Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)

Ineffable Life (Ms. Mafia & Mr. Idol)
Part 58 : Rahasia Besar #1


__ADS_3

"Kau tidak apa apa?" Tanya Louis khawatir.


"Tentu.. dia hanya salah satu dari bajing*n gila yang aku kenal.." gumam Ana santai.


"Baiklah kalau begitu.. aku pamit dulu.. aku hanya ingin menyapamu.." imbuh Louis menangkap suasana hati Ana yang tampak buruk.


"Hmm.. baiklah.." angguk Ana pelan.


Louis tampak segera pergi, bahkan ia mengurungkan niatnya yang ingin mengundang Ana ke rumah orang tuanya, karena ibunya akan berulang tahun minggu depan.


***


Jane yang berada di negara E kini tak lagi mengusik Ana, beberapa hari dilalui Ana dengan tenang, namun siang itu ia mendapat telepon dari Jane.


"Ana.." serunya lirih.


"Hmm.. ada apa?"


"Aku ingin menawarkan sesuatu padamu.." ujar Jane lirih.


"Ini terdengar tidak seperti dirimu.." sindir Ana.


"Aku yakin kau tidak akan bisa menolak tawaranku.." goda Jane.


"Aku tidak tertarik.." jawab Ana datar.


"Bahkan jika itu tentang Layla?" Imbuh Jane membuat Ana tertegun cukup lama.


"Sudah ku duga.. kau tidak akan bisa menolak tawaranku.."


"Apa kau sudah benar benar buntu sehingga membutuhkanku??" Ana kini merasa Jane benar benar membutuhkannya, bukankah ini yang ia inginkan? Membuat Jane jatuh terpuruk.


"Lupakan saja.." tukas Jane lirih.


"Apa yang bisa aku lakukan?" Timpal Ana mantap.


"Pulanglah ke negara E.." pintanya penuh harap.


"Apa aku harus menyelamatkanmu? Atau membiarkanmu??"


"Kau akan mendapat banyak jawaban atas keraguan di hatimu.."


"Aku tidak ragu dengan hal apapun.." tukas Ana mengelak.


"Aku tau kau sedang memata-matai Franz.. bukankah kau ingin tau apa hubungannya dengan Layla?"


"Kau benar benar licik.." gumam Ana dingin.

__ADS_1


"Bukankah kau jadi belajar banyak dariku?" Jane terkekeh menyindir. "Pulanglah ke negara E, temui aku di mansion.." Jane segera memutus panggilannya dengan Ana.


Ana di buru dengan ribuan pertanyaan dan rasa penasaran, disatu sisi ia ingin membiarkan Jane, disisi lain ia penasaran dengan tawaran Jane mengenai Bibi Layla.


Ana memilih penerbangan pertama pagi itu ke negara E, ia tidak membawa banyak pakaian karena di mansion E masih terdapat barang barang dan pakaiannya.


Begitu tiba ia langsung menuju mansion Jane. Disana tidak ada yang tampak berubah, masih sangat tenang dan asri, pepohonan terus tumbuh semakin rimbun. Ana mendapati Jane tengah menunggunya di ruang tamu dengan segelas kopi hangat di tangannya.


Ana melemparkan tas jinjingnya ke sofa, ia juga segera duduk tak jauh dari Jane, mengeluarkan rokok dan pemantiknya, Jane hanya memperhatikan Ana dengan senyum lebar di wajahnya.


"Seharusnya aku memperlakukanmu dengan baik Ana.." gumamnya lirih.


"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Ana menyandarkan kepalanya sambil mengepul asap rokoknya ke udara.


"Buktikan aku tidak terlibat dengan Pejabat Clark.. maka aku akan memberitahumu semua hal yang ingin kau tahu tentang Layla.." imbuh Jane santai.


"Apa kau tau? Bahkan mungkin aku tidak akan percaya pada setiap kata katamu nantinya.." tukas Ana dingin.


"Itu urusanmu.. percaya atau tidak kau akan segera menyadarinya.. aku punya banyak bukti.. bukan hanya sekedar ucapanku saja.." Jane menatap Ana intens.


