Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Bab 198


__ADS_3

Ana mengerjakan hampir 70% pekerjaannya seorang diri. Wanita sialan tadi dan anak buahnya di bawa pergi ke ruang perawatan. Ana hanya di temani 5 orang narapidana lainnya yang tak ikut-ikutan dalam keributan tadi. Selama bekerja Ana terus berpikir keras, siapa yang mengawasinya saat ini. Ia juga harus bertahan sampai Jane muncul di hadapannya. Ia tak tau apa rencana Layla maupun Jane. Tapi yang pasti, saat ini ia hanya perlu bertahan untuk menemukan jalan keluarnya. Ia harus rela di pukuli meski ia sangat ingin menghajar mereka semua. Namun ia perlu menunggu sinyal hingga ia bisa melawan semuanya. Jika ia terlalu menonjol, itu akan merugikan dirinya. Ia bisa di asingkan dan bisa-bisa tidak mendapat informasi apapun dari luar. Ia harus pura-pura lemah untuk mengicuh semua orang di sana demi mendapatkan banyak informasi.


Kriiinggg..


Bel berbunyi, menandakan makan siang telah tiba. Semua napi di giring menuju kantin. Ana telah menyelesaikan pekerjaannya bersama 5 orang lainnya. Mereka di antar menuju kantin yang berada di gedung terpisah. Di sana wangi aroma makan siang sangat menggugah selera. Ana melihat sekitar. Semua orang tampak makan dengan lahap. Sementara itu, saat ia tengah mengantri, di meja bagian tengah tampak seorang wanita tua yang di pukuli dengan nampan makan siang dengan cukup keras oleh seorang wanita bertato pada seluruh wajahnya.


Merasa kasian, dan tak tahan melihat wanita renta di siksa begitu, Ana hendak menghentikan aksi itu. Namun seseorang menghentikan langkahnya.


"Wanita itu telah menjual 3 orang anak kandungnya jual diri untuk memenuhi kebutuhan berjudi dan narkobanya.. Bahkan satu di antaranya tewas mengenaskan setelah ia siksa habis-habisan saat menolak untuk mengikuti keinginannya.." imbuh wanita di belakang Ana. "Bukankah itu tak sebanding dengan perbuatannya?"


"..." Ana mengurungkan niatnya. Ia sadar dan tau sampah seperti itu memang tidak pantas ia bela.


"Lantas.. bagaimana nasib anak-anaknya sekarang?" tanya Ana penasaran.


"Mereka sedang menjalani pengobatan dan akan segera di kirim ke panti asuhan.." jelas wanita muda itu berjalan selangkah demi selangkah mengikuti antrian, menuju meja prasmanan.


"Panti asuhan? Kenapa bukan lembaga sosial anak??" Ana membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu.


"Mereka semua masih di bawah umur.."

__ADS_1


"****.." umpat Ana lirih. Ia kembali membalikkan tubuhnya, kembali melangkah perlahan.


"Yang tertua berusia 14 tahun, yang tewas itu berusia 12 tahun, dan yang bungsu berusia 10 tahun.." tambah wanita itu lagi.


Ana menatap dingin ke arah wanita tua itu dengan geram. Ingin rasanya ia membenamkan kepala wanita itu ke dalam tong penuh berisi oli lalu membakarnya.


"Kau.. Wanita di tv itu kan??" bisik wanita muda di belakang Ana bersemangat.


Ana hanya diam tak bergeming. Ia tak ingin membahas tentang dirinya.


"Kau sangat keren.." bisiknya lagi.


Ana lagi-lagi tak menghiraukan wanita muda itu. Ia segera tiba di meja prasmanan. Ia terus berjalan mengikuti alur hingga akhirnya selesai. Saat hendak memilih tempat duduk, romongan wanita 1 sel lamanya tampak melambaikan tanganny seraya memanggil Ana. Namun, tentu Ana tidak menggubrisnya. Ia terus berjalan menuju meja di pojokan. Lalu duduk di sana seorang diri. Ia juga menyingkirkan kursi lain di sekitar mejanya, agar tiada satu orang pun duduk di dekatnya.


Ana tak mempedulikan mereka seperti biasa. Ia hanya terus melahap makan siangnya yang hambar itu.


"Sepertinya makananmu terasa hambar.. Biar aku beri sedikit bumbu agar lebih nikmat.." ujar wanita itu menarik nampan makan siang Ana, lalu meludahinya. Kemudian ia kembali menyodorkan nampan itu seraya tersenyum puas.


"Makanlah.. Sekarang ini pasti sudah terasa semakin nikmat.." ujarnya tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


Ana menatap wanita itu dengan tatapan yang mematikan.


"Hoo.. Lihatlah tatapannya.. Aku sangat suka mata indahmu itu.. Ingin sekali rasanya ku miliki.." gumam wanita itu setengah berbisik.


Ana bangkit dari duduknya. Kesabarannya benar-benar sudah habis. Ia mengangkat nampan itu lalu menghantamkannya tepat ke wajah wanita itu.


Pranggggg !!


Makan siang Ana berserakan di lantai. Wajah wanita itu di lumuri nasi serta lauk pauknya.


"Sial !!!!!" pekik wanita itu menggeram. Ia kemudian melayangkan kepalan tangannya, namun dengan sigap Ana mengelak. Saat lengah Ana membalas pukulan itu tepat di kepala bawah belakang wanita itu hingga ia jatuh tumbang ke lantai tak sadarkan diri.


Hanya dengan satu pukulan keras Ana, wanita itu langsung pingsan. Ana selalu memberi pukulan dengan tepat, ia mempelajari dan mengetahui semua titik fatal di tubuh manusia. Sehingga saat ia menyerang seseorang, ia tak hanya sekedar memukul. Ia juga bisa langsung melumpuhkan lawannya. Itu sebabnya meski ia berbadan ramping, ia bisa mengalahkan banyak lawan tanpa bersusah payah.


Priiiitttt Prittttt !!


Peluit sipir berbunyi keras, menggema dalam ruangan itu. 6 orang sipir tampak berlari menghampiri kerumunan Ana. Mereka segera menyeret Ana menjauhi kerumunan, sementara wanuta tadi segera di seret menuju ruang perawatan.


Para tahanan saling bergumam dan berbisik mengomentari Ana. Mereka merasa cukup senang karena kini ada yang terkuat lainnya. Namun mereka juga khawatir jika Ana bersikap menguasa dan menindas napi lainnya seperti 2 orang bos geng yang sudah Ana kalahkan itu.

__ADS_1


...----------------...


Hai aku kembali !!!!!!!!!!!! aku akan segera menyelesaikan novel ini dengan tuntas !! maafkan aku !!


__ADS_2