Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 162 : Pembunuh


__ADS_3

Ana menendang pria itu menerjangnya hingga terpental menghantam dinding. Pria itu segera berusaha bangkit, menyerang Ana, mencekiknya keras. Ana melayangkan tinjunya ke pinggang pria itu berkali-kali hingga cekikannya melonggar. Mereka terlihat sama-sama meringis.


"Kau akan rugi jika menghabisi ku sekarang.." ujarnya mengancam.


"Aku tidak peduli.. Aku sudah lama merugi.." tukas Ana menyeringai. Ia lagi-lagi melayangkan pukulannya ke rahang pria itu hingga merobek sudut bibirnya.


Saat hendak menyerang, pria itu menerjang Ana, menendang Ana keras hingga ia terpental ke sisi meja kerjanya. Ana meringkuk kesakitan ketika pinggangnya membentur sangat keras pinggir meja kayu itu. Ana segera bangkit sambil mencengkram pinggangnya.


"Kau benar-benar membuatku gila !!!" seru Ana menggeram, berlari ke arah pria itu, mendorong badannya keras hingga menerobos keluar pintu ruang kerjanya. Ia terpental saat kakinya tersandung karpet bulu hias yang ada si lantai ruang keluarga, pria itu terjatuh ke atas meja kaca di ruang keluarga Ana, dengan posisi Ana masih di atasnya menimpanya.


Kaca itu pecah berserakan, Ana meraih pecahan kaca di samping pria yang masih berusaha melawannya. Tangan kiri Ana mencekik pria itu keras, sementara tangan kanannya meraih pecahan kaca di lantai.


Pria itu berusaha keras menahan tangan Ana agar tidak melukainya.


"Sebaiknya kau katakan siapa yang menyuruhmu !!" geram Ana sekuat tenaga berusaha melukai pria itu.


"Lebih baik aku mati daripada harus berkhianat !!!" gumamnya lirih.


Bahkan darah sudah tampak menggenang dari bawah tubuh pria itu, tubuhnya pasti telah terluka parah setelah terjatuh menimpa meja kaca hingga pecah.


Pria itu berusaha menyingkirkan Ana menggunakan kakinya saat kedua tangannya tengah menahan serangan Ana sekuat tenaga.


"Arrghhhhh !!!" erang Ana menepis tangan pria itu sekuat tenaga, sebelum akhirnya ia berhasil menancapkan pecahan kaca itu tepat di pembuluh darah pria itu.


Seketika darah segar muncrat dari lehernya yang terluka, bahkan keluar dari mulut pria itu. Ia berusaha menutupi luka tusukan yang sangat dalam di lehernya, sementara Ana segera bangkit dengan terengah melihat pria itu menggelepar kesakitan.


Tak butuh waktu lama, akhirnya pria itu tewas seketika setelah kehabisan darah dan akibat luka tusukan lehernya yang tepat mengenai pembuluh darahnya. Ana termenung sesaat, ia melihat kedua tangannya yang berlumuran darah. Ia kemudian duduk lemas di atas sofanya, menyandarkan kepalanya yang terasa berat.

__ADS_1


Drrtt..drrrttt..


Samar-samar ia mendengar suara getar ponselnya. Ia sempat mengabaikan panggilan itu, namun ia teringat jika ia harus segera menyingkirkan mayat itu. Ia kemudian mencari ponselnya yang ternyata tertinggal di dalam kamarnya. Saat melihat ponselnya, ia tak menerima notifikasi apapun, lalu ia tersadar jika itu pasti ponsel dari pria yang menyerangnya itu.


Ana segera berlari menghampiri mayat pria itu, ia merogoh saku jaket dan celananya, benar saja, ia menemukan ponsel itu mendapat sebuah panggilan. Ana segera mengangkat panggilan itu tanpa berpikir panjang.


"Apa kau sudah menemukannya??" tanya suara seseorang yang telah di samarkan, suaranya telah berubah seperti suara robot, ia tak bisa mengenali suara itu.


"Siapa kau??" tanya Ana murka.


"Ah.. Ternyata dia gagal.. Seharusnya aku mengirimkan orang profesional.." gumam suara itu terdengar kecewa.


"Apa yang kau inginkan??"


"Jika aku memberitahumu, itu tidak akan menyenangkan lagi.." ujarnya tertawa.


"Bukankah main tebak-tebakan seperti ini sangat menyenangkan??"


"Apa yang akan kau lakukan jika aku menemuimu?? Apa kau akan membunuhku??" serunya tertawa.


"Kau hanya pembunuh berdarah dingin yang haus perhatian dan kasih sayang !! Seharusnya kau tetap berada di panti asuhan agar mendapat banyak kasih sayang.. Ups !!! Aku lupa jika hidupmu disana jauh lebih menyakitkan hahahahaha.. Pembunuh sepertimu tidak akan pernah bahagia !! Bahkan saat kau punya kekasih, mereka tidak akan pernah bisa menerimamu !!! Siapa yang akan menerima pembunuh sepertimu !! Bahkan kau tidak punya rasa ampun pada semua orang yang kau bunuh !! Bagaimana bisa kau menyayangi orang lain?? Semua yang kau sayangi satu persatu akan mati karenamu !! Pembunuh seperti mu tidak akan pernah bisa hidup bersama orang lain !! Karena sampai kapanpun.. Kau tetaplah seorang pembunuh !!!"


Tutttt...tuttt..tutt...


Panggilan dengan nomor rahasia itu segera terputus. Mata Ana berkaca-kaca menahan amarahnya. Bibirnya bergetar hebat,


"Argghhhh !!" pekiknya murka dan membanting keras ponsel itu ke dinding.

__ADS_1


Ana terkulai lemas di lantai, kata-kata dari suara itu terus terngiang di pikirannya, ia memukul-mukul kedua telinganya keras berharap suara itu hilang.


...----------------...


Jane mematung saat mendapati Ana terduduk di lantai sambil menyandar di sisi sofa, sementara di depannya tergeletak mayat yang telah tergenang dengan darahnya.


Jane bergegas ke apartment Ana saat ia mendapat telepon dari Ana.


"Tolong aku.. Aku membunuh seseorang.." ujarnya lirih di telepon.


Jane datang langsung membawa beberapa pengawal. Dan benar saja, ia mendapati ada mayat disana yang tergeletak di lantai.


Ana segera bangkit dari duduknya.


"Tolong bereskan ini.." ujarnya datar.


Jane menahan lengan Ana keras.


"Apa yang kau lakukan?? Siapa dia??"


"Entahlah.. Dia menyelinap ke dalam.. bahkan dia tetap tidak mengaku meski sudah di ambang kematian.. Dia benar-benar sangat setia.." ujar Ana melantur.


"Apa kau mabuk??" ujar Jane mengendus area wajah Ana.


Ana menatap Jane datar.


"Kau pikir aku bisa membunuh saat mabuk??"

__ADS_1


Jane mengangguk mengerti, ia tau jika kebiasaan Ana saat mabuk adalah menangis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2