
Setelah makan malam selesai akhirnya semua pamit untuk segera pulang. Ana mengantarkan mereka sampai ke depan lobi.
"Ana.. terima kasih jamuan makan malam ini sangat luar biasa.. dan terima kasih kadomu waktu itu.. aku belum sempat mengucapkan terima kasih.. aku sangat berat menerima kado pemberianmu.. bahkan aku tidak sanggup memakainya.. itu pasti sangat mahal kan??" Ibu Louis benar benar sungkan menerima kado set perhiasan berlian yang harganya sangat mahal.
"Itu bukan apa apa.. aku hanya berharap Ibu senang menerimanya.." geleng Ana tulus.
"Kau tidak perlu menghambur hamburkan uang begitu.. meski kau sudah hidup berkecukupan.. kau tetap harus menabung dan memikirkan masa depanmu yang masih panjang.." imbuh Ibu Louis menasehati.
"Baik Bu.. tapi bagiku uang bukanlah segalanya.. andai saja aku bisa membeli kebahagiaan dengan uang.. aku akan menukarkan semua uangku dengan kebahagiaan.." timpal Ana lirih dengan nada sedih.
Ibu Louis memeluknya hangat, mengusap punggung Ana hangat.
"Aku selalu berdoa kau selalu sehat, panjang umur dan bahagia selalu Ana.." ujarnya lirih.
"Terima kasih Bu.."
Louis merasa terenyuh melihat pemandangan itu, sejak tadi ia tidak banyak bicara.
"Aku masih ada kerjaan.. aku pulang naik taksi saja.." seru Louis tiba tiba setelah semua keluarganya masuk ke mobil.
"Tapi ini sudah larut.." seru Ayahnya khawatir.
"Ada beberapa hal mendesak yang ingin aku bahas dengan Pak Dong.." jelas Louis berbohong.
"Baiklah.. jika sudah selesai, jangan lupa langsung pulang ya.." sahut Ibunya tenang.
"Tentu saja.. hati hati di jalan.. kabari aku jika kalian sudah sampai dirumah.."
"Hmm.. baiklah.." angguk Ibunya tersenyum.
Akhirnya Irene yang mengendarai mobil itu pulang kerumah, padahal sebelumnya Louis lah yang mengendarainya.
"Ada urusan apa malam malam begini?" Tanya Ana setelah mobil orang tua Louis sudah cukup jauh.
"Ada beberapa project penting untuk besok.."
"Mau aku panggilkan taksi??" Tanya Ana ramah.
"Tidak perlu.." geleng Louis cepat. "Apa kau sibuk malam ini?" Tanya Louis basa basi.
"Hmm.." angguk Ana cepat. "Aku masih harus ke kantor lagi, ada banyak dokumen yang deadline, jadi harus segera aku periksa.." jelas Ana.
Louis melirik ke jam tangannya menunjukkan pukul 11 malam.
"Kenapa tidak besok pagi saja kau ke kantor.. bahaya malam malam kau disana.."
"Bahaya apanya.. disana keamanan sangat ketat 24 jam.. jangan khawatir.."
Tak lama tampak taksi baru berhenti di depan lobi membawa penumpang yang tampak segera turun di apartment itu.
__ADS_1
"Aku naik taksi itu saja.. sampai jumpa.." Louis segera menghentikan taksi itu dan segera masuk ke dalamnya.
"Hati hati di jalan.. semoga pekerjaanmu lancar.." seru Ana menyemangati.
"Kau juga.." angguk Louis melambaikan tangannya.
Taksi itupun segera berlalu, dari jauh Louis menoleh ke arah belakang dan melihat Ana sudah masuk kembali ke dalam apartment.
***
Ana keluar dari apartment mengenakan pakaian rapi serba hitam, sweater rajut hitam, longcoat kulit hitam, celana jeans hitam, topi hitam, dan sepatu bot kulit yang juga berwarna hitam. Ana tampak menaiki sebuah mobil sedan hitam dengan kaca mobil yang sangat gelap.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.
Mobil itu segera melaju, menuju arah pelabuhan di pinggir kota sesuai arahan Jane. Pelabuhan itulah tempat transaksi perdagangan manusia Dominic sebelumnya, yang waktu itu terjadi kesalahan saat penggerebekan bersama Albert.
Disanalah lokasi sebenarnya untuk transaksi perdagangan gelap berbagai kalangan, bahkan banyak juga pejabat yang membeli barang barang langka secara ilegal di pelabuhan itu. Pelabuhan sebelumnya adalah pelabuhan yang dijadikan kedok untuk menipu polisi, jika sewaktu waktu ada yang mencurigai aktivitas mereka.
Disana Ana tampak turun dari mobil bersama seorang pria yang ternyata mata mata bayaran utusan Mr.Zhou untuk membantu Ana menggantikan B1.
Pria itu tampak tengah memegangi senjata api, begitu juga dengan Ana, ia tampak mengecek isi peluru senjatanya, lalu ia juga menyelipkan peluru cadangan di dalam saku longcoatnya.
Mereka lalu segera mengendap endap bersembunyi di balik semak. Lalu Ana memberi kode pada anak buahnya untuk naik ke atas sebuah container besar untuk memudahkan ia membidik musuhnya.
Sementara Ana masih bersembunyi di balik ilalang yang sangat rimbun. Disana ia mengintai Jane dan client nya dari kejauhan menggunakan teropong yang sudah ia siapkan.
Di telinga kanannya juga sudah terpasang earphone yang menyambungkan ia dengan suara Jane. Dan tentu saja itu sudah di rekamnya sebagai barang bukti saat menangkap para pelaku.
