
"Halo.." jawab Louis terdengar terengah. Setelah diberi tahu asistennya bahwa ada telepon dari "Ms.G" di layar ponselnya, setelah ia berpesan bahwa apapun yang sedang ia lakukan harus segera memberi tahunya, agar ia dapat segera mengangkat telepon itu.
"Kau lagi dimana?" Tanya Ana tanpa basa basi.
"Aku lagi di lokasi shooting.." jawab Louis santai.
"Kau sedang apa?"
"Berapa usia ayahmu?" Tanya Ana tiba tiba, tanpa menjawab pertanyaan Louis.
"Ayahku?? Kenapa?"
"Jawab saja.."
"53 tahun.. ada apa??" Tanya Louis semakin penasaran.
"Tidak ada, hanya penasaran saja.. sudah dulu ya.." Ana segera memutus panggilannya.
Louis terbengong melihat tingkah Ana.
"Wahh.. dia selalu seenaknya saja.." gerutu Louis kesal.
"Tapi kenapa dia menanyakan usia ayahku??" Ia terus bertanya tanya sendiri karena penasaran.
Ana segera menghampiri staff yang tadi.
"Usianya 53 tahun.." ujar Ana yakin.
"Baiklah.. akan segera kami pilih.."
"Terima kasih.."
Ana pun segera berjalan mengelilingi lorong yang berisikan pakaian untuk wanita.
Staff yang lain datang mendampingi Ana.
"Ada hal lain yang bisa saya bantu Nona?"
"Pilihkan aku beberapa dress untuk wanita usia 50an awal dan gadis usia 20an.. tolong pilihkan yang paling bagus.."
"Baiklah Nona.."
Setelah menunggu beberapa menit, kini permintaan Ana sudah di tampilkan. Beberapa barang merupakan stok terbaru dan limited edition.
Melihat semua tampak bagus dan manis Ana memutuskan untuk membeli semuanya.
"Anda ingin yang mana Nona??" Tanya staff yang melihat Ana tampak bingung.
Ada 10 stelan kemeja beserta dasinya dengan beragam model dan warna yang tidak mencolok, lalu ada 10 dress yang sangat bagus dan elegan.
"Aku akan mengambil semuanya.." Ana lalu memisahkan mana mana saja yang untuk keluarga Louis, Pak Kim dan keluarga Albert.
Lalu Ana melihat ada sebuah tas jinjing yang sangat elegan di pajangan lemari kaca. Tas itu tersedia 2 warna yaitu pink dan putih. Ana meminta kedua tas itu juga di bungkus.
Ia berpikir bahwa tas itu sangat cocok untuk istri Albert dan juga Irene.
Setelah selesai berbelanja, Ana segera mengemudikan mobilnya menuju hotel. Namun di perjalanan ia melihat sebuah toko berlian brand ternama saat ini.
Ana menghentikan mobilnya, ia berpikir sejenak. Lalu ia memutar balik mobilnya di tengah jalan raya untuk segera menghampiri toko berlian yang sudah terlewat itu.
__ADS_1
Saat masuk Ana di sambut hangat oleh beberapa karyawan yanh tengah berjaga.
"Selamat datang Nona, Anda ingin mencari sesuatu??"
"Aku ingin membeli oleh oleh untuk Grandmaku.." ujar Ana ragu ragu.
"Kami ada beberapa koleksi pilihan terbaru.. mari ikut saya.." pria muda itu meminta Ana mengikuti langkahnya menuju lemari kaca yang berada di tengah tengah bangunan mewah itu disana tampak berbagai macam model cincin, anting, kalung dan gelang berlian yang sangat indah.
Lalu mata Ana tertuju pada sebuah kalung dengan liontin motif bintang dengan batu berlian yang berwarna hijau. Tanpa ragu Ana memilihnya.
"Aku mau yang itu.." tunjuk Ana.
"Pilihan anda bagus sekali Nona.." puji pria itu terkesan.
Ana hanya mengabaikan pujian itu, ia sedang serius melihat-lihat. Lalu pandangannya tertuju di sebuah patung berbentuk tangan yang saling bergandengan, di pergelangan patung itu terdapat sebuah gelang couple yang sangat unik.
