Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 143 : Arak


__ADS_3

Selama perjalanan Ana sama sekali tidak fokus. Ia bahkan masih tidak bisa menyadari situasinya yang saat ini tengah berada dalam satu mobil bersama Louis untuk pergi minum arak bersama.


Bukankah ini situasi genting?


Bagaimana jika ia mabuk berat dan melakukan kesalahan??


"Apa yang sedang menggangu pikiranmu??" Tanya Louis memecah keheningan.


"Ha?? Apa??"


"Sudah aku duga pikiranmu sedang tidak disini.."


"Kita mau kemana?" Tanya Ana menebak arah jalan itu. Jalan yang tampak tidak asing.


"Sebenarnya orang tuaku punya restoran di dekat sini.. mereka menjual arak yang sangat enak.."


"Cih.. aku pikir kau akan bawa aku kemana.."


"Memangnya kenapa? Kau pernah datang kesana?"


"Tidak.." geleng Ana cepat."Tidak apa-apa jika kau membawaku kesana??"


"Tentu saja.. memangnya kenapa?? Aku berjasa menolongmu, dan juga aku bekerja pada perusahaan Pak Kim.. bukankah kita bisa menjadi teman??" Tanya Louis dengan penuh penekanan.


"Tidak semua hubungan bisa berakhir menjadi pertemanan.."


"Tentu saja.. dan bisa juga berakhir menjadi pernikahan.." sahut Louis santai.


Ana melihatnya lekat-lekat.


"Bukankah ini sangat berbahaya? Bagaimana jika dia sudah mengingatku? Bahkan tingkah nya sangat aneh sejak tadi.." batin Ana gelisah.


"Aku tidak pernah membawa siapapun ke restoran mereka, jadi.. mungkin mereka akan sedikit kaget karena aku membawamu kesana.."


"Bukankah sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja?? Aku rasa saat ini tidak pas rasanya jika aku datang kesana tiba-tiba.."


"Memangnya kenapa? Salah jika temanku berkunjung ke restoran keluargaku??"


"..." Ana tak sanggup melawan ucapan Louis. Pikirannya tentu semakin kacau. "Terserah kau saja.." imbuh Ana pasrah.


Louis tampak tersenyum penuh kemenangan, sementara Ana makin terpuruk di semua permasalahannya.


Saat tiba di sana, mereka melihat restoran tampak ramai dari sebelumnya.


"Apa sedang acara? Tampaknya malam ini lebih ramai dari sebelumnya.." gumam Ana melihat ke arah dalam restoran yang tampak daru jendela.


Louis yang mendengar ucapan Ana merasa semakin yakin jika mereka sudah sangat dekat dan melangkah sudah cukup jauh.


"Aku akan menanyakannya pada ibuku.." ujar Louis mengeluarkan ponselnya.


"Halo.. ibu.. apa di dalam sangat penuh?? Ah.. tidak.. aku sedang ada di parkiran depan.. aku membawa seorang teman untuk minum bersama.. benarkah?? Baiklah.. aku akan lewat pintu belakang.. saranghae.." Louis tampak segera mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Apa kata ibumu??"


"Ada satu ruang VIP yang kosong.. kita bisa masuk dari pintu karyawan di belakang.. maaf aku membuatmu tidak nyaman.."


"Tidak nyaman kenapa??"


"Sulit untukku melakukan banyak hal secara terbuka.. itu bisa berujung berita palsu yang akan sangat merugikan.."


"Aku tidak masalah dengan hal itu.. jangan khawatirkan aku.." ujar Ana segera turun dari mobil Louis.


Louis yang tengah bersiap dengan mengenakan masker beserta topi berwarna hitam sejak tadi.


Mereka segera jalan menuju pintu belakang restoran, saat hendak masuk, Ana menghentikan langkahnya, ia melihat ke arah gang kecil di arah kanan jalan? Ia melihat dengan intens ke arah sana, ia yakin jika disana ada seseorang yang tengah membuntuti mereka. Ana tak mengalihkan pandangannya sekalipun. Ia terus melihat ke arah gang itu dengan penuh keyakinan.


Ia melangkah pelan ingin menghampiri orang tersebut, kemudian Louis justru menghentikannya. Louis meraih pergelangan tangan Ana.


"Ada apa?? Apa kau melihat sesuatu??" Tanya Louis menggenggam pergelangan tangan Ana lembut.


Ana membelalak kaget menerima perlakuan Louis yang mengejutkan.


"Apa yang kau lakukan??" Tanya Ana sinis memperlihatkan pergelangannya yang tengah di genggam Louis.


"Ah.. maaf.." ujarnya reflek melepaskan pegangan itu.


Ana menatap Louis intens, ia melangkah maju menyorong tubuh tinggi Louis hingga membuatnya berjalan mundur dan terpojok ke dinding.


"Aku rasa kita tidak sedekat itu satu sama lain.. sehingga kau bisa menyentuhku sesukamu.. dan aku rasa aku tidak bisa memenuhi ajakanmu untuk minum bersama malam ini.. aku teringat sesuatu.. aku harus segera pergi karena ada hal yang mendesak.." ujar Ana tampak kehilangan akal sehatnya. Ia tampak bingung, marah, ragu di raut wajahnya secara bersamaan.


