
Eliza segera menyimpan ponsel dan gelang milik Louis ke dalam tasnya. Berusaha menyembunyikan keduanya. Dia akan mengembalikan kedua benda itu pada Louis jika ia berhasil mengingat Ana dengan sendirinya. Untuk saat ini dia setuju dengan Pak Kim, membiarkan dia melupakan Ana, meskipun jika itu berlangsung selamanya. Setidaknya ia hanya melakukan semua itu demi kebaikan putranya, ia hanya mengikuti insting hati nurani keibuannya.
Eliza memotong apel menjadi beberapa bagian, menyajikannya di atas piring untuk Louis.
"Jadi.. aku seorang artis??" Tanyanya lirih.
"Hmm.. tentu saja.. lihatlah betapa tampannya dirimu.." angguk ibunya tersenyum.
"Apa aku sangat terkenal?" Tanyanya lagi.
"Tentu saja.."
"Oh iya.. apa ibu melihat ponselku??"
"Ah.. ponselmu?? Itu sudah sangat rusak dan hancur.. managermu akan menggantinya dengan yang baru.." sahut ibunya berusaha tersenyum.
"Benarkah?? Bagaimana aku bisa mengalami kecelakaan itu?"
"Aku tidak tau persis.. tapi itu kesalahan lawan mainmu.. dia melewati jalur yang salah saat melakukan aksi kejar-kejaran, sehingga kalian terluka seperti ini.."
"Apa aku.. memiliki pacar rahasia?? Bukankah para artis biasanya memiliki pacar rahasia??" Tanyanya lagi sontak menghentikan tangan ibunya memotong buah.
Eliza menggeleng pelan.
"Bahkan kau sangat sibuk setiap harinya sampai tidak bisa mengurus dirimu sendiri.. bagaimana mungkin kau bisa punya pacar??" Ujarnya berbohong.
"Ah.. benar juga.." angguknya percaya.
Louis tampak termenung sesaat, dia menoleh ke arah jendela, dengan tatapan kosong, entah apa yang ada dipikirannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya ibunya cemas.
"Tidak ada.. aku hanya sedang mengingat-ingat sesuatu.." gumamnya lirih.
"Aku sangat menyukai wangi ruangan ini.. seperti tidak asing.. apa ini wangi parfumku?" Louis menghirup aroma wangi vanila yang unik di ruangannya.
"Ah.. bukan.. ini wangi parfum ruangan yang di bawakan oleh Pak Kim, dia adalah pimpinan perusahaan yang mensponsori agensimu.." jawab Ibunya gugup, ibunya tau jika wangi khas itu adalah wangi khas milik Ana.
"Ah.. pria tampan tadi?? Aku sempat berpikir jika dia adalah Ayahku hahahahaha.." gelaknya tertawa.
"Ayahmu juga tak kalah tampan, itu sebabnya kau bisa terlahir sangat tampan seperti ini.. nanti kau akan menemuinya, dia akan datang sore ini.." timpal ibunya membela suaminya.
"Baiklah.."
__ADS_1
****
Suara deru ombak diiringi alunan kicauan burung terdengar sangat menenangkan, Louis memejamkan kedua matanya mendengar alunan alam yang indah itu.
"Lou.. bangunlah.. kita kesini bukan untuk bersantai.." seru seorang gadis cantik memanggilnya.
Louis membuka matanya lebar, dia melihat sosok gadis cantik di hadapannya yang tengah menguncir tinggi rambut gelombangnya, lalu mengenakan dress putih setengah transparan yang sangat cocok dengan tubuh seksinya.
"Kenapa kau terus melihatku seperti itu.. ayo bangun.. kau bilang ingin melihat pantai bersamaku.. kita jauh-jauh kemari karena kau yang menginginkannya.." gerutu gadis cantik itu manyun.
"Baiklah.." sahut Louis segera bangkit mengejar gadis itu yang terus tertawa lebar.
Mereka berlarian di pinggir pantai, bermain air, membuat manusia pasir, serta duduk bersandar saling merangkul satu sama lain menikmati matahari terbenam.
"Aku harap ini bukan mimpi.." gumam Louis mengecup hangat kening gadis itu.
"Aku janji akan selalu mewujudkan semua mimpimu.." gumamnya lirih menatap Louis lekat-lekat.
"Mengabulkan semua keinginanmu, meraih tanganmu, mendampingimu, dan selalu berada disisimu selamanya.." ujarnya lirih.
"Kau harus menepati semua janjimu itu.."
"Tentu saja.. kau cinta pertamaku.. dan kau akan jadi cinta terakhirku.." ujarnya lagi tersenyum manis pada Louis.
