
Ana sudah siap siap akan menekan pelatuk senjatanya, namun suara Albert terdengar jelas di telinga kirinya yang telah terpasang earphone bluetooth ponselnya.
"Jangan kau berpikir untuk menggagalkan misi kita Ms.Grey.." ujarnya lirih.
"Aku tidak bisa menahannya.." tukas Ana lirih.
"Aku mohon.. jangan gegabah.." pinta Albert memohon. "Lihat ke sisi Barat, aku sudah ada disini.. anak buahku yang lain sudah mengepung tempat ini.." tambah Albert mencoba meyakini Ana yang melihat kesegala arah dari teropong senjatanya.
"Aku akan membantumu mengakhiri ini secepatnya.." tambahnya lagi.
2 buah kontainer berwarna merah telah diturunkan dari kapal itu dengan alat berat. Dominic tampak tertawa bahagia, membuat Ana semakin di bakar amarah.
"Aku akan merubah rencananya.." tukas Ana menembakkan peluru panas ke arah kaki kanan Dominic hingga ia tersungkur jatuh ke tanah.
"**** !" umpat Albert yang melihat kejadian itu dari kejauhan. "Semua siaga.. siap-siap menembak.." perintah Albert pada seluruh anak buahnya.
Ana berlari mendekat ke arah Dominic dan terus menembaki semua anak buah Dominic. Pengawal Dominic segera memapah Dominic untuk bersembunyi di balik kontainer di dekatnya. Ana terus maju tanpa takut. Disaat bersamaan bantuan serangan tembakan dari polisi melumpuhkan anak buah Dominic. Ana segera berlari menuju kontainer yang baru saja di turunkan itu. Saat dilihat semua anak buah Dominic berhasil di lumpuhkan ia segera berusaha membuka kunci kontainer itu.
Dan alangkah terkejutnya Ana mendapati bahwa kontainer itu berisikan ratusan box berisi guci berbagai bentuk dari luar negeri. Sontak Ana tercengan menerobos masuk ke dalam susunan box itu dan membongkarnya satu persatu. Lalu berpindah ke kontainer satunya dan melakukan hal yang sama.
Albert menangkap sinyal ada yang tidak beres yang terjadi pada Ana. Ia segera berlari dengan semua anggotanya mengepung Dominic dan anak buahnya.
"Hahahaha.. apa yang kau pikirkan Ms.Grey??? Kau tampak sangat berani menyerangku dan merusak semua barang-barangku.." Dominic tampak terkekeh keluar dari persembunyiannya.
"Kau bahkan repot-repot membawa polisi kesini??" serunya lagi dengan nada mengejek.
"Apa yang kau rencanakan??" celetuk Ana menggeram.
Dominic tampak berusaha mendekati Ana dengan kakinya yang pincang. "Apa kau berpikir transaksi itu benar-benar dilakukan disini??" bisiknya terkekeh.
"Baj*ngan kau !!!" Ana langsung memukul Dominic dengan senapannya dan menodongkannya tepat ke kepala Dominic yang terjerembap ke tanah.
"Ms Grey !!!" seru Albert berlari mendekati Ana.
"Pak polisi.. tolong aku.. dia menyerangku dan anak buahku.. bahkan dia merusak semua barang-barangku.."
Ana hanya terbelalak tak percaya bahwa ia telah dipermainkan oleh Dominic. Ia pun telah tertipu karena kegelisahan yang menimpanya belakangan ini.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan disini? Mana surat izin berlabuh dan bongkar muat kalian??" seru Albert pada Dominic.
Anak buah Dominic tampak mengeluarkan sebuah amplop coklat yang berisikan surat-surat izin lengkap yang resmi. Albert menatap Ana dengan tatapan bingung.
"Apa kalian berpikir aku melakukan transaksi gelap disini??? Memalukan sekali.. bahkan anak buahmu melumpuhkan anak buahku..." seru Dominic berusaha berdiri menantang Albert.
"Lalu kenapa kau mempersenjatai anak anak buahmu??"
"Ayolah Pak Polisi.. guci guci ini sangat mahal.. aku harus menjaga mereka jika tidak ingin ada perampok.. lagipula semua senjataku legal dan memiliki surat resmi.." jelas Dominic lagi.
"Ini sangat menghinaku.. Aku akan menuntut kalian semua !!" serunya berteriak keras.
"Diam kau !! Dimana anak-anak itu??" bentak Ana masih menodongkan senjatanya.
"Anak-anak apa?? Kau lihatkan.. tidak ada siapa-siapa disini.. Bukankah kau yang selama ini melakukan transaksi gelap itu Ms.Grey?? Sekarang kau menghasut polisi untuk membuatku menjadi seorang penjahat??" Dominic tampak berakting dengan baik.
"Ms.Grey.." panggil Albert lirih memberi tanda agar Ana menurunkan senjatanya.
"Dia berbohong.." geleng Ana dengan mata berkaca-kaca.
