Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 130 : She's Back !!


__ADS_3

Ana selama dua hari belakang hanya mengurung diri di mansion sambil menyusun rencana untuk menemukan Layla, ia bahkan tidak bisa melacak keberadaan B1. Ia kini tengah kekurangan personel karena Jane telah memecat banyak anak buahnya demi Ana. Jane membayar 2 orang anak buah handalan untuk mengawasi Ana. Namun Ana justru mengirim mereka untuk mencari keberadaan B1 dan Layla.


"Aku akan membuat mereka datang padaku.." batinnya segera meraih ponselnya di atas meja, mencoba menghubungi Pak Kim.


"Halo Ms.Grey.." jawabnya ramah segera menjawab panggilan itu.


"Just Ana !! Pak Kim.." tukas Ana dengan nada menggerutu.


"Maaf.." ujarnya cepat setelah sadar dengan kebiasaan lamanya yang kini tak di sukai Ana.


"Pak Kim.. bisakah kau membantuku membooking tempat gym di GC Hotel?? beberapa alat gym-ku rusak.. sepertinya karena sudah aku abaikan terlalu lama.. mereka tampak merajuk padaku.. aku rasa mereka ingin menghukumku dengan membiarkan lemak jahat menggerogiti tubuhku ini.." gerutu Ana berusaha melucu.


"Lemak mana yang anda maksud?? Lihatlah anda sudah sangat kurus sekarang.. makanlah yang banyak.." gerutu Pak Kim tidak membenarkan kicauan Ana.


"Setidaknya aku masih membutuhkan otot-ototku untuk menakuti para musuhku Pak Kim.." jawab Ana membela diri.


"Hahaha.. baiklah.. saya akan menghubungi staff hotel.. saya akan segera menjemput anda.."


"Hmm.. tidak usah, kau bukan sekretarisku lagi.. jadi jangan pedulikan aku.. aku akan kesana sekarang.. cukup bantu aku dengan mengosongkan ruangan gym itu.. "


"Baiklah.. saya mengerti.. lagi pula, saya rasa anda hanya tinggal datang kesana, mereka semua pasti langsung mengenali anda.."


"Bagaimanapun aku harus mendapat izin presdir nya.." goda Ana.


"Anda tidak butuh izin apapun dari saya untuk mendapatkan akses penuh disana, kepemilikan GC Hotel masih atas nama anda.."


"Apa maksudmu??"


"Saya membatalkan pengalihan GC Hotel.. karena sampai kapanpun saya tidak berhak atas hotel itu.. Tuan Thommas membangun GC Hotel memang khusus untuk anda.. karena ia pernah berkata jika anda sangat tertarik dalam bisnis perhotelan, itu sebabnya ia mengembangkan sayap di bisnis perhotelan, dia berharap anda yang akan mengelola semuanya suatu saat nanti.. itu sebabnya saya membatalkan pengalihan hotelnya tanpa sepengetahuan Nyonya Jane.." jelas Pak Kim panjang lebar.


"Kau tidak perlu melakukan itu Pak Kim.. tapi.. baiknya aku sekarang merasa sedikit lega, karena setidaknya aku tidak benar-benar miskin sekarang hahahaha.." ujar Ana bercanda dengan gelak tawanya.


Pak Kim pun ikut tertawa lepas mendengar ujaran Ana.


"Kalau begitu aku jalan sekarang.. pastikan mereka tau aku akan kesana agar tidak membuat keributan apapun.."


"Baiklah.. hati-hati di jalan.. saya akan menyusul anda setelah jam makan siang.." sahut Pak Kim.


"Jangan khawatir.. selesaikan saja pekerjaanmu.."


"Tentu saja.."


Ia pun bergegas pergi menuju GC Hotel dengan pakaian gym nya. Ia menyewa taksi vip karena kini tak memiliki mobil pribadi setelah di jual habis oleh Pak Kim atas perintah Jane.


***


Setibanya di lobi GC Hotel, Ana di sambut hangat para staff, sebagian staff juga tampak kaget dengan kehadiran Ana disana.


"Selamat datang Ms.Grey.." sapa mereka bergantian.


"Senang bertemu anda kembali Ms.Grey.."


"Thank you.." sahut Ana berusaha ramah, sambil melangkah lebar seraya terus menunduk.


