
"Cepat bereskan ini semua.." perintah Jane pada anak buahnya.
Sementara Ana tampak masuk ke kamarnya, Jane segera mengikuti langkah Ana ke dalam kamar. Ana menuju kamar mandi, ia mencuci tangannya di westafel.
"Apa yang dia cari??"
"Entahlah.. Dia mencari sesuatu di ruang kerjaku.." jawab Ana datar.
"Apa dia mencari itu??" gumam Jane lirih.
"Itu?? Itu apa??"
"Segel Thommas.." gumam Jane setengah berbisik.
"Aku bahkan tidak pernah melihatnya.." geleng Ana mengingat.
"Tapi kau.." ucapan Jane terhenti ketika Ana langsung membekap mulut Jane, dan memberi isyarat padanya untuk diam.
"Segel itu sudah lama hilang.." timpal Ana menyambung ucapan Jane. Ia kemudian memberi isyarat jika apartment nya telah di sadap. Jane yang semula membelalak kaget segera mengangguk mengerti.
"Aku pikir juga begitu.. Tapi kenapa mereka masih berpikir jika kau menyimpannya.." sahut Jane mengikuti alur pembicaraan Ana yang mengalihkan.
"Entahlah.. Aku juga tidak mengerti.."
"Bagaimanapun pasti karena kau masih menjadi pewaris tunggal tetap, segelku tidak cukup untuk mengesahkan pengalihan semua asetnya.."
"Mereka harus bekerja lebih keras untuk menemukan segel milik Ayahku.." sambung Ana memberi kode untuk segera keluar dari sana.
Setelah ia selesai membersihkan tangannya mereka memutuskan untuk segera pergi agar dapat berbicara satu sama lain dengan tenang.
Kini mereka berada di pinggir sungai H, berjalan kaki menelusuri taman yang ada disana tanpa membawa ponsel mereka.
"Apa apartment itu di sadap??"
"Hmm.. Aku sudah menyingkirkannya.. Tapi aku ragu jika masih ada yang tersisa.." jawab Ana berjalan pelang di sisi Jane.
"Siapa yang melakukannya??"
"Entahlah.. Dia bahkan memiliki kunci yang aku pegang.."
"Apa jangan-jangan.."
"Jangan berpikir itu ulah Pak Kim.." timpal Ana tau tuduhan Jane akan jatuh pada siapa.
"Kau selalu mencurigaiku, tapi tidak mau mencurigai Pam Kim.."
"Aku tidak punya alasan apapun untuk mencurigainya.. Dia lebih mengenal ayahku di banding kita berdua.."
"Cih.. Bagaimanapun kau juga harus mencurigainya.. Karena dia tau segalanya membuat dia menjadi tersangka utama untuk di curigai.."
__ADS_1
Ana menghela nafas panjang.
"Apa yang akan kau lakukan jika memang dia yang melakukannya??" tanya Jane penasaran.
"Entahlah.. Membunuhnya terlalu mudah untuknya.. Aku bahkan tidak tau hukuman apa yang pantas untuknya.."
"Tinggalah bersamaku.. Kau akan aman disana.."
"Aku baik-baik saja.. Aku tidak ingin bersembunyi lagi.."
"Jadi.. Dimana jam milik Thommas yang biasa kau kenakan??" tanya Jane teringat tentang segel itu.
"Ada di lemari pakaian.. Kacanya sedikit retak.. Jadi aku menyimpannya.."
Jane bernafas lega. "Pakai terus jam itu apapun yang terjadi.." pinta Jane.
"Memangnya kenapa??"
"Segel itu.. Ada disana.." ujar Jane pelan.
"Di jam itu? Bagaimana bisa??"
"Di sisi bawahnya, buka penutup mesin bawahnya.. Kau akan menemukannya disana.. Seminggu sebelum kecelakaan itu, Thommas merubah dan memindahkannya disana.." jelas Jane.
"Siapa yang tau soal segel itu?"
"Entahlah.. Aku tidak yakin soal itu.." geleng Jane ragu.
"Periksa saat kau tidak ada di apartmentmu.. Untuk berjaga-jaga.."
Ana mengangguk mengerti.
"Sampai kapan kau akan seperti ini Ana?? Apa kau tidak lelah?" tanya Jane menghentikan langkahnya.
"Sampai semuanya berakhir.. Layla.. Dia harus mati di tanganku.." ujar Ana dingin.
"Aku bisa menghabisinya untukmu.."
"Bahkan kau tidak bisa menemukannya.." ejek Ana.
"Aku tidak tau siapa yang melindunginya.. Itu sebabnya aku sulit melacaknya.." keluh Jane berpikir keras.
"Aku ingin kau menjual mansion itu.." ujar Ana tiba-tiba.
"Mansion Tom?? Kenapa? Apa kau butuh uang??"
"Cih.. Bahkan kau tidak tau berapa banyak uang yang aku punya saat ini.." tukas Ana menyombongkan diri.
"Kenapa kau ingin menjualnya??"
__ADS_1
"Mansion itu tak lagi aman.. Aku takut jika salah satu dari kita datang kesana, sesuatu hal buruk terjadi.. Bahkan Layla pernah tinggal disana.."
"Apa kau yakin ingin menjualnya??"
"Hmm.." angguk Ana pelan.
"Jangan pernah kembali kesana.. Jual secepatnya.. Suruh orang lain yang mengurus itu.."
"Baiklah.. Besok aku akan menemui broker untuk membantuku.."
Ana mengangguk pelan.
"Apa kau akan kembali ke apartmentmu??"
"Apa mereka sudah selesai bersih-bersih?? Aku ngantuk sekali.." ujar Ana menguap.
Jane mengusap lengan Ana hangat. "Tinggallah di apartment ku.."
"Aku tidak nyaman.."
"Bagaimana jika ada yang kembali malam ini??" tanya Jane khawaatir.
"Berarti kau perlu datang lagi untuk menolongku.." jawab Ana santai kembali melanjutkan jalan mereka yang kini kembali menuju mobil Jane.
...----------------...
"Apa kau akan terus tinggal di negara ini??" tanya Jane saat mereka menuju perjalanan pulang.
"Tidak.."
"Kemana kau akan pergi??"
"Entahlah.. Aku akan mencari tempat yang sangat indah.. Aku mungkin akan memulai hidup yang baru disana.." jawab Ana lirih menyandarkan kepalanya seraya memejamkan matanya karena ngantuk.
"Tentu.. Kau bisa buka usaha pariwisata, perhotelan atau restoran mewah.." ujar Jane dengan idenya.
"Aku tidak ingin terlibat dengan banyak orang.. Aku akan mencari pekerjaan lain yang tidak perlu melibatkan banyak orang. "
"Menjadi Presdir perusahaan tidak buruk.. Jika malas, kau bisa menyuruh anak buahmu.."
"Kau pikir yang aku kerjakan selama ini tidak buruk?? Ini sangat buruk !!!" tukas Ana menggeram.
"Maaf.. maksudku.. Ah sudahlah.. Terserah kau saja.."
"Perhotelan dan restoran tidak buruk.. Basic bisnisku ada disana.. mungkin aku akan mulai memikirkannya untuk masa depanku.."
"Benarkan.. Pilihlah tempat yang ada pantainya.. Itu akan sangat menguntungkan.."
"Hmm.. Itu terdengar menyenangkan.." angguk Ana setuju.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan pernah bosan.. aku tidak akan berhenti menghasilkan yang terbaik untuk kalian semua.. saran dan masukkan dari kalian sangat berarti untukku.. (ig : tttaaa13)