Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 202


__ADS_3

Ana mendapat perlakuan khusus. Saat para napi di beri tugas bersih-bersih. Ana di biarkan berada di ruang olahraga seorang diri dan di awasi 2 sipir penjaga. Ia sudah menghabiskan waktu 3 jam di sana. Ia melatih dirinya habis-habisan.


Kriiiinggg..


Dering peringatan jam makan siang berbunyi keras. Para napi di giring menuju ruang makan. Mereka berbaris rapi untuk mengantri makanan. Ana berada di tengah-tengah antrian. Ia menolak untuk di bantu para sipir. Ia ingin mengawasi para napi yang hendak menyerangnya.


Setelah tiba di antriannya, seseorang menepis nampan yang tengah Ana pegang.


"Halo Ms. Grey.. Ternyata ini benar kau.." sapa seseorang sinis. Semua orang menatap ke arah mereka.


Ana melihat wanita itu dengan seksama. Wajahnya tampak tidak asing baginya.


"Apa kau wanita yang makan sampah itu?? Hahaha.." gelak Ana tertawa terbahak-bahak.


"Ternyata kau masih mengingatku.." ujarnya.


"Tentu saja.. Aksimu saat itu menjadi kesan pertama yang sangat berarti di perusahaanku.." timpal Ana terkekeh.


"Seharusnya ku tikam kau saat itu dengan benar.." geramnya mengeretakkan gigi.


"Lalu bagaimana denganmu?? Bagaimana kau bisa berakhir disini?? Bukankah seharusnya kau berada di kampung halamanmu?? Ah.. Apa jangan-jangan kau masih mengejar-ngejar mantan kekasihmu waktu itu??" ledek Ana menerka-nerka.


"Cih.. Kau bahkan masih bisa tertawa setelah di penjara disini?? Aku dengar kau juga membunuh dan melukai banyak orang.. Sudah ku duga kau psikopat berkedok malaikat.." gerutu Wanita itu menyeringai.


Ana hanya berkacak pinggang dengan santai. "Apa kau sudah selesai mengoceh?? Aku ingin mengambil jatah makan siangku.." keluh Ana lirih.


"Kau lapar?? Sepertinya ada makanan yang lebih pantas untuk kau makan.." imbuhnya melihat rekan-rekan di sekeliling mereka. Ternyata wanita mantan karyawan Ana itu telah bersekutu dengan 2 geng yang menghajarnya sejak awal. Mereka tampak mendekati Ana. Bahkan beberapa anak buah mereka menahan sipir yang hendak menghentikan mereka. Mereka tak segan-segan memukuli sipir yang ingin menyelamatkan Ana.

__ADS_1


Ana segera di seret paksa. Ia kalah jumlah dan bobot badan mereka 2 sampai 3 kali lipat dari tubuh Ana. Ana di seret hingga sesekali tubuhnya terangkat-angkat. Ia terus berusaha berontak.


Ia di bawa ke kamar mandi yang ada di gedung lama lapas. Gedung itu sudah lama terbengkalai. Septiteng nya bahkan telah terbuka dan mengalami sedikit longsor. Bau menyengat yang sangat menjijikkan membuat semuanya mual. Tak jauh di sana juga terdapat tumpukan sampah dari lapas. Saat itu semua sampah belum di olah ataupun di singkirkan untuk di daur ulang.


Wanita tadi tampak menyeret sekantong plastik sampah yang berisi sisa makanan selama satu hari sebelumnya. Ia berjalan seraya menatap Ana dengan tatapan penuh kemenangan. Sementara 2 orang wanita lainnya tampak tengah bersusah payah menimba kotoran di dalam septitenk di dekat sana.


"Ah.. Apa kalian bersekongkol untuk menyerangku??" gumam Ana menebak situasinya.


"Aku akan memberimu kesempatan.. Bertekuk lututlah.. Cium kakiku dan meminta maaf padaku.. Maka aku akan memaafkanmu.. Setidaknya aku masih punya sedikit belas kasihan dan hati nurani.." imbuhnya lirih.


"Bukankah lebih baik mati daripada bertekuk lutut padamu??" celetuk Ana dingin. Sorot matanya berubah menakutkan.


"Lihatlah sorot matanya.. Aku benar-benar ingin mencongkel mata itu keluar dari sana dan memakannya.." geram Wanita itu menyeringai sangar.


