Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 24 : Dominic


__ADS_3

Ana melihat sekeliling tak ada orang lain disana selain dirinya. Ia melangkah dengan sangat hati-hati. Ia sudah menyelipkan senjata api di saku longcoat-nya.


Ana memberanikan diri memasuki gedung itu seorang diri. Tak jauh dari posisinya berdiri tampak 2 orang pria tegap berdiri memegang senjata api. Mereka memberi tanda agar Ana mengikutinya.


Mereka menaiki anak tangga yang sangat usang dan kotor menuju lantai 2. Disana ia melihat sosok pria yang tengah menikmati cerutunya.


"Dominic.." gumam Ana dalam hati.


"Ternyata kau sangat cantik Grey.. kau justru terlihat seperti bidadari yang pantas mendampingiku.." goda Dominic setengah mengejek. Ia pria tua yang sebaya dengan Grandma Jane. Bagaimana mungkin ia akan mendampingi Ana sementara dia lebih pantas menjadi kakeknya.


"Maaf.. tapi kau lebih pantas mendampingi Grandma Jane dan menjadi Grandpa-ku.." tukas Ana dingin sambil terkekeh.


Senyum lebar Dominic berubah menjadi senyum sinis dan mematikan. "Kenapa kau mencariku??" Tanya nya tanpa basa-basi lagi.


"Bukankah kau sudah tau jawabannya?? Kau mengirimkanku pembunuh bayaran, mengancamku dan menghabisi anak buahku.. berani sekali kau bertanya 'kenapa' padaku??" Tanya Ana kembali menantang.


"Apa? Hmmm.. Ternyata Jane benar-benar melakukan apa yang dia katakan padaku.." gerutu Dominic lirih.


"Ahhh.. kenapa semua orang selalu melibatkan Jane Jane dan Jane?? Wanita tua itu tidak bisa melakukan apapun.." Ana tampak menyepelekan Jane untuk memancing Dominic membuka semua yang ia tau tentang Grandma Jane.


"Sepertinya wanita tua itu benar-benar bisa membodohimu.. kau memang sangat naif dan bodoh.." tukasnya sinis.


"Dia bahkan tidak bisa menyentuhku.." tukas Ana tegas.


"Itu sebabnya dia akan menghabisi orang-orang di sekelilingmu.. menggunakan predator lain untuk menyerangmu.. kau tau?? Ia adalah seorang alpha.. pemberi perintah.. dan kami hanya sang eksekutor Grey.. kami mengeksekusi dan menghabisi semua yang ia perintahkan.." jelas Dominic mematikan cerutunya.


"Lalu.. apa sekarang mau mu?" Tanya Ana mulai terpancing emosi.


"Tinggalkan dunia gelap.. jauhi semua pasar gelap.. kau sudah melangkah terlalu jauh Grey.."


"Huh !! Kau meminta terlalu banyak hal pak tua !!" Timpal Ana sinis.


"Aku dengar kau sudah menemukan Layla.. apa kau sudah bertemu Lucas??" Tanyanya dengan nada mengancam.


"...." Ana menggeram tak bergeming. Ia yakin Grandma Jane pasti telah memberitahunya. "Seberapa banyak yang kau dengar dari wanita tua itu?"


"Segalanya.. dia memberitahuku segalanya.." jawab Dominic berkacak pinggang.


"Dan aku dengar kau sudah memiliki seorang kekasih?? Apa ia seorang aktor yang handal??" Lagi-lagi Dominic berusaha memancing Ana sesuai perintah Jane.


"Kau tidak bisa mempengaruhiku.." geleng Ana tersenyum sinis di ujung bibir tipisnya.


"3 hari lagi akan ada transaksi di pelabuhan In.. Aku harap kau dapat menangkap sinyalku dengan baik Grey.. jika kau ingin melindungi mereka.. kau tau apa yang harus kau lakukan.. aku selalu bersungguh-sungguh dengan semua ucapanku.."


