Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 137 : Bukti Baru


__ADS_3

Saat tengah tertidur pulas, Ana tersentak saat mendengar suara bel kamarnya berbunyi dua kali. Sontak ia segera terduduk karena kaget. Ia melirik jam tangannya menunjukkan pukul 3.12 pagi.


"Pasti grandma.." batin Ana mengabaikan.


Namun saat hendak kembali tidur, bel kamar itu kembali di bunyikan berkali-kali tanpa henti. Dengan kesal Ana segera berlari menuju pintu kamar hotelnya, ia segera mengintip ke lubang pintu, tak seorang pun tampak di depan sana. Merasa was-was Ana mengambil pistolnya yang ia sembunyikan di kolong sofa kamar hotel saat ia baru tiba disana. Pistol yang ia ambil dari mansion.


Mengendap-endap, Ana membuka pintu kamar hotel itu perlahan. Ia mengintip kesana kemari tapi tak mendapati siapapun disana. Ana membuka lebar pintu itu, celingak-celinguk melihat sekeliling, benar..tak ada siapapun disana. Namun, ia mendapati sebuah ponsel lipat jadul dan sebuah kartu nama. Ana segera memungut kedua benda itu dari lantai tepat di depan pintu kamarnya, kemudian segera masuk ke kamarnya, mengunci semua slot pintunya.


Kriingggg... Kriiinggg..


ponsel jadul yang ada di genggamannya berbunyi. Tulisan 'Nomor tidak dikenal' muncul di layar ponsel itu. Dengan berani Ana segera menerima panggilan itu.


"Siapa kau?!" tanya Ana dingin.


"Bukankah kau sedang mencari Layla.." seru suara dari seberang.


"Siapa kau !!" tanya Ana lagi.


"Aku bisa membawa Layla padamu.. Aku tau dimana dia berada.."


"Aku tidak butuh bantuanmu.." gumam Ana dingin.


"Anak buahmu mengkhianatimu, Layla berusaha menyingkirkanmu, sementara Jane mengetahui semua permainan ini, tapi dia tidak melakukan apapun untukmu.. Ah.. Satu lagi.. Bukankah kekasihmu tengah amnesia?? Apa dia masih belum mengingatmu??" suara yang di samarkan itu mengetahui semua tentang Ana.


"Apa maumu !!" bentak Ana kesal.


"Aku ingin berbisnis denganmu.. Mari bertemu.."


"Baiklah.. Aku yang akan menentukan tempatnya.."


"Tidak perlu.. Kau cukup datang ke mansion-mu.."


"Mansion-ku??" tanya Ana kaget.


"Aku akan memberikan semua yang kau minta.. tapi kau juga harus memberikan semua yang aku butuhkan.. Aku hanya butuh kekuatanmu.."


"Baiklah.. Temui aku 1 jam lagi di mansion.."


"..." tuttt..tuttt..


panggilan itu segera terputus. Ana mengusap kasar wajahnya. Ia melirik jam tangannya, tanpa berpikir panjang ia segera bersiap dan bergegas pergi menuju mansionnya.


Ana pergi menuju mansion menggunakan taksi. Selama perjalanan ia terus menerka-nerka siapa penelepon itu. Ia tidak tau apa itu jebakan atau bukan, tapi yang pasti ia harus kesana untuk mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


Ia harus segera mengakhiri semuanya, lalu segera menghilang. Ia berharap Louis akan terus melupakannya.


...****************...


Setibanya di mansion, Ana mendapati mansion itu tengah kosong, bahkan ia tak menemukan tanda-tanda kehidupan disana. Ia sempat berpikir jika Jane ada disana, namun ia tak melihat ada siapapun. Ia mengeluarkan pistolnya dari dalam saku jaket untuk berjaga-jaga. Ana mengendap-endap mengelilingi taman, namun tak melihat siapapun. Ana berjongkok di antara pepohonan, ia melihat kesana kemari dengan jeli.


Ia merasakan kehadiran orang lain dari belakangnya.


Satttt..


Dengan sigap Ana menarik tangan sosok di belakangnya dengan keras, melayangkan satu pukulan keras pada rahang orang itu hingga ia tersungkur. Saat terjerembab, Ana segera menekan keras lututnya di punggung orang itu, melingkarkan lengannya ke leher orang itu hingga ia tercekik keras.


"Akhhh... To..long.. Le..paskan..aku.." pintanya meronta kesulitan bernafas.


"Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu !!!" bentak Ana terus mencekik pria itu.


