Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 26 : Detektif Albert


__ADS_3

Ana berusaha fokus pada kerjanya. Ia berusaha menyingkirkan semua gangguan pikiran dari Dominic. Saat meeting pun ia jadi sangat sensitif dan pemarah.


"Hanya ini??"


"Ide sampah siapa ini??"


"Siapa yang menulis sampah ini?"


"Apa kalian hanya akan menghabiskan uang perusahaan tanpa bekerja dengan becus??"


"Buang sampah-sampah ini dari mejaku !!"


Makian demi makian keluar dari mulut Ana selama meeting, padahal ide dan laporan dari para staff untuk target promosi baru tidaklah terlalu buruk. Biasanya Ana memang memaki, tapi makian itu biasanya berakhir dengan ucapan semangat dan dukungan untuk semua staff. Tapi kali ini berakhir dengan bantingan file kerja dan tatapan dingin mematikan dari Ana untuk semua staff.


Saat ini Ana tengah memeriksa file kontrak kerja Pak Kim masuk dan segera mendekati Ana.


"Ms.Grey ada detektif dari kantor polisi.. mereka ingin menanyakan perihal kasus penyerangan anda kemarin.." Pak Kim tampak ragu mengatakan itu.


"Bukankah sudah di urus???" Tanya Ana dengan nada kesal.


"Su..sudah Ms.Grey tapi tersangkanya..."


"Aku tidak mau tau itu.. aku sudah menyuruhmu untuk mengurusnya !! Dan sekarang aku harus berurusan dengan polisi??" Ana memotong ucapan Pak Kim yang belum selesai. Kali ini Ana benar-benar murka.


Tok..tok..tok..


Detektif itu segera membuka pintu dan mencondongkan kepalanya ke dalam ruangan Ana.


"Halo Ms.Grey aku tidak akan lama disini.." sapanya tersenyum.


Ana hanya menghela nafas kesal. Pak Kim memberi isyarat agar detektif itu segera masuk, lalu Pak Kim segera berlalu keluar ruangan Ana.


"Silahkan duduk.." Ana berusaha sopan dan ramah meski dadanya sudah mau meledak menahan amarah.


"Maaf sudah mengganggu.. aku detektif Albert dari kantor polisi S.. Aku hanya ingin mengajukan beberapa pertanyaan, karena anda tidak bisa hadir ke pengadilan.. jadi saya datang kemari untuk meminta keterangan langsung dari anda.."


"Baiklah.." jawab Ana singkat.

__ADS_1


"Oke.. aku akan langsung saja.. karena anda pasti sangat sibuk sekarang.." detektif itu tampak mengeluarkan buku note kecil dari jaketnya.


"Apa anda sudah mendengar bahwa tersangka telah tewas usai serangan balik dari anda??" Tanya detektif itu tiba-tiba membuyarkan lamunan Ana.


"Apa???"


"Wahhh.. anda pasti belum tau soal ini.. dari ekspresi anda sangat terlihat jelas anda belum mengetahuinya.." detektif itu tampak berusaha membaca ekspresi kaget dan panik Ana.


"Aku tidak tahu soal itu.. bukankah dia sudah baik-baik saja?" Ana masih tidak habis pikir dengan yang terjadi.


"Awalnya dia baik-baik saja.. tapi sehari setelah dia ditahan, dia mengalami infeksi parah pada lukanya.. dan membuatnya serangan jantung lalu meninggal seketika.."


"...." Ana hanya terdiam tak bergeming.


"Kasus ini akan segera di tutup karena tersangka utama telah tewas.. tapi aku hanya ingin memastikan satu hal.. dia memberikanku surat ini.. sejam sebelum dia meninggal.." detektif itu menyodorkan sepucuk surat dari potongan kertas koran dari dalam buku note-nya.


Ana segera meraih surat itu dengan wajah penasaran.


"Ms.Grey adalah monster.. dia pantas untuk di hukum.. bahkan ia mengirimkan pembunuh bayaran untuk menghabisiku di rumah sakit saat aku masih dalam kondisi kritis.. aku tidak bersalah.."


Deggg !!!


"Aku tidak pernah melakukan ini.. dia yang menyerang dan menerorku.. bahkan aku sempat koma karena masalah ini.."


"Aku tau Ms.Grey.. sekretaris anda Pak Kim sudah menunjukkan beberapa bukti cctv dan rekaman dashboard yang membuktikan bahwa ia bersalah.. dan yang lebih mengejutkan lagi adalah.. ini ternyata bukan tulisan gadis itu.."


"Apa maksud anda??" Anda menatap detektif itu dengan tatapan dingin.


