Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 103 : Penampilan Baru Ms.Grey


__ADS_3

Louis tengah mengemas bekal untuk di bawa kerumah sakit, ia berencana membawakan beberapa menu sarapan yang ia masak sendiri untuk Pak Kim.


Ketika Pak Dong telah sampai menjemputnya, mereka pun segera bergegas pergi.


Louis berdiri cukup lama menatap pintu apartment Ana yang di silang dengan garis polisi berwarna kuning.


"Ayolah.. kita harus bergegas.. kita masih harus mengunjungi Pak Kim.." ujar Pak Dong mengeluh.


"Baiklah.."


Selama perjalanan Louis hanya berdiam diri.


"Apa Ms.Grey masih belum menghubungimu??" Tanya Pak Dong memecah keheningan.


"Belum.. tapi tadi malam dia menelepon Pak Kim.. aku belum sempat bicara dengannya, namun ia sudah mematikan panggilannya.."


"Pasti dia sedang sangat sibuk.. maklum saja.. kan sudah pernah aku katakan.. hubungan kalian ini tidak akan mudah.. kau tau dia wanita seperti apa?? Dia sangat penggila kerja, bahkan waktu di rumah sakit dulu, kondisinya sudah sangat memprihatikan tapi dia masih tetap mengurus pekerjaan.. tentu pekerjaan nomor satu baginya.. dari yang aku dengar dia bahkan sudah menolak banyak perjodohan dari Nyonya Jane neneknya selama di negara L.. dan apa kau tau?? Bahkan mereka bukan orang yang biasa.. ada yang anak presiden, pangeran kerajaan, miliyarder.. namun semua di tolak mentah-mentah olehnya.. si brengs*k Franz itu yang sangat beruntung bisa sempat bertunangan dengannya.. walaupun akhirnya dia juga berakhir tragis.. karma benar-benar membalas perbuatan jahatnya pada Ms.Grey.. dia kehilangan wanita hebat seperti Ms.Grey, kemudian kehilangan perusahaannya.. bukankah itu benar-benar mengerikan??? Jadi sebaiknya kau pikirkan baik-baik apa hubungan ini tepat atau tidak.. aku tidak membencimu ataupun Ms.Grey.. bahkan aku sendiri sangat menyukainya.. tapii.. kau harus memikirkan lebih jauh lagi.. banyak hal yang harus kau pertimbangkan.." jelas Pak Dong panjang lebar.


Louis teringat dengan panggilan masuk dari nomor ponsel Dokter Nam tadi malam di ponseo Pak Kim.


"Ada yang aneh.." gumam Louis lirih.


"Tentu saja ada yang aneh.. dia wanita yang sulit ditebak.. pasti hubungan kalian akan terasa sangat aneh.." celetuk Pak Dong lagi.


"Tidak.. bukan itu maksudku.. tadi malam dia menelepon Pak Kim, namun.." Louis menghentikan ucapannya. Ia berpilir keras. Lalu mata indah membulat membelalak seperti teringat sesuatu.


"Dokter itu.. aku ingat sekarang siapa dokter itu.." seru Louis mengingat siapa dokter Nam tersebut.


****


Dokter Nam masuk bersama Dita sang perawat untuk menjemput Ana menuju ruang terapi. Namun mereka tidak menemukan Ana bersama tiang infusnya. Mereka segera mengecek pintu kamar mandi yang terkunci.


Dokter Nam menggedor-gedor pintu itu.


Klek..


Pintu terbuka pelan.


Dokter Nam dan perawat itu terbelalak kaget melihat Ana. Rambutnya berserakan di lantai. Ia memotong pendek rambutnya dengan pecahan cermin di tangan kanannya, hingga tangannya terluka.


"Ms.Grey !!" Pekik dokter itu segera menghampiri Ana dan mengambil cermin itu dari tangannya.


"Aku kesal karena rambutku rontok.. jadi aku memotongnya.." ujar Ana lirih tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Saya bisa memanggilkan penata rambut terbaik di negara ini untuk anda.. kenapa harus melakukannya sendiri.." ujar Dokter itu menyeka sisa-sisa rambut yang melekat di jubah mandi Ana.


"Aku sangat kesal.." gumam Ana lirih.


"Cepat ambil jubah mandi yang baru..." perintah Dokter itu pada Dita yang segera bergegas pergi.


"Ini sangat berbahaya Ms.Grey.." gerutu Dokter Nam berusaha menyeka sisa rambut di jubah Ana.


Tak lama Ana keluar dari kamar mandi setelah ia mandi membersihkan bekas potongan rambut yang melekat di tubuhnya. Ia kembali mengenakan pakaian rumah sakit, ia di papah Dita menuju tempat tidurnya.


Dokter Nam tampak mengambil antiseptik dari box alumunium di meja, menyekanya ke telapak tangan Ana yang terluka, lalu membungkusnya dengan perban, karna lukanya tersayat panjang dan cukup dalam.