Banyak pasang mata kaget melihat kehadiran Ana, di tambah dengan penampilan rambut barunya serta berat badannya yang terlihat turun drastis. Mereka saling berbisik setelah Ana melalui mereka dan menuju lantai 5 tempat gym, spa & sauna serta kolam renang berada.


---------------------


"Irene !!" Seru seniornya ramah sambil menyodorkan sebuah totebag berisi parfum pria yang sangat mahal padanya.

__ADS_1


"Apa ini?" Tanya Irene canggung.


"Tolong berikan ini pada kakakmu ya.." mohonnya dengan wajah melas, padahal sebelumnya ia selalu saja menyiksa Irene dengan berbagai cara karena rasa iri pada juniornya itu.


"Kakakku sudah punya parfum favorite nya sendiri.. bahkan itu limited edition.. dia tidak akan mau menggunakan ini.." elak Irene berusaha menolak hadiah itu.


"Berikan saja.. minimal dia akan menyimpannya kan.." pintanya penuh keyakinan.


"Hmm.. baiklah.." jawab Irene pasrah.


"Ehhh Irene.. bukankah kau dekat dengan Ms.Grey??" Tambahnya lagi.


"Tidak juga.." geleng Irene berbohong.


"Pantas saja kau tidak tau apa-apa.." gumamnya lirih sambil meledek.


"Tau soal apa?" Tanya Irene penasaran.


"Kau benar-benar tidak tau?? Ms.Grey telah kembali.. semua orang sudah melihatnya.. dia sekarang berada di lantai 5.. Bahkan ruang gym tengah di kosongkan karena Ms.Grey sedang menggunakannya, tentu saja hal itu atas perintah Presdir Kim.."


"A..apa? Apa aku tidak salah dengar.." sontak Irene kaget mendengar pernyataan seniornya.


"Ah.. kau ini.. bahkan dia tampak semakin kurus dari sebelumnya, dia juga memangkas pendek rambutnya, dia kembali dengan tampilan yang benar-benar beda, bahkan aku bisa melihat ada banyak tato di tubuhnya.. aku tidak pernah tau kalau dia mengoleksi tato di tubuhnya.. wahh dia benar-benar semakin sexy dan mempesona.." kagum seniornya terpesona.


"Apa dia merubah penampilannya setelah patah hati karena tunangannya itu?? Semua orang bergosip kalau dia bertingkah aneh dan berbeda setelah batal menikah.."


"Kau tidak tau apa-apa soal Ms.Grey.. berhenti menggunjingkannya.." celetuk Irene kesal mendengar tuduhan tak berdasar seniornya itu.


Irene kembali tertegun, ia memikirkan apa yang akan terjadi dengan Ana dan kakaknya nanti, jika Ana benar-benar telah kembali, ia hanya bisa berharap mereka dapat kembali bersama, bagaimanapun kakaknya sangat menyukai Ana.


"Menurutmu.. apa dia akan kembali menjadi Presdir? Wah.. kasihan sekali Pak Kim, dia akan kembali menjadi sekretarisnya.."


"Diam kau.. sudahlah.. kembali bekerja.." tegur Irene ketus, memang kini jabatan Irene sudah jauh lebih tinggi di banding seniornya itu. Jadi, kini dia bisa membungkam mulut siapa saja yang berkata omong kosong atau kurang ajar disana.


Irene akhirnya memberanikan diri menuju lantai 5 untuk melihat sendiri kehadiran Ana.


Setibanya di lantai 5, ia segera menelusuri lorong menuju ruang gym di sisi kiri bangunan hotel. Ia berdiri di pintu kaca berusaha mengintip ke dalam, dan benar saja, ia dapat melihat Ana disana tengah berlatih mengangkat barbel dengan kedua tangannya. Ia tampak sangat kurus dengan rambut sebahunya.


Irene mematung di depan pintu, matanya berkaca-kaca, bagaimanapun ia sangat merindukan sosok Ana yang baik dan hangat.


Ana menghentikan kegiatannya ketika ia mendapati Irene tengah berdiri di depan pintu dari pantulan cermin di depannya. Ana menoleh ke arah belakang, memastikan jika Irene benar-benar berdiri di sana. Kemudian ia meletakkan barbel itu ke tempatnya dan berjalan santai sambil menenggak air mineral menuju pintu arah Irene.