Ana membalas tatapan itu, ia dapat melihat keseriusan dimata Jane.


"Kau akan menyesal jika kau mempermainkan aku.." ancam Ana lirih.


"Bukankah kau sudah terlatih untuk bermain dengan permainanku?"


"Tentu.. aku tidak akan mengecewakanmu.." angguk Jane senang.


***


Jane dan Ana baru saja keluar dari kantor pengadilan di dampingi pengacara handal Jane, sorotan kamera menyorot sosok Ana dan Jane, Ana tampak segera mengendarai mobilnya menjauhi kerumunan tanpa sepatah kata, sementara Jane dengan pengacaranya menggunakan mobil lain tanpa menggubris para reporter.


Awalnya Jane sudah pasrah dengan situasinya, tentu saja dengan uang dan kekuasaannya ia bisa keluar penjara dengan mudah, namun itu akan mencoreng harga dirinya. Dan tidak di sangka sangka Ana hadir ke persidangan sebagai saksi Jane di detik detik terakhir. Tidak tau apa yang membuat Ana berubah pikiran. Ana mampu memberikan bukti palsu yang sangat meyakinkan bahwa Jane tidak terlibat permainan Pejabat Clark, meski sebenarnya Jane lah otak dan dalang dari semua kerja kotor pejabat Clark selama 3 tahun menjabat, namun Ana benar benar berhasil memainkan perannya dan membuat Jane memenangkan dirinya di persidangan, kalau bukan karena Ana, Jane pasti sudah di penjara. Ana benar benar memutuskan untuk membantu Jane, karena Jane sudah memberikan semua yang dia ingin ketahui, ia hanya tidak ingin berhutang budi pada siapapun.


Ana justru tidak kembali ke mansion, sebelum ke pengadilan ia telah mengambil banyak baju untuk dibawanya, ia justru menginap di hotel miliknya di tengah kota negara E, ia memutuskan tinggal disana.


Berkas berkas dokumen yang sudah tampak usang dan tua berserakan di atas tempat tidur kamar hotel, Ana membuka lebar pintu balkon, ia sudah menghabiskan banyak rokoknya sambil minum whiskey seorang diri.


Dokumen itu diberikan oleh Jane, yang berisi fakta tentang Jane, Dominic dan Layla yang baru ia ketahui. Ia terjebak di tengah tengah antara fakta dan kebohongan mereka.


***


"Apa ini?" Tanya Ana meraih beberapa dokumen tua yang usang dari tangan Jane.


"Lihatlah.." seru Jane.


Ana membuka dokumen dokumen itu perlahan, ternyata itu berisi kepemilikan panti asuhan tempat Ana dibesarkan dulu dan idientitas mereka bertiga.

__ADS_1


Disana bahkan tertera data diri Bibi Layla.


"Kami bertiga dulu sangat akrab satu sama lain.. kami membangun panti asuhan itu bersama.."


Jelas Jane melihat Ana terlihat bingung.


"Kami memulai semua bisnis gelap bersama.. lalu suatu hari aku memutuskan untuk fokus di pasar gelap bersama Dominic, sementara Layla menjaga panti asuhan kami, sesekali Dominic datang ke panti asuhan untuk membawa anak anak baru dan mengambil anak anak lainnya untuk dijual.." Jane menyeruput whiskey nya.


"Saat itu aku sudah menikah dengan Dominic tanpa sepengetahuan Thommas putraku, karena dia sangat membenci Dominic dan Layla.. Namun aku butuh status pernikahan dengannya untuk memperkuat statusku di dunia gelap.. dan tentu saja untuk mengambil alih banyak aset kekayaannya.."


"Apa??" Ana benar benar terperanjat kaget.


"Jadi.. kau ingin mendengar fakta mana yang lebih dulu?? Fakta tentang siapa kau sebenarnya atau fakta siapa Layla sebenarnya??" Tanya Jane membuat Ana berpikir cukup lama.


"Fakta tentangku.." jawab Ana mantap.


