
Tyo duduk terdiam saat di interogasi oleh 2 orang polisi dalam ruangan yang sangat dingin dan kedap suara, sejak pagi ia berada disana.
"Sudah berkali kali aku katakan.. aku belum menjual unit mobil sport seperti itu.. kalian tau mobil itu diproduksi terbatas.. aku sudah memesannya tapi belum datang hingga saat ini.." jelas Tyo tegas meyakinkan polisi itu.
"Lalu bagaimana bisa cctv di showroom mu tidak diperbaiki? Bukankah seharusnya keamanan yang utama? Lagipula kau menjual mobil mahal.. tidak mungkin kau mengabaikan keamanan.." bentak polisi itu hampir membuat Typ berkali kali goyah.
"Itu urusanku.. lagipula jika aku kemalangan karena cctv ku rusak yang rugi itu aku.. bukan kau !! Jadi berhenti mempermasalahkan cctv ku.. di negara ini bukan hanya aku saja pengusaha mobil sport !! Masih banyak pengusaha lainnya.. " tukas Tyo terpancing emosi.
"Karena hanya kau yang selalu update dengan koleksi mobil terbaru.."
"Alasan kau sangat payah sekali.. yang jelas sudah berkali kali aku katakan.. aku tidak menjual unit mobil sport seri itu !! Aku memang sudah memesannya tapi belum menerimanya !! Aku rasa sudah cukup lama aku disini.. meski kalian tahan aku selamanya disini, jawabanku tidak akan berubah sama sekali !! Karena kalian menanyai pada orang yang salah !!"
"Baiklah.. kau boleh pergi.." celetuk polisi yang satunya. "Kami juga sudah tidak punya pertanyaan lain.. silahkan pergi.." tambahnya lagi.
Tyo segera berdiri, ia segera pergi keluar meninggalkan ruang interogasi itu dengan perasaan sangat lega.
Sementara Ana yang sedang berada di kantor tampak sedikit gelisah. Selama ini ia tidak pernah lengah, namun ia mendapat sialnya. Ia bahkan sampai membeli ponsel baru dengan mendaftarkan nomor baru. Ponselnya berdering dan hanya Tyo yang saat ini tau nomor itu. Ana segera menerima panggilan itu.
"Kau tidak apa apa?" Tanya Ana segera dengan penuh rasa khawatir.
"Aku baik baik saja.. kau tenang saja.." jelas Tyo yakin.
"Maaf aku melibatkanmu.." ujar Ana merasa bersalah.
"Aku yakin, apapun yang telah kau lakukan, pasti karena kau punya alasan khusus.. karena kau bukan orang yang gegabah.." imbuh Tyo menyemangati.
"Aku akan menemuimu malam ini.." imbuh Ana lirih.
"Sebaiknya kau segera kembali ke negara K.." seru Tyo menyarankan.
"Aku masih ada banyak pekerjaan disini.. mungkin masih butuh beberapa hari lagi.." ujar Ana ragu.
"Kau selalu saja memikirkan pekerjaan.." timpal Tyo terdengar kesal.
"Aku masih punya tanggung jawab disini.." celetuk Ana menjelaskan.
"Lalu kenapa kau melakukannya?" Tukas Tyo.
"Mereka mencoba mempermainkan aku dan mencoba membunuhku.. kau pikir aku akan diam saja??" Timpal Ana dingin.
__ADS_1
Tyo terdiam dan tertegun. "Mereka benar benar pantas mendapatkannya.." jawab Tyo mencoba mengerti kondisi Ana saat ini.
Ia yakin Ana pun juga serba salah, jika mereka di biarkan, maka Ana lah yang akan celaka.
"Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku dan kembali ke negara K.."
"Baiklah.. kabari aku jika hal buruk terjadi.. aku akan selalu mengabarimu.."
"Baiklah.. terima kasih.." Ana memutus panggilannya sesaat setelah mendengar pintunya di ketuk.
"Ms.Grey.." sapa sekretarisnya membuka pintu di ikuti 2 orang pria di belakangnya dengan berpakaian semi formal.
"Ada apa?" Tanya Ana datar.
"Selamat siang Ms.Grey.. kami dari kepolisian distrik 56 barat.."
Ana tertegun sesaat. "Silahkan duduk.." pinta Ana ramah. Sekretarisnya segera keluar dari ruangan Ana. Ana berjalan menuju kulkas mini di pojok ruangan. Ia tampak mengambil 2 botol minuman kopi dingin dalam kemasan botol.
"Silahkan.." tawar Ana meletakkan 2 botol itu di meja yang berada di depan kedua polisi itu.
"Terima kasih.. sebelumnya kami minta maaf sudah mengganggu waktumu.. kami hanya ingin menanyakan beberapa hal.." jelas salah satu polisi memulai percakapan.
"Apa anda mengenal Dominic dan Franz??" Tanyanya membuat Ana tercekat. Namun ia tetap terlihat sangat tenang.
"Tentu.. Dominic suami Grandma-ku bisa di katakan ia adalah Grandpa-ku, dan Franz mantan tunanganku.." jawab Ana santai.
