
Albert kembali mengirim foto Bibi Layla. Namun ia hanya seorang diri saja sejak terakhir bertemu Dominic. Ana tengah bersiap untuk makan malam dengan Franz.
Franz menyambut Ana hangat di restoran mewah di tengah kota. Awalnya mereka ingin dinner di restoran hotel GC namun wanita tua itu 'Jane' mengubah tempat mereka. Franz yang tiba-tiba merangkul dan mencium pipi Ana membuat Ana sontak mendorongnya keras.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ana dengan mata terbelalak kaget.
"Ma..maaf aku hanya ingin menyapa.." Franz tampak gugup.
"Aku tidak biasa dengan hal itu.. jangan lakukan itu lagi.." tukas Ana tegas segera duduk di bangku sebrang Franz.
Mereka hanya berdiam diri sejak tadi dan hanya menikmati makan malam mereka masing-masing. Franz yang tampak gelisah mencoba membuka pembicaraan pada Ana.
"Bagaimana pekerjaanmu hari ini??"
"Cukup lancar.." jawab Ana singkat.
"Ohh.. hmm.. oiya aku berencana akan berinvestasi di GW.. beberapa anak perusahaanku akan membuka bank swasta besar disini.. aku butuh partner untuk memulai usahaku disini.. aku sudah membahasnya dengan Nyonya Jane.. dia tampak sangat senang dan setuju akan hal ini.."
"Baiklah.. nanti akan aku pikirkan tawaranmu itu.." Ana menatap Franz dengan tatapan aneh.
"Ada apa?? Apa ada yang aneh denganku?" Tanya Franz canggung.
"Tidak.. kau tampak.. sangat tampan malam ini.." puji Ana lirih memulai aksinya.
Sontak Franz terkejut. Perkataan Ana diluar dugaannya. Jane bilang ia wanita dingin. Namun kali ini ia tampaknya tidak perlu bersusah payah menaklukan Ana karena ia pikir Ana sudah jatuh hati padanya.
"Benarkah??"
"Hmm.. sesuai dengan tipe idealku.." angguk Ana pelan menyibak rambutnya kebelakang pundaknya sedikit menggoda.
"Apa besok kau ingin pergi berkencan denganku?" Tanya Franz gagah.
"Bagaimana kalau kita mulai berkencan malam ini??" Tanya Ana balik membuat Franz salah tingkah.
"Setuju.. aku sangat setuju.." angguk Franz cepat tersenyum penuh rasa kemenangan.
"Aku ingin mengajakmu berkeliling di laut dengan kapalku setelah makan malam ini.." Ana benar-benar membuat Franz besar kepala.
"Baiklah.. aku akan memesan wine mahal untuk merayakannya.."
Ana hanya mengangguk setuju tanpa bergeming.
***
Di atas kapal mereka menikmati pemandangan dari dalam karena cuaca musim dingin menusuk hingga ke tulang. Franz membuka wine yang telah ia pesan. Menuangkan wine mahal itu ke gelasnya dan Ana.
"Apa kau setuju dengan perjodohan ini??" Tanya Franz setelah menenggak segelas wine nya.
"Tentu.. kau tampak seperti pria yang baik.." angguk Ana pelan. "Aku rasa kau tidak akan mengecewakan aku.."
Franz membelai rambut Ana pelan. "Jujur saja.. aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama Ana.. kau tampak sangat menawan.."
__ADS_1
"Apa kau selalu mengatakan hal yang sama pada setiap wanita yang kau temui??" Celetuk Ana risih.
"Tentu saja tidak.." geleng nya tetap membelai rambut Ana, dan kini tangannya turun ke punggung Ana.
"Apa saja yang kau ketahui tentang aku??" Tanya Ana lagi dengan nafas bergetar berusaha menahan amarahnya karena tangan pria brengs*k itu berada di punggungnya.
"Nyonya Jane tidak bercerita terlalu banyak soalmu.. jadi aku akan mencari taunya sendiri.." lagi-lagi Franz menenggak cepat wine nya. Ana yakin ia seorang peminum yang buruk.
"Aku bukan wanita yang baik.. dan yang pasti aku berada di luar ekspektasimu.." timpal Ana datar.
