Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 122 : Kunjungan Tak Terduga


__ADS_3

"A.. Ana.." Tyo tergagap.


"Maaf aku membuatmu dalam masalah.." ujar Ana lirih menundukkan wajahnya.


Brakk !!


"Ana !!" seru Jane terpekik mendobrak pintu depan yang tak terkunci. Ia tampak pucat pasi dan terengah.


"Grandma.." sahut Ana heran melihat Jane yang ngos-ngosan.


"Kau baik-baik saja?" serunya menghampiri Ana memeriksa sekujur tubuh Ana dengan panik.


"Aku mendengar suara tembakan.. apa yang kau lakukan?" Tanyanya lagi melihat pistol di tangan Ana.


"Aku hanya ingin memastikan jika senjata ini berfungsi baik apa tidak.. apa kau berlari pulang kerumah karena sangat mengkhawatirkan aku?" goda Ana santai.


Plak !!


Jane menepuk lengan Ana keras.


"Berani sekali kau mempermainkan aku.." gerutunya.


"Tega sekali kau memukul orang sakit !!" bentak Ana mengelus lengannya yang perih.


"Siapa kau?" hardik Jane saat sadar Tyo tengah berdiri di antara mereka.


"Ini Tyo.." jelas Ana menangkap raut wajah Tyo yang masih tampak shock.


"Tyo?? Tyo teman kuliahmu?" tanya Jane meyakinkan.


"Hmm.." angguk Ana santai.


"Kau kini tampak bertambah tua.." gumamnya lirih mengejek Tyo yang segera berdecak mendengar ejekan Jane.


"Anda juga terlihat bertambah sangat tua Nyonya Jane.." ejek Tyo membalas ledekan Jane, ia masih tampak gugup dan cemas.


"Cih.. kau sudah pintar membalas ledekkanku.." timpal Jane merasa kalah.


Jane kemudian tersadar. Bagaimana mungkin Tyo bisa menemukan mereka.


"Ba..bagaimana kau bisa menemukan kami?" tanyanya segera setelah tersadar.


Ana menyodorkan jam tangan milik ayahnya 'Thommas' yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Jam Thommas?" tebak Jane tampak menduga-duga siapa pelakunya.


"**** !!" umpat Jane lirih tiba-tiba, Jane mencabut alat pelacak itu segera menjatuhkannya ke lantai lalu menginjaknya hingga hancur lebur.


"Apa kau tau siapa yang memasang pelacak itu?" tukas Ana menduga jika Jane tau siapa pelakunya.


Jane melihat raut wajah Ana yang tampak khawatir.


"A..aku rasa.. aku tau siapa yang memasangnya.." angguk Jane pelan.


"Sebaiknya kau segera pergi dari sini.." celetuk Ana dingin.


Tyo hanya terdiam. Ia tampak takut dan kalut.


"Aku akan mencarikan penerbangan tercepat untukmu.." sambung Jane tampak segera mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu sedikit menjauh dari mereka.


"Apa sebenarnya yang terjadi Ana?" Tanya Tyo penuh rasa penasaran.


"Semua kejadian di negara E memang aku lah pelakunya.. yang menyerahkan diri ke kantor polisi dan di tahan saat ini hanya alibi anak buah Grandma.. mereka hanya orang yang tidak bersalah yang harus menanggung semua perbuatan jahatku agar aku tetap aman sampai sekarang.." jelas Ana tegas.


"A..Apa?" Tyo tampak sangat shock.


"Aku benar-benar orang yang sangat mengecewakan Tyo.. aku adalah orang yang tidak kau sangka-sangka.. aku selama ini melakukan hal buruk.. apa yang kau pikirkan selama ini adalah benar.. jangan menipu pikiran dan feelingmu sendiri tentang aku.. karena aku memang orang yang sangat brengs*k.."


"Teruslah berpikir seperti itu jika itu membuatmu merasa lebih baik.." ujar Ana lirih.


"Grandma Jane akan membantumu agar dapat kembali ke negara E dengan aman.." Ana segera masuk ke kamarnya.


Tyo terpaku melihat sifat dingin Ana. Ia masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Ana.