"Seret dia kemari.." perintah wanita itu kemudian pada sekutunya.


Plakkk.. Plak.. Plakkk..


wanita tadi menampar Ana kiri-kanan-kiri dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas tangannya di pipi putih pucat Ana. Ana hanya tertawa kecil menahan emosinya yang sudah tak terbendung lagi.


"Seharusnya, waktu itu kau memberiku kesempatan !!" pekiknya marah.


Gelak tawa Ana semakin keras. Matanya kini memerah dan berair. Ana benar-benar berusaha keras menahan emosinya yang telah memuncak.


Bukk.. Bukk.. Bukk..


Wanita itu kembali menyerang Ana. Menandang dada Ana keras. Dan pukulan terakhirnya mengenai pelipis mata kiri Ana hingga mengalami luka terbuka dan berdarah.

__ADS_1


"Bajing*n !! Si*l*n !!! Wanita J*l*ng !!!" pekiknya terus memaki Ana tanpa henti. Darah kini mengalir di sisi kiri wajah Ana.


"Sebaiknya kau mati saja !!" ujarnya kemudian mencekik Ana keras. Ia menendang tubuh Ana keras, hingga ana terjatuh tertelentang ke arah belakang. Mereka segera memukul dan menginjak-injak Ana. Mereka mengeroyok Ana hingga babak belur.


Wanita bertubuh kurus itu melerai semuanya. Ia segera menduduki tubuh Ana dan mencekiknya keras. Sekutunya yang lain beramai-ramai menahan tangan dan kaki Ana agar ia tak bisa melawan.


Ana masih berusaha berontak dengan semua sisa tenaganya. Namun cekikan itu semakin menyiksa dan mematikan. Dadanya semakin sakit. Ia semakin kesulitan bernafas. Pandangannya mulai buram.


Priiiittttt !!!!!


Suara peluit sipir terdengar nyaring. Segerombolan petugas berlarian menhampiri mereka. Wanita itu masih tetap mencekik Ana keras meski telah mendapat serangan pukulan dari para petugas. Ia tak menyerah. Terakhir ia terkalahkan oleh alat kejut yang menyentrumnya hingga jatuh terjerembab ke tanah. Ana segera di selamatin oleh 2 orang sipir yang segera memapahnya pergi, namun wanita lainnya kembali menerjang Ana. Mereka menyiram tubuh Ana dan kedua sipir itu dengan ember berisikan kotoran manusia.


Mereka yang melihat itu tertawa puas. Sipir lain segera memukuli para wanita itu dengan pentungan.


...****************...


Ana menolak untuk bertemu dengan siapapun. Kepala sipir, kepala polisi. Siapapun. Ia mengurung dirinya. Bahkan ia menolak makan siang di luar. Ia mengurung dirinya di dalam sel. Ia tak melakukan apapun di sana. Sesekali ia berlatih, melatih ototnya yang sudah lama terbentuk.


3 hari kemudian. Ana mendapat panggilan untuk putusan ke pengadilan. Ia terkejut mendengar kabar itu. Karena jadwal putusannya masih 2 minggu lagi. Pagi itu tiba-tiba Ana di minta untuk ikut bersama napi yang lain menuju pengadilan. Bahkan tubuhnya masih tercium aroma menjijikkan dari kotoran kemarin.


Ana di berikan satu set stelan blazer untuk ia kenakan saat di pengadilan. Setibanya di pengadilan. Lagi-lagi Ana menolak untuk bertemu siapapun. Ia menolak semua orang. Bahkan termasuk kakaknya Lucas. Lucas di buat panik dan khawatir.


Setelah semua orang berkumpul dalam ruang sidang. Ana segera masuk ke dalam sana di iringi 2 petugas. Ia berjalan dengan tatapan kosong menuju kursi terdakwa. Saat memasuki ruang sidang ia tertegun sesaat saat ia melihat Lucas, Pak kim dan Louis ada di sana.


Mereka terkejut melihat kondisi wajah Ana yang babak belur. Ana menatap mereka bergantian dengan tatapan kosong. Louis bahkan tampak menitikkan air matanya.


...****************...

__ADS_1


Hai aku kembali !!!!!!!!!!!! aku akan segera menyelesaikan novel ini dengan tuntas !! maafkan aku !!


__ADS_2