
"Halo.." jawabnya malas segera kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Kau mabuk-mabukan tadi malam?" Timpalnya sinis.
"Tidak.." jawab Ana lirih.
"Cih.. jangan membohongiku.. kau bahkan meneleponku tengah malam dan mengatakan hal-hal aneh padaku !! Kau membuatku takut !!" Omel Jane marah besar.
"Maaf aku mengganggu tidurmu.." gumam Ana lirih.
"Kau ada dimana?"
"Di mansion.." jawab Ana dengan nada lirih dan malas, ia benar-benar masih belum sadar seutuhnya.
"Kau sama siapa?" Tanyanya curiga.
"Tentu saja hanya ada aku dan pelayanmu disini.. memangnya siapa lagi yang ada disini??" Tukas Ana marah balik.
"Bukankah kau bilang Louis ada disana?"
"Hah? Apa maksudmu?" Ana terlonjak kaget dari baringnya.
"Tadi malam kau bilang dia berdiri di hadapanmu, tersenyum padamu.." jelas Jane lagi.
"Aku mengatakannya?" Mulut Ana ternganga lebar.
"Apa kau tidak ingat? Wah.. kau pasti sudah gila karena sangat merindukannya.." ledek Jane mulai menggodanya.
"Cih.. bye !!" Sontak Ana segera memutus panggilan Jane. Ia tertegun sesaat lalu segera memeriksa panggilan keluar di ponselnya.
Deg !!
Benar saja !! Ada 10 panggilan keluar ke kontak Louis, 1 panggilan keluar ke Pak Kim, dan 1 panggilan keluar ke Jane, lalu panggilan tak terjawab dari Jane pagi ini hingga 16 kali.
"Dasar wanita gila !! Apa yang sudah aku lakukan??" pekik Ana shock.
Ia memukul kepalanya beberapa kali mencoba mengingat-ingat kejadian tadi malam. Namun tak satupun dapat ia ingat.
"Argghhh !!" Pekik Ana melompat ke tempat tidurnya.
"Aku pasti sudah gila !! Aaarggghhh..!!" Pekik Ana lagi.
"Ms.Grey !! Anda baik-baik saja?" Seru pelayannya dari arah luar berlarian masuk ke dalam kamarnya saat mendengar suara pekikan Ana tadi.
"A..aku baik-baik saja.." sahut Ana salah tingkah.
"Anda yakin Nona? Apa anda butuh sesuatu?"
"Ah.. ya.. aku yakin.. hmm.. bisakah kau tolong buatkan aku kopi dan sandwich?? Aku akan pergi keluar pagi ini.." pinta Ana sopan.
"Baiklah Ms.Grey.. akan segera saya siapkan.."
"Terima kasih.."
Pelayannya segera keluar dari kamar Ana. Ia biasanya membuat sarapannya sendiri, tapi karena baru saja pulih, Jane bersikeras memaksa Ana menggunakan jasa pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhannya selama di mansion.
***
Ana berjalan lesu menuju kantor Grey World, semua mata tertuju padanya, banyak juga yang menunduk menyapanya, meski tak begitu ia hiraukan, karena rasa pusing dan mualnya. Ia terus berjalan sambil memegangi perutnya menuju lift.
__ADS_1
Ia berjalan tertatih ingin masuk ke dalam ruangan Pak Kim, sekretaris Pak Kim yang baru sempat menghentikan langkahnya.
"Maaf Nona.. apa anda sudah punya janji dengan Pimpinan Kim??" Serunya menghentikan langkah Ana.
"A..apa?" Ana lupa jika ia tak lagi menjabat jadi pimpinan disana, bahkan sekretaris Pak Kim itu adalah karyawan baru disana, jadi wajar saja jika ia tidak mengenali Ana yang tampak berbeda dari penampilan sebelumnya.
"Ms.Grey !!" Seru Pak Kim dari arah lorong karena tengah bersiap untuk meeting pagi.
"Ada apa? Apa anda baik-baik saja? Kenapa anda pucat sekali??" Tanyanya bertubi-tubi.
"Perutku sakit sekali.." gumamnya lirih meremas perutnya.
"Ayo masuk ke dalam.." pinta Pak Kim membukakan pintu ruangannya dan membuat sekretarisnya tercengang.
"Kenapa kau tidak menyuruhnya langsung masuk ke dalam?" Omel Pak Kim pada gadis itu.
"Maaf Pak.. saya tidak tau siapa gadis itu.."
"Kau ini !! Dia Anavalia Grey !! Pemilik perusahaan ini.. kau harus mengingat wajahnya !!"
"Ma..maaf Pak.. saya benar-benar tidak tau.."
"Untung saja dia tidak memintaku untuk memecatmu !!" Tukas Pak Kim sinis.
"Tolong bawakan teh hijau hangat ke ruanganku.." pintanya segera masuk ke ruangannya menyusul Ana yang tampak sudah terkulai lemas di atas sofa tamu.
"Ada apa? Apa anda baik-baik saja?"
"Aku minum terlalu banyak semalam.. sepertinya perutku sedang berontak dan marah padaku.." gumam Ana tak jelas.
"Kenapa anda minum-minum? Bahkan kondisi anda masih belum pulih.."