"Bukankah harusnya kalian membawa wanita malang ini Pak Polisi?? Atau aku akan melaporkan kalian semua atas penyerangan tak berdasar ini?" Dominic berhasil membuat Albert tak berkutik.
Dengan berat hati Albert mengeluarkan borgolnya dan mendekati Ana.
"Ms.Grey.. kau harus ikut kami ke kantor polisi.." celetuk Albert dengan nada kecewa.
"Apa?? Kau harus menangkap mereka.. kau sudah punya buktinya.. aku sudah memberikan semua bukti itu padamu !!!" bentak Ana marah pada Albert.
"Mari kita bicarakan ini di kantor polisi.." Albert memerintahkan 2 orang anak buahnya memegangi lengan Ana dan mengambil senjata apinya. "Bawa dia.." perintah Albert nenyuruh anak buahnya membawa Ana ke dalam mobil polisi.
Ana terus berusaha memberontak.
"Kau harus memikirkan karir dan keluargamu pak polisi.. apa kau tidak kasihan pada anak buahmu?? mereka mempercayaimu yang tertipu daya oleh Ms.Grey.. Aku akan pastikan kalian semua akan menyesal atas kejadian ini.." Dominic segera pergi bersama anak buahnya, sementara Sisanya ia biarkan tergeletak di tanah.
***
Ana tak bergeming sedikitpun. Sudah 3 jam ia berada di ruang interogasi. Albert terus memohon untuk membuatnya bicara. Ana selalu menjawab dengan jawaban yang sama.
__ADS_1
"Kau sudah melihat semua bukti yang aku berikan.. kau bilang akan percaya padaku !!" timpal Ana dengan suara bergetar.
Albert tidak bisa banyak bertindak. Karena ternyata Dominic jauh lebih pintar dan cerdik. Mereka tertipu dengan sangat baik. Sialnya semua kejadian penyerangan itu sampai ke telinga kepala polisi. Albert di panggil untuk menemui kepala polisi di ruangannya.
Bukkk !!!
Kepala polisi itu melayangkan bogem mentahnya ke rahang kanan Albert membuat tubuh tegapnya terdorong kebelakang.
"Dasar tol*l !!! Apa yang kau lakukan??! Apa kau tau siapa Dominic itu?? Dia pengusaha dari negara E kerabat baik anggota dewan Choi !!! Bagaimana bisa kau melakukan hal sebodoh ini terhadapnya !!! Bahkan kalian keluar tanpa surat izin ataupun surat perintah !!!" Ia terus meneriaki Albert yang hanya berdiam diri.
"Kali ini kau benar-benar akan hancur !!!" tukasnya menunjuk wajah Albert penuh emosi. "Kau pastikan saja Ms.Grey agar tetap ditahan !! Atau kalian semua akan aku pecat !!!" Kepala Polisi segera pergi meninggalkan Albert yang tercengang dengan semua perkataan Kepala Polisi Jeon.
Ia kebingungan dengan situasi ini. Sementara di satu sisi ia punya banyak bukti tentang kejahatan Dominic. Ia tersekat karena Dominic adalah seorang pendatang sekaligus tamu bisnis anggota dewan Choi. Jika masalah ini membesar, bisa bisa akan ada peperangan antar 2 negara.
***
Kini Ana berada di balik jeruji besi. Duduk termenung dalam kekalutannya. Ia tidak menyangka akan berakhir disana. Albert yang daritadi menghindarinya kini datang menemui Ana di selnya.
"Aku sudah menghubungi sekretarismu.. dia akan segera datang kemari.. maaf aku tidak bisa berbuat banyak Ms.Grey.." mohonnya dengan wajah penuh penyesalan.
"Aku menyesal sudah mempercayaimu.." gumam Ana lirih tanpa menoleh sedikitpun ke arah Albert.
"Aku akan mencari cara untuk membebaskanmu.. aku mohon beri aku waktu.."
"Pergilah.. aku tidak membutuhkan bantuanmu.." seru Ana tegas dengan nada lirih.
"Aku mohon kasih aku kesempatan.. aku akan membebaskanmu.. apapun resikonya.. karena aku percaya padamu Ms Grey.." Albert tampak bersungguh-sungguh.
Tak lama selang 20 menit Pak Kim sudah datang ke kantor polisi. Ia tampak sangat panik melihat kondisi Ana.
"Apa yang terjadi Ms.Grey !!" serunya panik. Ana hanya diam seribu bahasa.
"Aku akan membawa pengacara terbaik untukmu.." Pak Kim tampak sibuk mencoba menghubungi beberapa pengacara kepercayaan Thommas dulu.
Ana melirik ke arah pintu masuk kantor polisi yang tampak dari sel sementara yang saat ini ia tempati. Sosok wanita yang selama ini ia kenal baik telah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia mendekati Ana yang menatapnya dingin.
"Apa yang kau lakukan pada suamiku??!!" bentak Jane yang membuat Ana terbelalak kaget.
__ADS_1
"Apa??"