"Kau.. adalah orang yang paling dibenci Layla.. karena kau adalah anak dari selingkuhan suaminya.. ibumu seorang pelac*r di sebuah club malam Ana.. mereka menjalin hubungan terlarang di belakang Layla hingga ibumu mengandungmu di perutnya.. dan tentu Layla saat itu juga tengah mengandung seorang anak laki-laki buah cintanya dan sang suami.." jelas Jane membuat Ana terbelalak.


"Omong kosong apa ini?? Kau ingin mempermainkan aku?" Tukas Ana menggeram.


"Dokumen ditanganmu, jawabannya yang sebenarnya kau cari Ana.."


"Kenapa baru sekarang kau memberitahuku??" Gumam Ana dengan suara parau.


"Aku tau kalau mereka sedang merencanakan sesuatu Ana.. bahkan Dominic sudah lama menghilang sejak pertemuan rahasia mereka di perkampungan itu.. aku tidak bisa menemukannya sampai saat ini.."


Ana teringat bahwa memang terakhir pertemuan Layla dan Dominic di perkampungan tempat ia menemukan Layla, namun setelah itu memang Dominic tidak pernah lagi tampak.


"Aku rasa sesuatu telah terjadi dengannya.." gumamnya pelan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi itu tentu tidak akan merugikanku.. karena aku sudah mengambil alih banyak aset pentingnya.." tambahnya lagi mengibur diri.


"Lalu.. apa yang dilakukan Bibi Layla pada orang tuaku?"


"Ah.. tentu saja Layla terus memburu suaminya dan ibumu dengan bantuan Dominic, Dominic waktu itu sangat kasihan pada kondisi Layla, namun lama lama ia justru membuat kesalahan.. ia justru mulai tertarik dengan Layla, jujur saja aku tidak memperdulikan itu.. karena aku sendiri hanya memanfaatkan Dominic untuk keuntungan pribadiku.. tapi aku tidak suka jika ada orang di luar sana menceritakan hal buruk tentangku.." Jane menatap Ana dengan nada penuh penekanan.


"Harga diriku tidak akan bisa di bayar dengan apapun.. itu sebabnya aku memutuskan hubungan dengan Layla setelah tau dia memiliki hubungan spesial dengan suamiku Dominic.. Dominic berkali kali ingin pisah denganku..  namun kau tau kan kalau itu justru akan merugikanku.. itu sebabnya hingga kini aku selalu memberikan kebebasan padanya.. itu kenapa tidak ada yang tau kami sudah menikah.."


"Lalu apa yang terjadi pada orang tuaku??" Tanya Ana lagi.


"Saat Layla melakukan pemburuan kemana mana, ayah dan ibumu menghilang, aku pikir mereka sudah mati, namun tak lama kemudian kabar lahirnya dirimu diketahui oleh Layla dari anak buah Dominic.."


Mata Ana tampak berkaca-kaca. Ia tak sanggup berkata kata. Antara percaya dengan tidak namun semua bukti ada di genggamannya.


"Aku selama ini membiarkannya Ana.. karena menurutku dia tidak merugikan apapun untukku, tapi aku tidak menyangka kau justru menempel dan mempercayainya, serta kau membuatku kesulitan menghentikanmu karena kau melimpahkan seluruh hidupmu untuknya.."


Ana masih terus membaca dokumen itu dengan teliti, dan terus mendengarkan penjelasan Jane dengan seksama, tangannya terus membolak balik tiap lembar dengar tangan gemetaran.


"Saat kau lahir orang tuamu menitipkanmu dirumah sakit karena Layla masih memburu mereka bersama Dominic, mereka berharap kau akan aman disana, tapi ternyata mereka justru kecelakaan dan meninggal saat kejar-kejaran itu.. saat itulah Layla mengambilmu dari rumah sakit dan membawamu ke panti asuhan.. dia berharap kau akan hidup menderita disana Ana.. kau pikir siapa orang orang yang menyiksamu disana? Mereka semua suruhan Layla.." Jane duduk sambil menyilangkan kakinya.

__ADS_1


__ADS_2