nafas yang cukup parah.. aku benar benar takut akan mati.."


"Setidaknya bagiku kematian bisa memberikan ketenangan untuk jiwaku yang menderita.." gumam Ana memutar mutar gelas wine nya di atas meja.


"Hei.. kenapa kau bicara seperti itu.. kau terdengar sangat putus asa.. setidaknya pikirkan bagaimana perasaan kekasihmu itu.. dia pasti akan sangat menderita jika kehilanganmu.." timpal Tyo mengingatkan.


"Entahlah.. aku tiba tiba merasa lelah dengan hidupku.."


Tyo bingung harus menanggapi Ana dengan bagaimana, karena saat itu ia melihat Ana tampak sangat putus asa dan sedih.


"Setidaknya nikmati hari hari yang kau punya saat ini.. lakukan apa yang ingin kau lakukan.. sehingga kau tidak ada penyesalan di akhir hayatmu.. baru kau akan mendapat ketenangan dalam jiwamu.. aku juga pernah merasa putus asa.. aku pernah ingin mengakhiri hidupku karena kebangkrutan parah waktu itu.. semua teman baikku menjauhi seakan akan mereka tidak mengenalku.. padahal selama itu aku menghabiskan banyak uang untuk menyenangkan mereka..

__ADS_1


Teman teman sial*n itu.. bahkan karma sudah mendatangi mereka, sekarang mereka hidup susah menderita terlilit hutang, bahkan ada yang menjadi buronan narkoba.. saat itulah hanya kau dan istriku yang menyemangatiku.. kau mendukungku penuh secara finansial, sementara istriku selalu mendukungku secara lahir dan batin.. dia benar benar tidak pernah lelah menemaniku dalam kesusahanku.. itu sebabnya aku selalu bertahan dengan semua keadaan dan kondisiku.. dan berusaha untuk terus berumur panjang, agar aku bisa terus mencintainya dan membalas semua kebaikannya dengan cara apapun.." Tyo bercerita panjang lebar tentang masa lalunya.


Saat ia terpuruk dulu, Ana lah satu satunya orang yang membantunya. Ana memberinya banyak uang untuk membantu bisnisnya yang hampir musnah, Ana benar benar menghabiskan banyak uang untuk membantu Tyo bangkit, padahal saat itu ia juga baru saja membuka hotel barunya, ia menjual beberapa property tabungannya untuk membantu Tyo dengan tulus. Mereka juga saat itu tidak begitu akrab, hanya bicara beberapa kali selama kuliah untuk membahas tugas mereka. Namun entah kenapa waktu itu Ana tiba tiba meneleponnya menanyakan kabarnya dan kekasihnya yang kini menjadi istrinya.


__ADS_2