Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 61 : Gadis di Tangga Darurat


__ADS_3

Kehadiran Ana di kantor di sambut hangat Pak Kim. Ia tampak sumringah melihat Ana hadir di kantor pagi itu.


"Kapan anda kembali Ms.Grey?" Tanyanya sumringah setelah 5 hari tidak melihat Ana yang selalu merepotkan dan membuatnya khawatir karena sifatnya yang selalu tidak terduga.


"Baru saja.." jawab Ana tersenyum.


"Apa? Anda baru sampai pagi ini?" Tanya Pak Kim kaget.


"Hmm.." angguk Ana cepat.


"Apa anda ingin istirahat dulu? Saya bisa menunda meeting anda beberapa saat.."


"Tidak perlu Pak Kim.. meeting ini sangat penting, biarkan sesuai jadwalnya.." Ana segera membuka pintu ruangannya, namun ia tertegun di depan pintu saat melihat ke dalam ruangannya.


"Apa apaan ini??" Celetuk Ana marah.


Pak Kim segera menghampiri Ana melihat keruangannya. Ruangan itu di penuhi buket bunga warna warni.


"I..ini dari Tuan Franz.." Pak Kim sudah mencoba melarang Franz mengirimi Ana bunga, karena akan berujung ke tong sampah, atau ke pembakaran sampah, namun Franz selalu keras kepala dan berbuat semaunya.


"Buang semuanya.." timpal Ana kesal.


"Kenapa kau selalu membuang bunga pemberianku?" Suara yang sudah tidak asing itu tiba tiba mengagetkan mereka berdua.


"Apa yang kau lakukan pagi pagi disini??" Tanya Ana sinis pada Franz.


"Sudah jelas aku ingin menyapa bungaku.. aku beberapa hari ini mengunjungimu ke mansion, tapi kau tidak pernah ada.."


Ana hanya bergidik ngeri, tentu saja dia ke mansion untuk menemui ibunya, bukan menemui Ana.


"Bukankah biasanya kau selalu datang kesini, seperti saat ini?? Tumben sekali tiba tiba ke mansion saat aku sedang ke luar negeri??" Tukas Ana datar.


"Tentu saja aku bisa melepas kerinduanku saat di mansionmu daripada disini.." elak Franz mencoba menipu Ana.


"Cepat kosongkan ruanganku.." tukas Ana pada Pak Kim mengabaikan Franz.


"Aku ingin mengajakmu makan malam.." seru Franz menghalau langkah Ana yang ingin beranjak pergi.


"Aku sibuk.."


"Kita akan segera menikah.. jadi jangan bersikap seperti ini.."


Tentu saja kata kata Franz membuatnya merasa jijik, ingin sekali ia melayangkan kepalan tinjunya ke wajah mulus Franz, namun ia harus tetap menahannya demi kelancaran rencananya.


"Urus saja semuanya sendiri.. aku tidak punya waktu.." Ana mendorong Franz yang menghalangi langkahnya.


"Apa kau ingin aku melakukan semuanya dengan caraku??" Seru Franz dengan nada mengancam.


"Terserah kau saja.." gumam Ana tegas mengabaikan Franz yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Franz menatap Ana dengan tatapan dingin.


"Baiklah.." gumamnya dalam hati.


****


Sore itu Ana mengunjungi GC Hotel karena ada pertemuan dengan rekan bisnisnya dari negara C. Setelah meeting cukup lama Ana memutuskan menuju tangga darurat untuk merokok, karena ia merasa tertekan selama meeting tadi. Ia tidak bisa merokok di sembarang tempat mengingat citra baiknya.


Di area tangga darurat Ana duduk di anak tangga sambil santai merokok, tak lama ia mendengar suara gaduh dari arah lantai bawahnya. Ana berdiri perlahan, menguping percakapan itu sambil berusaha mengintip ke arah bawah dari sela sela anak tangga.


"Kau ini.. jangan coba coba cari muka di depan Manager.. kau itu masih baru, tapi sudah sok mau jadi yang paling di perhatikan !!" Hardik suara seorang wanita memarahi seorang gadis polos yang tampak tertunduk.


"Maafkan aku.. aku tidak bermaksud begitu.."


"Sudahlah.. kau ini selalu saja bikin masalah.. hari ini kau harus lembur lagi sampai pagi, atau kau akan terima akibatnya !!" Bentaknya lagi.


"Tapi aku hari ini sudah masuk pagi kak.. bagaimana mungkin aku harus lembur sampai pagi lagi.." elak gadis itu memohon.


"Itu urusanmu !! Bukan urusanku !!" Bentak nya lagi segera pergi meninggalkan gadis itu.


Gadis itu tampak terduduk lemas dan menangis di anak tangga.


Ana yang sedang dalam mood kurang baik segera keluar dari tangga darurat dan memanggil manager hotel.


"Tolong berikan aku jadwal kerja karyawan, dan data karyawan rekrutan baru.."


"Ba..baik Ms.Grey.."


"Baik Ms.Grey.." angguk manager perempuan itu cepat. Ia tampak segera berlalu pergi dengan langkah besar untuk mengambil berkas yang di inginkan Ana.