"Aku tidak apa-apa.." ujar Ana berusaha menarik tangannya.


Namun dokter Nam menahannya.


"Ini juga bisa berakhir buruk jika tidak di obati dengan benar.." tukas Dokter Nam dingin.


"Apa Pak Kim sudah datang??" Tanya Ana datar.


"Ah.. iya dia sudah datang.. tapi.. dia hanya menitipkan barang-barang anda padaku.." ujar dokter Nam berbohong.


Padahal ia tau kondisi Pak Kim saat ini, karena Pak Kim tengah di rawat di lantai 5. Bahkan ia sudah berbincang dengan Pak Kim. Pak Kim meminta sedikit bantuan darinya.


"Kenapa ia tidak masuk??" Tanya Ana bingung.


"Dia akan menelepon anda nanti jika sudah tiba disana.." tambahnya lagi lalu menyodorkan totebag berisi ponsel dan dompet Ana.


"Bahkan ia tidak membawakan buku-buku untukku.." gerutu Ana lirih mengintip ke dalam totebag itu.


"Apa perlu saya membelikannya untuk anda??" Tanya Dokter Nam menawarkan diri.


"Ah.. tidak perlu.. nanti akan aku pesan sendiri.." geleng Ana pelan.


"Baiklah.. mari sekarang kita ke bawah.. kita akan memulai kemoterapi pertama anda hari ini.. anda sudah siap kan??" Ujar Doktern Nam hangat.


"Hmm.." angguk Ana pelan.


****


Setibanya di lobi rumah sakit, Louis segera menghampiri meja informasi.


"Permisi.. apa dokter Nam ada??" Tanya nya ramah dengan penyamaran menggunakan masker dan topi hitam seperti biasa.

__ADS_1


"Ah.. tentu.. tapi beliau sedang ada jadwal praktek hingga sore hari.." jelas perawat itu setelah memeriksa jadwal Dokter Nam di komputer yang ada di depannya.


"Ah.. begitu.. bolehkah saya meminta nomor ponselnya??" Tanya Louis ramah.


"Tentu saja.." perawat itu lalu mengambil selembar kartu nama dari laci mejanya. Lalu menyodorkannya pada Louis.


"Ini Tuan.."


"Terima kasih banyak.." ujar Louis segera berlalu.


Ia segera menyimpan nomor ponsel Dokter Nam.


Kemudian ia teringat sesuatu.


"Permisi.. hmm.. apa boleh bantu saya cek pasien rawat inap?? Saya sedang mencari saudara saya atas nama Anavalia Grey??" Ujar Louis lagi.


Kemudian perawat itu memeriksa data pasien di komputernya. Ia memeriksa cukup lama.


"Maaf Tuan.. tidak ada pasien rawat inap disini atas nama tersebut.." ujar perawat itu lagi.


"Benarkah?? Apa sudah di cek ke semua kamar?"


"Tentu saja Tuan.."


"Baiklah kalau begitu.. terima kasih banyak.." Louis segera pergi.


Tentu saja perawat tidak bisa menemukannya karena Ana menggunakan nama samaran, dan data diri yang di palsukan.


Pak Dong lalu datang menghampirinya.


"Ada apa lagi??" Tanyanya tampak suntuk.


"Aku ingin memastikan sesuatu.." jawab Louis murung.


'Apa ini?? Bagaimana tadi malam Ana bisa menelepon Pak Kim dengan nomor dokter Nam?? Aku yakin benar ini nomornya.. apa dia tidak di rawat disini?? Apa mungkin di rawat di hotel?? Atau di mansion?? Ah tidak.. tidak.. di mansion ada Grandma Jane.. lalu dimana dia?? Apa sebenarnya yang terjadi??' Louis berpikir keras dalam hatinya yang gusar.


Setelah pintu lift terbuka, mereka segera berbelok ke arah kanan, menuju ruang rawat Pak Kim. Tak lama pintu lift di sebelah yang mereka naiki juga terbuka, tampak seorang dokter, perawat dan pasien yang tengah duduk di kursi roda.


Sekilas Louis melihat ke arah pasien itu sambil berjalan santai.


Namun langkahnya terhenti. Ia kembali melihat ke arah pasien itu, namun tak terlihat begitu jelas karena ia tertutup oleh tubuh perawat tadi.


Louis merasa melihat wajah Ana, namun mengingat potongan rambut pendek pasien itu yang tampak compang camping membuat Louis kemudian ragu.

__ADS_1


"Lou.. cepat kemari.. apa yang kau lihat??" Seru Pak Dong menyadarkan Louis dari lamunannya.


Louis yang tersadar segera setengah berlari menghampiri Pak Dong, lalu segera masuk ke kamar rawat Pak Kim.


__ADS_2