
Setelah berkeliling santai, Louis segera mengantar adiknya pulang ke rumah dengan
selamat. Bahkan ia tak singgah ke rumah orang tuanya, karena ia ingin menemui
Ana di apartment. Saat memarkirkan mobilnya di basement, ia tak melihat mobil
Ana terparkir disana. Louis berdiam diri cukup lama di dalam mobilnya hingga
pukul 2 pagi, namun Ana tak kunjung pulang. Saat hendak turun dari mobil, ia
melihat ada sebuah mobil masuk ke basement. Ia bersembunyi di balik stir kemudi
dan mengintip di balik kaca mobilnya. Ia melihat plat mobil tersebut dan
ternyata itu benar mobil Ana. Cukup lama Louis menunggu Ana keluar dari
mobilnya, namun ia tak kunjung keluar dari sana.
Klekkk..
Pintu mobil terbuka perlahan. Ana tampak keluar dari sana. Saat hendak menyusulnya,
Louis melihat ada terdapat banyak noda darah di longcoat cokelat mudanya. Ana
bahkan tampak sangat kesal. Hal itu membuat Louis mengurungkan niatnya.
Namun ia kemudian tersadar, jika tak ada alasan baginya untuk takut pada Ana.
Bagaimanapun Ana tidak akan pernah menyakitinya. Ia yakin itu. Louis dengan
mantap segera turun dari mobilnya, ia segera berlari kecil menghampiri Ana yang
sedang menuju lift.
“Ana..” seru Louis.
Ana menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah belakang dengan tatapan kosong.
“Kau darimana??” tanya Louis lirih. “Kau baik-baik saja?”
“Hmm.. aku habis menemui temanku..” angguknya pelan kembali berjalan.
“Bajumu kenapa??” tanya Louis basa-basi.
“Ah.. tadi aku menabrak kucing di jalan, jadi aku membawanya dan menguburnya di taman..”
“…” Louis hanya diam tak berkomentar hingga mereka masuk ke dalam lift.
“Kenapa?? Apa kau pikir ini darah manusia??” timpal Ana dingin.
“Tidak !!” tukas Louis membantah. “Ana.. maafkan aku soal tadi..”
“Aku sangat lelah.. aku tidak ingin membahasnya.. biarkan kali ini aku lari lagi dari
masalah..” tukas Ana lirih seraya menghela nafas.
“Maaf..” imbuh Louis sungkan.
Kini mereka saling diam selama berada di lift.
Drrttt..drttt..
Ana merogoh sakunya, memeriksa ponselnya.
“Ya?? Benarkah?? Baiklah.. kabari aku selalu..” ujar Ana berbicara di telepon.
Louis berpikir keras, siapa yang meneleponnya selarut ini. Bahkan ia merasa cemburu.
Pintu lift segera terbuka. Mereka segera keluar darisana.
“Mari kita bicara..” ujar Ana kemudian menghentikan langkah Louis.
“Baiklah..” angguk Louis cepat.
*****
Ana dan Louis duduk di balkon apartment Louis. Mereka memutuskan untuk bersantai di sana. Louis membuatkan teh hangat. Louis menatap Ana yang tengah terperangah melihat pemandangan kota dengan tatapan kosong.
“Minumlah..” ujar Louis lirih.
“Terima kasih..” angguk Ana lirih.
“Apa aku boleh tau kau darimana??”
__ADS_1
“Ada yang ingin aku tunjukkan padamu..” timpal Ana mengalihkan. Ana mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah video, lalu menunjukkannya pada Louis. Louis meraih ponsel itu dan melihatnya dengan seksama. Matanya membelalak kaget.
“Siapa penumpang di mobil itu??” tanya Louis kemudian.
“Orang tua angkatku.. Ia adalah putra dan menantu Jane..”
Louis meletakkan ponsel Ana ke atas meja. Ia terdiam.
“Aku baru tau soal video ini.. teman yang baru aku temui yang memberikannya padaku.. dia
bahkan kehilangan kekasihnya karena video ini..” Ana menghela nafas berat.
“Apa yang harus aku lakukan??” gumamnya. “Kenapa hidupku sangat sulit?? Bahkan
aku sudah memiliki segalanya.. kekayaan, kekuasaan, bahkan kekasih yang sangat
tampan..” gumamnya tersenyum kecil.
“Semuanya terasa tak berarti bagiku..” Ana menunduk lesu, ia mengusap jam
tangan peninggalan Thommas yang tengah ia kenakan.
“Bahkan aku merasa jika kematian lebih baik daripada kehidupan seperti ini..”
air matanya menitik tepat di atas jam tangan itu.
“Ana..”
“Pernahkah kau merasa lelah denganku, Lou??” tanyanya menatap Louis intens.
Louis menggeleng cepat.
“Aku mohon,jawablah dengan jujur sekali ini saja..”
“Aku tidak pernah lelah denganmu Ana, aku hanya berharap kita bisa memiliki hubungan yang
normal, pergi berkencan, dinner ke tempat romantis.. bukan bertemu dengan melihat tubuhmu terus penuh luka..”
Ana mengangguk mengerti.
“Ini sulit untukku Lou.. hubungan ini sangat sulit untukku..” gumam Ana menimpali.
“Ana..”
bahkan lebih mengerikan dari ini.. nyawa manusia tak berarti bagiku.. bahkan
aku tidak pernah punya penyesalan apapun setelah menghabisi mereka..”
Louis tertegun, bibirnya bergetar.
