
Louis yang merasa canggung sesekali mencuri pandang pada Ana, ia bisa melihat wajah Ana yang sangat mulus dengan sangat jelas.
Ia bahkan dapat mencium aroma nafas Ana yang berbau mint. Parfum yang Ana kenakan juga sangat khas sehingga Louis selalu bisa menandainya, jika mencium aroma parfum seperti itu, maka pasti sudah tanda jika itu adalah Ana.
Karena sebenarnya parfum yang Ana kenakan itu adalah sampel perusahaan Ana saat ia menjalani bisnis parfum elit di negara E, karena Ana menyukai wanginya, Ana membeli sampel itu khusus untuk dia pribadi, sehingga hasil produksi parfum itu tidak untuk dijual, karena hanya akan di pakai oleh Ana sendiri.
Louis yang merasa semakin deg degan membuatnya salah tingkah dan tersenyum malu malu.
"Kau kenapa?" Bisik Ana ketus.
"Ah..aku.. aku serasa ingin buang angin.." gelengnya salah tingkah, betapa bodohnya dia mengatakan hal memalukan itu pada Ana di situasi seperti itu.
"Apa????" Ana membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Louis.
"Maaf.. aku tidak bisa buang angin begitu saja.. mungkin itu akan mengeluarkan suara dan sedikit berbau.. kita nanti pasti akan ketahuan.." bisiknya lagi tambah membuat Ana kesal.
Ana tampak menggeram kesal. "Kau.." geram Ana kehabisan kata kata.
Louis hanya tersenyum dengan perasaan sangat malu.
Ana lalu segera mengintip situasi di sekeliling, lalu segera keluar dari sela tumpukan box tadi.
"Sekarang kau bisa kentut sepuasmu disana.." celetuk Ana sinis segera pergi mendekati container yang ditargetkannya.
Louis yang berusaha menahan tawa serta rasa malunya masih bersembunyi disana. Dan tentu saja ia masih harus mengatur detak jantungnya yang berdetak tidak karuan.
***
Saat pintu kontainer itu terbuka, betapa kagetnya Ana melihat isi di dalamnya. Ternyata ada 5 anak anak berusia dibawah 10 tahun, 2 orang gadis remaja dan seorang wanita dengan bayi yang masih merah di pelukannya. Kondisi mereka semua sangat miris dan memprihatinkan. Mata Ana berkaca kaca melihat pemandangan itu.
Ana lalu menekan tombol di earphone nya agar saat ia berbicara dapat tersambung dengan Jane dan anak buahnya sekaligus.
"Target sudah aku temukan.." ujar Ana lirih.
Ana lalu segera bergegas mendekati anak anak itu, Ana membuka longcoatnya dan menyelimuti tubuh anak anak itu seadanya.
"Aku akan menyelamatkan kalian semua.." gumam Ana lirih.
Louis yang segera menyusul Ana tercengang kaget setelah mendapati isi dalam kontainer yang sudah terbuka itu, ia terpaku melihat ke dalam.
"Apa yang kau lihat? Cepat kita keluarkan mereka.." seru Ana menyadarkan Louis yang membatu.
Dengan gelagapan Louis juga segera membuka jaketnya dan mengenakannya pada seorang wanita yang ternyata baru saja habis melahirkan di dalam kontainer itu. Bahkan sang bayi tampak sangat lemah karena kekurangan oksigen dan kedinginan.
"Ana.. bayi ini tidak bergerak lagi.." seru Louis panik melihat bayi yang sudah di selimuti jaket itu tidak menangis ataupun bergerak.
"Tolong selamatkan anakku.. aku mohon.." bisik wanita itu lemah dengan suara parau.
__ADS_1
"A..aku akan menyelamatkan anakmu.." angguk Louis gemetaran dan masih tampak terpaku.
"Hei.. sadarlah.. kita harus cepat.. mereka semua butuh pertolongan.." seru Ana menepuk pundak Louis.
Ana tampak segera menggiring anak anak itu keluar terlebih dahulu, Ana menyuruh anak anak itu untuk bersembunyi di tempat yang sudah di siapkan, ternyata tak jauh dari sana ada sebuah kontainer yang sudah ada dua orang dokter dan beberapa perawat di dalamnya, disana juga sudah di sediakan banyak selimut dan obat obatan untuk bantuan pertolongan pertama.
