
"Kau tau.. kau itu sangat menyebalkan.. kau selalu saja suka seenaknya.. aku tau kau wanita yang hebat dan kuat.. tapi jangan gunakan kekuatanmu itu padaku.. kau tau kan aku ini sangat sensitif.. kau meremukkan hatiku.." Louis sudah 10 menit terakhir berceloteh tidak jelas. Baru 1,5 jam setelah mereka dinner, Louis baru menenggak beberapa gelas wine tapi ia sudah mabuk berat.
"Ini yang kau bilang tidak mudah mabuk??" celetuk Ana sinis.
"Sebenarnya aku bukan peminum yang baik hahahaha.." bisiknya lagi cekikikan.
"Aku tau.." angguk Ana tertawa kecil. "Dummy.." gumam Ana terkekeh.
"Tapi aku ingin terlihat keren di matamu.. kau tau? menjadi keren di depan wanita sepertimu itu sangat sulit.. kau wanita yang sangat sulit Ana.." ia terus melantur tak karuan. "Kau membuatku kesulitan.." seru Louis menunjuk nunjuk jidat Ana dengan telunjuknya.
"Wah.. hahaha kalau saja kau tidak mabuk saat ini, sudah ku patahkan jari telunjukmu ini.." geram Ana menahan amarahnya dengan susah payah.
Ana hanya menatapnya dengan tatapan gemas karena sesekali Louis tampak tersenyum senyum manis sendiri.
"Ayo kita pulang.." bujuk Ana pelan memegang lengan Louis pelan.
"No..no..no.." gelengnya cepat. "Aku sudah susah payah menunggu waktu makan malam seperti ini..aku.. tidak ingin pulanggg.." serunya dengan nada yang besar.
Memang restaurant sudah mulai sepi dari sebelumnya. Dan pengunjung lain memang duduk agak jauh dari mereka.
Ana berusaha menarik Louis dan merangkulkan tangannya ke pundak Ana, sementara tangan Ana merangkul pinggang Louis.
"Hihihihi kau sekarang memelukku? kau terus saja membuatku deg degan Ana.." celotehnya lagi melantur.
"Ayoo.. aku akan mengantarmu pulang.." bujuk Ana berbisik tak menghiraukan kicauannya.
"Kau akan kerumahku?? Hihihi.. apa kau akan tinggal bersamaku??" tanyanya lagi melantur.
"Tidak.. aku hanya akan mengantarkanmu lalu segera pulang kerumahku.." Ana terus berusaha menyeret tubuh besar itu.
"Kalau begitu aku tidak ingin pulang.." Louis segera menjatuhkan tubuhnya hingga ia terduduk di lantai. Ana segera meraih lagi lengannya. Menariknya lebih kuat lagi.
"Baiklah.. aku akan tinggal bersamamu.. jadi mari kita pulang.." seru Ana mengiyakan lanturan Louis yang masih meracau tidak jelas.
Dengan segala usaha dan bantuan dari pelayan restaurant Ana berhasil membawa Louis masuk ke dalam mobilnya. Pak Kim yang sudah tiba disana hanya tertegun melihat Ana yang sangat sabar menolong Louis.
"Maaf memanggilmu malam malam datang kemari Pak Kim.." seru Ana terengah.
"Tidak apa apa Ms.Grey.. aku akan mengantarnya pulang.." sahut Pak Kim tenang.
"Tidakkk !! aku tidak ingin pulang dengan pria aneh itu.." timpal Louis setengah berteriak dari dalam mobil. Ana segera menutup mulut Louis dengan tangannya.
"Diam.. kenapa kau berteriak.." celetuk Ana kaget menepuk keras pundak Louis. Ana menghela nafas kesal. "Kalau begitu aku akan membawanya pulang Pak Kim.. tolong antarkan saja mobilnya pulang.." perintah Ana yang jadi hilang akal melihat tingkah Louis.
__ADS_1
Ana hanya menghela nafas lelah, di lihatnya wajah polos pria itu dengan rasa campur aduk. Ia segera berusaha memasangkan safety-belt Louis, namun Louis merangkul lengan Ana erat dan membenamkan kepalanya ke pundak Ana. Ana terpaku bak patung sambil menggenggam safety-belt yang tengah ia pegang.
"Kau wangi sekali.. aku sangat suka wangimu.." gumamnya lagi melantur sambil memejamkan mata.
"Dasar mesum.." celetuk Ana dingin dengan hati yang berdebar.
Cuppp..
Louis mengecup singkat namun penuh kehangatan tepat di leher Ana.
Sontak membuat Ana menjadi gugup dan merasa tidak karuan. Ia segera melepas rangkulan itu, mendorong jidat Louis keras dengan telunjuknya kemudian segera memasang cepat safety-belt Louis.
Ia segera mengendarai mobilnya dengan berusaha tenang, ia terus berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.
Mereka segera menuju alamat apartment Louis yang sudah ia ketahui dari Pak Dong saat membahas tentang pembobolan apartment waktu itu. Setelah belasan menit kemudian mereka sudah tiba di apartment Louis, Ana kembali merangkul Louis, berusaha membawanya menaiki lift menuju lantai kamar Louis.
1 lantai apartment hanya ada 2 penghuni yang mana kamarnya hadap-hadapan. Saat keluar dari lift, dari jauh Ana melihat pintu apartment Louis sedikit terbuka. Perasaannya tidak enak, mereka mulai berjalan pelan mendekati pintu apartment Louis. Ana membuka pelan pintu yang sudah sedikit terbuka itu. Ia segera mendudukkan Louis di lantai dekat pintu masuk. Ana mengeluarkan senjata api laras pendek dari kantong dalam longcoat-nya yang selalu ia bawa setiap saat.