“Alkohol,narkoba, darah, uang, emas.. aku hidup dengan itu.. jika mereka mencuri dariku,
aku mengambil kedua tangan mereka, bahkan tangan anak istri mereka, serta kakek
nenek mereka.. jika mereka mengkhianatiku, aku memenggal kepala mereka, jika
sedang berbaik hati aku akan mengakhiri itu dengan cepat.. menembak kepala
mereka.. lalu membuang mayat itu ke lubang buaya atau ke laut..”
Louis tampak menunduk lesu. Ia tampak menangis. Louis tertunduk lesu dan terlihat tengah terisak pelan.
“Tidak ada yang bisa menghentikanku, Lou.. Polisi? Semua ada di genggamanku.. tapi..
sekarang semua telah berubah dan terasa sangat berbeda.. bahkan kini aku sering menangis..” lagi-lagi Ana menghela nafas.
“Orang-orang mengkhianatiku, mencuri dariku dan merendahkanku.. apa menurutmu
aku harus diam?? Kau tidak akan menemukan orang sepertiku di luar sana , Lou..
tapi kau akan menemui banyak penjahat yang lebih keji dan serakah di luaran
sana yang lebih mengerikan dari aku.. mereka berkedok sebagai pemimpin, sebagai
pelindung, sebagai pejuang, tapi aslinya mereka iblis yang sedang menyamar..
mereka akan menggerogoti semuanya tanpa ampun dan tanpa rasa puas..”
“Lalu apa yang kau inginkan dariku??” imbuh Lou kemudian.
“Lepaskan aku..” gumam Ana lirih. Matanya tampak berkaca-kaca.
Sontak tangis Louis pun pecah. Ia menangis tertunduk. Ia bahkan menangis terisak tak
__ADS_1
tertahankan. Ia terus menggeleng tak menerima permintaan Ana.
“Aku tidak bisa melakukannya..” gelengnya lirih.
“Aku tidak akan meminta putus atau berpisah darimu.. karena aku sudah terlalu sering mengatakannya.. kali ini.. aku ingin kau yang mengakhirinya..” imbuh Ana dengan bibir bergetar. Louis memeluk Ana erat dan menangis dalam pelukannya.
“Aku akan melakukan apapun untukmu.. aku akan baik padamu.. tapi aku mohon
jangan pergi dariku..”
“Hidupku selalu berada dalam 2 pilihan Lou, aku selalu harus memilih tak peduli seberapa
keras usahaku untuk hidup lebih baik lagi.. tapi aku selalu terjebak dan jatuh
dalam lubang yang sama.. kini aku memilih hidupku dan melepasmu.. kau sudah
melihat semuanya, kau tau semuanya.. aku tidak akan meminta kau untuk bertahan
dan mengerti aku.. kau sudah cukup menderita karena aku.. dan jika aku biarkan..
itu akan membahayakan nyawamu..” Ana melpaskan pelukan Louis perlahan.
“Lihat aku..” pinta Ana menatap Louis intens.
Louis ~~~~menggeleng, ia terus menunduk.
“Aku mohon lihatlah aku..” Ana terus berusaha tegar menghadapi Louis. Ia menangkup wajah
Louis lembut.
Louis mengusap air matanya, berusaha menahan tangisnya dan membalas tatapan Ana yang
terlihat sendu dan sangat menyedihkan.
“Terima kasih kau sudah hadir di hidupku.. kau satu-satunya orang yang membuat hidupku
berarti.. tapi kita hidup di dunia yang berbeda, Lou.. aku tidak bisa hidup
dengan ketakutan akan keselamatanmu.. atau hidup dengan rasa bersalah jika
sesuatu terjadi padamu.. kau ingat kejadian di pelabuhan waktu itu?? Luka
ini??” tanya Ana memperlihatkan bekas luka di telapak tangannya.
“Bekas luka ini yang selalu menyadarkanku untuk berhenti.. aku tidak peduli
berapa banyak luka yang aku dapatkan.. tapi itu terasa sangat menyiksa jika
melihat kau yang terluka..”
“Beri aku kesempatan.. beri aku waktu.. aku akan mencari tempat paling aman dimanapun itu
berada, aku akan membawamu tinggal di sana, kita akan meninggalkan semua
kekejaman dan kegilaan di negara ini dan hidup bersama di sana.. aku akan
membawamu keluar dari marabahaya ini, jadi.. tolong beri aku waktu..” kicau
Louis berusaha melunakkan keputusan Ana.
“Akulah kekejaman dan kegilaan itu, Lou.. aku lah penyebab marabahay ini.. kemanapun
kita pergi, kau tidak akan pernah selagi itu bersamaku.. tidak ada tempat di
bumi ini yang aman untukku..”
“Aku mohon !!” bentak Louis keras. “Aku mohon.. beri aku waktu..” ia menggenggam kedua
tangan Ana sangat keras.
“Tidak ada waktu yang bisa aku berikan padamu..” Ana melepas genggaman Louis perlahan.
“Kekejaman dan luka yang paling menyakitkan dalam hidupku saat ini adalah
takdir ini, Lou..”
Mchhh..
Louis mencium Ana dalam. Ia membungkam bibir mungil itu dengan ciuman terakhir perpisahan mereka. Ciuman yang berarti sangat tragis.
“Aku mencintaimu, Ana.. aku hanya akan mencintaimu sampai akhir sisa hidupku.. kau adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidupku.. aku akan selalu mendoakan keselamatn dan kebahagiaanmu selamanya..” gumamnya lirih menitikkan air mata kesedihannya.
****
__ADS_1