Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 104 : Cucu Kesayangan


__ADS_3

"Tuan Louis? Ada apa pagi-pagi kemari?? Tanya Pak Kim heran sambil duduk bersandar di tempat tidur.


"Kami harus memastikan anda makan dengan baik Pak Kim.." ujar Louis ramah.


"Ah.. terima kasih banyak.. tapi anda tidak perlu melakukan ini.. pasti anda sangat sibuk.." ujar Pak Kim sungkan.


"Tidak juga.. bagaimanapun aku harus datang kemari untuk memastikan anda baik-baik saja Pak Kim.." Louis menyiapkan hidangan sarapan Pak Kim di meja dorong.


Lalu mendorong meja itu perlahan ke samping sisi tempat tidur.


"Wah.. ini kelihatan enak sekali.. saya akan menghabiskan semuanya.. terima kasih banyak.." Pak Kim menjadi bertambah lapar mencium aroma masakan Louis.


"Kalau begitu kami pamit dulu Pak Kim.. aku hanya ingin memastikan anda makan dengan baik pagi ini.. aku juga ada jadwal shooting pagi ini.. istirahat yang cukup.. selamat menikmati makanannya.." Louis segera pergi keluar, sementara Pak Dong yang menunggunya di kursi luar ruangan tampak tengah tertidur.


"Pak Dong.. Ayo kita berangkat.."


"Eh.. kau sudah selesai??"


"Hmm.. ayo.." angguk Louis pelan.


"Baiklah.. ayo kita berangkat.. aku mengantuk sekaliii.." ujarnya menguap beberapa kali.


Saat menunggu lift terbuka, Louis melihat papan kaca di samping lift, ia melihat denah lokasi bangunan beserta detailnya.


Di arah kanan lantai 5 itu ruang inap untuk vip 1, di arah kiri terdapat laboratorium dan kanker center. Itu artinya disana adalah pusat pengobatan untuk pasien penyakit kanker.


****


Selama 1,5 jam kemoterapi pertama, Ana sempat menangis terisak menahan sakitnya yang luar biasa, di pertengahan sesi ia pun jatuh pingsan karena tiba-tiba mengalami peningkatan sel darah putih yang drastis. Dokter meng-klaim jika itu akibat virus di tubuhnya pasca operasi infeksi perutnya.


Dokter dan perawat segera melarikan Ana kembali ke ruang ICU. Dokter Nam segera memberitahu Pak Kim kondisi terbaru Ana.


"Sepertinya ini semakin buruk Pak Kim.. saya tidak berani mengambil resiko, saya akan meminta bantuan rekan saya di rumah sakit swiss untuk menanganinya segera.."


"Swiss??"


"Iya Pak Kim.. saya harap kita tidak mengambil resiko berbahaya Pak Kim.."


"Lakukan yang terbaik Dok.. apapun itu.. tolong lakukan apapun.."


Kemudian Dokter Nam segera menghubungi rekannya di rumah sakit Swiss. Ia menjelaskan kondisi Ana. Tanpa berpikir panjang mereka langsung menyetujui proses transfer pasien tersebut. Dokter Nam juga menjelaskan jika biaya nya tidak akan murah, Pak Kim menyanggupi itu. Bahkan setelah mereka menyetujui itu, Pak Kim segera menyelesaikan pembayaran uang muka sebesar 5 miliar rupiah, dia menggunakan uang pribadinya untuk merawat Ana, ia juga membayar lebih dari yang seharusnya. Dia akan menghabiskan puluhan miliar hanya untuk pengobatan Ana selama di Swiss. Pak Kim bahkan sudah berencana akan menjual semua aset yang dia miliki jika tabungannya masih kurang, yang penting dia berharap Ana segera sehat.


****

__ADS_1


Sore itu di mansion, Jane tengah memupuk tanaman yang ada di taman belakang.


"Nyonya Jane, apa anda sudah dengar kabar soal Pak Kim??" Seru anak buah Jane menghampirinya ke mansion.


"Apa yang terjadi??"


"Pak Kim di serang saat berada di apartment Ms.Grey.. saat ini dia tengah di rawat di rumah sakit.."


"Apa kalian sudah menemukan pelakunya??"


"Pelakunya telah di tembak mati di kantor polisi.."


"Apa?? Apa jangan-jangan penyerangan yang di kantor polisi itu adalah tentang Pak Kim??"


"Benar Nyonya.."


Sontak Jane tertegun, ia benar-benar harus segera menemukan Ana. Dia yakin Ana pasti sedang dalam bahaya.


"Apa kalian sudah menemukan lokasi Ana??"


"Belum Nyonya.. sebelumnya ponselnya masih aktif dan di temukan di apartmentnya, lalu pindah ke apartment Tuan Louis.. saat kami menyusup kesana, kami hanya menemukan ponsel Ms.Grey di dalam kamar Tuan Louis.. sekarang ponsel itu telah mati kami tidak lagi bisa melacaknya, lokasi terakhirnya ada di basement.."


"Apa seseorang membawanya?? Ada apa ini sebenarnya??" Jane berpikir keras dengan situasi saat ini.