****
"Ini sudah seminggu !! Kalian bilang dia baik-baik saja, tapi dia masih saja terbaring tak sadarkan diri !!" Hardik Jane hilang akal mendapati Ana yang belum juga sadarkan diri.
"Maaf Nyonya, tapi kami sudah berusaha melakukan semua yang terbaik.. kita memang harus bersabar menunggu Ms.Grey segera sadar.." jelas dokter itu takut.
"Aku kasih kalian waktu dua hari, jika dia masih tidak sadarkan diri, aku akan membunuhmu !!" Ancam Jane murka mencengkram kerah baju dokter itu.
"Ba..baik Nyonya.." angguknya bergegas pergi.
Jane terus melihat Ana yang terbaring di tempat tidur, dia bahkan tampak seperti tengah tidur pulas, memang tampak lebih baik dari sebelumnya, tapi masih belum cukup bagi Jane jika belum melihatnya benar-benar bangun.
Siang itu Jane berencana pergi ke bank untuk mencairkan sejumlah uang dari akun bank rahasianya, selama di Swiss ia hanya menggunakan uang cash untuk berbelanja. Dia masih menyelidiki siapa pengirim anonim video Ana waktu itu, dan masih mencari keberadaan Layla. Ditambah teror penyusup di apartment Ana malam itu membuatnya merasa tidak aman, jika pelaku sesungguhnya belum tertangkap.
Saat baru saja selesai dari Bank, Jane segera kembali ke rumah sakit. Saat tiba di rumah sakit ia tertegun melihat Ana tengah duduk menyandar di atas tempat tidurnya.
Jane yang tertegun, menjatuhkan tas jinjingnya dari gengaman ke lantai, ia benar-benar merasa lega melihat Ana yang telah sadar.
"My Dear.. Ana.." ujarnya lirih dengan mata berkaca-kaca, segera berjalan menghampiri Ana.
__ADS_1
"Kenapa kau menyelamatkanku??" Tukasnya sinis menghentikan langkah Jane.
"Kau bahkan sangat membenciku.. lalu kenapa kau menyelamatiku?? Apa kau lupa jika aku sudah membunuh suami tercintamu?? Apa kau lupa betapa mengerikannya aku?? Seharusnya kau biarkan saja aku mati dengan penuh penderitaan.. tidak seharusnya kau menyelamatiku.." hardik Ana murka.
"Ana.."
"Seharusnya kau membiarkan aku mati !!" Bentak Ana keras.
"Maafkan aku.. aku mohon maafkan aku.." mohon Jane lirih.
"Seharusnya kau membiarkan aku mati.. kenapa kau melakukan ini padaku !!" gerutunya parau, bibirnya bergetar hebat, Ana berusaha menahan isak tangis dan amarahnya.
"Maafkan aku.." hanya kata kata itu yang bisa Jane ucapkan.
Ana membuang muka, berpaling dari Jane.
"Aku tidak ingin melihatmu lagi.. pergilah.." ujarnya sinis.
Seketika air mata Jane terjatuh, hatinya hancur mendengar ucapan Ana, dia benar-benar sudah melukai perasaan Ana. Dia ingin mendapat kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya dengan Ana. Dia ingin menebus semua kesalahannya pada Ana. Namun, tampaknya Ana sudah tidak lagi memberinya kesempatan itu. Ana benar-benar telah kecewa padanya.
"Aku akan menebus semua kesalahanku padamu Ana.. aku akan memperbaiki semuanya.." gumam Jane segera berlalu.
Jane segera menemui dokter yang menangani Ana.
"Bagaimana perkembangannya?"
"Kondisinya sudah sangat stabil.. dia akan baik-baik saja sekarang.. tapi ingatlah, dia akan menjadi sangat sensitif dan mudah terserang virus atau penyakit.." jelas dokter itu lagi.
"Aku akan melindunginya.."
"Baiklah.. setidaknya dia membutuhkan waktu yang lama untuk pemulihan total.."
"Berapa lama??"
"Setidaknya lima sampai enam bulan hingga ia bisa kembali normal.."
"Dia tidak akan berdiam disini selama itu.."
"Dia bisa tinggal dirumah, namun harus selalu dibawah pantauan kami.."
"Baiklah.. aku akan mencari tempat tinggal di sekitar sini.."
"Aku punya kenalan yang menjual dan menyewakan tempat tinggal di tengah kota, dan tidak jauh dari sini.. apa anda ingin menemuinya??"
__ADS_1
"Tentu.." angguk Jane setuju.