
Tiap pagi Pak Kim selalu meletakkan laporan kerja dan jadwal kerja untuk hari itu dan 2 hari kedepan di meja Ana sebelum Ana datang ke kantor.
Namun pemandangan pagi itu mengejutkannya. Langkahnya terhenti, matanya terbelalak kaget melihat Ana tengah tertidur di kantor. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan Louis yang juga tertidur pulas di atas sofa. Bahkan Ana terlihat tenang dalam tidurnya. Meja tamu di ruang kerja Ana tampak berantakan, terdapat 3 botol wine yang sudah kosong, sisa makanan mereka dan beberapa botol soju dan air mineral sudah kosong.
"Mereka pasti begadang semalaman dan menceritakan banyak hal.." gumam Pak Kim senang dalam hati.
Ana tampak mengenakan selimut yang merupakan longcoat Louis, sementara Louis tertidur dalam posisi duduk menyandar ke bantalan sofa dengan kepala menengadah ke atas dan mulut yang ternganga lebar.
Pak Kim tersenyum manis melihat pemandangan sangat langka itu. Ia segera keluar dari ruangan Ana memutuskan untuk membiarkan mereka istirahat sedikit lebih lama lagi.
Drrtt..drrttt...
Ana tersentak dari tidurnya. Ia meraih ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia segera meraihnya dengan kepala yang terasa berat.
"Haloo.." jawab Ana dengan suara parau.
"Kau dimana? Kau tidak pulang tadi malam??" Tanya Bibi Layla cemas.
Ana segera bangkit dari tidurnya melihat sekeliling, dan terperanjat kaget melihat Louis tidur di sebelahnya.
"A..aku berada di kantor semalaman Bi.. aku ketiduran disini.."
"Ya ampun Ana.. pasti kau lelah sekali.. aku akan kesana mengantarkan pakaian, makanan dan vitamin untukmu.." ujar Bibi Layla cemas.
"Tidak perlu Bi.. aku punya stok pakaian ganti disini.. jangan khawatirkan aku.." jawab Ana setengah berbisik.
"Kenapa kau berbisik?? Aku tidak mendengarmu dengan jelas.." tanya Bibi Layla curiga.
"Nanti aku telepon lagi.." Ana segera memutus panggilan teleponnya dan merasa sedikit lega.
Ia berusaha perlahan bangkit agar tidak membangunkan Louis. Ia segera berjalan keluar mencari Pak Kim setelah sadar melihat jam sudah pukul 7.45 pagi.
"Anda sudah bangun Ms..Grey??" Sapa Pak Kim tersenyum hangat.
"Kenapa anda tidak membangunkanku??" Gerutu Ana kesal memijat dahinya yang pusing.
"Anda terlihat sangat lelah Ms.Grey.. saya baru saja berencana akan membangunkan anda.." jawab Pak Kim bohong, padahal ia akan membiarkan Ana tidur lebih lama lagi.
"Aku akan siap-siap.. dan biarkan Louis tertidur dulu.."
"Baik Ms.Grey.." angguk Pak Kim pelan.
***
__ADS_1
Pak Kim dan Ana saling berbisik saat membahas beberapa pekerjaan dan jadwal meeting untuk beberapa hari ke depan di ruangan Ana. Ana yang baru saja selesai meeting segera menenggak jus dari kulkas mininya untuk menyegarkan tubuhnya. Sebelumnya ia sudah makan beberapa roti dari Pak Kim dan minum vitamin dan obat penghilang mabuknya.
Louis tampak menggeliat dan menggosok matanya. Ia melihat sekeliling dalam kondisi setengah sadar. Beberapa saat kemudian matanya terbelalak saat mendapati Pak Kim dan Ana tengah duduk di meja kerja Ana membahas file di mejanya.
Mereka berdua menatap Louis yang tercengang tanpa bergeming.
"Kau sudah bangun??" Tanya Ana dengan tatapan datar.
Pak Kim segera pamit keluar dari ruangan Ana, memberikan mereka sedikit privasi.
"Kenapa tidak membangunkanku??" Serunya terlonjak kaget ketika melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 11.30 siang.
"Aku sudah membangunkanmu.. tapi kau malah marah-marah padaku.." jawab Ana enteng menyusun kembali file kerjanya.
Louis tampak memeriksa ponselnya dan terdapat 75 panggilan tak terjawab dari Pak Dong dan juga asistennya.
"Astaga.. aku ada shooting pagi ini.." serunya panik segera berkemas dan mengenakan longcoat nya.
"Aku sudah menghubungi Pak Dong.. aku mengatakan kau bersamaku dan meminta jadwal shootingmu di undur jam 2 siang ini.." lagi lagi Ana tampak sangat tenang meski ia ingin tertawa melihat tingkah panik Louis.
"Be..benarkah?? Ahhh !! Syukurlah.." Louis menghela nafas lega. Setelah di dera panik melihat panggilan tak terjawab yang sangat banyak dari Pak Dong.
