
Tubuh Ana di basahi keringat meski suhu ruang kamar sudah sangat nyaman.
"Tidak.. jangan.. lepaskan aku.. tidak.." Ana berusaha berontak dalam tidurnya.
"Akhh !!" Pekik Ana terbangun dengan reflek segera menodongkan pistol ke arah Louis yang ia ambil dari sakunya. Ia masih tertidur dengan pakaian lengkapnya. Louis yang tadinya tengah terbangun segera duduk di depan Ana dan berusaha mengguncang kedua pundak Ana untuk membangunkannya dari mimpi buruk.
Louis terbelalak kaget saat Ana menodongkan pistol itu tepat ke depan wajahnya dengan tangan gemetar. Namun Louis menanganinya dengan sangat tenang.
"Ini aku Ana.. ini aku.." seru Louis lirih memegang pistol itu perlahan dan mengambilnya perlahan dari tangan Ana lalu segera meletakkannya ke atas meja di samping tempat tidur Ana.
"Kau mimpi buruk??" Tanya Louis lirih.
Ana menatapnya dengan tatapan kosong, nafasnya memburu, keringat mengucur dari dahinya.
Louis meraih gelas air mineral di atas meja, menyodorkannya ke Ana. "Minumlah.."
Namun Ana tak langsung mengambil gelas itu, ia tampak bergeser ke samping berusaha membuka laci meja kecil itu, merogoh ke dalam laci dan mengeluarkan sebuah botol putih, lalu ia mengeluarkan sebutir tablet putih kuning.
"Itu pasti obat penenangnya yang di katakan Pak Kim.." gumam Louis dalam hati.
Ana segera menenggak obat itu dengan segelas air yang di beri Louis. Ia mulai tampak berusaha tenang dan mengatur nafasnya perlahan.
"Kau sudah merasa tenang sekarang??" Tanya Louis lagi.
Ana hanya mengangguk pelan. "Maaf aku hampir mencelakaimu.." imbuh Ana parau.
"Tenang.. ini bukan pertama kalinya.. mungkin aku akan segera terbiasa.." jawab Louis enteng.
Raut wajah Ana menatap Louis dengan bingung.
"Waktu itu, saat kita tertidur di kantormu.. kau juga seperti ini.. kau menodongkan pistol juga ke arahku.. apa kau tidak mengingatnya??"
Ana hanya terbengong mencoba mengingat ingat kejadian itu.
"Waktu itu kau mengambilnya dari sakumu juga.." Louis berusaha mengalihkan Ana yang tampak lemas.
"Maaf.." jawab Ana singkat.
__ADS_1
"Ah sudahlah.. tidak apa apa.." timpal Louis santai. "Ngomong ngomong ada berapa banyak senjata yang kau punya?"
"Ratusan.." jawab Ana lirih.
"Apa??" Louis terbelalak kaget.
"Itu ada di gudang penyimpanan untuk ku jual.. yang aku simpan pribadi ada 5.."
"Boleh aku memilikinya satu??"
Ana hanya menatapnya datar.
"Beruntung sekali kau dengan mudah memilikinya.. Lalu dimana saja kau menyimpannya??" Louis tampak sangat kagum.
"Yang selalu aku bawa 1, ruang kerja di kantor ada 1, di samping tempat tidur ada 1.. di dapur ada 1 dan di kamar mandi.." jelas Ana sambil menunjuk ke arah titik tempat penyimpanannya.
"Kenapa kau menebarnya seperti itu??"
"Aku tidak akan tau darimana musuhku akan menyerang.. aku harus selalu siaga.." Ana bangkit dari duduknya. Louis masih fokus memperhatikan Ana.
"Kau tidak istirahat lagi?? Ini masih pukul 4 pagi.."
"Ah.. kau ingin merokok? apa kau tidak ingin istirahat lagi?"
"Setelah ini.." jawab Ana segera berlalu ingin ke dekat jendela kamar.
"Kau tidur di sofa??" Tanya Ana saat melihat ada bantal dan selimut di sofanya. "Tidurlah di kamar tamu.. jauh lebih nyaman.."
"Aku takut masuk ke dalam sendirian.. nanti malah dikira pencuri.." tukas Louis beralasan.
Padahal sesaat setelah Ana menangis sesenggukan di mini bar ia tertidur di meja bar, setelah menenggak banyak wine.
Louis kemudian menggendongnya, kemudian ia bertemu dengan Bibi Layla saat melewati ruang keluarga. Ia menanyakan dimana kamar Ana, lalu segera mengantar Ana setelah diberitahu Bibi Layla. Mereka juga sempat berbincang setelahnya. Bibi Layla juga mengatakan beberapa hari belakangan Ana tampak sering begadang bahkan sempat beberapa hari tampak tidak tidur. Bibi Layla menyadarinya saat tiap ke dapur saat malam ia melihat lampu kamar Ana masih menyala, karna dari arah dapur tampak jendela bagian samping kamar Ana, makanya bisa kelihatan lampunya menyala atau tidak, Ana tidak pernah tidur dengan lampu menyala.
