Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 72 : Aku baik-baik saja..


__ADS_3

"Kau darimana saja??" Seru Jane mendapati Ana yang baru kembali ke kamarnya.


"Aku baru saja dari kamar Louis.." jawab Ana gugup.


"Kau baik-baik saja? Wajahmu merah sekali..dokter bilang kondisimu sedang tidak baik.." omel Jane khawatir.


"Aku baik baik saja.. hanya saja.. terasa sangat panas.."


"Panas apanya, bahkan musim dingin ini hampir membunuhku.." timpal Jane curiga.


"Mana kursi rodamu??" Tanya nya lagi celingak celinguk ke arah belakang Ana.


"Aku meninggalkannya di ruangan Louis, perawat nanti akan mengantarnya kembali kemari.."


"Kenapa kau meninggalkannya.. dokter menyuruhmu untuk tidak banyak bergerak.."


"Siapa yang mengizinkanmu mengomeliku?? Diamlah.. aku ingin istirahat.." Ana segera melangkah cepat naik ke tempat tidurnya, dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan bedcover.


"Kau bahkan masih sangat menyebalkan meski tengah dakit begini.." gumam Jane dalam hati.


Jane hanya terdiam tidak berkomentar, dia memang selalu kalah debat dengan Ana, namun kali ini dengan hubungan yang berbeda, mereka sudah mulai akur, jadi perdebatan ini benar benar seperti antara nenek tua yang mengomeli cucu nya karena merasa sangat khawatir.


****


Ana terbangun dari tidurnya, perutnya terasa sangat sakit hingga ke sekeliling pinggangnya, dadanya terasa terbakar, ia berusaha bangkit dari tidurnya, menjangkau botol obat di atas mejanya. Matanya kunang kunang, botol obat itu justru semakin terdorong oleh jemari tangan Ana hingga semakin menjauh dan sulit di jangkau, posisi Ana yang semakin miring dan terlalu ke tepi membuatnya akhirnya terjatuh dari tempat tidur. Ia lalu meringkuk menahan sakit perutnya, suara bising itu ternyata mengagetkan Jane yang ternyata tidur di atas sofa, ia segera terlonjak dan berlari menghampiri Ana.


"Ana.. kau kenapa??" Serunya panik, Jane segera meraih bel panggilan darurat berkali kali, hingga tak lama kemudian dua orang perawat tampak berlarian masuk ke ruangan Ana.


"Cepat tolong dia !!" Seru Jane panik.


Perawat yang satunya segera memanggil bantuan untuk menggendong Ana naik kembali ke tempat tidur. Perawat yang tertinggal tampak segera menyuntikkan obat yang sudah di sediakan di atas meja ruangan Ana untuk berjaga jaga. Ana terus meringis kesakitan sambil terus meringkuk memegangi perutnya.


Butuh waktu cukup lama untuk membuat nyeri perut Ana mereda, Ana kini sudah mulai sedikit tenang, Ana kini kembali di pasangi selang infus di punggung tangan kirinya, Jane di sisi tempat tidur tengah duduk serambi mengelap dahi hingga leher Ana yang dibasahi keringat.


"Sudah merasa baikan??" Tanya Jane lembut.


"Hmm.." angguk Ana lemah.


"Sebaiknya kau pikirkan saran dokter waktu itu.. ini demi kebaikanmu.." imbuh Jane dengan nada khawatir.


"Aku akan segera baik baik saja.." gumam Ana lirih.


Jane hanya menghela nafas ringan.


"Besok pagi aku akan ke mansion, kata Pak Kim pekerjaan disana sudah hampir selesai, aku akan singgah kesana dulu memeriksanya, agar nanti kau bisa segera pulang ke mansion.."


"Aku akan tetap tinggal di apartment untuk sementara waktu.. mansion terlalu jauh dari perusahaan.. akhir akhir ini pekerjaanku semakin banyak.." ujar Ana lirih sambil tetap memejamkan matanya yang terasa berat karena sangat mengantuk.


"Baiklah.. kau bisa pulang kapanpun kau mau.. aku akan tinggal di mansion selama ada disini.."


"Hmm.. baiklah.." angguknya pelan.

__ADS_1


"Grandma.." panggil Ana lirih.


"Iya? Kau butuh sesuatu??" Sahut Jane.


"Kau juga boleh tinggal di apartment bersamaku.. jika kau mau.." ujar Ana dengan suara semakin lirih.


"Baiklah.. sekarang kau tidurlah.. biar reaksi obatmu bekerja maksimal.." Jane menarik selimut Ana hingga ke bawah dagu.


Ana menatap wajah pucat Ana, ada terasa sakit di hatinya, ia tidak menyangka bisa memiliki hubungan yang hangat dengan Ana. Bahkan mereka terlihat semakin cocok satu sama lain. Meski Ana sering berkata kasar dan ketus, tapi ia sosok yang sangat baik dan perhatian pada Jane. Kini ia sangat mengasihani kondisi Ana.


