Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 109 : Musibah


__ADS_3

Setelah 2 minggu berlalu. Hari ini adalah hari penentu, Ana akan menjalani operasi besar.


Akhirnya sehari setelah di putuskan untuk melakukan donor organ, pihak rumah sakit segera mencari pendonor dan melakukan riset kesehatan. Mereka akan melakukan bedah donor organ terbanyak dalam sejarah medis. Mereka akan melakukan bedah untuk donor hati, ginjal, usus, dan limpa.


Ana di untungkan dengan kesalahan diagnosis mengenai kanker hatinya. Ternyata infeksi organnya lah yang menyebabkan pemicu munculnya gejala kanker, selama ini Ana hanya mendapatkan gejala kanker, bukan menderita kanker. Ia memang akan terjangkit kanker jika saja Dokter Nam saat itu tidak melakukan tindakan operasi. Faktor kerontokan rambut parah karena reaksi dari obat yang di minum Ana sebelumnya, bukan karena kankernya.


Kini Ana hanya akan fokus pada pemulihan setelah bedah pendonoran yang dia lakukan.


Jane ikut berdebar melihat Ana yang sedang di beri obat bius dan tengah di pasangi alat bantu di tubuhnya.


Jane terus menerus berdoa agar Ana segera di beri kesembuhan.


****


Louis terbaring di lantai. Ia mengusap wajahnya kasar. Rambutnya tampak berantakan. Sudah dua hari dia berada di apartment Ana. Ia sering menelepon Pak Kim di kala mabuk. Bahkan mengirim pesan singkat serta pesan suara ke nomor ponsel Ana yang mati.


Louis membuka pintu apartment Ana yang telah kosong perlahan, ia mencondongkan kepalanya, dan mendapati Pak Dong telah menatapnya dengan tatapan mematikan.


"Kau minum-minum lagi????" Tanya Pak Dong marah.


"Tidak.." geleng Louis segera keluar menuju apartment nya.


"Aku tidak akan mentolerir lagi Lou !! Aku akan memutus kontrak kita jika kau terus begini !! Apa kau tau sudah berapa banyak uang yang aku habiskan untuk membayar pinalti akibat ulahmu?? Kau membatalkan kontrak iklan 2 hari sebelum shootingnya, lalu kau mengemudi di jalanan sambil mabuk-mabukkan.. untung mereka tidak mengatakan apa-apa ke publik !!! Tapi mereka menggerogoti uang perusahaan !!!" Bentak Pak Dong kehilangan kesabaran.


Sejak kepergian Ana, Louis selalu bertingkah sesukanya. Datang ke lokasi shooting selalu terlambat berjam-jam, menghilang di saat shooting tengah berlangsung, tiba-tiba meminta cuti saat semua staff telah bersiap untuk melakukan shooting, membeli alkohol di supermarket pada siang hari, membuat kericuhan di perusahaan Grey World.


Dia benar-benar membuat kekacauan. Akhir-akhir ini banyak artikel yang mulai membahas tentang perilakunya yang di anggap tidak sopan, tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab, namun Pak Dong segera mengatasi semua artikel itu dengan menyuap mereka agar menghapus semua artikel itu.


Karirnya benar-benar berada di ujung tanduk.


"Maafkan aku.. kali ini aku akan berbuat baik.." ujarnya lirih.


"Aku sudah mendengar ini ratusan kali !!!!" Bentak Pak Dong keras.


"Aku akan segera bersiap.." ujar Louis lirih mengalihkan amarah Pak Dong. Ia segera masuk ke dalam apartment nya untuk bersiap.

__ADS_1


"Aku kehabisan kata-kata menghadapimu.." gerutu Pak Dong marah.


****


Kini Louis dan Pak Dong tengah tiba di lokasi shooting. Ia akan melakukan shooting drama baru lainnya yang ber-genre action. Dia akan melakukan banyak atraksi selama shooting.


Pak Dong menyodorkan banyak minuman anti pengar, karena Louis masih tampak mabuk, bahkan bau alkohol sangat kental dari mulutnya


"Kau selalu saja berulah !!" Gerutu Pak Dong memukul-mukul pundak Louis kesal.


"Awh ! Sakit.. setidaknya aku masih menghasilkan banyak uang.." gerutu Louis kesakitan.


"Kau harus hati-hati.. adegan hari ini sangat berbahaya.. stuntman hanya akan memeragakan beberapa adegan fatal saja.."


"Memangnya adegan fatal yang seperti apa?" Tanya Louis penasaran.


"Berlari sembil melompat dari gedung ini ke gedung itu.." jelas Pak Dong menunjuk ke arah gedung-gedung tua yang rata-rata memiliki 5 sampai 8 lantai.


"Bukankah jaraknya itu tidak terlalu jauh?? Bolehkah aku mencobanya??" Timpal Louis penasaran.