Louis tampak berlari mengikuti Ana sambil menggendong ibu yang baru melahirkan itu beserta anaknya yang masih ia peluk erat.
Louis tidak menyangka jika Ana sudah menyiapkan kontainer darurat itu. Ibu dan bayi itu segera di tangani dokter ahli, ternyata bayi itu sudah pingsan tak sadarkan diri.
Ana tidak menyangka misi itu benar benar sangat penting karena menyangkut banyak nyawa.
Setelah Ana berhasil membawa korban terakhir dan mengosongkan kontainer, Ana baru sadar bahwa ia telah kehilangan Louis yang tidak lagi tampak. Seharusnya Louis berada di belakangnya bersama seorang gadis remaja yang satunya.
Ana segera berlari mencari hingga langkahnya terhenti ketika seseorang berdiri di depannya menodongkan senjata. Lalu pria itu memberi kode agar Ana melihat ke arah lain.
Disana tampak Louis dan gadis remaja itu bersimpuh sambil di todongi kepala mereka dengan pistol dari arah belakang oleh dua orang pria. Sementara di sisi lain Jane tampak tengah terikat tali dan mulutnya di lakban.
Ana menelan salivanya berat. Ia segera di seret penjahat itu dan terus ditodongi dengan pistol di kepalanya.
Nafas Ana memburu. Ia melihat ke sekeliling menghitung jumlah musuhnya. Ada 17 pria bersenjata. Ana mencuri pandang ke arah anak buahnya yang ternyata juga sudah tertangkap.
Ana menghela nafas berat.
"**** !!" Umpatnya dalam hati.
Ana menatap Louis, ia tampak sangat tenang melihat ke arah Ana, justru tatapan Jane lah yang tampak sangat marah. Karena Jane lah yang pertama kali ketahuan karena alat pendengarnya lupa ia kecilkan.
"Akhirnya kalian bekerja sama.." ujar seorang pria bertato di sisi Jane memulai percakapannya.
"Aku pikir kalian tidak akan pernah bisa akur.." serunya lagi.
Ana menatapnya dengan tatapan dingin dan sungging senyum tipis di ujung bibir tipisnya.
"Bajing*n gila.." gumam Ana lirih.
"Hahahahaha aku selalu saja penasaran denganmu Ms.Grey.. kau selalu menjadi perbincangan banyak anggota geng yang membuatku sangat muak, dan akhirnya sekarang aku bisa melihatmu.. kau ternyata sangat sangat cantik, namun.. sayangnya aku sangat ingin merobek mulutmu itu.." gertak pria itu sambil menunjuk nunjuk Ana dengan pisau bermata tajam dan berukuran cukup panjang.
"Apa mereka juga sudah mengatakan apa yang bisa terjadi jika terlibat denganku??" Tanya Ana dengan nada mengancam.
"Ahh.. kau mengancamku?" Serunya terkekeh.
"Tidak.." geleng Ana cepat. "Kenapa seekor singa harus mengancam seekor kecoa seperti mu?" Ujar Ana lagi dengan nada mengejek.
Di arah lain Jane terdengar tertawa di balik lakban yang menutup mulutnya saat mendengar ucapan Ana. Kesal mendengar itu pria tadi menendang Jane hingga ia terjatuh ke tanah, namun Jane masih terdengar tertawa.
"Wanita sial*n.." bentak pria itu menendang Jane lagi, namun Jane masih saja tertawa.
__ADS_1
Ana pun ikut tertawa.
"Hei.. dia hanya wanita tua yang gil*.. jadi jangan buang buang tenagamu untuknya.." imbuh Ana tersenyum lebar.
"Mau berduet denganku??" Ana membuka longcoatnya dan membuangnya ke tanah, ia juga tampak mengeluarkan pisau lipat kecil yang ada dalam saku celananya.
"Hahahaha lihatlah.. bahkan pisaumu sekecil payudar*mu.. hahahaha.." ejek pria itu menertawakan Ana yang kini wajahnya berubah menjadi sangat menakutkan.
