
Malam itu semua berkumpul di ruangan Ana. Pak Kim, Bibi Layla, dan Louis. B1 sudah melapor telah menangkap pria itu dan mengamankannya ke basecamp mereka. Pria itu masih tutup mulut meski sudah diberi pelajaran habis habisan oleh B1. Hal itu membuat Ana hilang kesabaran. Ia memutuskan untuk menemui orang itu, Ana tampak mengenakan sweaternya setelah mendapat pesan dari B1.
"Kau mau kemana?" tanya Louis curiga.
"Aku harus pergi.. ada yang harus aku urus.." ujar Ana mengancing sweaternya.
Bibi Layla memegang lengan Ana lembut. "kondisimu sedang tidak baik Ana.."
"Aku baik-baik saja Bi.." Ana melepas pegangan tangan Bibi Layla.
"Aku akan mengantarmu.." ujar Pak Kim lirih.
"Aku akan pergi sendiri Pak Kim.." geleng Ana pelan.
"Kau sudah gila?? Biar aku yang menemanimu.." tukas Louis tegas.
"Kau akan menyusahkanku.." celetuk Ana sinis.
"Jangan menyepelekanku.." Louis menarik tangan Ana segera pergi keluar.
Selama perjalanan Ana hanya diam. Ia sudah menyetel alamat yang akan dituju di gps mobil Louis agar ia tidak banyak tanya lagi. Saat sudah memasuki kawasan hutan ia mulai tampak panik.
"Kau yakin ini jalan yang benar?" tanyanya gugup.
"Hmm.." angguk Ana pelan.
"Kau yakin?"
"Apa kau takut? Sudah ku bilang tidak perlu ikut.." gumam Ana mengejek.
"Bukan takut.. tapi tidak ada tampak tanda-tanda ada orang yang tinggal disini.."
"Sudahh.. ikuti saja arah gps nya.. kau berisik sekali.." gerutu Ana kesal.
Tak lama bertemu simpang jalan mengarah 2 jalur, dimana gps itu berhenti disana, ke arah kanan menuju luar kota, ke arah kiri jalanan bebatuan yang sedikit menanjak menuju bukit. Louis menghentikan mobilnya.
"Kenapa kau berhenti??" tanya Ana duduk tegak melihat kedepan.
"Gps nya berhenti disini.. kemana kita sebenarnya?? jalan itu jalan tanah bebatuan.. disana gelap sekali.. bagaimana kalau ada penjahat?"
"Baiklah.. aku akan turun disini saja.." Ana membuka safety-belt nya.
"Kau gila??" bentak Louis mencengkram lengan Ana.
__ADS_1
"Percaya saja padaku.. Aku tidak mungkin membawamu kesini untuk mencelakai kita.." gumam Ana lirih.
"Jadi kita ke arah mana?" tanya nya ragu.
"ke kiri, naik ke atas sana.." jawab Ana menunjuk ke sebelah kiri ke arah atas bukit.
Tanpa berkomentar lagi Louis segera menjalankan mobilnya menaiki jalan menanjak itu. Jalan berbelok beberapa kali lalu dari kejauhan tampak pagar besi tinggi menjulang dan ada 2 orang berjaga di depannya dengan bersenjatakan senapan api. Louis memelankan laju mobilnya. Ana membuka kaca mobilnya.
Awalnya penjaga itu tampak siaga dengan menodongkan senapan mereka yang membuat Louis takut setengah mati. Namun ketika mereka melihat Ana di dalam mobil itu setelah membuka kaca mobilnya, mereka segera menurunkan senapannya dan membuka pagar. Louis memarkirkan mobilnya di halaman yang sangat luas. Ia terperangah melihat gedung tua yang besar itu. Pria yang ia temui beberapa kali di rumah sakit tampak keluar dari gedung itu menyambut kedatangan Ana.
"Tunggu disini.. aku tidak akan lama.." ujar Ana segera turun dari mobil.
Louis hanya melihatnya dengan seksama dari dalam mobil.
"Apa yang mereka lakukan disini?? Apa yang ia kerjakan di tempat menyeramkan ini??" gumam Louis dalam hatinya.
Ana tampak berbincang sesaat dengan B1 sambil menoleh ke arah Louis yang berada di dalam mobil.
"Kenapa anda membawanya?" tanya B1 kaget melihat Louis ikut bersama Ana.
"Dia sangat bodoh.. jangan hiraukan dia.." celetuk Ana dingin. "Dimana dia?" tanya Ana menanyakan sosok pria yang ia maksud sebenarnya.
"Di basement.." jawab B1 lirih.
Mereka segera masuk ke dalam gedung tua itu. Louis hanya memperhatikan dari kejauhan. Dia benar-benar kehilangan akal, ia menduga-duga pekerjaan apa yang Ana lakukan di tempat seram dan tersembunyi disana, bahkan tidak terlacak oleh gps.
Pria yang terduduk dengan penuh luka di wajahnya hanya tersenyum sinis.
"Kau tidak sehebat yang aku duga Ms.Grey.. Aku pikir kau sudah sadar dengan situasimu saat ini.." gumamnya sambil meludahkan darah dari dalam mulutnya.
"..." Ana hanya menatapnya intens dan tersenyum dingin.