****


"Pak Kim.." seru Jane menghampirinya. Anak buahnya tampak membawa sebuket parsel buah-buahan segar.


"Nyonya Jane.." ujar Pak Kim berusaha bangkit dengan kesulitan.


"Jangan berdiri.. kondisimu sedang tidak baik.." seru Jane memegangi lengan Pak Kim. Lalu segera duduk di samping tempat tidur Pak Kim.


"Apa yang terjadi?? Katakan semuanya padaku.." Tanya Jane tanpa basa-basi.


Pak Kim hanya tertegun. Ia sempat mencurigai Jane sebagai pelakunya. Dia tetap harus berhati-hati.


"Saat itu, saya sedang singgah ke apartment Ms.Grey, dia memintaku mengambilkan beberapa berkas kerja di ruang kerjanya.. saat itu saya mendengar ada yang masuk ke dalam.."


"Apa kau mengenali suara mereka??"


"Tidak nyonya.. tapi.." Pak Kim menghentikan ucapannya. Ia bermaksud mengatakan jika Louis tau siapa pelaku yang tewas itu, namun ia justru khawatir, kalau benar Jane adalah dalangnya, maka Louis akan berada dalam bahaya.


"Tapi apa Pak Kim??"

__ADS_1


"Tapi.. dia sempat mengatakan sebuah nama.." ujar Pak Kim bohong.


"Nama??"


"B1.. mereka mengatakan bahwa B1 yang menjamin keamanan mereka dari serangan Ms.Grey.." imbuh Pak Kim berbohong memancing reaksi Jane.


Namun Jane benar-benar tampak berpikir keras, ia benar-benar tampak kesal bercampur rasa khawatir, ia justru benar-benar tampak kalut dan gelisah. Melihat reaksi Jane, Pak Kim yakin bahwa bukan Jane pelakunya.


"**** !!! Sudah ku duga dia akan mengkhianati Ana.." timpal Jane kesal.


"Apa kau tau dimana Ana berada??"


"Australia.. dia berada disana??"


"Jangan menipuku lagi Pak Kim.. bahkan aku sudah melacaknya.. datanya tidak tercatat di keberangkatan manapun.. dia tidak pergi kemanapun.. dia masih ada di negara ini.. dimana dia bersembunyi???" Timpal Jane dingin.


Pak Kim hanya mengunci rapat mulutnya.


"Maaf Nyonya.. saya tidak bisa mengatakan apapun.."


"Baiklah.. tetaplah merahasiakannya sampai situasi kembali aman.. ada baiknya sekarang dia bersembunyi.. aku akan mengurus para penjahat itu.. sampaikan permintaan maafku padanya  jika kau berbicara lagi dengannya.. aku pamit dulu.." timpal Jane segera berdiri dari duduknya.


"Nyonya Jane.." panggil Pak Kim lirih. Matanya berkaca-kaca.


"Kenapa anda tidak menyampaikannya langsung padanya??" Pak Kim tidak mengerti ada apa antara Ana dan Jane, namun yang ia yakini, Jane dan Ana harus segera berbaikan, mengingat kondisi buruk Ana saat ini.


"Apa maksudmu??" Gerutu Jane tak sabar.


"Saya sangat mempercayai anda.. saya yakin anda akan sangat melindunginya.."


"Apa yang ingin kau katakan padaku??" Jane tampak mulai kesal.


"Ms.Grey.. ada di ruang ICU rumah sakit ini.. kondisinya sangat buruk Nyonya.." seketika tangis Pak Kim pecah.


"Saya benar-benar tidak tau harus memberitahu siapa lagi.. saya telah berjanji padanya untuk merahasiakan ini.. namun saya tidak sanggup lagi membiarkan dia kesepian dalam kondisinya yang seperti ini.." Pak Kim terus terisak.


Pak Kim berusaha bangkit dari tempat tidurnya, lalu ia bersimpuh di bawah kaki Jane yang kini berdiri mematung mendengar ucapan Pak Kim. Perasaan buruknya ternyata benar, bahwa penyakit Ana semakin parah.


"Saya mohon Nyonya.. sebenci dan semarah apapun anda padanya.. saya mohon.. lindungilah dia.. saya mohon bantu saya untuk menyembuhkannya Nyonya.." mohon Pak Kim menangis terisak-isak. Air matanya banjir membasahi seluruh wajahnya.


"Hanya dia satu-satunya keluarga yang saya miliki.." mohon Pak Kim tak henti-henti.


Jane menarik kerah Pak Kim keras. Hingga tubuh kekar Pak Kim terangkat ke atas.

__ADS_1


"Sial*n kau !! Kenapa kau baru memberitahuku sekarang hah??!!! Asal kau tau !! Meski dia bukan darah dagingku.. tapi aku rela menyerahkan hidupku untuknya !! Dia adalah cucuku satu-satunya.. Jadi.. kau tidak perlu memohon padaku, karena aku pasti akan menyelamatkan cucuku !!" Bentak Jane segera melepaskan cengkraman itu dan berlalu pergi. Tangisnya pun pecah. Ia segera berlari menuju ruang ICU untuk melihat Ana.


__ADS_2