****


Keesokan paginya Ana melihat ke arah sekeliling dan tidak menemui Jane, karena ternyata Jane sudah pergi menuju mansion. Ana segera memeriksa ponselnya, ada pesan dari Louis yang menanyakan dia ada dimana lalu ada pesan dari Pak Kim yang mengatakan akan kerumah sakit untuk meminta tanda tangannya karena ada dokumen pekerjaan yang harus segera di setujuinya.


Ana memutuskan untuk mengunjungi ruangan Louis, namun saat ia baru duduk, Louis justru tampak segera masuk ke ruangannya.


"Kau sudah bangun?" Tanyanya berjalan santai membawa nampan berisi bubur.


"Bagaimana kondisimu?" Tanya Ana membenarkan posisi duduknya.


"Sudah jauh lebih baik.. dan aku sangat bosan.."


"Duduklah.."


Louis segera meletakkan nampan di tangannya di atas meja, lalu duduk di samping tempat tidur Ana.


"Kau kemarin tidak mengunjungiku.. aku pikir kau sudah pulang lebih dulu.." tanya Louis dengan wajah cemberut.


"Kenapa kau menggunakan infus lagi? Bukankah waktu itu kau tidak memakainya lagi??" Louis memperhatikan tangan kiri Ana.


"Ah.. ini hanya vitamin c.. biar aku merasa lebih baik lagi.." jawab Ana santai lagi lagi berbohong.


"Benarkah?? Wajahmu juga pucat sekali.."


"Hmm.." angguk Ana cepat.


"Apa yang kau bawa di nampan itu??"


"Ah.. itu bubur, ibuku yang mengantarkannya.. tadinya dia ingin membesukmu, tapi katanya dia melihat dari luar kalau kau masih tertidur pulas.. jadi dia segera pulang dan menitipkan bubur ini untukmu.."


"Kau memberitahu ibumu??"


"Tentu saja, tapi aku mengatakan bahwa aku hanya kecapekan, dan kau juga, kita tidak sengaha bertemu di rumah sakit ini.." jelas Louis sambil menyodorkan nampan bubur itu, meletakkannya di atas meja lipat di tempat tidur Ana yang sudah ia buka.


"Aku yakin dia tidak akan percaya.. ibumu orang yang sangat teliti dan realistis, alasanmu sangat tidak masuk akal.." ujar Ana membuka tutup mangkuk bubur itu.


"Setidaknya dia tidak bertanya banyak hal lagi.."


"Syukurlah.." Ana segera menyantap bubur itu dengan nikmat.


"Kau lahap sekali seperti belum makan berhari hari.."

__ADS_1


"Karena ini benar benar enak.."


Sebenarnya sejak kemarin Ana tidak bisa makan, apa yang ia makan atau minum pasti ia muntahkan lagi bercampur darah, makanya seharian kemarin ia tidak mendatangi Louis di ruangannya. Pagi ini Ana baru mencoba makan meski ia sudah mulai merasa mual.


Ia segera meletakkan sendok dan kembali menutup mangkuk itu, karena ia merasa akan muntah lagi.


"Kenapa tidak di habiskan??" Tanya Louis heran.


"Aku akan makan lagi nanti.. " jawabnya singkat.


"Baiklah.. kau harus menghabiskannya.."


"Tentu saja.."


Louis segera merapikan dan membersihkan meja Ana dan kembali melipatnya.


"Istirahatlah lagi.. kau tampak sangat pucat.." ujar Louis lirih.


"Aku baik baik saja.. aku sedang menunggu Pak Kim.."


"Apa kau akan bekerja juga??"


"Tentu saja.. aku tidak bisa libur.. banyak pekerjaan yang menanti.."


"Bukankah Pak Kim bisa menyelesaikannya??" Tanya Louis penasaran.


"Tentu saja dia bisa, tapi bagaimanapun semua proyek harus di tanda tangani dan di setejui langsung olehku.."


"Benar juga ya.." angguk Louis mengerti.


"Oh iya, besok aku berencana akan pulang.. aku merasa sudah lebih baik.. bosan sekali rasanya disini, jadi aku akan memutuskan istirahat dirumah.."


"Benarkah? Baiklah.. besok kita pulang bersama sama.." angguk Ana lesu.


"Kau juga akan pulang? Bukankah kau masih tampak sangat tidak sehat??"


"Aku baik baik saja.. ini hanya efek kelelahan dan telat makan.. aku baru saja habis makan bubur, setelah ini aku pasti akan segera merasa jauh lebih baik.."


"Apa kau yakin??"


"Tentu saja.." tukas Ana tegas.


"Baiklah.. kalau begitu.. bagaimana kalau malamnya kita makan malam bersama??"


"Baiklah.. kau mau makan malam dimana??" Angguk Ana tanpa banyak elak.


"Bagaimana kalau makan malam di apartment ku saja, jika kita makan di luar aku takut justru membuat kita tidak nyaman, aku susah sekali untuk menyamar akhir akhir ini.." keluh Louis ragu.


"Boleh juga.." angguk Ana cepat.


"Baiklah.. besok mari kita pulang bersama.."

__ADS_1


"Oke.." jawab Ana singkat.


__ADS_2