Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 38 : Kekasihmu??


__ADS_3

Irene berlari masuk ke dalam rumah mengagetkan ibu dan ayahnya yang tengah duduk menonton tv di ruang keluarga, ia segera duduk di hadapan mereka, sementara Louis yang tengah baca novel sambil makan salad buah di meja makan, melihat adiknya dengan wajah bingung.


"Irene kamu kenapa??" Tanya ibunya khawatir.


"Ms.Grey datang ke restaurant dengan pacarnya Bu !!" Serunya dengan suara melengking.


Louis yang mendengar itu tersedak saat sedang berusaha menelan saladnya, matanya terbelalak.


"Wah..benarkah?? Siapa laki-laki itu?? Beruntung sekali dia bisa mendapatkan gadis seperti Ms.Grey.." sahut ayahnya takjub.


"Dia sangat tampan Ayah.. dia juga sangat tinggi.. wah benar-benar pria idaman.." jelas Irene membayangkan sosok Albert.


Ibu yang melihat Louis seketika mengalihkan pembicaraan. "Ahh..itu bukan kekasihnya.. kemarin dia juga datang ke restaurant bersama pemuda tampan itu.. Lou juga bertemu dengan mereka.. Ya kan Lou.." sahut ibunya melihat ke arah Louis yang melamun.


Waktu itu saat Ana ke restaurant pertama kali, ibu Louis berkali-kali menghubunginya namun tak di angkat karena ternyata ia tengah mandi. Tak lama kemudian ia menelepon kembali ibunya dan mendapat kabar bahwa Ana sedang di restaurant bersama seorang laki-laki dan juga wanita paruh baya.


Mendengar itu Louis bergegas menyusul ke restaurant meski jaraknya agak jauh. Hingga akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan Ana meski harus menunggu mereka selesai makan cukup lama.


"Bagaimana ibu tau?? Bahkan sebelum berpisah saja Ms.Grey memeluk pria itu.. Astagaa... aku jadi ikutan baper gara-gara melihat mereka.." Irene masih sangat heboh saat mengingat kebersamaan Ana dan Albert tadi.


Louis yang kesal mendengar itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan mengabaikan mereka bertiga masuk ke dalam kamar lalu membanting keras pintu kamarnya.


"Kenapa dia?" Tanya Irene yang kaget mendengar suara keras dari pintu.


"Sudahlah..biarkan saja dia..mungkin dia sedang banyak pikiran.." tukas ibunya mengalihkan anak gadis dan suaminya.


Louis meraih ponselnya. Ia memandangi kontak nomor telepon Ana. Ia benar-benar cemburu buta. Kemarin saja Ana selalu menggodanya dan membuatnya gugup. Tapi nyatanya dia justru sudah mesra mesraan lagi dengan polisi itu. Dengan berani ia menekan ikon hijau dilayarnya, lalu panggilan itu segera tersambung. Tak butuh waktu lama, Ana segera menerima panggilan itu.


"Hmmm.. ada apa?" Jawabnya dengan nada lembut.


"Kau sedang apa??" Tanya Louis ketus.


"Aku dijalan pulang.. ada apa?" Tanya Ana lagi, ia yakin Louis sedang tidak dalam suasana hati yang baik.


"Aku ingin bertemu.." jawab Louis datar.


"Kau baik-baik saja?? Sekarang sedang turun salju.. jalanan sangat macet.. Aku akan menghampirimu.. dimana kau ingin kita bertemu.." jawaban Ana membuat Louis tertegun. Ia tidak menyangka Ana mengiyakan ajakannya dengan gampang. Padahal saat itu sudah larut malam.


"Tidak.. aku ini seorang laki-laki.. jadi aku yang akan menghampirimu.." celetuk Louis tegas dan dengan nada ketus.

__ADS_1


Ana yang kaget mendengar jawaban itu segera menepikan mobilnya. "Baiklah..aku sekarang di sekitaran Grey Cloud Hotel.. apa kita bertemu di sana saja? Ada banyak menu enak disana.." Salju turun mulai lebat.


"Baiklah..aku akan segera kesana.." dengan penuh semangat dan keyakinan Louis segera bersiap dan bergegas pergi menemui Ana meski jarak tempuhnya lumayan jauh.


Satu setengah jam Ana sudah menunggu akhirnya Louis tampak segera memasuki area lobi hotel. Ana yang duduk di sofa santai restaurant hotel melambaikan tangannya saat melihat wajah Louis yang memerah karena kedinginan. Ia tampak tersenyum hangat dan segera berlari kecil menghampiri Ana.


Louis dapat melihat Ana mengenakan sweater dengan kerah tinggi berwarna coklat tua.


"Maaf membuatmu menunggu lama.." ujarnya terengah.