"Kau mengancamku??" Celetuk Ana tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Kau bisa menganggapnya sebagai ancaman.. tapi aku lebih suka menganggapnya sebagai negosiasi.." Dominic segera berlalu pergi meninggalkan Ana.


Ana masih berdiri tak berkutik memikirkan strategi apa yang harus ia gunakan untuk menggagalkan misi dominic 3 hari lagi. Ia tidak bisa melibatkan banyak pihak luar karna ia sulit mempercayai orang asing untuk menangani kasus ini. Bisa saja orang-orang itu yang justru akan menjebaknya.


Ana segera pergi meninggalkan gedung itu dan kembali ke kantornya. Ia tidak bisa merasa tenang sekarang.


***


Pukul 3.00 pagi Ana masih terduduk bersandar di sofa ruangan kantornya. Ia sudah menghabiskan satu setengah botol wine dan banyak sekali rokok. Ia pernah memiliki riwayat penyakit lever dan ia benar benar mengabaikannya malam ini. Saat ia berusia 18 tahun ia mulai menjadi peminum, berharap ia bisa mengobati traumanya. Ia selalu minum tanpa sepengetahuan Thommas dan Nayra. Hingga 3 tahun kemudian ia dilarikan ke rumah sakit karena penyakit levernya. Tentu hal itu mengejutkan semua orang di mansion. Namun ia berhasil disembuhkan dengan berbagai terapi dan pengobatan yang ekstra.


Drrttt..


Ana melirik pada layar ponselnya di meja. Ia melihat sebuah pesan masuk.


"Apa kau baik-baik saja?" Ana tau betul siapa pengirimnya meski belum sempat ia beri nama pemilik nomor telepon itu. Ia meraih ponselnya dan membalas pesan itu.


"Aku baik-baik saja.." balasnya singkat.


Sontak Louis di kagetkan dengan balasan pesan itu. Ia yakin Ana masih terjaga dan memikirkan sesuatu. Tanpa berpikir panjang ia segera menelepon Ana.


"Kau belum tidur?" Tanya Louis lirih.


"Belum.. aku sedang di kantor.."


"Benarkah?? Ini sudah jam 3 pagi.. apa yang kau lakukan disana??" Louis sangat terkejut mendengar kalau Ana sedang berada di kantor.


"Baiklah.. aku harap kau bisa segera istirahat Ana.. kondisimu itu.. pikirkan kondisimu.. bukankah kau masih harus menemukan kakakmu?? Setidaknya jagalah kesehatanmu agar kau bisa berumur panjang.." Louis berusaha membuat Ana berpikir lebih jernih.


Ia yakin saat ini Ana dalam kondisi tidak baik.


"Terima kasih sudah mengingatkanku.." Ana segera memutus panggilan teleponnya.


Louis melirik ke arah jam digital di meja kamar tidurnya, pukul 3.10 pagi. Tanpa berpikir panjang ia segera bangkit dari tidurnya.


***


Ana berdiri menghadap ke jendela ruang kerjanya. Ia melihat suasana malam di kota itu sangat tenang. Jalanan yang tampak sepi. Lampu-lampu bangunan yang menjulang tampak terang benderang. Seseorang mengetuk pintu ruangan Ana, membuyarkan lamunannya. Ia segera menoleh ke arah pintu, ia tampak was was, bagaiaman mungkin ada orang di kantor pukul segini dan mengetuk pintu?? Ia dengan cepat mengambil senjata api yang ia sembunyikan di bawah meja tamu dan berjalan ke arah pintu perlahan, ia membuka pintu itu dan menodongkan senjatanya yang membuat Louis terlonjak kaget dan mengangkat kedua tangannya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ana kaget melihat sekeliling segera menyembunyikan senapannya di balik pinggang langsingnya.


"Aku tau kau pasti belum makan.." Louis menunjukkan bungkusan makanan dan melangkah masuk ke ruangan Ana.


