Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 187


__ADS_3

Deggg !!


Ana terbelalak kaget. Ini di luar rencananya. Mereka menghilangkan berita Hana yang lain dan mengganti berita itu dengan memutar video rekaman cctv di Grey hospital yang di nyatakan telah hilang, alias sudah di musnahkan oleh Lucas. Aksi penyerangan itu di tayangkan dengan sangat jelas meski wajah Ana dan para penjahat telah di blur. Louis memelotot melihat tayangan itu.


“Ana..” seru Louis lirih. “Apa itu kau??” tanya Louis kemudian.


Ana tercekat.


Louis ternganga saat melihat video tayangan 2 orang terjun bebas dari atas jendela dan terjatuh ke atas sebuah ambulance. Saat sosok yang selamat itu turun dari sana dan menodongkan pistolnya ke arah dokter dan perawat video itu di hentikan, pembawa acara terus menjelaskan detail berita. SEmentara pandangan Louis tertuju pada satu hal yang sangat ia kenali. Di tangan pelaku itu memperlihatkan dengan jelas gelang couple yang Ana kenakan di tangannya saat ini.


“Gelang itu..” gumamnya lagi.


Drrttt..drrrttt..drrttt..


Ponsel Ana bergetar di atas meja. Nama Jane muncul di layer ponselnya. Ana


segera meraih ponsel itu namun Louis mencegatnya. Louis merampas ponsel itu lebih dulu dan menghalau tangan Ana yang berusaha menghentikannya.


Louis segera menerima panggilan Jane tanpa sepatah katapun.


“…”


“Seseorang membocorkan video itu, sebaiknya kau pergi keluar negeri.. aku akan membereskannya..”


“Apa itu benar Ana??” timpal Louis kemudian.


“Siapa ini?? Louis?? Apa ini kau??” tanya Jane kaget mendapati Louis menjawab panggilannya.


“Jawab aku.. apa Ana sungguh melakukannya ??” seru Louis membentak Jane.


“Cukup !!!” tukas Ana membentak. Ana merampas ponselnya dari tangan Louis.


“Kenapa kau melakukannya??” tanya Louis lirih, matanya tampak berkaca-kaca.


“Aku tidak akan membantah apapun, dan aku tidak akan menghindarinya..” timpal Ana.

__ADS_1


“Aku pikir kau benar-benar sudah berubah Ana..” imbuh Louis lirih.


“Ternyata kau masih saja berharap lebih dariku.. aku rasa.. ekspektasimu tentang aku terlalu berlebihan.. aku tidak mudah berhenti begitu saja..”


“Apa nyawa mereka tidak berarti bagimu??”


“Tidak..” jawab Ana tegas.


Louis tercekat.


“Lalu.. bagaimana dengan aku?? Apa aku berarti bagimu??”


“Kenapa kau menyamakan mereka dengan dirimu??”


“Karena kami sama-sama manusia Ana !! Bagaimana bisa nyawa mereka tidak berarti bagimu??” tukas Louis berteriak.


“Pergilah..” gumam Ana lirih.


“Cih.. lagi-lagi kau akan kabur dari masalah ini.. kau selalu lari dari masalah..”


yang telah aku lalui selama ini?? Aku hidup di neraka tanpa belas kasihan,


Lou.. dan kau pikir aku bisa keluar dengan mudah dari lubang api ini??? Bahkan nyawaku sendiri tak ada artinya bagiku.. Aku bahkan tidak pernah takut mati.. karena selama ini aku merasa jika aku memang sudah lama mati..”


“Ana..”


“Pergilah.. lakukan apapun yang ingin kau lakukan.. pikirkan apapun tentang aku sesuka hatimu..”


“Argh !!” Pekik Louis menggeram, ia mencengkram rambutnya keras.


“Kau benar-benar membuatku gila, Ana..” geramnya bergetar.


Ana hanya diam tak bergeming.


Drrttt…drttt..

__ADS_1


Ponsel Ana kembali bergetar, di liriknya layer ponsel itu menujukkan sebuah nomor telepon umum. Ana segera menerimanya.


“Ya??.. Apa??.. baiklah aku kesana sekarang..” Ana segera mengakhiri panggilan itu.


Ia segera berjalan cepat menuju kamarnya, ia mengambil longcoat di lemari lalu mengambil beberapa


ikat uang tunai, dan mengambil pistol serta stok amunisi yang ia simpan dalam


brankasnya.


“Kau mau kemana??” tanya Louis yang kini telah berdiri di belakangnya.


“Sebaiknya kau segera pergi..” pinta Ana mengabaikan pertanyaan Louis.


Louis menarik tangan Ana kuat dan mendorong tubuhnya ke dinding. Louis mencengkram kedua lengan Louis.


“Jangan pergi.. hentikan semuanya sekarang !!” pinta Louis memohon dengan mata berkaca-kaca.


“Temanku membutuhkanku..” imbuh Ana datar.


“Aku membutuhkanmu !!” bentak Louis keras. “Aku mohon.. jangan pergi..” ujarnya lagi.


“Maafkan aku.. seharusnya aku terus menjaga Batasan di antara kita.. seharusnya aku terus menahan diriku..” gumam Ana parau.


“Jangan katakan apapun !!”


“Maaf aku membuat kau terjebak di hidupku..”


Louis berusaha mencium bibir Ana, namun Ana segera memalingkan wajahnya menghindari ciuman Louis. Louis mematung. Bahkan ia merasa sangat hancur. Ana melepaskan cengkraman tangan Louis perlahan.


“Aku harus pergi..” ujar Ana segera pergi meninggalkan Louis yang mematung tak bergeming.


...----------------...


Hai aku kembali !!!!!!!!!!!! aku akan segera menyelesaikan novel ini dengan tuntas !! maafkan aku !!

__ADS_1


__ADS_2