Tiba tiba..
"Apa yang kau lakukan disini??" Bentak Ana tertahan dengan mata terbelalak dengan tangan yang masih menodongkan pistol ke arah Louis.
"Aku mengikutimu.." jawab Louis enteng segera berjongkok di samping Ana dan menjauhkan tangan Ana darinya.
"Kau gila?? Disini sangat berbahaya.. kenapa kau mengikutiku.." bisik Ana geram.
"Karena disini sangat berbahaya makanya aku mengikutimu.." jawab Louis celingak celinguk ke arah Jane yang berada cukup jauh dari mereka.
"Aku bahkan hampir menembakmu.." imbuh Ana lagi sambil melotot.
"Aku percaya padamu.. kau tidak akan melukaiku.." jawabnya enteng tersenyum lebar.
"Kau benar benar membuatku gila.. sebaiknya sekarang kau pergi darisini.." perintah Ana dengan nada mengancam.
"Aku tidak akan kemana mana jika kau tetap disini.."
"Bagaimana kau tau aku disini??" Tanya Ana masih penasaran.
"Aku bisa membaca ekspresi kau dan Grandma Jane.. kalian tampak sangat mencurigakan.. kalian bahkan saling memberi kode dengan sangat aneh dan sangat terlihat jelas.." jelas Louis dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Aku pikir kalian benar benar mafia hebat, ternyata kalian juga punya banyak kekurangan.."
"Kau menyebalkan sekali.." gerutu Ana sinis.
"Diamlah.. nanti kita ketahuan.." tukas Louis berbisik merasa tidak bersalah.
"Misi ini sangat penting untukku.. aku harap kau tidak mengacaukannya.." gumam Ana lirih kembali menggunakan teropongnya.
"Jangan meremehkanku.." tukas Louis tegas.
"Aku tidak akan memperdulikanmu jika sesuatu terjadi padamu.. karena aku kesini untuk misi yang sangat penting.. dan aku tidak ingin mengurus bayi sepertimu.." timpal Ana sinis kembali fokus mengintip gerombolan yang tengah bersama Jane.
Louis hanya tercengang mendengar gerutuan Ana yang mengejeknya dengan sinis.
"Sekarang kau diamlah disini.. aku akan ke arah sana.." bisik Ana lagi menunjuk ke arah susunan container yang lebih dekat ke arah Jane. Lalu Ana segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan sebilah pisau lipat.
"Pegang ini.. untuk melindungi dirimu.." Ana menyodorkan pisau lipat itu pada Louis.
Lalu Louis justru meraih balok kayu besar yang tidak jauh dari mereka.
"Sepertinya aku akan lebih memilih ini daripada pisau itu.." tolak Louis yakin memegangi balok itu.
"Baiklah.." angguk Ana mengerti segera pergi mengendap endap ke arah yang sudah ia tunjuk tadi.
Ana kini berada lebih dekat dengan gerombolan client Jane. Sementara anak buah Ana sudah memberi sinyal bahwa ia sudah ready dan siap untuk menembak kapan saja.
Saat hendak berpindah tempat, tiba tiba seseorang menerubuk dari arah belakang serta langsung tumbang menimpa tubuh Ana dari hingga ia jatuh terjerembab ke tanah. Ana yang kaget dengan sigap segera bangkit dan menolak keras tubuh besar yang menimpanya tadi. Ternyata pria itu sudah pingsan tak sadarkan diri.
"Ternyata ini benar benar sangat efektif.." seru Louis berbisik sambil terengah engah.
Ternyata pria tadi sedang mengawasi Ana, dan hampir saja ingin menikam Ana dari arah belakang, untungnya Louis melihat itu dan dengan cepat berlari ke arah Ana lalu melayangkan balok kayu itu dengan sangat keras ke arah kepala belakang penjahat itu.
Ana masih tertegun, ia sangat marah Louis mengikutinya kesana, ia juga kesal melihat Louis yang bisa saja mengagalkan misinya, namun ada rasa khawatir jika ia nanti justru terluka.
"Kau berhati hatilah.. aku akan melindungimu.." bisik Louis lagi mengabaikan tatapan sinis Ana.
Mereka lalu segera mengendap endap jalan di antara container besar itu agar bisa mendekati sebuah container berukuran sedang yang masih berada di atas kapal.
"Kau mau kita ke atas kapal itu??" Bisik Louis lagi dapat menangkap arah kemana Ana akan pergi.
"Hanya aku yang akan ke kapal itu.. bukan kita.. sebaiknya kau tidak mengikutiku lagi.." tukas Ana tegas.
"Baiklah.." jawab Louis enteng.
Sesampainya di pinggiran dekat kapal berlabuh, Ana segera melompat ke atas kapal, dan ternyata lagi lagi Louis justru juga ikut melompat.
Dan Ana tidak lagi terkejut jika Louis masih mengikutinya, ia akan memarahinya habis habisan setelah misi ini selesai.
Tak lama kemudian, tiba tiba saja Ana dengan cepat menarik kerah jaket Louis keras untuk bersembunyi di balik tumpukan box kayu yang tersusun tinggi.
__ADS_1
Ternyata tadi ada penjaga yang sedang berkeliling berjaga jaga.
Kini posisi mereka berdua berdiri sangat dekat, karena celah tempat mereka bersembunyi memang sangat sempit. Untungnya Ana mengenakan topi, sehingga ujung pat topi Ana lah yang membatasi wajah mereka satu sama lain.