
Setelah berbincang dengan situasi yang masih canggung, Pak Kim akhirnya tiba di ruangan. Louis pun akhirnya memilih untuk pergi, karena Irene ternyata mengunjunginya sebelum berangkat bekerja. Irene ternyata juga ingin menyapa Ana dengan membawa parsel berisi buah buahan segar.
Namun saat baru membuka sedikit pintunya, Irene melihat dan mendengar Ana tengan muntah muntah di bantu oleh Pak Kim. Melihat itu Irene segera sedikit berlari menghampiri Ana yang kaget melihatnya, di bibir Ana masih tertinggal bekas sisa darah dari muntahnya.
"Kakak.. kau tidak apa apa??" Tanya Irene panik segera mengambil tisu dan mengelap mulut Ana.
"Kenapa kau ada disini??" Tanya Ana kaget segera menutupi mulutnya, sementara Pak Kim segera membawa tong sampah berisi muntah darah Ana ke dalam kamar mandi.
"Aku hanya singgah sebentar saja sebelum pergi bekerja, karena aku masuk siang hari ini.."
"Kau tidak perlu jauh jauh kemari.."
"Tidak jauh kok kak.." geleng Irene tersenyum hangat.
"Bekerjalah yang rajin, dan terus belajar tentang bisnis perhotelan, aku yakin suatu saat kau bisa mengelola bisnis hotelmu sendiri.. kau sangat mahir dan kompeten di bidang bisnis ini.."
"Baik kak.. aku akan selalu rajin belajar dan bekerja, agar kau bangga padaku.."
"Fokus untuk membuat orang tuamu bangga, kau harus lebih dulu mementingkan mereka.."
"Kau juga sama pentingnya dengan mereka kak.. kau banyak membantuku.."
"Sudah seharusnya aku memberi kesempatan dan peluang untuk orang sepertimu.. menjadi sukses sudah membuatku bangga.. dan aku akan menganggap itu sebagai ucapan terima kasihmu.."
"Aku tidak akan mengecewakanmu kak.."
"Tentu saja.. kau pasti berhasil.." Ana tampak tersenyum hangat.
Mereka sempat berbincang beberapa menit, hingga akhirnya Irene izin pamit untuk segera berangkat kerja karena jarak dari rumah sakit lumayan jauh ke GC Hotel.
"Irene.." seru Ana menahan tangan Irene.
"Iya kak??"
"Tolong rahasiakan apa yang kau lihat tadi.." guman Ana parau.
"Hal yang tadi??" Irene mencoba mencerna maksud Ana yang membicarakan soal muntah darahnya itu.
"Hmm.." angguk Ana.
"Aku mengerti, baiklah.. aku janji tidak akan mengatakannya pada siapapun.." angguk Irene mengerti.
"Tapi.. apa kau sakit parah kak??" Tanya Irene penasaran.
"Tidak.. itu hanya efek obatnya.. seperti untuk membersihkan tubuh, mengeluarkan darah darah kotor.." jelas Ana berbohong lagi.
__ADS_1
"Benarkah?? Karena terlihat sangat mengerikan.." gumam Irene cemas.
"Jangan khawatir.. pergilah.. nanti kau bisa terlambat.."
"Baiklah.. aku berangkat kerja dulu kak.. semoga kau lekas sembuh kak.." Irene memegang punggung tangan Ana hangat beberapa saat. Lalu segera pergi.
"Dokter belum membolehkan anda pulang dalam waktu dekat Ms.Grey.." imbuh Pak Kim mendekati Ana.
"Aku tidak bisa diam berlama lama disini Pak Kim.."
"Jika ini soal pekerjaan, anda bisa mengandalkan saya.." tambahnya lagi.
"Ini bukan hanya soal pekerjaan.. aku ingin memanfaatkan waktuku sebaik mungkin.."
"Apa terjadi sesuatu?? Dokter enggan memberitahuku tentang kondisi anda.. ia hanya memintaku untuk menahanmu lebih lama disini.." Pak Kim tampak khawatir dan cemas melihat kondisi Ana.
Bagaimana tidak, saat ia baru tiba di ruangan Ana, ia mendapati Ana mual, lalu muntah darah banyak sekali.
"Ini hanya karena bekas operasiku waktu itu Pak Kim, tapi bukan masalah serius.." jawab Ana dengan suara parau.
"Aku mohon, urus saja semua administrasiku dan Louis, agar besok kami bisa segera pulang.." pinta Ana merebahkan tubuhnya yang terasa lemas.