Sesaat setelah itu Louis kembali ke kamar Ana untuk mengecek kondisinya, namun ia justru terlena dengan memandangi Ana. Ia juga dapat melihat Ana tampak gelisah, seperti waktu terakhir mereka menginap di kantor. Waktu itu Ana tidak sadar sama sekali, ia juga menodongkan pistol ke arah Louis saat tersentak bangun, namun kembali tertidur ketika Louis mencoba merangkulnya dalam pelukan dan menepuk punggungnya pelan hingga Ana kembali terlelap tidur. Louis berusaha menahan kantuknya agar Ana dapat tetap tertidur nyenyak di pundaknya. Namun lama lama ia jutsru ketiduran. Itu sebabnya saat pagi Pak Kim melihat Ana tertidur di pundak Louis.
Itulah sebabnya ia kali ini tidak berani lagi meninggalkan Ana saat tertidur. Ia teringat kata-kata Pak Kim waktu itu dan juga kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Mari aku antar ke kamar tamu.." Ana segera mengurungkan niatnya untuk merokok, ia segera menggiring Louis lewat connecting door di sebalik lemari menuju kamar tamu di mansion utama, karena kalau lewat luar akan sangat dingin karena sedang turun salju.
"Wahh ada pintu rahasia juga???" Louis terperanjat melihat pintu itu bisa ada disana.
"Itu sudah ada sejak aku pindah kesini.. ini dulu tempat santai favorit Ayahku.. aku baru tau saat mencari celah untuk menyembunyikan pistol-pistolku itu.."
Kini mereka udah sampai di kamar tamu yang selalu bersih dan siap pakai. Ditambah kamar itu kemarin memang baru saja digunakan Louis.
"Tidurlah disini.." Ana mengatur tombol penghangat ruangan di dinding samping pintu masuk kamar. Lalu Ana segera keluar dari sana.
Saat akan kembali menuju connecting door Ana melihat lampu ujung lorong menyala, lampu itu menuju kamar Bibi Layla. Ana yang penasaran berjalan mendekati arah lorong yang melewati ruang keluarga. Ana mengendap dengan perlahan. Di lihatnya pintu kamar Bibi Layla sedikit terbuka. Disana tampak berantakan sekali. Ana ingin membuka pintu itu namun niatnya tertahan saat mendengar Bibi Layla tengah berbicara dengan seseorang.
"Aku tau... aku akan segera kesana... aku khawatir Ana tau soal ini... dia pasti akan terluka... tidak..dia sekarang tampak baik baik saja setelah bertemu Lucas... hmm... dia tidur di kamarnya dengan Louis.. iya... sepertinya mereka berkencan... setidaknya itu membuatnya lebih baik lagi sekarang..." tiap kata yang diucapkan Bibi Layla tidak terlalu jelas, namun Ana dapat mendengar sepenggal demi sepenggal kata meski Bibi Layla sudah berbisik sangat pelan.
Ana masih berusaha berpikir positif dan mengetuk pintu kamar Bibi Layla, lalu segera membukanya lebar.
"Bibi.." seru Ana lirih.
"A.. Anaa.. ka..kau sedang apa??" tanya Bibi Layla panik.
"Aku baru saja terbangun dan ingin ambil obat sakit kepala di dapur.. aku sedikit pusing.. lalu aku lihat lampu lorong kamar Bibi menyala.." jawab Ana berbohong.
Dilihatnya sekeliling tampak berantakan oleh baju dan tas pakaiannya. "kenapa kamar Bibi berantakan sekali?? Ada apa dengan baju-baju itu..apa Bibi ingin pergi ke suatu tempat??" Ana tampak bingung.
"A..aku ingin mengunjungi teman-temanku di perkebunan teh waktu itu Ana.. aku sangat merindukan mereka.." sahutnya gugup.
"Kenapa bibi tidak mendiskusikannya dulu denganku?? Maaf membuat Bibi bosan selama disini.. maaf aku selalu meninggalkan Bibi di mansion karena terlalu sibuk Bi.." seru Ana masih mencoba berpikir positif pada Bibi Layla.
Tentu saja Bibi nya merasa kesepian karena ia selalu saja meninggalkannya di mansion megah itu hanya dengan pelayan yang juga sibuk bekerja.
"Itu bukan salahmu Ana.. sudah seharusnya kau bekerja keras.. aku hanya ingin menemui teman saja.. tidak akan lama.."
"Berapa lama bibi akan disana?? Aku akan menemanimu.."
"Tidak usah !" tukas Bibi Layla tegas. "Maksudku.. bagaimanapun kau itu seorang pemimpin Ana.. sosokmu sangat menjadi contoh dan panutan di perusahaan, bagaimana bisa kau selalu izin atau cuti.. kau pasti sangat di butuhkan di perusahaan.. jadi jangan hiraukan aku.. aku hanya ingin berlibur.." ia tampak berusaha melarang Ana ikut dengannya.
"Baiklah.. aku akan menyuruh supir mengantar Bibi.."
__ADS_1
"Tidak perlu.. aku sudah memesan tiket kereta dan bus.. pasti akan sangat menyenangkan.. sudah lama aku tidak bepergian seperti ini Ana.." Bibi Layla tampak sangat mencurigakan, dan membuat Ana penasaran sehingga teringat dengan kata Lucas mengenai kedekatannya dengan Dominic dan Grandma Jane.
"Baiklah.. katakan jika bibi membutuhkan apapun padaku.. Bibi masih menyimpan kartu kredit ku kan?? gunakanlah sesukamu.. traktir juga teman-temanmu disana.." Ana mencoba mengikuti alur keinginan Bibi Layla.