"Tidak apa-apa.. kau sudah meneleponku 10 kali sejak tadi untuk mengatakan hal itu.."


"Jalanan sangat macet.." jawab Louis mulai mengatur nafasnya. Ia melihat Ana sudah menghabiskan 2 cup coffee hangat nya.


Ana memakaikan longcoat-nya yang terletak di atas sofa di sebelahnya pada Louis, hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.


"Pakailah..kau tampak kedinginan.." ujarnya lirih.


Deg !!


Jantung Louis berdetak tak beraturan. Dadanya terasa sesak membuatnya sulit bernafas. Bahkan ia dapat merasakan harum nafas Ana yang berbau coffee bercampur mint.


"Lihatlah.. wajahmu merah sekali seperti kepiting rebus.." ejek Ana saat wajah mereka berhadapan sangat dekat sambil terkekeh.


Namun Ana menahan tangannya.


"Dengarkan saja kataku.. lagipula aku sudah merasa hangat sekarang.." geleng Ana tersenyum manis.


Louis hanya diam tak bergeming lagi. Ia bahkan dapat mencium wangi parfum Ana yang sangat khas, mewah dan lembut dari longcoat Ana. Jujur saja ia Bahkan belum pernah mencium wangi aroma seperti itu sebelumnya, wangi yang sangat khas.


"Ayo kita pindah kesana, ada banyak mata yang akan melihatmu disini.." Ana menunjuk ke arah pojok yang jauh lebih tertutup. Mereka berdua jalan beriringan ke arah pojok. Dan duduk berhadapan.


Ana tampak memanggil pelayan untuk memesan beberapa cemilan.


"Apa kau ingin makan sesuatu??" Tanya Ana lembut.


"Kopi dan Salad buah saja.." jawab Louis enteng.


Beberapa menit mereka hanya berdiam diri. Ana sibuk dengan ponselnya, melihat jadwal meeting keesokan harinya. Sementara Louis masih tak bergeming.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu.. katakanlah jika kau ingin mengatakan sesuatu.." imbuh Ana mengagetkan Louis dari lamunannya, sementara ia terlihat masih fokus menatap layar ponselnya.


"Hmm.. aku hanya ingin bertemu.." lagi-lagi keyakinan Louis tergoyahkan. Bahkan mulutnya seakan terkunci rapat ketika ia sudah bertemu Ana.


Ana meletakkan ponselnya ke atas meja lalu menatap Louis dengan tatapan menggodanya. "Apa kau ingin ikut pulang bersamaku lagi??" Godanya menyunggingkan senyum tipisnya.


"Ah.. jangan mulai lagi.. kenapa kau selalu membahasnya.." tukas Louis kesal.


"Hahaha siapa suruh kau main-main denganku.." tukas Ana tertawa kecil.


Drrt..drtt..


Ponsel Ana bergetar di atas meja. Di lihatnya nama yang tak asing berada di layar ponselnya.


"Haloo.." jawabnya dengan wajah ceria.


"Kau sudah tiba di rumah??" Tanya Albert dari seberang.


"Belum.. aku sedang di GC hotel.."


"Bibi Layla menanyakanmu padaku.. ia khawatir karena sedang turun salju.."


"Aku akan meneleponnya.."


"Apa yang kau lakukan disana?" Tanya Albert lagi. "Cuaca sangat buruk sekarang..jangan terlalu lama di luar.."


"Aku tau.. aku sedang bersama Louis sekarang.." jawab Ana enteng.


Louis yang mendengar namanya di sebut melihat ke arah Ana dengan bingung.


"Ah.. pria berwajah manis itu.." celetuk Albert terdengar tertawa kecil. "Apa kau lihat Ana saat di restaurant waktu itu?? Dia menatapku seperti ingin menerkamku.. sepertinya dia sangat tergila-gila padamu.." seru Albert terkekeh geli.


Ana melirik ke arah wajah polos Louis.


"Aku tau.." jawab Ana tersenyum malu. "Udah dulu ya sayang.. aku akan meneleponmu lagi nanti.." celetuk Ana tiba-tiba mengagetkan Louis yang tercengang.


Albert yang menangkap sinyal itu hanya tertawa. "Kau benar-benar tega Ana.. jangan mempermainkan hati laki-laki manapun.. jika kau menyukainya katakan saja.. jika tidak segera tinggalkan ia.. jangan menyakitinya.."


"Hmm.. aku tau.." jawab Ana singkat segera memutus panggilannya dan kembali meletakkan ponsel ke meja.

__ADS_1


Louis menatapnya sinis. "Kekasihmu??"


Ana menatapnya datar dan mengangguk pelan. Ia dapat melihat Louis tampak kesal di hadapannya.


__ADS_2