"Baiklah.. aku akan segera mengurusnya.." angguk Pak Kim tak bergeming lagi, ia segera merapikan selimut Ana, menariknya hingga ke dagu Ana.
"Istirahatlah Ms.Grey.. anda bisa mengandalkan saya.."
****
Ana sudah berkemas dan bersiap di bantu Jane dan Pak Kim. Ia bahkan sudah mendapat suntikan obat sebelum akhirnya pulang, tak lupa Jane juga meminta banyak resep obat khusus untuk Ana.
"Kau tampak sangat bersemangat sekali untuk pulang.. padahal dokter sangat marah karena kau pulang terlalu cepat.." omel Jane sambil merapikan pakaian Ana dalam tas jinjingnya.
"Aku perlu menghirup udara segar.." jawab Ana singkat mengenakan longcoatnya.
"Aku harap kau memikirkan perkataan dan tawaran dokter waktu itu.." ujar Jane penuh harap.
"Aku tidak punya waktu melakukan hal seperti itu.. obat sudah lebih dari cukup.." Ana mengencangkan ikatan tali pita longcoatnya.
"Kau keras kepala sekali.. aku benar benar khawatir.." ketus Jane kesal.
"Bukankah kita mirip?? Sama sama keras kepala??" Ejek Ana melirik ke arah Jane dengan tatapan mengejek.
"Jadi.. kau akan kembali ke apartment? Kau bisa kembali ke mansion.. aku sudah merapikan kamarmu.."
"Aku ingin kembali ke apartment saja.."
__ADS_1
"Baiklah.. aku akan sering berkunjung kesana.."
"Bagaimana dengan anak buah Mr.Zhou?? Aku dengar kau mengirimnya kembali ke negara C??"
"Tentu saja.. akan ada anak buahku dari negara E yang akan mengawasi kita berdua.. kau jangan khawatir.. bahkan Franz dan Layla tidak akan bisa menyentuhmu.. aku memerintahkan anak buah andalanku.."
"Cih.. bahkan mereka tidak bisa melindungimu malam itu.." ejek Ana.
"Malam itu aku tidak membawa mereka, karena aku sudah meminta bantuan Lucas.." timpal Jane.
"Benarkah?? Bagaimana dia bisa mempercayaimu??"
"Entahlah.. aku hanya mengatakan bahwa kau membutuhkan bantuannya, tidak peduli betapa dia sangat membenciku.. aku hanya terus mengatakan padanya untuk datang menolongmu, bukan menolongku.. dan ternyata dia benar benar datang.. dan menyelamatkan kita bertiga.."
"Baiklah.." ujar Ana memberi tanggapan singkat.
"Kau sudah lama tidak bicara padanya?" Tanya Jane menebak.
"Hmm.. lagipula sudah tidak ada yang perlu aku katakan padanya.." angguk Ana segera berlalu menuju pintu keluar.
"Setidaknya kau harus tetap memperhatikan anak-anaknya.."
"Tentu saja, aku mengirimkan uang untuk anak anaknya dan kadang mengirimkan hadiah untuk mereka melalui pos.."
"Apa mereka tau itu dari kau??"
"Hmm.." angguk Ana pelan. "Kak Lucas pernah mengirimkan pesan padaku untuk tidak melakukannya lagi.. karena dia merasa tidak enak untuk itu.. jadi sekarang aku tengah mempersiapkan tabungan untuk anak anak mereka, aku akan memberikannya suatu saat nanti.."
"Kau bahkan sekarang berbicara seakan akan kau ingin meninggalkan warisan.." imbuh Jane meledek.
Ana hanya menatap Jane dengan tatapan sendu, lalu segera berlalu membuka pintu ruangan kamarnya. Saat membuka pintu, ia mendapati Pak Kim dan Louis tampak segera menghampiri setelah mereka selesai mengurus administrasinya dan Ana.
"Kau sudah siap?" Tanya Louis meraih tas jinjing kecil yang Ana pegang.
Sementara Pak Kim membawa barang lainnya yang sudah di kemas Jane.
"Hmm.." angguk Ana cepat.
"Kenapa kau menebus banyak sekali obat??" Tanya Louis curiga.
Ana yang bingung menoleh ke arah Jane.
"Itu hanya buat berjaga jaga.. kau tau aku malas sekali jika harus bolak balik ke rumah sakit hanya untuk mengambil obat.."
"Tapi.."
__ADS_1
"Ayooo cepat.. aku sudah sangat lapar.." timpal Jane memotong pembicaraan Ana dan Louis, ia segera menggandeng tangan Ana menarik Ana berjalan lebih dulu di depan. Sementara Louis berjalan di belakangnya bersama Pak Kim.