"Ini gelang couple model terbaru kami Nona.." ujar pria itu menjelaskan pada Ana yang tampak serius melihatnya.
"Akan sangat cocok serta romantis jika anda mengenakannya dengan pasangan anda.."
"Oh.. aku hanya melihat lihat.." geleng Ana cepat.
****
Ana kembali mengemudikan mobilnya dengan berusaha tenang, ia merasa aneh, tiap sebentar ia menoleh ke totebag berwarna putih dari toko berlian tadi yang ada di kursi penumpang sampingnya.
"Apa yang aku pikirkan?? Kenapa aku harus membeli gelang couple itu.." gerutu Ana bingung.
"Aku pasti sudah gila.." ujarnya gusar.
Ternyata ia benar benar membeli gelang couple itu untuk diberikannya pada Louis. Ia tidak bisa membayangkannya jika nanti Louis akan selalu mengejek dan menggodanya karena ia membelikan gelang couple.
Disana Ana memesan cocktail dengan kadar alkohol yang ringan. Saat tengah menikmati cocktail nya, tiba tiba seseorang menyenggolnya dari arah belakang sehingga Ana terdorong dan menumpahkan minumannya yang sedang ia pegang ke atas meja.
"**** !!" Umpatnya kaget segera berdiri, mendapati pakaiannya yang juga basah.
"Maafkan aku.." ujar pria itu terus menunduk lalu segera pergi setengah berlari.
Ana yang merasa curiga berencana mengejar pria itu, namun Ana justru merasa aneh pada dirinya. Ia tiba tiba merasa pusing, dan merasa nyeri pada lengan kanannya, ia berusaha kembali duduk ke bangkunya, karena tubuhnya mulai tak seimbang.
Matanya lalu tertuju ke arah lantai, tepat di bawah kakinya terdapat sebuah suntikan yang sudah kosong dengan berukuran kecil. Ana berusaha menunduk kebawah meraih suntikan itu, dan benar saja ternyata ia telah di bius oleh pria tidak di kenal tadi.
"F*ck !!!" Umpat Ana lirih lalu jatuh tumbang ke lantai tidak sadarkan diri.
****
Anak buah Jane yang sedang mengawasi Ana menunggunya di parkiran, mereka melihat Ana telah di bopong seseorang masuk ke dalam van putih dengan gambar delievery express di bagian kedua sisi van itu.
Melihat itu mereka bergegas mengikuti mobil itu, mereka segera mempersenjatai diri masing-masing.
Sadar van itu tengah di ikuti, mereka pun menambah kecepatan. Anak buah Jane kesulitan mengejar karena jalanan cukup padat. Ditambah supir penculik itu sangat lihai mengendarai van nya.
Tidak menyerah sampai disitu, kejar kejaran masih terus berlanjut, hingga mereka memasuki kawasan pabrik tua yang sudah lama tidak beroperasi lagi. Kawasan itu dipenuhi dengan bangunan besar yang memiliki gudang dengan pintu besi besar, tiba tiba van itu menghilang di antara sekian banyak gudang itu.
Anak buah Jane memutuskan saling berpencar untuk mencari Ana.
Sementara saat mobil van itu tengah berhenti, Ana di seret paksa turun dari van dalam kondisi masih tidak sadarkan diri. Franz sudah berdiri menunggu disana dengan memegang sebuah samurai di tangannya, samurai itu adalah salah satu koleksi yang ia gemari. Ia mengumpulkan banyak jenis samurai dengan berbagai ukiran tradisional yang memiliki banyak sejarah.
Ana di ikat ke belakang dan dibiarkan tergeletak di atas tanah. Lalu Franz menyiramnya dengan air es dalam ember bekas di dekatnya yang telah dia persiapkan.
__ADS_1
Sontak Ana tersentak dan mulai tersadarkan.
Dengan berusaha keras Ana menyadarkan dirinya, ia berusaha melihat sekeliling.
Ia lalu menggerakkan tubuhnya yang terikat kuat.
