Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 126 : Perjanjian


__ADS_3

Setelah sebulan penuh ia mengenakan gips di tangannya, akhirnya hari ini Louis memutuskan untuk melepasnya. Selama sebulan belakangan ini Wendy terus mendampingi Louis di sela waktu senggangnya, beberapa berita tentang kebersamaan mereka juga mulai terekspos, namun Louis enggan membantah, karena ingatannya belum kembali sepenuhnya.


Ia bersikap dan bersifat seperti sosok Louis yang baru, ia menjadi pendiam dan sangat penurut pada Wendy, bahkan ia bersikap sangat manis pada Pak Dong, tidak seperti sifat sebelumnya.


"Apa ingatan anda masih belum pulih Tuan Louis?" Tanya dokter memastikan.


Louis menggeleng lesu.


"Apa anda ada keluhan lain saat ini?"


"Aku hanya merasa pusing ketika merasa tengah mengingat sesuatu.."


"Pastikan anda tetap meminum obat anda dengan rutin, istirahat yang cukup, dan pastikan juga anda untuk tidak memaksakan diri anda.."


"Baik dok.." angguk Louis patuh.


"Apa tangannya sudah benar-benar baik-baik saja dok?" Tanya Wendy penasaran.


"Tentu.. karena dia selalu mengikuti arahan untuk pemulihannya, sehingga ia bisa pulih lebih cepat, namun.. Tuan Louis.. anda tetap harus menghindari aktivitas yang berat-berat dulu.. kurangi aktivitas tangan anda.."


"Syukurlah jika sudah menjadi lebih baik.. aku akan memastikan dia tidak mengangkat beban berat dok.." timpal Wendy semangat.


Louis hanya tersenyum enggan. Selama ini dia merasa sangat tidak nyaman, namun tidak banyak yang bisa ia lakukan hingga ia pulih total dan berhasil memulihkan ingatannya seutuhnya.


***


"Kau mau kemana?" Seru Jane dari arah pintu kamar Ana. Ana tampak berpakaian sangat rapi dan anggun, ia mengenakan kemeja putih dengan kancing atas terbuka dua buah, memperlihatkan garis tulang bahunya yang indah, bahkan perpaduan celana bahan berwarna hitam membuat penampilannya tampak elegan, potongan pendek rambutnya juga telah di rapikan, kini penampilan rambut barunya membuat ia tampak semakin cantik serta terlihat lebih ramah dan ceria.


"Aku ingin kerumah sakit.." jawab Ana santai.


"Bukankah masih seminggu lagi jadwal kontrolmu?" Tanya Jane curiga.


"Aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang.. jadi aku ingin memastikan kondisiku hari ini.."


"Kenapa kau terburu-buru sekali??"


"Lebih cepat lebih baik Grandma.."


"Apa kau benar-benar akan segera kembali ke negara K?"


"Hmm.. tentu saja.. Pak Kim sudah mengurusnya.." angguk Ana keceplosan.


"Jadi benar !! Kau berkomunikasi dengannya?? Bagaimana jika ada yang bisa melacakmu??"


"Aku akan menghadapinya.. aku tidak akan bersembunyi lagi grandma.. aku sudah benar-benar siap.."


"Jangan konyol.." celetuk Jane marah.


"Keputusanku sudah bulat.. denganmu atau tanpamu.. aku akan segera kembali ke negara K.." tukas Ana tegas.


Jane hanya menghela nafas tidak bisa membantah ucapan Ana.


Setibanya di rumah sakit Ana segera menemui dokter spesialisnya.


Dokter tampak tersenyum hangat pada Ana setelah melihat hasil pemeriksaan menyeluruh Ana.


"Bagaimana dok?"

__ADS_1


"Semuanya tampak sangat baik.." jawabnya.


"Sungguh?"


"Tentu saja.. anda hanya tinggal memperhatikan pemulihan dan aktivitas anda dalam sebulan ini.."


"Baiklah.. akan saya pastikan itu.." angguk Ana lega.


"Jadi.. aku benar-benar tidak perlu menunggu 3 bulan lagi kan?"


"Tidak.. setelah melihat hasilnya.. pemulihan anda sangat mengagumkan.. dan tidak ada yang perlu kami khawatirkan.."


"Terima kasih dok.." Ana bernafas lega setelah mendengar hasil pemeriksaannya.


***


Pak Kim selama dua hari sekali selalu mengabari Ana tentang perkembangan dan kondisi di negara K. Bahkan sesekali mereka membahas perkembangan perusahan, tak jarang Ana memberi banyak masukan dan membantu Pak Kim memberi keputusan-keputusan terbaik untuk mengatasi beberapa kendala di perusahaan belakangan ini.


"Kapan kau akan kembali ke negara K?" Tanya Jane lirih sambil menyantap sarapan mereka.