"A..aku yang me..nelepon..mu.." ujarnya tercekat.


Ana melihat wajah pria asing itu dengan intens. Lalu mulai melonggarkan cekikannya perlahan.


"Aku yang menyuruhmu kemari !!" serunya jelas.


Ana segera bangkit, dengan terus melihat pria itu dengan tatapan sinis.


"Siapa kau !!"


"Siapa yang menyuruhmu??"


"A..aku.."


Ana menodongkan pistolnya ke dahi pria itu tanpa ragu.


Pria itu tampak sangat ketakutan, ia segera bertekuk lutut dan mengangkat kedua tangannya.


"Jangan bunuh aku !!! Aku mohon tolong aku.. Aku butuh bantuanmu.." ujarnya gemetaran.


"Kenapa aku harus menolongmu??"


"Mr.Zhou berusaha membunuhmu karena ulah Layla, Layla menyerang persembunyian dan benteng Mr.Zhou, ia memanfaatkan semua orang kepercayaanmu, ia memanipulasi seakan-akan serangan itu adalah ulahmu.."


"Aku tau itu.." jawab Ana tenang.


"Jangan percaya pada siapapun.." ujarnya lirih celingak celinguk kesana kemari.

__ADS_1


Ana memeperhatikan setiap gerak-geriknya yang aneh.


"Aku menyimpan foto, video dan rekaman suara bukti semuanya.. Tapi kau harus menolongku lebih dahulu.."


"Bukankah kau anak buah Mr.Zhou??"


"Dia berusaha membunuh adikku.." jelasnya.


"Di..dia memerintahkanku untuk membunuh Layla, tapi ternyata Layla telah lebih dulu mengambil langkah.. Dia menculik adikku.."


Sontak Ana teringat nasib B1, Layla menculik adiknya untuk memperalat B1, pikirnya.


"Bagaimana bisa aku mempercayaimu??" tanya Ana dingin.


"Bukti itu ada di dalam jam tangan adikku.." jawabnya lirih.


"Dimana terakhir kau bertemu dengannya??"


"Di rumah sakit milik ayahmu.." jawabnya lagi.


"Layla sering berada disana.. Aku tidak tau apa yang dia lakukan disana.. Dia sering menyamar sebagai perawat di bangsal VIP.."


"Apa?? Kau yakin itu??" Ana terkejut mendengar pernyataan Leo.


Ia tampak segera mengeluarkan ponselnya, mengotak-atik ponselnya, lalu menyodorkan ponselnya pada Ana, tampak sebuah foto terlihat disana. Foto Layla tampak menyamar sebagai perawat tengah mendorong troli obat-obatan.


"Apa yang dia lakukan disana??" batin Ana terkejut. Ia mencari Layla kesana kemari, namun ternyata dia justru tengah bersembunyi di tempat yang tidak ia sangka.


"Aku mohon selamatkan adikku.. Aku tidak akan selamat jika Mr.Zhou berhasil menemukanku saat ini.. Jadi.. Aku mohon bantulah aku menyelamatkan adikku.. Kirim dia ke panti asuhan di luar negeri.. aku telah mengirim pesan di email-mu berisi semua akun bank rahasia milikku beserta passwordnya.. Aku tau itu tidak akan cukup untuk membayar jasamu.. Tapi bukti itu akan setimpal dengan mempertaruhkan nyawaku dan adikku.."


"..." Ana tertegun, ia tampak tengah berpikir keras. Tangannya masih terus menodongkan pistolnya pada Leo, dan tak teralihkan sedetikpun.


"Pagi ini aku akan memeriksanya kesana.. Jangan coba-coba kau berani menipuku, atau kau akan mati di tanganku.."


"Kau bisa mempercayaiku.. Karena aku sudah tidak punya tempat tujuan.. Aku yakin kau satu-satunya orang yang bisa menolongku.."


"Aku tidak akan mempercayaimu sebelum aku melihat bukti itu sendiri.."


"..." dengan cepat Leo mengangguk mengerti.


"Pastikan kau terus bersembunyi.. Aku akan menghubungimu segera.." imbuh Ana menyimpan pistolnya.


"Gunakan telepon yang aku berikan.. Itu telepon sekali pakai, tidak akan ada yang bisa meretasnya.." pinta Leo masih terus bertekuk lutut.

__ADS_1


"Baiklah.." angguk Ana mengerti. Ana segera pergi meninggalkan Leo. ia harus segera menyusun rencana untuk menangkap Layla dan menyelamatkan adik Leo.


__ADS_2