
Louis masih berdiri di depan pintu apartmentnya memandangi pintu unit apartment Ana yang tertutup rapat. Ia menerka nerka apa yang dipikirkan Ana soal Wendy. Ia tiba tiba merasa seperti telah mengkhianati Ana. Padahal itu tidak seperti apa yang di bayangkan.
Dengan berani Louis menekan bel apartment Ana. Namun tak ada jawaban. Ia menekan bel itu beberapa kali setelah beberapa menit tak kunjung di gubris Ana.
Ia lagi lagi menekan bel sambil mencoba menelepon Ana, namun tak juga di angkat. Ditambah kata kata Wendy tadi terus terlintas di benaknya bahwa Ana terlihat sangat pucat. Kekhawatiran pun semakin memuncak. Louis memberanikan diri menekan kata sandi pintu apartment Ana 123456, lalu pintu pun segera terbuka. Dengan langkah besar Louis setengah berlari masuk ke apartment. Ia memeriksa setiap sudut ruangan, namun Ana tak di temukan.
Saat hendak membuka pintu kamar tidur Ana, Ana justru tampak tengah berusaha mengenakan bra nya, dengan kondisi handuk menutupi tubuhnya dari pinggang hingga ke lutut. Sementara dari perut ke atas kepalanya tak tertutup sehelai benangpun.
Sontak Ana yang kaget terpekik histeris, membuat Louis lari pontang panting keluar kamar.
Tak lama Ana segera keluar dari kamar dan meninju lengan Louis keras.
"Apa yang kau lakukan??!" Bentaknya marah.
"Ma..maaf.. aku sangat panik.. kau tidak membuka pintu, aku sudah menekan bel dan mengetuk berkali kali.. a..aku juga meneleponmu tapi tidak kau angkat.. aku sangat khawatir karena kau terlihat sangat pucat.." jelas Louis gelagapan.
"Aku tidak membuka pintu karena aku sedang mandi.. dan aku terlihat pucat karena aku sangat lelah setelah penerbangan 12 jam.." tukas Ana kesal.
"Ma..maafkan aku.. aku benar benar khawatir dan takut terjadi hal buruk padamu.." Louis tertunduk malu sekaligus merasa bersalah.
"Sekarang keluarlah.. aku ingin istirahat.." usir Ana lirih.
"Baiklah.." angguk Louis segera beranjak pergi. Ia tampak berlari kecil keluar dari apartment Ana.
Ia berdiri cukup lama di luar, ia tertegun saat kembali mengingat ada perban menutupi lengan Ana, dan tampak beberapa memar di bagian tubuh dan kakinya.
"Apa dia berkelahi lagi?? Luka itu terlihat baru.. ck.. kenapa dia suka sekali meladeni orang untuk berkelahi.." gerutu Louis bertanya tanya sendiri.
****
Pagi hari itu Ana bangun lebih awal. Pukul 5 pagi ia sudah terbangun. Padahal ia baru tidur pukul 3 pagi setelah menyelesaikan pekerjaannya yang terus menumpuk.
Ana lantas segera berkemas, membuat secangkir kopi sebelum berangkat kerja. Saat hendak keluar, ia melihat banyak bungkusan totebag belanjaannya kemarin. Ia sempat berpikir sesaat tentang hadiah untuk Louis.
Awalnya ia ragu ragu, namun ia memantapkan dirinya dengan alasan 'mubazir bila harus dibuang' karena harganya memang tidak murah.
Awalnya Ana ingin membunyikan bel apartment Louis, namun saat itu masih terlalu pagi. Jadi, Ana hanya meletakkan totebag oleh-oleh itu di depan pintu apartment Louis. Lagipula tidak ada juga yang akan mencurinya, karena apartment itu sangat ketat keamanannya. Tidak ada satupun yang bisa berkeliaran disana kecuali nama nama orang yang sudah di daftarkan secara langsung ke security.
