
Mereka bertiga makan malam dengan kidmat. Louis membawakan Ana sebuah buket bunga marah yang sangat besar. Sehingga menarik perhatian banyak orang. Ia benar benar berencana mempublish hubungan asmara mereka. Dan tentu saja, dalam hitungan detik foto makan malam mereka langsung tersebar luas. Bahkan menjadi trending topik. Ana yang hanya memakai stelan santai yang sederhana juga menjadi sorotan, komen positif menilai ia sebagai konglomerat yang low-profile. Di sisi negatif orang orang mengecam penampilan dan tatonya yang benar-benar sangat tidak cocok dan tidak pantas untuk bersanding dengan Louis yang punya image polos dan 'anak baik'.
"Lou, apa rencanamu ke depannya?" tanya Jane tiba-tiba di tengah makan malam santai mereka.
"Tentu aku akan bekerja lebih giat lagi, karena aku akan menikahinya", jawab Louis matang.
Ana hanya tersipu.
"Apa kau ingin mencoba di kancah internasional??"
"Internasional?? Bukankah itu akan cukup berat?? Aku bahkan masih merintis.." Louis tampak tidak percaya diri. Ana menatap Jane enggan.
"Apa kau berencana pindah keluar negeri??" tanya Louis kemudian seolah menangkap sinyal Jane.
"Tidak.. Aku tidak akan pindah kemanapun", bantah Ana cepat.
"Aku berharap kalian meninggalkan negara ini setelah menikah.. Aku sangat mengkhawatirkan Ana.. Aku yakin kau paham maksudku." Jane benar benar mengatakannya dengan penuh penekanan.
"Kami akan mengurusnya", sela Ana.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuat Ana merasa aman dan nyaman.. Jika anda ingin kami pindah setelah menikah, tentu saja aku akan menyetujuinya", sanggah Louis cepat meyakinkan Jane.
"Lou, jangan hiraukan ucapannya", tukas Ana terdengar kesal.
"Tidak, Ana.. Aku mengerti atas kekhawatirannya", sanggah Louis membela Jane.
"Apa sebaiknya aku menarik kata-kataku??"
"Apa maksudmu?"
"Mengatakan jika ingin menikahimu membuat hal semakin rumit", imbuh Ana lirih.
"Maafkan aku", timpal Louis cepat.
"Kau sensitif sekali akhir-akhir ini", timpal Jane bergumam.
__ADS_1
"Kau ingin bertengkar denganku?" seru Ana kesal.
"Maksudku.. lihatlah betapa tidak dewasanya kau ini.." tukas Jane tegas.
...****************...
Ana dan Louis saling berdiam diri. Ana duduk di sofa kamar hotelnya. Sementara Louis tampak tengah duduk di sisinya tanpa bergeming.
"Kau marah padaku?" tanya Louis hati-hati.
"Tidak", tukas Ana ketus.
"Lalu kenapa kau tidak mau menatapku sejak tadi? Padahal aku sangat merindukanmu", gerutu Louis manja.
"Aku sedang tidak ingin bercanda", timpal Ana masih ketus.
Drrtt.. Drrtt..
Ana segera mengeluarkan ponsel di sakunya. Ia tertegun. Raut wajahnya berubah setelah melihat layar ponselnya.
"Aku harus pergi.." Ana segera bangkit. Namun Louis segera menahan tangannya.
"Aku rasa kita sudah sepakat.. Katakan padaku semuanya, ada apa?"
Ana menggigit bibirnya gusar. "Pak Kim ingin bertemu denganku.."
"Pak Kim?"
"Hmm.." angguk Ana cepat.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu."
"Tidak, aku akan pergi sendiri.. sebaiknya kau segera pulang", tolak Ana khawatir.
"Tidak ! Jika aku tidak ikut denganmu, maka kau tidak akan bisa pergi kemanapun.." celetuk Louis tegas.
__ADS_1
Ana menghela nafas panjang. "Berjanjilah kau akan menunggu di mobil."
"Janji.." angguk Louis cepat.
Keduanya segera pergi menuju alamat yang Pak Kim kirimkan. Tempat kumuh itu berada di pinggir kota. Di sana banyak barang rongsokan bahkan banyak tumpukan sampah berserakan di sana. Banyak tunawisma tinggal di sana dengan kondisi yang menyedihkan.
"Kau yakin ini tempatnya?" tanya Louis ragu.
"Hmm.. Ini tempatnya.." angguk Ana cepat segera menghubungi nomor Pak Kim.
"Haloo.." Pak kim menerima panggilan Ana.
"Pak Kim, kau ada dimana?"
"Maaf, Ana.. Aku sudah pergi dari sana, aku sedang membuntuti Dita.."
"Dita? Apa yang terjadi?"
"Entahlah.. Dia bersikap mencurigakan akhir-akhir ini.." Pak Kim terdengar gelisah.
"Lalu kenapa kau menyuruhku datang kemari jika ingin mengikutinya?"
"Aku melihat Layla di sana.." jawab Pak Kim yakin.
"Kau yakin?"
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.."
Ana tertegun. "Baiklah.. Hubungi aku jika kau butuh pertolonganku.." Ana segera mengakhiri panggilannya.
"Ada apa? Apa Pak Kim tidak ada di sini?" seru Louis.
"Hmm.. Dia sudah pergi.." angguk Ana cepat.
"Kenapa dia tidak mengabarimu jika dia sudah pergi.. Untung saja kita datang bersama, tempat ini sama sekali tidak aman.." Louis segera mengendarai mobilnya melaju meninggalkan tempat kumuh itu.
__ADS_1
...****************...