
Pagi itu saat ingin menjemput mobil Pak Kim terkejut melihat dahi Ana yang di perban cukup lebar dan beberapa plaster kecil menutupi luka di wajahnya, juga tampak memar.
"Apa yang terjadi Ms.Grey??" Serunya kaget.
"Biasa.." jawab Ana menyodorkan kunci mobilnya pada Pak Kim.
"Apa lukamu ada hubungannya dengan kaca mobil yang pecah??" Tanyanya khawatir.
"Apa terlihat seperti itu??"
"Hmm.." angguk Pak Kim cepat. Dia tidak heran jika Ana mengalami hal hal mengerikan yang diluar nalar, karna memang kepribadiannya yang keras dan juga terkadang kasar.
"Jual saja mobil ini.. aku akan memakai mobil pemberian Grandma Jane.." ujar Ana termenung.
"Sungguh?? Bukankah anda sangat enggan menggunakannya.." Pak Kim benar benar merasa aneh dengan sikap Ana.
"Bukankah sangat sayang mobil mahal itu hanya bertengger diam di garasi mansion??"
"Baiklah.. saya akan mengantar anda ke mansion.. lalu baru mengurus penjualan mobil anda.."
"Ah.. tidak perlu Pak Kim.. aku akan pergi naik taksi.. langsung saja urus mobil ini dan segera kembali ke kantor.." geleng Ana meraih tas nya di meja lalu berjalan berdampingan dengan Pak Kim menuju lift.
"Apa anda tidak perlu ke rumah sakit lagi? Anda tampak sangat pucat.." ujar Pak Kim yang memperhatikan Ana yang tampak sangat pucat.
"Jangan khawatir.. aku hanya kelelahan saja.. lagipula aku sudah diberi banyak obat..sebentar lagi pasti segera pulih.." Ana berusaha meyakinkan Pak Kim yang terdengar sangat khawatir.
"Nyonya Jane menanyakan kabar anda pagi ini.."
"Benarkah? Nanti aku akan meneleponnya.."
"Apa anda sudah berbaikan dengannya??"
"Hmm.. tentu.." angguk Ana tersenyum hangat. Padahal biasanya Ana akan sangat murka jika hanya dengar nama Jane di sebut sebut.
***
Selama diperjalanan Ana menghubungi Jane, dan tentu Jane sudah mendengar tentang perkelahian antara dirinya dengan Franz tadi malam. Jane juga berkata akan datang ke negara K menemui Ana beberapa hari lagi.
Ana segera menuju mansion.
Tiba di mansion, mansion itu tampak sepi.
Bahkan tampak tidak terurus. Ana heran tidak pernah pernah mansion jadi kotor seperti saat ini.
Saat turun dari taksi Ana di sambut security nya.
__ADS_1
"Kenapa mansion ini kotor sekali??" Tanya Ana kesal.
"Maaf Ms.Grey.. Nyonya Layla memecat pelayan kebersihan.." jawabnya gugup.
"Apa??"
"Sekarang yang berjaga hanya ada saya dan anggota saya.."
"Dimana wanita itu??"
"Di dalam Ms.Grey.. dia baru saja kembali subuh tadi.."
"Benarkah??" tentu saja Layla baru pulang, ia pasti habis menemui putranya, pikir Ana.
"Benar Ms.Grey.."
"Baiklah.. kembali bekerja.." ujar Ana segera masuk ke mansion. Ia menyelipkan tangannya ke dalam saku longcoat memegangi pistol yang stand by di sakunya, jika sesuatu yang buruk terjadi.
Ana terus melangkah masuk hingga ia melihat sosok Layla tengah duduk di meja makan sambil menyantap buah apel segar yang terhidang di piring.
"Akhirnya kau pulang Ana.." ujarnya lirih.
"Hmm.." jawab Ana singkat, masih memegangi pistol di sakunya.
"Aku pikir banyak yang harus kita bicarakan.. duduklah.." ujarnya lagi tanpa menoleh pada Ana.
"Bagaimana kabarmu? Kau terlihat tidak sehat.." ujarnya melihat wajah Ana dengan seksama.
"Bagaimana dengan putramu? Apa aku melukainya cukup parah??" Tanya Ana balik membuat Layla tersenyum.
"Ternyata kau benar benar sudah mengetahuinya.." gumamnya menancapkan garpu ditangannya ke atas apel.
"Jadi itu benar??" Timpal Ana dengan nada tidak percaya.
"Apa aku harus menghindari takdir?? Aku sedang berusaha membuat takdir ku sendiri..jalan hidupku sendiri.. bukankah kita sebelumnya sangat bahagia dan baik baik saja??"
"Sebelum kau mengkhianatiku.." geram Ana lirih.
"Akulah orang yang paling menderita Ana.. akibat perbuatan ibumu.. kalau saja dia tidak menggoda suamiku.. mungkin kita tidak akan pernah saling mengenal seperti saat ini.."
"Aku tidak tau apa yang sudah ibuku perbuat terhadap suamimu.. tapi.. Bukankah suamimu yang bajing*n itu juga telah meninggalkanmu lebih dulu?? Kau dan anakmu selalu hanya menyalahkan ibuku.."