"Lusa.." jawab Ana singkat sambil melahap sereal-nya.


Jane tampak menyodorkan sebuah amplop putih yang tampak tipis ke arah Ana.


"Apa ini?" Tanya Ana bingung.


"Cek.. kau bisa mencairkannya begitu tiba disana.."


"Aku masih punya uang simpanan.." tolak Ana enggan.


"Yasudah kalau tidak mau.." ujar Jane ingin mengambil amplop itu kembali, namun Ana menahannya amplop itu lebih dulu.


Jane hanya terkekeh.


"Jaga dirimu baik-baik.. pastikan kau meminum obatmu.."


"Kau benar-benar tidak akan ikut denganku??"


"Hmm.. aku akan tinggal untuk beberapa saat, lalu kembali ke negara L.. ada banyak hal yang harus aku selesaikan disana.." angguk Jane yakin.


"Mari kita bertemu setelah aku membereskan semuanya.." imbuh Ana lirih.


"Hmm.. mari kita membuka lembaran baru dan berjanji akan hidup dengan baik.." angguk Jane setuju.


"Dimana tempat tinggal impianmu?"


"Entahlah.. aku belum memutuskan.. tapi.. disini tidak buruk kan.." geleng Jane ragu.


"Disini sangat nyaman.." angguk Ana setuju.


"Apa kita harus kembali kesini setelah membereskan semuanya?" Tanya Jane pada Ana.


"Aku akan mempertimbangkannya.."


"Baiklah.. aku akan tinggal dimanapun asal bisa terus bersamamu Ana.. aku ingin.. kita hidup bahagia setelah ini.. setelah membereskan semua kekacauan ini.."


Ana tersenyum simpul.

__ADS_1


"Aku akan membereskan semua kekacauan ini.. menuntaskan segalanya hingga beres.."


"Pastikan kau tetap aman dan baik-baik saja.."


"Tentu saja.."


Drrtt... drrttt...


Ponsel Jane bergetar di atas meja. Jane melirik ke arah layar ponselnya. Ana menatap wajah kaget Jane yang tampak segera menerima panggilan itu.


"Ada apa?"


"Apa??"


"Baiklah.. awasi terus mereka.."


Jane tampak segera memutus panggilan itu.


"Ada apa?" Tanya Ana penasaran.


"Kau tidak akan senang jika mendengarnya.."


"Cepat katakan.."


"Mr.Zhou mendatangi Pak Kim ke perusahaan.. dia tampak membawa beberapa pengawal.."


Ana bergidik ngeri. Di liriknya jam tangannya menunjukkan pukul 7.05 pagi, berarti di negara K kini pukul 3.05 sore. Ana segera merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya. Ia segera mencoba menghubungi nomor ponsel Pak KimĀ  namun tak kunjung di jawab. Ana mulai gelisah.


"Pak Kim akan baik-baik saja.. anak buahku tengah mengawasinya.."


"Aku harus segera kembali ke negara K.. aku tidak bisa menunggunya hingga lusa.." gumam Ana lirih segera bangkit dari kursinya.


Ana segera menuju kamarnya, ia tampak segera mengemasi barang-barangnya ke dalam koper besar miliknya.


Tak lama, Jane tampak menghampirinya ke dalam kamar, ia tampak membantu Ana berkemas tanpa berkomentar. Saat masih di sibukkan dengan berkemas, Ana lagi-lagi mencoba untuk menghubungi Pak Kim yang masih tidak merespon.


"Aku sudah memesankan tiket untukmu siang ini.." ujar Jane tenang.


"Terima kasih.." angguk Ana mengerti.


"Anak buahku masih ada di perusahaan, mengawasi gerak-gerik Mr.Zhou dan anak buahnya.. sebaiknya kau pergi ke rumah sakit untuk mengambil resep obatmu.. kau perlu banyak stok obat.." perintah Jane hangat.


"Baiklah.. aku akan segera singgah ke rumah sakit setelah ini.." angguk Ana setuju, kembali melanjutkan berkemas di bantu oleh Jane.


***


Dari rumah sakit, Ana memutuskan segera menuju bandara, di temani Jane yang di ikuti dua orang pengawalnya di belakang mereka.


"Kabari aku jika hal buruk terjadi.." ujar Ana meraih kopernya dari dalam bagasi taksi.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu.." celetuk Jane cemberut.


"Aku yang paling kuat di antara kita.. jadi kau lah yang akan selalu membuatku khawatir.." timpal Ana dengan tatapan hangat.


Jane hanya tersenyum terharu lalu melambaikan tangannya.


"Kabari aku kalau kau sudah sampai disana.."

__ADS_1


'Baiklah.. sampai jumpa.." lambai Ana segera berlalu.


__ADS_2