Selama ini dia memang mengenal Ana dengan sosok yang dingin dan cuek, tapi ia tidak menyangka jika Ana ternyata seorang pembunuh berdarah dingin.


***


"Apa yang terjadi?" Tanya ibu Louis khawatir, setelah mendapat kabar jika Louis jatuh pingsan setelah meeting.


"Sepertinya dia mulai mengingat Ms.Grey.." ujar Pak Kim lirih.


"Apa maksudmu?" tanya ibunya kaget.


Pak Kim hanya terdiam. Ia tampak khawatir.


"Apa kita harus memberitahunya?" Timpal ibunya ragu.

__ADS_1


"Saya tidak yakin soal itu Nyonya.. saya akan membahasnya dahulu dengan Ms.Grey.." celetuk Pak Kim tidak berani mengambil keputusan.


"A.. apa Ana sudah sadar?" Timpal Ibunya mencoba memahami maksud Pak Kim.


Pak Kim tergagap. "Maksud saya.. saya akan membahas hal ini nanti.. tentu setelah ia sadar.." jelasnya lagi meluruskan.


"Apa anda menyembunyikan sesuatu dari kami Pak Kim?" ibu Louis tampak curiga dengan gelagat Pak Kim.


"Tentu tidak Nyonya.." geleng Pak Kim cepat.


"Aku hanya berdoa Ana segera lekas membaik.. setidaknya kita tau apa yang harus kita lakukan untuk dirinya dan Louis.." imbuh ibu Louis sedih.


"Saya pun begitu Nyonya.."


***


Setelah menghabiskan 1 kantong infus, Louis akhirnya sudah di perbolehkan pulang agar dapat beristirahat di rumahnya. Dokter meminta agar keluarga dan kerabatnya membantu Louis mengingat masa lalunya, karena jika tidak, ia akan memaksakan dirinya untuk mengingat semua kenangannya sendiri, itu hanya akan membuat Louis menjadi tertekan dan depresi.


Louis terbaring di tempat tidurnya, ibunya baru saja memberinya obat agar ia dapat segera beristirahat.


"Ibu.." panggilnya lirih.


"Iya nak? Kau butuh sesuatu?" Sahut ibunya hangat.


"Apa ada hal penting yang terlewatkan olehku?" Wajah Louis tampak sendu.


"Apa maksudmu?"


"Sejak kecelakaan dan hilang ingatan, aku selalu memimpikan seorang wanita.. bahkan aku tampak memiliki kenangan dengannya saat meeting di GC Hotel tadi.. apa kau tau siapa wanita itu?"


Ibunya tertegun, bibirnya bergetar, ia tau kesedihan mendalam yang di alami putranya setelah berpisah dari Ana. Ia tidak tau hal apa yang sebenarnya terbaik untuk putranya. Apakah terus merahasiakan tentang Ana dapat membuat putranya menjadi lebih baik, atau kenangan itu nantinya justru menjadi senjata yang akan menghancurkan putranya lebih dalam.


"Bu.."


"A.. aku tidak tau jika kau dekat dengan seorang wanita Lou.. mungkin kau memang memiliki teman dekat, tapi.. kau tidak pernah menceritakannya pada kami.."


"Benarkah?? Dia tampak sangat berarti bagiku.. maksudku.. semua mimpiku dengannya tampak sangat menyenangkan, aku tampak bahagia saat bersamanya.." gumam Louis tertegun.


Deg !!


Ibunya tersentak. Mendengar ucapan Louis membuat kenangan mereka bersama Ana terlintas di benaknya. Di satu sisi dia sangat mengkhawatirkan kondisi buruk Ana, di sisi lain putranya juga sedang bersedih tentang hubungannya yang tidak berjalan dengan baik.


Ia yakin jika Ana juga mencintai putranya, tapi ada hal yang mengganjal di hatinya sehingga ia menutup rapat dirinya untuk jatuh cinta.

__ADS_1


"Sebaiknya kau beristirahat.. kondisimu masih belum stabil.." ujar ibunya mengabaikan ucapan Louis.


__ADS_2