"Hei !! Kenapa kau minum wine sebanyak itu saat perut kosong??!" Seru Louis tercengang melihat meja tamu disana tampak berantakan. Sambil sesekali mengibas kibaskan tangannya karena asap rokok Ana mengepul di seisi ruangan kerjanya.


"Kenapa kau datang kemari??" Tanya Ana lagi masih tidak percaya Louis datang menemuinya.

__ADS_1


"Bukankah sudah aku bilang, kalau aku ingin membantumu menemukan kakak laki-lakimu.." Louis meletakkan plastik yang berisi daging pedas ke atas meja yang berantakan itu, lalu ia menyodorkan ponselnya pada Ana.


Ana meraih ponsel itu tanpa bergeming.


"Coba kau lihat.. mana foto-foto yang mirip sekali dengan tanda luka milik kakakmu.. Aku sudah mengumpulkan 29 foto dari fansku di berbagai negara.. mana tau salah satunya adalah kakakmu.."


"Thank you.." jawab Ana singkat memperhatikan setiap detail foto-foto di ponsel Louis.


Ana yang sejak tadi berdiri segera duduk di samping Louis yang tengah menyiapkan makanannya, Lalu kembali menyodorkan ponselnya kembali pada Louis.


"Tidak ada satupun dari mereka.." geleng Ana lemas.


"Apa kau yakin?? Wahh.. apa jangan-jangan dia benar-benar sudah menghapusnya??" Tanya Louis mulai menyantap daging yang ia bawa.


"Makanlah.. kau harus makan untuk menenangkan pikiran dan perutmu yang keroncongan.."


Ana hanya menatap Louis dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka pria bodoh ini bisa bersikap tenang dan santai padanya. Padahal ia sudah tau sisi gelap Ana yang mengerikan.


"Jika sudah selesai makan, pulanglah.. aku ingin sendiri.." seru Ana lirih meraih gelas wine nya.


Namun dengan cekatan Louis merampas gelas itu dan menenggak habis semua wine dalam gelas itu.


"Hei !!" Seru Ana kesal.


"Aku kepedasannn..." jerit Louis dengan wajah dan bibir yang memerah. Ia menuangkan wine itu lagi ke gelas Ana dan kembali menenggaknya hingga habis. Namun itu justru membuat dadanya terasa panas.


"Kalau kau tidak bisa makan pedas, kenapa kau membelinya??" Timpal Ana menahan tawanya yang geli melihat ekpresi Louis yang sedang kepedasan.


"Tapi ini sangat enak.. cobalah.. ini sangat populer di kalangan anak muda saat ini.." tapi itu tidak menghentikannya untuk berhenti makan.


"Kau membelinya hanya karena ini populer??" Ana mulai tampak tertarik ingin mencoba daging itu.


"Tidak juga.. karena ini memang beneran sangat enak.. cobalah.." Louis menyodorkan sumpit pada Ana.


Ana mulai menyantap daging itu dengan santai dan tidak menandakan kepedasan sedikitpun.


"Ini tidak pedas sama sekali.." Geleng Ana pelan.


"Wahh.. bagaimana bisa kau bilang begitu.. aku baru memakannya 3 suap dan ini seperti sudah membakar lidah, dada dan perutku.." tukas Louis gelagapan karena kepedasan.


"Sudah jangan di makan lagi kalau tidak sanggup.. lihat wajahmu itu sudah memerah seperti kepiting rebus.." ejek Ana bangkit dari duduknya menuju kulkas mini di ruangannya. Mengambil 3 botol air mineral dingin dan 1 botol jus jeruk.


"Tapi aku adalah kepiting rebus yang sangat tampan kan.." Louis terkekeh tersenyum manis seraya menggoda Ana.


Ana melemparkan botol mineral itu hampir mengenai wajah Louis, namun ia segera menangkisnya.

__ADS_1


"Jangan coba-coba merusak asetku.." celetuknya kaget menangkap botol mineral itu cekatan.


"Dummy.." gumam Ana lirih sambil terkekeh.


__ADS_2