Louis yang terpojok tak membantah satu katapun. Ia hanya melihat Ana pergi berlalu meninggalkannya.


Ana yang beranjak pergi segera berjalan menuju gang sempit yang sejak tadi ia perhatikan. Benar saja, ia dapat melihat sosok yang tengah bersembunyi di gelapnya gang itu, sadar jika ia telah ketahuan, ia tampak berlari kencang menghindari Ana.


Ana mengejarnya dengan cepat, Ana berlari kencang menelusuri gang sempit itu. Mereka terus kejar-kejaran masuk ke dalam jalan-jalan sempit di kawasan itu. Penguntit itu tampak cukup mengenali wilayah itu dengan baik, sehingga ia dapat menemukan semua gang kecil yang terbengkalai dan tak di awasi cctv pengaman. Sehingga nantinya akan sulit untuk di lacak.


"Berhenti !!" Sorak Ana keras meneriaki penguntit itu. Ana terus berlari kencang mengejar sang penguntit. Ana yakin jika penguntit itu seorang pria.


Mereka sudah berlari cukup jauh dari lingkungan restoran orang tua Louis. Tanpa sadar kini Ana entah berada dimana, disana tampak gelap dan banyak bangunan tua.


Ia kehilangan jejak penguntit tersebut. Ana yakin orang itu lari ke arah sana. Ana yang telah kehabisan nafas mulai merasa lelah pada kakinya setelah berlari sangat kencang sekuat tenaga


"Akh.. kakiku kram.." rintihnya sambil jalan tertatih-tatih, ia berjalan pincang karena kaki kanannya terasa kram dan kaku.


"Seharusnya aku harus lebih giat lagi berolahraga, kakiku terasa mau copot.. apa karena efek umur?? Tapi aku belum terlalu tua.. aku masih kepala 2.. ini pasti karena aku kurangĀ  olahraga.." gerutunya sendiri.


Setttt..


Seseorang menyentuh pundak Ana dari belakang, sontak Ana langsung menarik tangan itu lalu menerjangnya hingga orang itu terbanting ke atas tanah.


"Arrgghhhh !!!" Pekik Louis kesakitan.


"Louis??!! Itu kau??" Tanya Ana kaget saat mengenali suara Louis. Ia kesulitan melihat karena sangat gelap.

__ADS_1


"Iyaa.. inih akuh.." jawabnya mengerang karena kesakitan.


"Badanku remuk sekali.." gerutunya lagi.


"Maaf.. siapa suruh kau mengejutkanku?? Udah tau disini gelap.." omel Ana tak ingin di salahkan.


"Aku sudah memanggil-manggilmu sejak tadi.. tapi kau tidak mendengarku.. aku lihat kau tampak berlari mengejar sesuatu..."


"Itu sebabnya kau mengikutiku sampai kemari??" Sambung Ana sudah menduga alasannya.


Louis segera bangkit dan mengangguk pelan. Ia segera membersihkan dirinya dari pasir.


"Ternyata kau kuat sekali.." sanjung Louis masih menyeka pasir di pakaiannya.


"Ayo pergi dari sini.." ajak Ana mengabaikannya.


"Kau tau ini dimana??" Tanya Louis heran.


"Mana aku tau.."


"Lalu kita akan lewat ke arah mana??" Tanya Louis ketika mereka melihat persimpangan, ternyata simpang itu memiliki 5 gang yang tampak sama.


"Kapan gang ini jadi banyak begini???" Tanya Ana kaget melihat persimpangan itu.


"Apa simpang ini memang ada disini sejak tadi??" Tanya Ana tak kalah bingung.


"Heheiii.. apa kau sedang bercanda?? Tentu saja ini udah ada sejak lama.. kau saja yang tidak menyadarinya.." ejek Louis.


"Apa kau menyadarinya?? Kemana kita harus lewat?? Ini kan tidak jauh dari restoranmu.."


"Kau pikir aku hanya berkeliaran kesana kemari?? Sampai-sampai kau pikir aku menguasai wilayah ini.. Bahkan aku jarang sekali datang kesana.." tukas Louis tak terima.


"Cihh.. kau paling pintar mengelak.." celetuk Ana berkacak pinggang di persimpangan jalan gelap itu.


"Apa kita pernah dekat sebelumnya??" tanya Louis tiba-tiba.


Ana tercekat.


"Apa dia mengingat sesuatu??" batin Ana gelisah.


"Kenapa kau bertanya seperti itu??" tanya Ana berpura-pura.


"Kau berbicara padaku seolah-olah kita sudah saling mengenal sejak lama.."


"Kau terlalu banyak berakting sampai terbawa pada perasaanmu dan menjadi sensitif.." tukas Ana menuju gang sempit di sebelah kanannya


"Kau yakin itu jalan yang tepat??" tanya Louis heran.


"Apa kau pikir berdiam diri disini bisa mengantar kita sampai kerumah?" celetuk Ana jengkel.


"..." Louis menunjukkan layar ponselnya pada Ana yang menunjukkan sebuah map menuju restorannya.

__ADS_1


"Aku punya smartphone, tentu saja aku harus smart menggunakannya.." imbuh Louis dengan nada mengejek.


"Cih.. Menyebalkan sekali.." gerutu Ana lirih.


__ADS_2