"Orang yang kau percayai dan lindungi saat ini.. justru mereka lah yang ingin menyingkirkanmu.." tambahnya lagi terkekeh.
Ana meraih sebuah tongkat besi di dekatnya, berjalan perlahan mendekati pria itu. Ia menodongkan besi itu di batang leher pria yang tadi ingin menyuntikkannya dengan obat yang ternyata sangat mematikan. Hasil Lab rumah sakit menunjukkan bahwa itu adalah obat yang sering di gunakan untuk suntik mati narapidana yang akan dihukum mati.
"Kau terlalu bertele-tele.." imbuh Ana sinis.
"Nyonya Jane.. ia ingin menyingkirkanmu.. kau sudah terlalu jauh Ana.. kau harus berhenti sekarang.." gumamnya terengah-engah ketakutan ketika ia melihat Ana akan mengayunkan besi itu ke batang lehernya.
Degg !!
Ana masih berusaha berpikiran tenang. Memang ia selama ini sudah sangat mencurigai Grandma Jane, tapi ia masih ragu-ragu untuk segera menyingkirkannya. Ana menekan ujung besi yang runcing itu hingga melukai leher pria tadi.
__ADS_1
"Apa saja yang kau tau tentangnya?" tanya Ana lagi mencoba meyakinkan diri.
"Aku tidak akan memberi tahumu, meski jika aku harus mati.. kau akan segera berakhir tragis Ms.Grey.." pria itu kini justru terkekeh girang. Padahal beberapa detik lalu ia tampak takut setengah mati, namun kini ia tampak tidak ada sedikitpun rasa takut atau gentar dari wajahnya. Ia benar-benar sudah gila.
"Kau bahkan tidak akan bisa menyingkirkan Nyonya Jane.. Dia jauh lebih berkuasa dari yang kau duga.. Hahahahaha.."
Jleppp !!
Seketika Ana menghunuskan tongkat besi tadi ke leher pria itu. Hingga menembus batang lehernya. Darah segar mengalir dari leher dan mulut pria itu. Matanya terbelalak, bahkan tubuhnya sedikit kejang beberapa saat hingga ia akhirnya benar-benar tewas. Ana segera mencabut besi itu dan melemparnya ke arah samping.
"Kita harus bisa segera menangkap Dominic aku yakin mereka terikat satu sama lain, aku butuh Dominic untuk bisa menyingkirkan Grandma Jane.. kita harus bergerak cepat.." Ana berusaha mengatur nafasnya yang memburu menahan amarahnya.
Ana mengeluarkan rokok dari saku sweaternya dengan tangan berlumur dari cipratan dari pria tadi. Ana berusaha membersihkan tangannya dengan baju yang di pakai B1.
"Dia pasti sedang bersembunyi Ms.Grey.. aku sudah melacaknya, namun ia dan tangan kanannya sudah lama meninggalkan negara E.. aku rasa ia sudah mengetahui rencana kita.." jelas B1 yang sebelumnya memang sempat ke negara E untuk memburu Dominic.
"Pasti ada yang memata-matai kita.." gumam Ana berpikir keras. "Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini untuk beberapa waktu, kalian berpencarlah, cari tempat persembunyian lain.. dan kau ikut tinggal denganku di mansion.. tidak akan ada yang memata-matai kita di mansion.. Aku akan memperketat keamanan disana.." tambah Ana tegas.
"Baik Ms.Grey.." angguk B1 mengerti.
Ana segera berlalu menaiki tangga menuju keluar. Diluar Louis tampak berwajah sangat cemas. Wajahnya berubah sedikit lega ketika melihat Ana keluar dari sana dengan aman, meski ia melihat Ana berjalan santai dengan rokok yang menyala di tangan kanannya.
Ana berdiri sejenak di dekat mobil, membuang rokoknya dan menginjaknya lalu segera masuk ke mobil dan segera memakai safetybelt nya.
"Kau terluka??" seru Louis terkaget melihat tangan dan sweater Ana terkena cipratan darah.
"Oh.. ini bukan darahku.." jawab Ana dengan santai membuka sweaternya dan hanya mengenakan kaos putih polos ditubuhnya. Ia mengelap tangannya dengan sweater itu lalu segera membuangnya keluar jendela.
B1 yang melihat itu dengan sigap mengejar ke arah mobil Louis dan mengutip sweater Ana lalu menggulungnya rapi. "Bakar itu.." perintah Ana pada B1 yang tampak mengangguk mengerti.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit.." ajak Ana tenang.
"Ka..kau tidak apa-apa?" tanya Louis sedikit gugup.
"Tentu.." angguk Ana cepat. "Apa jangan jangan sekarang kau takut padaku?" tanya Ana datar menatap Louis intens. Ana mendekatkan wajahnya ke Louis.
Louis tampak tegang dan menahan nafasnya gugup. Jarak wajah mereka sangat dekat hanya beberapa sentimeter saja. Namun ternyata Ana segera menarik safety-belt di samping Louis lalu memasangkannya.
"Ayo kita jalan.. aku sangat lelah.." seru Ana lirih dan terdengar lembut.
Louis mengangguk cepat tanpa bergeming. Jantungnya berdegup kencang, tatapan Ana sangat berbeda dari biasanya.
----->> bonus
__ADS_1