Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 146 : Kematian Leo


__ADS_3

Saat di perjalanan menuju dermaga tua, Ana mendapatkan panggilan dari Jane. Panggilan pertama di abaikan oleh Ana. Tak heran jika Jane bisa menemukan nomor ponsel Ana, itu hal yang gampang untuknya dengan mempekerjakan hacker untuk melacak Ana.


Namun, Jane tampak tidak menyerah, dia mengulang panggilan hingga yang ketiga kalinya.


A : "Ada apa?" Jawab Ana tanpa basa-basi.


J : "Kau ada dimana?"


A : "Di jalan.."


J : "Mau pulang?"


A : "Tidak.."


J : "Kau sudah ada janji?" Tanya Jane penasaran.


A : "Hmm.."


J : "Dengan pria atau wanita?"


A: "Kenapa kau bertanya seperti itu? Seperti sepasang kekasih saja.."


J : "Seseorang ingin tau tentang itu.." jawabnya ambigu.


A : "Apa maksudmu??" Tanyanya bingung.


J : "Aku sedang makan malam dengan Louis.." jelasnya.


A : "Oh.." sahut Ana seakan tak peduli.


J : "Ohh..?? Kau tidak ingin bergabung kesini?" Jane terdengar kaget dengan respon itu, ia tau betul jika Ana juga sangat menggilai Louis.


A : "Aku sibuk.." jawabnya singkat.


J : "kau baik-baik saja kan??"


A : "tentu saja.."


J : "baiklah kalau begitu, singgahlah kemari jika kau sudah luang.."


A : "aku tidak janji.. Aku akan pulang sangat larut. "


J : "..." jane terdiam mendengar ucapan Ana, ia merasa jika Ana akan melakukan sesuatu yang penting.


A : "aku tutup dulu.. bye.." ujar Ana segera mengakhiri panggilan itu setelah ia tak mendengar jawaban apapun dari Jane.


Ia bahkan yakin jika Jane pasti memiliki firasat untuknya. Ana melalu jalanan berbatu hingga ia tiba di dermaga tua yang telah di janjikan. Namun, ia tak menemukan apapun disana. Ia memarkirkan mobilnya, ia segera mencoba menghubungi Leo, tapi ponsel itu tidak bisa di hubungi. Ana yang mulai khawatir mengeluarkan pistol barunya dari dalam dashboard. Ia memeriksa amunisi senjata api itu dengan teliti. Beberapa kali Ana mengulang untuk menghubungi Leo, namun Leo tetap tak bisa di hubungi.


Ana punya firasat buruk soal itu. Ia memeriksa jam tangannya, ia sudah menunggu selama 20 menit. Harusnya Leo sudah tiba disana. Namun ia yakin sesuatu telah terjadi.


Ana yang merasa gelisah mencoba menghubungi Neo, namun Neo tak juga merespon.


"Ada apa ini.. kenapa semuanya tidak bisa di hubungi??" Batin Ana gelisah.


Ia kembali menunggu hingga 1,5 jam telah berlalu. Semakin yakin jika suatu hal telah terjadi, Ana segera meninggalkan dermaga itu. Ia segera mengencangkan laju mobilnya. Ia berencana untuk menemui Jane ke alamat yang telah Jane kirim melalui pesan sesaat setelah mereka saling berbicara di telepon.


Setibanya disana, ia dapat melihat dari luar jendela jika Jane dan Louis tengah duduk sambil  bersenda gurau di lantai 2 dekat jendela.


Ana segera turun dari mobilnya, menyimpan pistolnya di dalam tas kecilnya yang selalu ada di dalam mobil. Ia kembali memeriksa ponselnya, namun tak ada notifikasi apapun disana.


Ia segera masuk ke dalam restoran seafood itu, menuju lantai 2.


Louis yang melihat kehadiran Ana spontan melambaikan tangannya dengan senyuman lebar. Jane melihat ke arah lambaian itu lalu tersenyum simpul

__ADS_1


"Sudah aku bilang kan, dia pasti datang.." gumam Jane berbisik pada Louis.


"Aku pikir kau tidak akan datang.." seru Jane berpura-pura.


"Temanku membatalkan janji temunya.." jawab Ana segera duduk di samping Jane, sementara Louis sejak tadi sudah duduk di seberang Jane.


"Kau mau makan apa??" Tanya Louis bersemangat.


"Aku sedang tidak berselera.. aku hanya ingin minum.." ujar Ana lemas.


"Baiklah.." Louis tampak memanggil pelayan disana yang segera datang membawa buku menu.


"Bawakan aku sebotol wiskey.." timpal Ana santai.


Louis yang tampak bingung hanya tertawa kecil. "Aku pikir kau akan memesan wine.."


"Tidak usah.. bawakan wine saja.." timpal Jane pada pelayan itu yang tampak mengangguk lalu segera pergi menyiapkan pesanan mereka.


"Kau bahkan mengatur apa yang ingin aku minum.." gumam Ana lirih menatap Jane sinis.


"Aku hanya khawatir pada kondisimu.."


"Cih.." Ana menyunggingkan senyum sinisnya.


"Hmm.. Ana bagaimana kabarmu??" Tanya Louis memotong pembicaraan Ana dan Jane karena suasananya terasa sangat menegangkan.


"Baik.." angguk Ana acuh tak acuh.


"Kau yakin tidak ingin makan sesuatu.. menu-menu disini sangat enak.."


