Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 54 : Ucapan Terima Kasih


__ADS_3

Ana pulang dengan perasaan yang berkecamuk, Bibi Layla menyambutnya di ruang keluarga, Ana menatapnya dengan tatapan dingin, rasa kecewa, penasaran, marah, semua menjadi satu.


"Kau sudah pulang? Apa sudah makan malam?" Tanya Bibi Layla ramah.


Ana hanya mengangguk pelan.


"Ana.. aku melihat beritamu, kau sudah bertunangan? Bahkan kau tidak memberitahuku.." ujar Layla dengan nada sedih. Ia lalu tampak menyodorkan sebuah bag yang ternyata berisi beberapa stel pakaian wanita.


"Ini kado sebagai ucapan selamatku untukmu.."


Ana menatap bag itu, merk yang tertulis di bag itu merupakan nama toko yang Franz kunjungi siang tadi, ia berpikir Franz benar benar pergi dengan Jane, namun justru di luar dugaan, ia pergi bersama Layla dan memanggilnya "Ibu".


"Kau tidak perlu memberikanku apapun.." Ana melangkah pergi mengabaikan pemberian Layla.


"Ana.." panggilnya lirih.


Ana menghentikan langkahnya.


"Aku.."


Ana membalikkan tubuhnya kini menghadap ke arah Layla. "Apa Bibi mau mengatakan sesuatu?" Tanya Ana berharap Layla akan menceritakan semuanya.


"Tidak.." gelengnya cepat. "Aku hanya ingin kau selalu menjaga kesehatanmu, kau tampak tidak sehat akhir akhir ini.." sambungnya lagi.


"Apa hanya itu?" Tanya Ana dengan nada dingin.


Deg..


Layla terdiam, ia membatin bahwa Ana mulai mencurigainya, ia ingin menceritakan banyak hal pada Ana, tapi ia takut dan bingung harus memulai darimana.


"Ya, hanya itu saja.." angguknya pelan.


"Baiklah.." Ana segera berpaling.


Ana merebahkan tubuhnya, beban pikirannya semakin bertambah, kondisinya juga kian hari terasa kian melemah. Jadwal rutinitasnya mulai berantakan, awalnya ia berpikir dengan bertemu Bibi Layla dan dirinya akan memperbaiki keadaan dan membuatnya hidup aman, tenang dan bahagia, namun faktanya justru semakin kacau.

__ADS_1


Drrt..drrt..


Ponsel Ana bergetar di atas meja, Ana meraihnya dengan malas dan melihat di layar bahwa itu adalah Pak Kim. Pak Kim mengirim beberapa pesan, dan ternyata apa yang Ana minta berhasil di lakukan, namun ada satu akun yang mencurigakan, yang mana akun itu atas nama Bibi Layla, di akun itu juga tidak pernah ada transaksi, namun saldonya saja yang terus bertambah.


Ana semakin yakin bahwa Franz ada hubungannya dengan Bibi Layla.


Ana segera membalas pesan singkat Pak Kim, untuk tidak usah memperdulikan itu, dan hanya melakukan apa yang Ana minta.


Yap..


Ana mengosongkan semua akun rahasia dana gelap Franz.


Semua uang di akun bank itu di kirim ke akun bank rahasia milik Jane.


Akun akun rahasia yang berhasil di bobol itu benar benar di kosongkan. Ana tau ini akan berakhir buruk, tapi ia tidak lagi peduli. Fokusnya saat ini menyingkirkan Jane dan siapapun yang bersekongkol dengannya.


****


Drrrttt...ddrrrtt...


Terlonjak kaget, Franz dengan murka segera meninggalkan club, ia menghubungi Jane dan beberapa anggota mafia yang ia kenal disana untuk menemuinya.


Mereka memutuskan untuk bertemu Jane di pelabuhan tempat Ana dulu menjebak Dominic, Jane yang datang dengan supirnya turun dari mobil dengan santai.


"Ada apa kau ingin bertemu denganku malam malam begini?? Cuaca sangat dingin, kenapa tidak bertemu di hotel saja??" Gerutu Jane kesal.


Franz dengan sigap mendekap Jane erat. "Kau ingin bermain main denganku??" Geramnya emosi. Lalu menusukkan pisau tepat ke pinggang belakang Jane.


"Arghh !! Lepaskan aku !! Kau sudah gila??"  Pekik Jane berontak, supir Jane segera berlari sambil menodong pistol ke arah Franz, namun ia kalah telak, Franz di ikuti 10 orang anggota mafia yang juga bersenjata. Mau tidak mau supir Jane menunduk kalah.


"Jangan pura pura bodoh !! Kembalikan semua uangku !!!" Bentak Franz meledak di telinga Jane. "Atau aku akan membunuhmu !!!"