Ana lalu berlari ke arah pria itu mulai menyerang, pergelutan itu sangat seru, karena Ana memang bukan lawan yang mudah, meski ia mendapat pukulan balasan, namun ia berhasil memukul lawannya lebih banyak lagi.
"Ternyata kau cukup jagoo.." puji pria itu meludahkan darah dari dalam mulutnya.
"Benarkah??" Ana memegang erat pisau lipatnya di tangan kiri, lalu kembali mulai menyerang, pukulan demi pukulan di layangkan Ana ke arah pria itu, saat lengah Ana memberikan serangan double pada pria itu, pukulan keras dengan tangan kanan dan tusukkan pisau dengan tangan kirinya.
Pria itu tampak tergopoh-gopoh bersimbah darah, namun ia masih tampak kuat. Sementara Ana mengalami beberapa memar bekas pukulan serta luka goresan pada lengan dan kakinya.
"Pantas saja superstar seperti dia sangat menginginkan wanita sepertimu.. kau benar benar wanita yang menarik.." kata pria itu terengah menoleh ke arah Louis yang tampak sangat cemas melihat Ana.
"Sayangnya dia bukan type ku.." geleng Ana berkacak pinggang mengatur nafasnya yang memburu.
"Hahahhaa benarkah? Wah sepertinya kau sudah ditolak mentah mentah anak muda.." ejeknya ke arah Louis.
Louis hanya melihatnya sinis.
"Padahal kalian tampak serasi.. kau sangat tampan dan terkenal dan dia juga sangat cantik serta kaya raya.." celoteh pria itu mengulur waktu.
"Sayangnya.. kau tidak bisa hidup bersama wanita seperti dia.. kau tidak akan bisa hidup tenang dan bahagia.. orang orang seperti kami hanya hidup untuk kepuasan diri sendiri.. kami tidak pernah bisa mencintai siapapun.. karena mereka akan lenyap di tangan musuh musuh kami.." serunya sambil berjongkok tepat di hadapan Louis.
Cuih !!!
Louis sontak meludahi wajah pria itu. Ana tertegun melihatnya.
"**** !!!" Umpat pria itu mengamuk dan ingin menghujam Louis dengan pisau, namun Ana segera menahannya, ia menggenggam mata pisau itu erat, darah mengaliri tangannya dengan deras.
"Ana.." seru Louis lirih, saat hendak bangkit, kepala belakang Louis di pukul keras dengan senjata api oleh penjahat yang sejak tadi berdiri di belakangnya, Louis jatuh tersungkur ke tanah. Pria itu menekan punggung Louis yang sempoyongan hampir pingsan dengan lututnya.
Ana yang melihat itu segera menendang keras penjahat yang telah memukul Louis sambil terus tetap memegangi pisau dari pria di depannya.
Ana segera meninju keras wajah pria itu hingga ia lengah, dengan cepat Ana merampas pisau itu dan segera menancapkannya tepat di jantung pria itu hingga mata pisaunya tembus ke punggung belakangnya. Darah segar mengucur keluar dari mulut dan tempat pisau itu masih menancap.
Ana terduduk lemas, kepalanya tiba tiba terasa sangat pusing, samar samar di kejauhan ia mendengar suara sirene polisi, bala bantuan akhirnya datang, Jane ternyata sudah meminta bantuan Albert alias Lucas untuk membantu Ana. Dan sepertinya butuh waktu lama untuknya yakin dengan ucapan Jane, sehingga ia datang terlambat.
Anak buah pria tadi segera lari ketakutan, sebagian melarikan diri dengan kapal yang tengah berlabuh, sebagian berlari kabur ke arah ilalang yang menuju jalan raya. Ana berusaha merangkak mendekat ke arah Louis.
Di tatapnya Louis lekat lekat, dan menghela nafas lega.
"Maaf aku membuatmu terluka lagi.." ujar Louis lirih meraih tangan Ana yang sangat dingin. Tubuh Ana menggigil kedinginan.
__ADS_1
"Aku yang harusnya minta maaf padamu.. aku membuatmu dalam bahaya.." geleng Ana pelan.
***