"Tidak perlu.." jawabnya singkat.


Melihat reaksi kecewa Louis, Jane segera mengacungkan gelas minumannya ke arah Louis.


Louis hanya mengangguk pelan dan mengangkat gelasnya mengadu kedua gelas mereka sebelum akhirnya mereka tenggak.


Tak lama wine pesanan Ana datang. Saat pelayan hendak menuangkannya ke gelas, Ana segera menyambar botol itu.


"Biar aku saja.." ujarnya lirih menuang wine ke dalam gelasnya hingga terisi penuh.


Lalu menenggak habis wine itu dengan cepat. Pelayan tadi tampak sangat terkejut melihat tingkah Ana. Sontak Jane memberi isyarat pada pelayan itu untuk segera pergi meninggalkan mereka.


"Kau tampak sangat haus.." gumam Louis lirih kehilangan kata-kata.


"Aku sedang sangat kesal.. maaf membuat kalian merasa tidak nyaman.." ujar Ana lirih.


"Tidak apa-apa.. semua orang pasti punya masalah yang membuat mereka sangat kesal.. hanya saja.. pastikan kau tidak sendirian di saat sedang kesal.. karena cara minummu sangat mengerikan.. kau harus bisa sedikit mengontrolnya.." saran Louis berhati-hati.


Ana hanya menatap Louis dengan tatapan sendu.


Drrt.. drrt..


Ana mendengar getar ponselnya dari dalam tasnya, karena tergesa-gesa hendak meraih tas yang ia letak di atas meja itu, ia justru menjatuhkan tas itu ke lantai dan membuat isinya berserakan keluar, bahkan pistolnya tampak mencuat keluar.


Louis yang melihat itu tampak terkejut, namun ia juga tampak termenung sesaat. Ia tampak memikirkan sesuatu. Ana dengan sigap meraih semua isi tas nya, lalu segera meraih ponselnya.


"Halo.."


"Halo selamat malam.. apa anda mengenal saudara Leo??"


"Ya.. dia rekanku.." jawab Ana merasa tidak enak hati.


"Bisakah anda datang ke kantor polisi pusat kota sekarang juga?? Saudara Leo ditemukan meninggal dunia di dermaga tua.."

__ADS_1


"Apa??!! Baiklah aku kesana sekarang.." ujar Ana segera mengemas barang-barangnya lalu bergegas pergi mengabaikan panggian Louis dan Jane.


Jane dan Louis melihat ke arah jendela luar, Ana tampak berlari menuju mobilnya, bahkan ia langsung menancap gas dengan kencang.


"Apa dia baik-baik saja?? Bahkan dia minum wine segelas penuh.." tanya Louis khawatir.


"Aku akan menyusulnya.. kalau begitu aku pamit dulu.. sampai jumpa lain waktu.." pamit jane segera bangkit dari duduknya.


Ia tampak segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang.


****


Tiba di kantor polisi, Ana segera menemui polisi yang tadi menghubunginya.


"Terima kasih sudah datang Nona.. saya ingin menkonfirmasi sesuatu.."


"Silahkan.." ujar Ana.


"Apa hubungan anda dengan korban?"


"Apa aku dijadikan saksi?" Tanya Ana balik.


"Kami harus menanyai anda beberapa pertanyaan penting sebelum memutuskan status anda.."


Ana tercengang.


"Aku baru mengenalnya.. dia pengawal rekan kerjaku.."


"Apa anda mengetahui atau menyadari hal yang mencurigakan dari korban?"


"Dia tiba-tiba mengirim pesan padaku pagi ini, dan mengatakan jika ia ingin menemuiku dan memberikan sesuatu.."


"Apa kalian berjanji akan bertemu malam ini?"


"Ya.. di dermaga tua.."


"Apa kalian bertemu?"


"Tidak.. aku sudah menunggunya selama hampir 2 jam, tapi dia tak kunjung tiba.. lalu aku segera pergi menemui nenekku dan temanku.."


"Apa anda tau apa yang ingin dia berikan pada anda, sehingga kalian bertemu di dermaga tua?"


"Aku pun tidak tau apa yang ingin dia berikan atau sampaikan padaku.. aku hanya datang kesana sesuai permintannya.. kalian bisa memeriksa ponselku dan camera dashboard ku.."


"Baiklah.. kami akan memeriksanya dan menjadikan itu salah satu bukti alibi mu.."


"Tentu saja.. jadi, apa yang terjadi padanya??"


"Dia tewas setelah mengalami luka tembak di dahinya.. tapi di sekujur tubuhnya juga terdapat banyak luka memar.. kami sedang berusaha menghubungi keluarganya, tapi ia ternyata tidak terdaftar sama sekali sebagai warga negara disini.. tapi ia memiliki kartu idientitas palsu.. Jadi kami tidak bisa menghubungi keluarganya.." jelas polisi itu


"Dia berasal dari negara C.." jawab Ana lirih.


"Apa anda tau mengenai keluarganya..?"


"Aku pernah dengar tentang adik perempuannya.. adiknya tinggal di negara ini.. aku memiliki fotonya, tapi aku tidak tau siapa namanya.."


"Baiklah.. kalau begitu.. kami akan menyelidikinya terlebih dahulu.. tapi sebelumnya saya harap anda  untuk tetap disini selama proses pemeriksaan.."


Ana menghela nafas berat dengan ekspresi kesal.


"Baiklah.." angguknya cepat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)


__ADS_2