"Uang apa yang kau bicarakan !!!" Pekik Jane tak kalah marah. Jane menyikut keras perut Franz hingga ia terlepas dari dekapan keras Franz. Ia memegangi pingganggnya yang berdarah.


Franz memang memiliki tubuh yang atletis, tapi dia sangat lemah dan tidak pandai berkelahi, ia selalu mengandalkan uang untuk menyewa bodyguard handal untuk melindunginya. Ia biasanya tidak pernah turun tangan untuk melukai orang lain, namun kali ini ia sudah gelap mata karena kehilangan semua uangnya.

__ADS_1


"Apa kau sudah gila??!! Berani sekali kau padaku !!" Bentak Jane marah.


"Ternyata ini alasan kau menjodohkan aku dengan Ana??? Kau ingin mengambil semua uangku kan !!" Geram Franz menggila.


"Huh !! Apa kau mabuk? Sebaiknya kau pulang sekarang, dan temui aku besok jika kau sudah sadar !!" Celetuk Jane dengan nada kesal ingin berbalik pergi.


"Jangan pergi !!" Bentak Franz lagi mengeluarkan ponselnya, ia memperlihatkan salah satu mobile banking akun bank rahasianya. "Kau lihat ini !!!" Bentaknya lagi.


Jane berbalik, berjalan mendekati Franz dan melihat ke layar ponsel Franz.


"Bajing*n sialan.. kau hanya ingin memamerkan uangmu padaku???" Gerutu Jane menggeretakkan giginya.


Franz dengan bingung melihat layar ponselnya, ternyata uangnya masih utuh disana. Ia tidak kehilangan satu sen pun di akun itu, ia kembali memeriksa akun yang lain, dan sama, semua uangnya utuh. Ia terperanjat kebingungan, Jane melayangkan pukulan keras ke rahangnya, hingga ia terjerembab ke tanah.


Sementara anak buah yang di bayar Franz tidak melakukan apa apa sama sekali untuk membantu Franz, karena ternyata mereka semua di bawah kuasa Jane. Mereka ternyata masih di bawah naungan kuasa Jane. Sehingga mereka akan tetap setia pada Jane meski di bayar mahal oleh klien mereka.


"Ini terakhir kali kau berani seperti ini padaku, jika kau melakukannya lagi, kau tidak akan bisa menggunakan tangan dan kakimu untuk selamanya.. kau ingat itu.." geram Jane mencengkram rahang Franz keras.


***


Pukul 2 malam Jane baru keluar dari rumah sakit, ia mengobati luka bekas tusukan pisau Franz, ia mendapatkan 3 jahitan. Dokter menyuruhnya untuk di rawat tapi ia menolak. Saat memasuki mobil, ponselnya bergetar dan ternyata Ana yang meneleponnya.


"Apa kau mendapat ucapan terima kasih dariku??" Ucap Ana di sebrang.


"Hahahaha, aku tau kau pasti merencanakan ini.. tapi sepertinya tidak terlalu buruk Ana.." jawab Jane terkekeh.


"Setidaknya aku tetap harus berterima kasih padamu atas perjodohan ini, aku harus tau seberapa hebat calon suamiku.. Tapi sepertinya dia tidak sepadan denganku.. kau masih bisa mengalahkannya.." tukas Ana dengan nada dingin.


"Jangan buang buang tenagamu untuk melawanku Ana, kau tidak akan pernah bisa menang dariku.." seru Jane dengan nada mengancam.


"Aku tidak pernah menginginkan kemenangan dalam permainan ini, aku hanya ingin kita seri.. bukankah permainan akan menjadi lebih seru??" Timpal Ana.


"Istirahatlah.. jaga kesehatanmu untuk bisa seri denganku.." ujar Jane dingin lalu segera mematikan ponselnya.


Ana yang menelepon Jane tengah berbaring santai di atas tempat tidurnya. Ia memerintahkan mata mata bayaran untuk memantau Jane sejak ia bertemu dengan Franz di pelabuhan tadi.

__ADS_1


Ana tersenyum puas karena berhasil mengerjai Jane, ia memang mengosongkan semua akun rahasia Franz, namun itu untuk memancing amarah Franz, saat ia berhasil membuat Franz menyerang Jane, ia segera mengembalikan semua uang itu ke akun Franz, ia berniat membuat hubungan Franz dan Jane memburuk, meski tidak sesuai keinginan Ana sepenuhnya, tapi setidaknya Jane mendapatkan luka di tubuhnya, awalnya ia berharap hal yang lebih buruk lagi terjadi pada Jane, namun Franz hanya seorang pengecut.


__ADS_2