Ana mendaftarkan 3 nama, Pak Kim, Jane, dan Louis. Sementara Louis mendaftarkan nama Pak Dong, Pak Kim, Jane, Ayah, Ibu serta adiknya, lalu nama Ana.
Maka hanya nama nama itu saja yang boleh mendapat akses masuk ke area lantai apartment mereka.
****
Setibanya di kantor, Ana di sambut hangat Pak Kim, Ana menyodorkan sebuah totebag putih pada Pak Kim.
__ADS_1
"Pak Kim.. kau datang pagi sekali??" Tanya Ana melihat Pak Kim sedang membereskan berkas kerjaan di atas mejanya.
"Tentu.. banyak hal yang harus kita lakukan hari ini Ms.Grey.. semua dokumen kerjaan yang perlu anda periksa dan tanda tangani sudah ada di atas meja anda.."
"Baiklah.. akan segera aku periksa.." angguk Ana mengerti, lalu ia menyodorkan totebag yang ia bawa pada Pak Kim.
"Aku bingung harus belikan apa untukmu.. tapi aku rasa ini cocok untukmu.." seru Ana dengan ekspresi datar.
"Terima kasih Ms.Grey.." angguk Pak Kim tersenyum menerima oleh oleh dari Ana.
Pak Kim kemudian tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan lalu menyodorkan sebuah bungkusan putih dengan label nama sebuah rumah sakit di sisi bungkusan itu.
"Ini resep obat yang anda minta kemarin.. dokter di negara L waktu itu sudah mendatangi hotel anda, namun ternyata anda sedang tidak ada di hotel.. jadi aku mengambil banyak stok obat sesuai resep yang ada di rumah sakit disini waktu itu untuk berjaga jaga..." jelas Pak Kim penuh perhatian.
Ana menerima itu dengan penuh rasa syukur karena selalu di perhatikan Pak Kim dengan ekstra.
"Terima kasih banyak Pak Kim.."
Ana segera masuk ke ruangannya, dan ia menghela nafas lesu melihat mejanya hampir dipenuhi oleh tumpukan berkas kerjaan.
Ana segera membuka jas berwarna peach nya, lalu ia gantung di gantungan jas di pojok ruangan. Kemudian Ana menggulung kedua lengan kemejanya tinggi dan menguncir tinggi rambutnya yang semula ia gerai mempesona. Ana meletakkan tas jinjingnya di laci meja kerjanya, sebelumnya ia mengeluarkan sebungkus rokok beserta pemancisnya. Namun Ana tak melihat asbak kayu jati berwarna hitam dengan motif kepala macan yang biasa ia gunakan itu di atas meja.
Lalu Pak Kim muncul dari balik pintu ruangan Ana seakan mendapat sinyal panggilan dari Ana.
"Maaf Ms.Grey.. asbaknya sudah saya singkirkan.." jawab Pak Kim santai mendekat ke arah Ana.
"Apa??" Ana terbelalak kaget mendengar jawaban Pak Kim.
Lalu Pak Kim tampak menyodorkan kotak berwarna hitam pada Ana.
"Sebaiknya anda mencoba ini.. saya mendapat rekomendasi dari dokter anda di rumah sakit.. rokok elektrik ini memang tidak sehat juga.. namun ini lebih baik daripada rokok yang biasa anda gunakan.." ujar Pak Kim dengan nada hati hati.
Ana yang penasaran segera membuka kotak hitam itu, tampak di dalamnya ada sebuah set perlengkapan rokok elektrik berwarna silver dengan ukiran seni mengelilingi bagiannya, Ana terperanjat melihat tampilannya yang elegan dan mewah.
"Bagaimana cara menggunakannya??" Tanya Ana polos.
"Sini.. mari saya ajarkan.."
"Hoo.. Pak Kim.. kau jago juga rupanya.." goda Ana terpana.