Setelah menunggu 10 menit, manager hotel masuk ke ruang meeting membawa berkas itu di tangannya. Ia segera menyodorkan berkas itu pada Ana yang tadi tengah duduk melihat ponselnya sambil menikmati kopi hangatnya.


Kini ia fokus melihat jadwal kerja karyawan dan data diri rekrutan baru.


"Siapa yang bertanggung jawab dengan jadwal kerja karyawan ini??" Menunjukkan selembar berkas yang berisi jadwal kerja untuk karyawan baru yang ternyata jam kerjanya dibedakan dengan jam karyawan lama yang dibikin jauh lebih sedikit.


"Itu tanggung jawab kepala divisi staff Ms.Grey.." jawab manager itu dengan nada hati hati.


"Panggil dia kemari.." perintah Ana dengan nada tegas.


"Baik Ms.Grey.." angguk manager itu segera pergi lagi.


Tak lama ia kembali bersama kepala divisi staff itu. Ana memperhatikan wanita itu dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya lalu tersenyum sinis.


"Anda memanggil saya Ms.Grey??" Tanya nya tersenyum ramah.


"Kau yang bertanggung jawab dengan jadwal kerja ini??" Tanya Ana melempar lembar berkas itu ke meja dengan nada dingin.


"I..iya Ms.Grey.." angguknya ketakutan.

__ADS_1


"Aku melihat ada yang aneh dengan jam kerjanya.." tukas Ana menatapnya dengan tatapan sinis.


"I..itu jadwal yang dibuat sesuai kesepakatan bersama Ms.Grey.." jawabnya terbata bata.


"Kesepakatan bersama? Antara siapa dengan siapa?? Apa maksudmu kesepakatan yang dibuat oleh keinginanmu sendiri dan memaksa mereka menerima itu??" Timpal Ana dingin.


"Bukan begitu maksud saya Ms.Grey.."


"Kau menentukan jam kerja mereka seolah olah kau yang akan membayar gaji mereka?? Ah.. bagaimana jika aku memotong gaji kalian yang jam kerjanya lebih sedikit, lalu menambahkan gaji itu ke karyawan baru yang bekerja lebih lama??"


"Ti..tidak Ms.Grey.. jangan lakukan itu.." gelengnya cepat.


"Ma..maafkan saya Ms.Grey.. saya tidak becus membuat jadwal kerja itu.."


"Jadi kau mengakuinya?? Membuat keputusan seenaknya dan merugikan orang lain karena jadwal itu??"


"I..iya Ms.Grey.. maafkan saya.. saya akan memperbaiki jadwal itu saat ini juga.."


"Tidak perlu.." tukas Ana tegas.


"Manager Cha, gantikan dia dengan gadis di tangga darurat.." seru Ana.


"Apa? Gadis di tangga darurat?? Si..siapa maksud anda Ms.Grey??" Tanya Manager Cha bingung.


"Tanyakan saja padanya, siapa gadis di tangga darurat.." celetuk Ana menunjuk ke arah perempuan yang sedari tadi tertunduk lemas.


"Jinha, siapa gadis di tangga darurat?" Tanya Manager cha padanya.


"Anu..i..itu Irene.. karyawan baru.." jawab Jinha ketakutan, ia kaget Ana tau tentang dirinya dan Irene.


"Saya mohon maafkan saya Ms.Grey.." mohonnya mulai menangis.


"Huh !!" Ana menghela nafas kesal.


"Kau beruntung tidak aku memecatmu, biasanya aku langsung menyingkirkan sampah sepertimu ini.. sebaiknya kau mensyukuri itu.. lagipula kau sendiri tidak bisa bekerja dengan baik dan becus.. jadi aku harus menggantimu dengan orang yang lebih kompeten.." Ana sudah melihat kualifikasi data diri Irene yang ternyata ia adalah anak yang berprestasi selama sekolah, ia juga mendapat banyak penghargaan saat ikut berbagai macam olimpiade antar pelajar.


"Maafkan saya Ms.Grey.." mohonnya lagi.


"Pergilah.. tolong umumkan ini ke semua karyawan.." perintah Ana lagi pada Manager Cha.


"Ah.. satu lagi.. jangan berani kau menindas siapapun lagi.. atau kau akan berurusan denganku.. kau tau kan aku sangat jago berkelahi???" Ancam Ana sambil terkekeh.


Wanita itu menatap tatapan Ana dengan ngeri. Meski Ana tampak tersenyum tapi senyuman itu sangat menakutkan.


"Ba..baik Ms.Grey.. saya janji.." angguknya cepat.


Setelah di panggil oleh Ana, Manager Cha segera mengumpulkan semua karyawan dan mengumumkan promosi dadakan untuk Irene yang kini menjadi kepala divisi staff. Ia akan bertanggung jawab untuk para staff hotel bagian pelayanan.


Saat pengumuman itu Irene melihat Ana yang tengah menatapnya dari jauh sambil tersenyum hangat. Irene berusaha mengejar Ana sesaat setelah kumpulan mereka dibubarkan manager Cha.

__ADS_1


Dengan langkah besar Irene tampak setengah berlari mengejar Ana, namun ia kalah cepat, Ana ternyata sudah keburu pergi melaju dengan mobilnya.


__ADS_2