Berselang beberapa menit, sekretaris Pak Kim segera masuk membawa sebuah nampan berisikan secangkir teh hangat untuk Ana.
Ia pun segera beranjak pergi tanpa berbasa-basi, mengingat kondisi Ana yang tampak seperti orang tengah sekarat.
Pak Kim segera menyodorkan teh hangat itu pada Ana.
"Minum ini, setelah itu berbaringlah disini.. aku akan ada meeting beberapa menit lagi.."
"Baiklah.. jangan hiraukan aku.. aku hanya merasa cukup malas berada di mansion sendirian.."
"Bukankah anda selama ini sangat betah mengurung diri di mansion seorang diri?" Sindir Pak Kim lirih.
"Benar juga.." angguknya setuju dengan raut wajah yang aneh.
"Kini entah kemana perginya jiwa itu.. sekaranv aku merasa mudah kesepian Pak Kim.." imbuh Ana memanyunkan bibirnya.
"Anda benar-benar membuatku ngeri.."
"Cih.. jahat sekali.." gerutu Ana segera merebahkan tubuh kurusnya ke atas sofa tamu.
Pak Kim tampak mendekatinya, lalu mengembangkan selimut beludru berwarna cokelat muda dari sisi sofa, kemudian segera menutupi tubuh Ana hingga ke bawah dagunya.
"Istirahatlah.. aku akan segera kembali setelah meeting selesai.."
"Hmm.. jangan hiraukan aku.." usir Ana melambai-lambaikan tangannya seraya menyuruh Pak Kim segera pergi.
***
__ADS_1
"Kau tidak perlu ikut Lou.. sebaiknya kau istirahat dirumah saja.." gumam Pak Dong mengeluh pada Louis yang mengikutinya kemana saja. Padahal selama ini, Louis paling susah di ajak meeting dengan klien.
"Aku masih merasa canggung di rumah itu.."
"Ibu dan ayahmu pasti akan sangat sedih mendengar ini.."
"Awas saja kalau kau sampai mengatakan yang tidak-tidak.."
"Kau pikir aku pengadu?? Cih.. kau benar-benar tidak seperti Louis yang aku kenal.. sebaiknya segera kau pulihkan ingatanmu itu.. aku merindukan sosokmu yang lama.."
"Aku pun begitu.." gumam Louis menghela nafas berat. "Aku berharap ingatanku segera pulih.."
"Selamat siang Tuan.." sapa sekretaris Pak Kim menyambut Louis dan Pak Dong ramah.
"Pak Kim ada di dalam?" Tanya Pak Dong ramah.
"Maaf Tuan, Pak Kim masih meeting di lantai 6.. akan segera selesai 15 menit lagi.."
"Baiklah kalau begitu.. kami tunggu di dalam saja ya.."
"Baik Tuan.. silahkan masuk.." silah gadis itu tanpa sadar jika Pak Kim sudah memperingatinya untuk melarang siapapun masuk ke ruangannya saat ia tak ada di tempat.
Kriekkk...
Saat pintu terbuka Pak Dong masuk lebih dulu ke dalam, sementara Louis masih berdiri di luar, ia tampak tengah menerima panggilan telepon dari ibunya sesaat lalu.
Pak Dong melenggang masuk menuju sofa tamu, namun ia terperanjat kaget saat mendapati ada seseorang tengah tidur di sofa itu.
Pak Dong memberanikan diri mendekat untuk melihat wajah orang itu.
Siapa sangka, alangkah terkejutnya dia saat mengenali wajah Ana saat itu. Ketika melihat ke arah pintu, ia segera berlari berhamburan keluar untuk menghentikan langkah Louis yang hendak menyusulnya masuk ke dalam.
"Lou.. Lou.. Lou.. se..sebaiknya kita menunggu di kantin saja.." serunya terengah.
"Memangnya kenapa? Tunggu disini saja.." celingak celinguk mengintip ke dalam.
"Aku sangat lapar.. ayo kita tunggu di kantin saja.."
"Kau saja.. aku sedang malas.." tolak Louis berusaha masuk.
"Ayolah.." paksa Pak Dong merengek.
"Memangnya ada siapa di dalam? Kenapa kau melarangku masuk? " Tanya Louis penasaran, melihat tingkah Pak Dong yang berusaha menghalang-halanginya. Ia berusaha menarik lengan Louis kuat.
"Ada putriku di dalam !!" Seru Pak Kim dari arah belakang, ia tampak setengah berlari, lalu menatap sinis pada sekretarisnya.
"Pu..putrimu?" Timpal Louis bingung.
"Aku tidak tau anda sudah menikah dan memiliki anak.." tambahnya.
"Aku memang belum menikah.. dia putri angkatku.." jelas Pak Kim singkat mengatur nafas.
"Sudah ku bilang kita tunggu di kantin saja.." gerutu Pak Dong.
"Maaf Pak Kim, aku tidak tau jika ada putrimu di dalam sana.."
"Tidak apa-apa.. dia sedang tidak enak badan, jadi sedang istirahat di dalam.. mari kita ke ruang meeting saja.." ajak Pak Kim segera di setujui keduanya.
***
__ADS_1