"Kau ingin cari mati?? Bahkan kau saat ini tidak bisa berjalan lurus.. bagaimana kau mau melompati gedung-gedung itu?" Gerutu Pak Dong.


Ia kembali mengingat sosok Ana. Dia benar-benar merindukannya. Dia ingin mencoba hal baru, jika Ana bisa berkelahi dengan banyak lawan, bahkan dia juga mampu menahan serangan pisau dengan tangan kosong demi menyelamatkan Louis waktu itu. Dia setidaknya kini harus mencoba sesuatu yang lebih menantang, bagaimana nanti dia bisa melindungi Ana, jika dia tidak bisa melewati rintangan yang mudah itu. Jarak antar gedung hanya satu meter. Bisa di langkahi meski tanpa melompat.


"Pak Sutradara.. aku akan mencoba adegan itu.."


"Apa kau yakin?? Ini sangat berbahaya.."


"Kalau bahaya mengapa menempatkan orang lain untuk menggantikanku.."


"Mereka semua ini ahli.. aku tidak ingin di penjara karena mengambil resiko jika sesuatu terjadi padamu.." imbuh Sutradara di lokasi shooting itu.


"Izinkan aku mencobanya sekali saja.." mohon Louis.


"Pak Dong !!" Seru sutradara meminta agar Pak Dong menghentikan keinginan Louis.

__ADS_1


"Biarkan dia mencobanya.."


"Baiklah.. hanya satu kali ini saja.. mari beri perlindungan padanya.." seru sutradara segera memberi aba-aba untuk para staff agar memasang pengaman pada tubuh Louis.


Ia juga tampak memberi instruksi arah rute lari di atas gedung itu, karena mereka sudah memeriksa semua jarak lompatan antar gedung untuk menjadi jalur lari saat adegan kejar kejaran antara penjahat dan sang aktor.


"Kau harus menghafal rute nya.. karena kami sudah memastikan semua jarak yang akan di lewati ini aman.. kau lihat ini.. kiri, kiri, kiri, kanan, kiri, kanan, kanan, lalu turun merosot ke atap batu yang miring itu.. dibawah sana akan ada kasur pengaman.." jelas sutradara mengarahkan Louis yang tengah bersiap.


"Baiklah aku akan menghafalnya.." angguk Louis mengerti.


"Tapi.. kenapa kau bau alkohol? Apa kau mabuk??"


"Ah.. tidak.. sepertinya karena aku belum sikat gigi.." geleng Louis enteng sambil tertawa.


Sementara sutradara itu bergidik ngeri melihat Louis dan merasa khawatir.


"Apa kau yakin?" Tanyanya lagi merasa ragu.


"Tentu saja.. jangan khawatir.. kiri, kiri, kiri, kanan, kiri, kanan, kanan.. benarkan??" Sahut Louis tenang.


"Baiklah.. sekarang bersiaplah.. kita latihan dulu.."


Saat latihan Louis bisa melakukannya dengan baik dan lancar. Kemudian sutradara pun memutuskan untuk langsung melakukan take video.


Adegan demi adegan di lakukan Louis dengan sangat baik, hingga akhirnya masuk ke aksi kejar-kejaran, Louis terus menghafal jalur gedung yang harus dia lewati.


"Kiri.. kiri.. kiri.."


Louis berlari dengan cepat menghayati perannya, ia melompati dari gedung satu ke gedung lainnya.


"Kanan.. kiri.. kanan.." dan saat langkah gedung terakhir ternyata pemeran penjahat di depan Louis justru berlari kencang ke arah gedung kiri, sontak Louis yang masih menghayati perannya terus mengikuti lari penjahat itu ke arah kiri.


Lompatan pertama jarak gedung masih terjangkau. Sutradara dan para staff sudah meneriaki Louis dan pemeran lainnya untuk berhenti, namun tak terdengar oleh mereka, hingga lompatan gedung terakhir ternyata lebih rendah, merupakan gedung 3 lantai, tetapi jaraknya ke gedung sebrang sangat jauh yaitu sekitar 3,5 meter.


Sontak pemeran lawan itu melompat lebih dulu tetapi ternyata ia justru gagal mencapai gedung sebrang dan terjatuh ke bawah menimpa tumpukan box plastik pedagang yang tengah berjualan di gedung bawah. Sementara Louis yang terkejut melihat lawannya terjatuh, ia tidak bisa mengatur kecepatannya lagi sehingga ia pun ikut terjatuh.

__ADS_1


Tubuhnya yang terikat dengan tali pengaman justru tertahan sehingga menghantam keras ke arah dinding.


Semua orang yang berada di bawah pun terkejut mendengar suara bising itu. Mereka segera mengerumuni lawan main Louis, dan berteriak histeris ketika melihat ke arah Louis yang tergantung terbalik tak sadarkan diri.


__ADS_2