"Ah.. sebenarnya saya mempelajarinya karena saya yakin anda juga akan bingung untuk pertama kalinya.. hahaha.." jelas Pak Kim terkekeh.
Ana hanya terkekeh sinis.
"Cepat ajari aku.." seru Ana antusias. Ana mengambil sebuah botol berbentuk oval dengan gambar buah buahan di sisi labelnya dari dalam kotak itu.
__ADS_1
"Lalu ini apa??"
"Nah.. ini liquidnya.. anda harus meneteskannya di atas sini beberapa tetes saja hingga kapasnya basah.. seperti ini.. sekarang kita tutup.." jelas Pak Kim sambil memperagakan caranya dengan seksama hingga vape itu berhasil menyala dan mengeluarkan asap dari ujung corongnya, serta mengeluarkan wangi mix berry yang sangat nikmat.
"Wah.. wangi mix berry.."
"Tentu saja.. itu perisa mix berry.. wangi sekali bukan??" Pak Kim bahkan kagum pada dirinya sendiri karena berhasil membuat Ana terpesona.
"Saya membeli perisa lain juga, kopi, brownis, starwberry.. jika anda ingin perisa yang lain.. saya akan mencarikannya untuk anda.."
Ana yang antusias langsung mencoba vape itu, dan ia tampak sangat senang. Wajah polosnya berkali kali terpesona dengan benda kecil itu, ia benar benar tampak polos seperti anak kecil yang mendapat mainan kesukaannya.
"Awalnya memang terasa aneh, namun tidak terlalu buruk.. terima kasih untuk ini Pak Kim.. tapi.. dimana kau membelinya?? Ini sangat bagus.. aku suka desainnya.. setauku kau tidak punya selera sebagus ini.." tanya Ana penasaran yang mengenal Pak Kim cukup baik.
"Sebenarnya.. saya dibantu Tuan Louis untuk mencarinya.. anda tau kan seleraku benar benar buruk dalam urusan memilih barang.. dan dia memberikan ini padaku beberapa hari yang lalu.. lalu saya mencari liquid nya sendiri di toko yang dia rekomendasikan..." Pak Kim tampak ikut senang melihat ekspresi Ana.
"Louis??"
Pak Kim mengangguk cepat. "Dia berkata kalau ini untuk hadiah ulang tahunmu yang paling terlambat.."
"Wah.. aku senang sekali.. terima kasih sudah memperhatikan aku dengan baik Pak Kim.." puji Ana hangat.
"Jadi.. saya akan mengambil ini.." timpal Pak Kim mengambil rokok dan pemantik Ana yang ada di atas meja sambil tersenyum lebar.
"Hmm.. bisakah aku tetap menyimpannya??" Celetuk Ana menahan tangan Pak Kim.
"Anda sudah menemukan yang lebih baik.." ujar Pak Kim melepas cengkraman Ana dengan lembut dan memberikan senyuman terbaiknya pada Ana yang tampak tidak rela ketika rokoknya di ambil.
Ana menatap rokok dan pemantik yang ada di tangan Pak Kim dengan wajah tak ikhlas, namun ia akhirnya menghela nafas berat merelakannya.
"Baiklah.. bawalah itu denganmu.." sahut Ana lesu membanting tubuhnya ke atas kursi kerjanya.
"Kalau begitu.. saya keluar dulu.. panggil saya kapanpun anda butuhkan.." Pak Kim segera pergi keluar ruangan Ana.
"Aish.. dia benar benar tau bagaimana caranya menyiksaku perlahan.." gumam Ana dalam hati ngedumel.
"Setidaknya rasa vape ini juga tidak terlalu buruk.." ujarnya menyemangati dirinya.
Kemudian ia teringat bahwa Louis juga berkontribusi atas vape itu. Ia tengah menerka nerka apa Louis sudah menerima oleh oleh darinya apa belum.
-->> ilustrasi rokok elektrik Ana.
Otto Carter : 42 jutaan.
__ADS_1