"Baiklah.. apa anda sudah mendengar berita tentang keduanya?"
"Tentu.. aku melihatnya di berita.." angguk Ana tenang.
"Apa anda sempat menemuinya beberapa hari sebelumnya?" Polisi itu menatap Ana penuh kecurigaan, namun Ana yang tampak tenang dan santai membuat mereka tampak ragu ragu dengan kecurigaannya.
Bahkan jika melihat cara Ana duduk dan berpakaian sangat elegan sekali, wajahnya yang cantik sempurna serta tampak polos, membuatnya terkesan seperti gadis polos dan lemah lembut.
"Tidak.. begitu tiba disini beberapa hari lalu, aku langsung mengerjakan banyak pekerjaan.. seperti yang kalian lihat di mejaku.." tunjuk Ana ke arah mejanya yang terdapat banyak tumpukan file pekerjaan.
"Ah.. tentu saja.. anda pasti sangat sibuk sekali.. sebenarnya kami sedang menginvestigasi kasus kematian mereka berdua.. karena terlihat saling berkaitan, potongan kaki dari mayat Franz di temukan di mansion Dominic, yang mana itu lokasi kebakaran kemarin.. kami mendapat cuplikan cctv, namun sangat sulit untuk mengidientifikasi siapa pelakunya, karena ia selalu membelakangi kamera tersebut.."
"Apa kalian mencurigai aku??" Timpal Ana dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Ah.. tentu saja tidak.. kami hanya butuh mengumpulkan beberapa informasi dari banyak saksi.." celetuk salah satu polisi lainnya yang sejak tadi memandang Ana dengan tatapan penuh ketertarikan.
"Lagipula aku tidak punya kepentingan apapun dengan mereka, jadi tidak ada alasanku untuk menemui mereka berdua.. bahkan aku sudah lama memutus hubungan dengan Franz sejak kami putus.. dan pengalihan perusahaan saat ini tidak melibatkan Franz, karena ia sudah lama di pecat dari sini.." tambah Ana meyakinkan.
"Kami takut jika itu akan melibatkan anda, karena ada beberapa alasan yang merunjuk ke arah anda.." timpal polisi yang satunya.
Ana tertegun, menatap mata polisi itu dingin.
"Seperti yang kami tau, anda memiliki hubungan yang buruk dengan Franz, di tambah anda berteman dengan salah satu pengusaha mobil sport di negara ini.. seperti yang anda tau, pelaku mengenakan mobil sport merk terbaru, dan sebelumnya kami mendapat laporan dari beberapa saksi di lobi bawah, bahwa anda mengenakan mobil sport dengan jenis yang sama saat ke kantor.. namun hari ini anda ke kantor menggunakan jasa sewa mobil dan supir vip.. sebelumnya kami sudah menemui teman anda Tyo, namun ia selalu mengelak.." jelas polisi itu menyudutkan Ana.
"Aku akan minta untuk di dampingi dengan pengacaraku.. aku rasa ada kesalahpahaman disini.." timpal Ana datar, hanya itu yang dapat ia katakan saat ini.
Ia benar benar sangat tidak bisa bertemu dengan polisi, ia benar benar buntu, itu sebabnya ia selalu menghindari polisi.
"Baiklah.. hubungi kami jika anda sudah ingin berbicara.." polisi itu menyodorkan kartu namanya yang ia ambil dari dalam dompetnya.
Ana hanya mengangguk pelan.
Kedua polisi itupun pamit undur diri, Ana mengantar mereka hingga ke depan pintu ruang kerjanya. Sesaat setelah mereka pergi Ana segera mengambil ponselnya menghubungi anak buah Jane yang selama ini mengawasinya dari jauh.
"Ada 2 polisi baru keluar dari sini.. buntuti mereka, temukan apapun informasi tentang mereka.." seru Ana tegas dengan nafas terengah.
Perutnya tiba tiba terasa nyeri saat ia mulai stres, Ana merogoh ke dalam tasnya, mendapati botol obatnya telah kosong. Ana memukul mukul perutnya beberapa kali karena rasa nyeri yang tak tertahankan. Ana membuka lemari es mininya, mengambil sebotol air mineral, menenggaknya cepat.
Ana mulai berkeringat karena sakit di perutnya. Ia masih meremas perutnya semakin keras karena nyeri yang semakin parah.
Ana meraih ponselnya menghubungi Pak Kim.
"Pak Kim.." seru Ana lirih.
"Ms.Grey??" Tebak Pak Kim yang bisa mengenali suara Ana, meski Ana saat ini tengah menggunakan nomor ponsel baru.
"Berikan aku resep obat yang kemarin.. dan tolong carikan dokter pribadi terbaik disini.. suruh temui aku secepatnya.." ujar Ana lirih dengan terengah.
"Anda baik baik saja?? Ponsel anda mati, Nyonya Jane selalu menanyakan anda.."
"Jangan katakan apapun padanya.. aku akan segera kembali ke negara K.." Ana segera memutus panggilannya.
Pak Kim yang panik segera mencari referensi dokter pribadi terbaik di negara L dan meminta mereka menemui Ana segera.
__ADS_1