"Sebentar lagi jam makan siang.. mari makan siang bersama.. nanti aku akan meminta supir mengantarmu ke lokasi shooting.." ajak Ana ramah.
Louis menatap Ana heran. Ia tampak berbeda pagi ini, tampak tenang, hangat dan menawan dengan stelan blazer peach nya, ditambah rambut panjang bergelombang yang di kuncir tinggi. "Aku bawa mobil.."
***
"Bukankah itu Louis?"
"Wahhh dia tampan sekali.."
"Apa mereka berkencan??"
"Mereka tampak sangat serasi.."
"Tidak mungkin mereka berkencan.."
"Ketampanannya membuatku kenyangg.."
Berbagai komentar dari para staff dan karyawan yang berbisik di cafetaria kantor membuat Ana risih.
"Akh !! Bisikan mereka membuatku mual.." gerutu Ana lirih menusuk nusuk dagingnya dengan sumpit.
__ADS_1
"Biarkan saja mereka berkomentar.. jangan hiraukan mereka.. bahkan aku sering mendengar komentar jahat dan sangat buruk setiap saat.." sahut Louis yang mendengar keluhan Ana.
"Rasanya ingin aku jahit mulut mereka dengan sumpit ini.." Ana menoleh ke arah suara gosipan itu dengan tatapan mematikan. Seketika semua orang tak lagi berani bergeming.
"Berhentilah menjadi menakutkan.. kau membuatku ngeri.." celetuk Louis nyengir.
"Cepat habiskan makananmu.. supir dan Pak Kim sudah menunggumu di bawah.." timpal Ana tidak lagi melanjutkan makannya.
"Kenapa tidak kau makan makananmu??" Tanya Louis heran.
"Aku kenyang.." jawab Ana bohong padahal ia merasakan ada yang tidak beres dengan perutnya. Ia yakin itu levernya mulai bermasalah karena minum wine terlalu banyak.
"Apa kau sedang diet?? Badanmu kurus sekali.." komentar Louis membuat Ana menatapnya sinis dan dingin. Sehingga berhasil membungkam mulutnya dengan rapat.
Drrtt.. drrtt...
Ana merogoh kantong blazer-nya menatap layar ponsel itu dengan wajah mematikan. Lalu segera mengangkatnya.
"Apa maumu??" tanya Ana dengan nada mengancam.
Seketika Louis menatapnya dengan tatapan kaget. Ana hanya membalas tatapan itu datar lalu menggeser posisi tubuhnya miring ke samping, berusaha menghindari kontak mata dengan Louis yang terus menatapanya.
"Kau tidak bisa mengancamku.." jawab Ana lagi dengan tegas dan pelan. Ia tidak mau ada orang lain yang mendengar. Namun tiba-tiba ia tampak celingak-celinguk ke sekeliling cafetaria dengan wajah cemas.
"Kita lihat saja.. siapa yang akan berakhir tragis.." Ana segera mematikan ponselnya dengan kesal dan memasukkannya lagi ke blazernya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Louis lirih.
"Cepat habiskan makananmu dan segera pergi dari sini.." jawab Ana tiba tiba menjadi dingin.
Ia termenung beberapa saat.
"Apa aku mengganggu makan siangmu? Sepertinya kalian sudah lebih banyak menghabiskan waktu bersama.. dan dia ternyata memang sangat tampan..pantas saja kau jatuh hati padanya.." kata kata Dominic di telepon tadi membuat Ana khawatir pada Louis. Seseorang pasti sedang memata-matai mereka dan melaporkannya pada Dominic.
Ia tidak bisa membuat Louis ikut terlibat dengan masalahnya.
Sesaat kemudian Louis telah menyelesaikan makannya. Ana segera bangkit dan menarik lengan Louis dengan kuat. Louis terseret berusaha mengikuti langkah cepat Ana menuju lift. Ana menekan tombol lift dengan kesal.
Saat pintu lift terbuka Ana segera mendorong Louis masuk ke dalam. Lalu segera menekan tombol menuju lobi.
"Ada apa? Kenapa kau gusar sekali?" tanya Louis penasaran.
Ana tak bergeming. Tatapannya dingin dan kosong. Saat lift terbuka Ana mendorong Louis keluar, disambut dengan Pak Kim yang sudah berdiri di dekat pintu lift.
__ADS_1
"Pergilah.. jangan pernah datang kemari lagi.. segala urusan pekerjaan akan diurus oleh staffku di kantor agensimu.. jangan menelepon atau menemuiku lagi dengan alasan apapun.." ucapan tegas Ana pada Louis membuat Pak Kim juga terperanjat kaget.
Louis hanya diam membatu seribu bahasa mendengar ucapan tegas dan dingin Ana. Ana segera menghilang dari balik pintu lift. Louis menatap Pak Kim yang ikut bengong.