Ana melangkah masuk perlahan memeriksa setiap sudut ruangan dengan hati-hati. Saat menuju ruang pakaian Louis ia dapat melihat bayangan orang dari arah balik pintu itu.
Dengan sigap Ana segera membuka pintu itu dan menodongkan senjatanya pada penyusup itu.
Penyusup yang menggunakan masker dan topi itu terperanjat kaget segera mengangkat tangannya saat merasa ada sesuatu yang di todongkan kepalanya.
"Aku mohon jangan tembak aku.." mohon penyusup itu yang terdengar seperti suara seorang perempuan.
"Cepat balik badan..buka maskermu.." bentak Ana lagi.
Saat hendak balik badan, wanita itu berusaha kabur, namun dengan sigap Ana segera menyerangnya. Menendang kakinya keras hingga ia tersungkur dan terjungkal. Ana segera memukulkan pistolnya ke arah tengkuk belakang penyusup itu hingga ia pingsan tak sadarkan diri.
Ana segera menelepon Lucas untuk meminta bantuan. Memang ia tidak bisa mempercayai polisi. Tapi jika kali ini polisi itu adalah Lucas alias Albert, maka ia akan meminta pertolongannya.
Ana segera mengikat tangan dan kaki penyusup wanita itu. Ia juga memeriksa isi tas yang di rangkul wanita itu sejak tadi, terdapat pakaian dalam dan beberapa aksesoris berharga Louis yang di ambilnya. Ia juga memeriksa ponsel wanita itu banyak foto-foto candid Louis yang ia ambil sembunyi-sembunyi.
Tak lama menunggu Albert datang dengan dua orang petugas polisi lainnya yang segera menangkap wanita yang masih tergeletak di lantai itu.
"Kau baik-baik saja?" serunya khawatir.
"Aku baik-baik saja.. tangkap gadis itu..dia penguntit yang mengerikan.. ada banyak barang bukti di dalam tas dan ponselnya.." pinta Ana menyodorkan ponsel wanita itu pada Albert.
Albert mengambil ponsel itu dan memeriksanya. "Apa dia baik-baik saja?" tanya Albert mengarah pada Louis.
"Dia baik-baik saja.. hanya sedang sangat mabuk.." ujar Ana lirih.
__ADS_1
Albert mengangguk mengerti maksud adiknya.
"Hapus foto-foto dalam ponsel itu jangan sampai tersebar.. dan apapun informasi soal Louis di dalamnya tolong kakak lenyapkan.. tolong cari tau sindikat mereka.." pinta Ana lagi melihat ke arah Louis yang sudah tertidur di atas sofa.
"Siap bos.." seru Albert tegas.
Ana hanya tertawa kecil.
"Mau aku antar pulang?" seru Albert masih dengan nada khawatir.
"Tidak usah kak.." geleng Ana pelan.
"Baiklah.. Aku pergi dulu.. pastikan kau selalu berhati-hati Ana.. ini sudah larut malam.. telepon aku jika kau butuh apapun.."
"Tentu kak.. kini aku sudah punya kau yang bisa aku andalkan.." timpal Ana sangat berterima kasih.
Albert dan 2 petugas itu segera pergi membawa penyusup itu. Sementara Ana bingung harus bagaimana pada bayi besar yang sudah tertidur itu.
***
Sinar matahari pagi menyelinap masuk ke sela gorden mewah keemasan di kamar yang menyilaukan mata Louis. Ia terbangun mencoba segera bangkit dari tidurnya. Kepalanya yang terasa berat dan sakit membuatnya sadar cukup lama.
Ia melihat ke sekeliling. Heran dengan pemandangan itu. Ia tidak mengenali tempat itu sama sekali. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam tapi hanya rasa sakit pada kepalanya yang ia dapat.
Kamar itu jelas-jelas bukan rumah ibunya atau kamar hotel. Karena semua furniture nya sangat mewah seperti kamar di sebuah istana.
Tok..tok..tok..
Seseorang mengetuk pintu dari luar. Ana muncul dari balik pintu kamar itu dengan pakaian sangat sederhana. Kaos oblong putih dan hotpants hitam, lalu rambut hitam yang di gerai indah.
"Kau sudah bangun??" tanya Ana tampak membawa nampan berisi sebuah gelas berisi jus jeruk dan botol obat.
"A..aku.." Louis yang terkaget melihat Ana tergagap tak karuan. Ia kehilangan akal sehatnya.
Ana menyodorkan gelas jus itu dan sebuah pil berwarna pink. "Minum ini.. untuk menghilangkan pengarmu.." serunya pelan.
"Ma..maaf.. aku pasti menyulitkanmu.." gumam Louis merasa bersalah.
"Cepat minum ini.. habis itu ayo kita sarapan.. Bibi Layla sudah menunggu.." Ana mengabaikan ucapan Louis.
Louis yakin kini dia tengah berada di mansion Ana. Dan kali ini Ana akan marah besar padanya. Ia segera menenggak jus dan obat itu. Lalu Louis segera berusaha bangkit menuju kamar mandi, sementara Ana segera keluar.
Ia membasuh mukanya kasar.
__ADS_1
"Bodohh.. apa yang sudah aku lakukan tadi malam.. kenapa aku bisa tidur disini?? kenapa aku tidak bisa mengingat apapunnnn.." ia menggeram sendiri meremas rambutnya keras, berusaha mengingat kejadian tadi malam.