"Aku menyelidiki kebenaran surat ini dengan berbagai catatan tulisan tangan pelaku yang ada di apartment nya.. dan tulisan ini jauh berbeda.. aku yakin anda sedang mengalami masalah dan kesulitan saat ini Ms.Grey.. Aku tau ada sesuatu yang ganjal dari kematiannya.." detektif itu mulai menjelaskan satu persatu secara rinci apa yang ia ketahui.


"Sebelum ia tewas, ia berada 1 sel dengan seorang pria, pria ini baru saja di tangkap setelah menyerahkan diri begitu saja ke kantor polisi karena kasus pembunuhan, namun sesaat sebelum gadis itu tewas pria ini di bebaskan dan membayar uang jaminan dari orang lain yang bukan keluarganya.. saat itulah gadis itu tewas karena serangan jantung, sialnya saat itu cctv kantor polisi mengalami kerusakan secara bersamaan.. Aku pikir kau punya sedikit petunjuk soal ini.. makanya aku memutuskan untuk harus segera bertemu denganmu secara langsung.."


Ana mencoba mencerna setiap penjelasan detail detektif itu.


"Apa jangan-jangan ini ulah Dominic agar polisi menangkapku.." pikir Ana keras dalam hati.


"Aku tau kau ingin mengatakan sesuatu padaku Ms.Grey.. aku mungkin bisa membantumu.." detektif itu tampak meyakinkan Ana.

__ADS_1


"Aku tidak ingin mengatakan apapun.. aku tidak tau soal apapun.. dan yang pasti aku tidak mencoba mengirim pembunuh bayaran untuknya.." seru Ana tegas.


"Baiklah.. aku tau anda sangat tertekan sekarang.. ini kartu namaku.. hubungi aku jika kau berubah pikiran.. aku bisa membantumu.. kau bisa percaya padaku.." detektif itu menyodorkan kartu namanya ke meja.


Ana hanya menatap kartu nama itu dengan ragu.


"Hubungi aku kapanpun anda butuhkan Ms.Grey.. aku pamit dulu.. selamat sore.." detektif itu segera berlalu keluar ruangan Ana. Meninggalkan Ana yang masih tertegun dalam lamunnya.


"Satu lagi.." seru Ana menghentikan langkah pria itu dan menoleh pada Ana.


"Aku tidak percaya pada polisi.." tukas Ana datar.


Albert hanua tersenyum simpul lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Ana di ruangannya.


"Apakah ini saatnya aku melibatkan polisi?? Ahh tidak.. ini tidak akan mungkin.." pikir Ana gelisah dan risau dengan pelik masalahnya saat ini. Tidak bisa di pungkiri kalau kondisi dan situasinya saat ini sangat kacau balau.


***


Sampai harii ini Ana masih menatap kartu nama yg ia pegang sejak kemarin. Ia masih berpikir apa yang akan dia lakukan untuk menghentikan Dominic. Besok malam mereka akan bertransaksi di pelabuhan. Ana belum tau pasti apa yang akan mereka perdagangkan disana. Wanita dan anak-anak atau senjata api.


Louis sejak kemarin tampak murung di lokasi shooting, ia bahkan tidak fokus dan beberapa kali di tegur oleh produser. Pak Dong yang sejak kemarin memperhatikan meminta waktu istirahat untuk Louis.


"Hei.. ada apa? kau tampak sangat kacau.." Pak Dong menyodorkan ponsel Louis yang selalu ia pegang saat Louis bekerja.


"Tidak ada apa-apa.. aku hanya sangat lelah.." geleng Louis pelan.


"Apapun masalahmu.. kau harus selalu fokus dan profesional saat kerja.."


"Aku tau.." jawab Louis menghidup matikan layar ponselnya.


"Apa kau menunggu kabar dari seseorang?" tanya Pak Dong curiga.


"Tidak.. sudah jangan ganggu aku.." seru Louis mengusir Pak Dong untuk tidak mengganggunya.


"Besok kita akan berangkat keluar kota selama beberapa hari.. akan ada shooting iklan disana.. Setelah shooting pastikan kau istirahat yang cukup.. jangan lupa minum vitaminmu.."


"Baiklah.." angguk Louis pelan.

__ADS_1


Ia selalu memikirkan perkataan dari Ana tempo hari. Setelah menerima telepon misterius Ana berubah menjadi dingin dan sangat sinis padanya. Ia yakin tidak melakukan kesalahan apapun. Ia ingin sekali menghubungi Ana. Tapi ia tau itu sangat beresiko, Ana pasti akan benar-benar marah padanya.


__ADS_2