"Ahh.. kau tidak perlu rendah hati seperti itu.. aku yakin kau akan menjadi istri yang sempurna untukku.." Franz tampak mulai mendekati Ana perlahan.
Ana menahan dada bidang Franz keras.
"Kau tau?? Aku wanita yang kolot.. aku tidak pernah berpacaran.." Ana menolak dada Franz cukup keras dengan tangan kanannya.
"Ahh.. ma..maafkan aku.. lagi-lagi aku membuat kesalahan padamu.." Franz bergeser mundur, menjaga jarak dengan Ana. Ia tampak mengusap wajahnya. "Kenapa kau tidak meminum wine-mu?" Tanyanya dengan wajah yang memerah.
"Entahlah.. tiba-tiba aku menjadi tidak selera untuk mencicipinya.."
"Apa kau baik baik saja??"
"Hmm tentu saja.. aku tidak apa-apa.." angguk Ana pelan.
***
Keesokan paginya Franz mendapati dirinya di sebuah kamar yang sangat mewah dan tentu saja itu bukan sebuah hotel. Ia tidak mengingat apapun kejadian tadi malam. Ia hanya merasa sekujur tubuh hingga pinggangnya terasa sangat sakit. Ia segera bangkit dan melihat pinggang nya ke cermin, alangkah terkejutnya dia mendapati pipinya yang memerah serta memar yang cukup parah pada tubuhnya dari pundak, pinggang dan punggungnya. Sialnya, ia tidak mengingat apapun yang terjadi tadi malam.
Ia segera keluar kamar. Melewati lorong bangunan mewah itu hingga berhenti di sebuah ruang keluarga, Ana tengah duduk di sebuah sofa berwarna abu-abu tua kombinasi silver dengan sebuah koran di tangannya dan tentu saja sambil menikmati sebatang rokoknya.
"A..apa aku di mansionmu?" Tanyanya tampak masih cukup mabuk.
"Tentu.. tadi malam kau sangat mabuk.. sampai tak sadarkan diri.. jadi aku membawamu pulang ke mansion.." Ana mematikan rokoknya di sebuah asbak berwarna hitam metalic di atas meja.
"Tapi.. bagaimana dengan memar di tubuhku?? Ada memar yang besar dan sangat menyakitkan.." tanyanya lagi dengan wajah linglung sambil memegangi tubuhnya yang nyeri.
"Oh.. itu kau terjatuh saat hendak turun dari kapal.. dan tubuhmu terbentur saat terjatuh.. aku akan memanggilkan dokter untuk memeriksanya.."
"Ah.. tidak perlu.. nanti akan aku obati sendiri.." geleng Franz cepat.
"Benarkah? Apa separah itu? Coba aku lihat.." Ana berjalan mendekati Franz, menunduk berusaha menarik kaos dalam putih Franz ke atas dan melihat memar ditubuhnya yang memang cukup parah. Namun Ana tampak tersenyum sinis di balik tubuh Franz.
"Astaga.. kenapa bisa separah ini.. kau harus segera ke dokter.. padahal kau jatuh tidak begitu keras.." seru Ana sedikit meledek.
"Aku tidak perlu ke dokter.. nanti aku beri obat penghilang memar saja.." elak Franz gengsi. Ia memang paling benci di anggap lemah apalagi oleh perempuan. "Tanganmu kenapa?" Tanya Franz melihat punggung tangan Ana yang juga sedikit memar.
"Ah.. ini hanya terbentur saat ingin menolongmu.. tapi ini bukan masalah.." geleng Ana santai menutup punggung tangan kanannya dengan tangan kirinya.
"Apa aku harus izin hari ini untuk merawatmu?" Tanya Ana dengan nada panik yang di buat-buat. Tentu saja Ana hanya sedang akting. Andai saja Franz tau apa yang terjadi tadi malam, dia pasti akan murka.
"Tidak perlu.. bagaimana pun kau harus tetap bekerja.." geleng Franz sungkan. "Lagipula aku akan bertemu Nyonya Jane di hotel.."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu.. hubungi aku jika kau butuh sesuatu.." Ana segera berpamitan dan bergegas untuk berangkat kerja.
"Hmm.. baiklah.." angguknya pelan masih sambil memegangi pinggangnya yang nyeri.
***
Selama di perjalanan Ana terus tersenyum penuh kepuasan saat mengingat kejadian tadi malam.