Irene yang sadar akan hal itu tampak menatapnya bingung, hingga Ana membuka pintu itu lebar-lebar. Ia justru tampak tersenyum mengembang.


"Kak Ana.." imbuhnya lirih.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ana tersenyum canggung.


"Ini.. benar benar dirimu?" Matanya tampak berkaca-kaca


"Tentu saja.. apa aku tampak mengerikan?"


"Ti..tidak.. maksudku.. kau benar-benar sudah sembuh??"


"Ahh.. Apa Pak Kim memberitahu kalian soal itu??" Tebak Ana.


"Hmm.. dia memberitahu ibuku saat berada di rumah sakit.. ngomong-ngomong, apa kakak tau soal kecelakaan kak Louis??"


"Hmm.. tentu saja.. aku melihat beritanya.." angguk Ana berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


"Apa kakak sudah benar-benar sembuh?" Tanya Irene penuh khawatir sambil meyakinkan.


"Hmm.. tentu saja.." angguknya cepat.


"Itu sebabnya aku ingin kembali berlatih agar aku tidak terlihat menyedihkan dengan tubuh kurus kering ini.." gelak Ana tertawa canggung.


Irene sontak memeluk tubuh Ana yang penuh keringat.


"Syukurlah !! Aku benar-benar lega sekarang kak.. aku senang kakak sudah kembali.." isak tangisnya pun pecah.


Ana mengusap hangat punggung Irene. "Aku pun senang bisa kembali kemari.."


"Apa kakak akan menetap selamanya disini? Maksudku.. kakak tidak akan pergi lagi kan??"


"Aku belum tau soal itu.." geleng Ana ragu melepas pelukan Irene lembut.


Irene terdiam menunggu penjelasan Ana dengan mata sembabnya.


"Setidaknya aku akan berada disini dalam waktu yang cukup lama.." jelasnya mempersingkat.


"Baiklah.. aku benar-benar lega kak.." angguknya lega.


"Bagaimana kabar orang tuamu?"


"Ah.. tentu saja mereka sangat mengkhawatirkanmu.. ibu selalu menanyakan kabarmu pada Pak Kim.. mereka pasti akan senang jika tau soal ini.."


"Irene.. Bisakah.. kau tetap merahasiakannya dari Louis?"


"Memangnya kenapa kak?"


"Aku tau dia mengalami amnesia sementara  tapi aku ingin dia tetap terus melupakan aku.. aku tidak ingin dia mengingatku lagi.."


"Kak Ana.." Irene ternganga mendengar permintaan Ana.


"Aku tau dia pasti kesulitan atas apa yang aku lakukan padanya.. jadi.. aku harap dia benar-benar melupakan aku.. setidaknya itu membuatku merasa sedikit lega.."


"Apa kakak sekalipun tidak pernah menyukai kak Louis?"


Deg !!


Ana tersentak mendengar pertanyaan Irene.


"Hmm.." angguknya cepat.


"Aku.. tidak pernah sekalipun menyukainya.. aku pernah mencobanya.. tapi aku rasa itu tidak berhasil.." ujar Ana berbohong.


"Apa kakak yakin?"


"Hmm.. tentu saja.." angguknya lagi-lagi berbohong.


Irene hanya mengangguk pelan. Lalu matanya tertuju pada pergelangan tangan Ana. Ternyata Ana masih mengenakan gelang couplenya. Irene yakin jika Ana menyukai Louis, namun ia masih tampak ragu dengan perasaannya. Bagaimanapun ia tetap harus menghargai keputusan yang dibuat Ana.


"Dia sangat menyukaimu.. sedetikpun dia tidak pernah berhenti memikirkanmu, sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi.." gumam Irene lirih menatap Ana lekat-lekat.


"Maafkan aku.. kau pasti kecewa padaku.."


"Ah.. aku.. hanya ingin kakak tau ketulusan kak Louis.. lagipula kakak tidak perlu minta maaf padaku.. tentu itu privasi kalian berdua.. aku hanya berharap kalian bisa selalu bahagia.."


"Terima kasih Irene.. aku pun berharap begitu.. Louis bisa hidup bahagia.. bahagia tanpa ada aku di hidupnya.."

__ADS_1


--->> ilustrasi foto Ana



__ADS_2