"Aku bahkan tidak tau kenapa aku bisa sanggup menahan ini cukup lama padamu.. padahal aku selalu ingin muntah dan sakit kepala setiap melihatmu.. aku benar benar ingin mebunuhmu.. tapi entah kenapa aku selalu bisa mengendalikan diriku dengan baik.. apa karena aku kasihan padamu?? Tapi sakitku belum juga sembuh meski sudah melihat kau menderita Ana.."
Layla menuangkan wiski koleksi Ana yang ada di bar ke dalam gelas, lalu mendorong gelas itu hingga tergeser ke dekat Ana. Ana meraihnya dan menenggaknya hanya dalam sekali teguk.
__ADS_1
"Aktingmu sangat baik.. bukankah seharusnya kau menjadi artis saja??"
"Hahahaha.. haruskah?? Apa aku harus masuk agensi Louis?? Kau tau kan aku sangat mengidolakannya, aku akui dia sangat baik, tampan dan polos.. tapi tentu tidak lebih baik dari putraku Franz.."
Ana menatap Layla tajam.
"Aku masih berharap kau benar benar akan menikah dengan Franz, kalian akan menjadi pasangan serasi dan kita akan jadi keluarga yang bahagia Ana.." imbuh Layla mengkhayal.
"Hahahaha.. keluarga bahagia?? Dasar wanita sial*n kau mengkhayal terlalu jauh.." timpal Ana tertawa terbahak bahak.
"Bahkan dia sangat feminim, dia saja tidak becus memukulku.. pukulannya sangat lembek.. aku tidak merasakan sakit sama sekali.. apa dia normal?? Dia terlihat seperti wari* yang sedang belajar menjadi pria brengs*k.. dia bahkan bergonta ganti pasangan seperti binatang di club malam.. bukankah itu sangat hina??" Ana terus memancing amarah Layla dengan terus menjelek jelekkan Franz anaknya.
"Apa kau sudah melihat wanita yang dia tiduri itu??? Wajah mereka sangat jelek dan terlihat sangat tua.. bagaimana bisa dia bercumbu dengan wanita wanita tua seperti itu?? Apa ia berfantasi seperti sedang mencumbuimu??" Ledek Ana berbisik.
Layla melempar gelas wiski ditangannya ke arah Ana, namun Ana dengan cepat menangkap gelas itu, Ana menggenggam gelas itu keras.
"Kau pikir ini bisa melukaiku??" Tanya Ana memutar gelas itu melihatnya dengan seksama.
"Huh.." Layla menghela nafas mengatur nafasnya yang mulai memburu.
"Ternyata Dominic benar.. seharusnya aku menyingkirkanmu dan Jane sejak lama.."
"Benarkah?? Sayang sekali kau melewati kesempatan itu.." timpal Ana tersenyum.
"Dan bahkan aku justru menyingkirkan Dominic lebih dulu.. aku pikir dia berguna.. ternyata semakin lama dia tidak berguna sama sekali.. semakin tua dia sangat lemah.. dan aku sangat tidak tahan dengannya.. lama lama dia seperti Nyonya Jane.. ahh tidak.. maksudku.. sahabat baikku Jane.. mereka terlalu munafik.."
"Oh.. jadi kau sudah menyingkirkan Dominic?? Syukurlah.. setidaknya aku tidak perlu repot repot menyingkirkannya.. terima kasih untuk itu.."
"Bagaimana kabar Louis? Dia semakin mempesona.. aku bahkan sudah menonton film terbarunya.."
"Kau sangat kolot.. selalu saja menumbalkan orang lain untuk mengancam.. apa kau pikir itu mempengaruhiku?? Atau apa hanya itu yang bisa kau lakukan?? Kenapa kau tidak menghadapiku langsung??"
"Bukankah sakit yang nyata adalah kehilangan orang orang yang dicintai, dan hidup dalam kesendirian yang penuh penyesalan??"
"Itu sebabnya kau membunuh Thommas dan Nayra??"
"Entahlah.. aku padahal hanya berencana membuat mereka cacat, tapi ternyata mereka justru mati seketika hahahhaa.. seperti ibumu.. mereka benar benar justru mati dengan mudah.."
Mata Ana berkaca kaca, tangannya masih menggenggam gelas wiski Layla, dan tangan kanannya masih memegangi pistol di sakunya.
"Tarik pelatuknya.. tembak saja aku.." ujar Layla yang sudah menyadari Ana yang memegangi pistol sejak tadi.
"Aku tidak ingin kau mati dengan mudah.." geleng Ana mengeluarkan tangannya dari sakunya.
"Baiklah.. aku akan menantinya.." Layla benar benar tidak seperti Bibi Layla yang Ana kenal, sangat sangat berbeda, bahkan tatapan matanya sangat berbeda.
__ADS_1
Kini Ana sadar kenapa Layla selalu mengendap endap masuk kamar Ana diam diam, ia pikir Ana sudah menyimpan dokumen yang dia cari, padahal dokumen itu disimpan oleh Jane dan baru saja Ana dapatkan dari Jane.