"Franz.. kau baik-baik saja??" Ana menepuk-nepuk pipi Franz cukup keras berkali-kali. Kini pria itu tergeletak di sofa tak sadarkan diri. Dan tentu saja itu tandanya Franz benar benar sudah tak sadarkan diri, karena wine itu sudah di beri obat bius oleh Ana seperti yang sudah ia rencanakan bersama Pak Kim.
Siang itu Ana mendapat informasi seputar kebiasaan buruk Franz di negara E dari Pak Kim, Ana meminta bantuan Pak Kim untuk menyelidiki sosok Franz. Ternyata ia suka berjudi, suka bermain perempuan dan sempat menggunakan narkoba. Ana tidak ingin salah langkah, karena kali ini ia harus bisa mengalahkan Jane dengan mengusir Franz dari dirinya.
Plak !!!!
Ana melayangkan tamparan sangat keras pada pipi Franz dengan kesal.
"Dasar bajing*n sial*n !! Berani sekali kau menyentuhku !!" Omel Ana kesal segera bangkit keluar dari kapal untuk memanggil anak buahnya.
Kapal segera putar balik kembali ke pelabuhan, disana tampak Pak Kim yang sudah menunggu. Saat turun dari kapal, Franz yang di bopong oleh anak buah Ana sempat terjatuh, dan sialnya tubuhnya menerubuk tubuh Ana yang lebih dulu berjalan di depannya, sehingga Ana hampir saja jatuh tersungkur. Karena kesal akan hal itu ia segera memukuli dan menendang tubuh Franz dengan sekuat tenaga.
"Kau benar-benar menyusahkan.." gerutu Ana penuh emosi.
Tentu ia berusaha menghindari melukai wajah Franz agar tidak dicurigai.
Pak Kim yang tengah berlari dari kejauhan mendekati Ana dan dengan sigap segera menghentikan Ana, jika tidak bisa bisa ia membunuh Franz pikirnya.
"Hentikan Ms.Grey.. anda bisa membunuhnya.." seru Pak Kim panik segera menarik lengan Ana menjauhi Franz yang tergeletak di tanah tak sadarkan diri.
"Dia tidak akan mati malam ini Pak Kim.. tenang saja.." ujar Ana terkekeh sambil membenahi rambutnya yang jadi acak-acakan.
Ana segera menggulung rambutnya sembarang karena sudah acak-acakan. "Dimana orang itu?" Tanya Ana celingukan.
"Mereka menunggu di mobil Ms.Grey.." jawab Pak Kim menunjuk ke arah mobilnya.
Ana tampak merogoh saku jas dalam Franz dan menemukan ponselnya, lalu menyodorkan ponsel itu pada Pak Kim.
"Pastikan mereka mendapatkan semuanya.."
"Baik Ms.Grey.." angguk Pak Kim segera membawa ponsel Franz ke mobilnya. Ternyata di dalam mobil itu sudah ada seorang hacker handal yang telah di bawa oleh Pak Kim.
"Bawa bajing*an ini ke mobilku.. aku akan membawanya kembali ke mansion.." perintah Ana pada anak buahnya dan segera berjalan menuju mobilnya disusul anak buah Ana yang membopong Franz.
Tiba di mansion Franz di tempatkan di kamar tamu, tentunya kamar tamu yang berbeda dari yang biasa di tempati Louis. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membuka jas dan kemeja Franz dan membiarkannya hanya mengenakan kaos dalamnya. Ana segera keluar dari kamar mengambil rokoknya dan pergi menuju kolam renang. Banyak putung rokok berserakan di lantai, Ana tampak gusar menanti Pak Kim di tengah dinginnya musim salju, dan untungnya tak lama kemudian Pak Kim segera tiba.
"Bagaimana?" Tanya Ana khawatir.
"Beres Ms.Grey.. kami sudah dapatkan semuanya.." jawab Pak Kim tenang sambil menyodorkan ponsel Franz dan sebuah flashdisk berwarna gold.
"Bagus.. kerja yang bagus.. terima kasih atas bantuanmu Pak Kim.."
"Apapun yang anda butuhkan Ms.Grey.. kalau begitu saya pamit dulu.."
__ADS_1
"Baiklah..sampai jumpa besok di kantor.." ucap Ana tersenyum simpul.
***