"Kau selalu saja menjadi pengecut.." gerutu Ana mengejek Franz yang tersenyum melihat Ana yang sedang berusaha berontak.
"Kau masih saja bersifat sombong.." tukas Franz menyeringai.
"Jadilah gentle.. aku ini seorang perempuan.. apa kau tidak malu menyiksaku seperti ini di depan anak buahmu??" Ejek Ana lagi.
Ia tau kelemahan Franz adalah paling benci ketika dia di remehkan oleh perempuan.
"Diam kau !!" Bentak Franz menodongkan ujung samurainya ke depan wajah Ana.
"Ahh.. kau berisik sekali.. aku bahkan belum sempat menghabiskan cocktail ku.." celetuk Ana marah.
"Gadis gil* ini selalu meracau dan membuatku muak.."
"Maka ayo berduel denganku secara jantan.. tapi.. jika kau memang lelaki sejati.. melihat kondisiku saat ini.. kau tampak seperti pecundang miskin yang putus asa.. bahkan jika saat ini aku mati.. kau tetap tidak akan bisa mengambil alih lagi perusahaan itu, karena aku sudah mencantumkan ahli warisku selanjutnya.." ujar Ana lagi membuat Franz semakin pitam.
Franz menendang tubuh Ana keras.
"Aku menyesal sudah bertemu denganmu !! Kau bajing*n gila !! Kau menghancurkan segalanya milikku !!" Pekik Franz murka.
"Diamlah !!! Kau berisik sekali !!" Bentak Ana balik.
"Hei.. berengs*k.. mari kita akhiri ini.. Aku sudah sangat jijik dan muak berurusan dengan pengecut sepertimu.. bahkan seharusnya kau tidak memulai apapun denganku.. seharusnya dari awal kau sudah tau dan sadar, betapa gilanya aku.. " seru Ana menyeringai dengan sorot mata yang tajam.
"Cepat kalian buka ikatannya.." seru Franz menyuruh anak buahnya membuka ikatan tubuh Ana.
Benar saja, Franz itu orang yang sangat bodoh. Ia sangat mudah di bodoh-bodohi. Ia selama ini berkuasa karena memiliki jabatan yang bagus dan uang yang banyak, serta dapat bantuan dan dukungan dari Dominic.
Namun kini Dominic telah memusuhinya, bahkan Ana juga sudah membuatnya kehilangan semua hartanya, jadi tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk melawan Ana, selain berkelahi secara gentle, setidaknya untuk menyelamatkan harga dirinya.
"Ahh.. kau membuat pergelangan tanganku memar.. aku masih harus menghadiri meeting bersama para pemegang saham.." gumam Ana segera bangkit sambil mengusap kedua pergelangan tangannya yang memerah.
"Kau masih saja sombong !!" Hardik Franz segera menyerang Ana tanpa aba-aba. Untungnya Ana berhasil mengelak.
Franz hanya di temani 3 orang pengikutnya yang masih tetap setia padanya, meski ia sudah tidak punya apa apa lagi.
Perkelahian itu berlangsung sengit. Meski Franz memegang samurai tajam, namun ia tidak pandai menggunakannya, ia berkelahi karena amarahnya, bukan karena kemampuan berkelahinya. Sementara Ana menguasai semua pertarungan mereka. Meski ia hanya dengan tangan kosong, ia mampu menaklukan Franz, pukulan demi pukulan ia layangkan pada Franz, hingga ia menjatuhkan samurainya ke tanah, Ana dengan sigap menendang samurai itu menjauh darinya.
"Sudah aku katakan, berkelahilah seperti seorang jantan.. itu artinya dengan tangan kosong.." ujar Ana terengah.
"Diam kau !!" Tukas Franz berusaha bangkit dari tanah.
Dorrr !!!
------
-->> Ilustrasi foto foto yang di lampirkan hanya sebagai pendukung untuk imajinasi para pembaca, agar dapat lebih menikmati saat membaca dengan membayangkan tempat, jenis, karakter karakter yang sudah author ciptakan.
__ADS_1